Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Pertemuan Kedua Benny


__ADS_3

"Ya, tentu saja, Herlin. Selama syarat itu tidak bertentangan dengan pilihanmu, maka aku akan memenuhinya. Katakan apa syarat yang kau berikan?" tanya Rere dengan sangat serius.


"Baiklah, Tan. Aku ingin kalau nanti adikku sembuh, tolong jangan beritahukan dia tentang bisnis yang aku jalani jika saja ia bertanya. Sebaiknya dia tidak tahu apapun karena aku menginginkan hidupnya jauh lebih baik dariku, aku mohon."


"Pasti, Herlin. Jika itu maumu, tidak akan aku lakukan. Lagi pula Leony berhak menerima kebahagiaan setelah dia mendapatkan kesembuhan. Ya sudah sekarang kau bisa mengambil alamat dari atasanku, datangi saja, atau mungkin perlu berpura-pura untuk tidak sengaja bertemu. Itu akan jauh lebih baik," sahut Rere.


"Lalu kalau dengan Aland, aku harus lakukan apa, Tan?" tanya Herlin yang terlihat kebingungan.


"Apapun itu kau harus lakukan, dan aku yakin jika Aland tidak akan memberikan dirimu uang begitu saja. Dia memang sedikit sulit untuk dibujuk kalau saja dia tidak menyukainya. Maka, dia memiliki seorang anak laki-laki. Mintalah untuk menjadi pengasuhnya."


"Kau benar, Tante. Baiklah, kau bisa memberikan dia alamat rumah mereka kepadaku. Jika perlu dengan dua nomor teleponnya."


"Pasti, Herlin." Tanpa menunggu lama, Rere segera memberikan yang ia katakan.


"Ya sudah kalau begitu kembalilah tidur. Besok pagi aku juga harus bangun pagi-pagi sekali, Herlin. Selamat malam, Sayang."


"Selamat malam, Tante."


Melangkah dengan niat yang pasti sembari menatap ke arah dua alamat rumah dalam genggamannya. Awalnya Herlin sangat berniat, namun ketika ia melihat foto ibunya dengan karangan bunga.


Muncul rasa bersalah yang begitu besar sampai membuat Herlin menangis. "Aku tahu kalau kau akan marah denganku, Ibu. Tapi, aku tidak akan mungkin membiarkan Leony dalam kesulitan. Apalagi hutang keluarga kita juga belum sepenuhnya aku lunasi, dan sekarang Leony juga membutuhkan biaya untuk operasi. Tolong, jangan menatapku begitu. Jika nanti sudah selesai, maka aku akan berhenti untuk merendahkan diriku sendiri."


Walaupun hanya sekedar foto yang terpampang, namun Herlin tahu jika saja ibunya masih ada. Pasti tidak akan rela melihatnya harus banting tulang demi mendapatkan uang, meskipun dengan cara yang salah.


Mengusap air mata sembari berjalan masuk ke dalam kamarnya. Malam itu Herlin sama sekali tidak bisa tertidur, ia merasa cemas dengan apa yang akan ia mulai besok.


Hingga tanpa Herlin duga, pagi kembali menyapanya. "Ya ampun. Apa mataku terlihat sekali tidak tidur? Jika begini, pasti pria itu tidak akan menyukaiku. Aku harus berdandan yang cantik."

__ADS_1


Ingin segera menuju ke kamar mandi, tiba-tiba Rere datang berkunjung. "Herlin, buka pintunya sebentar."


"Ya ada apa, Tan?"


"Kau baru bangun? Aku cuma mau bilang kalau malam ini tidak tidur di sini, tapi aku akan menginap di rumah teman karena ada pesta kecil-kecilan yang harus aku hadiri. Kalau begitu jangan cemas untuk pulang ke rumah," ucap Rere.


"Tumben tiba-tiba sekali, apa karena Tante Rere ingin aku tidur di luar juga?" batinnya.


"Baiklah jika begitu, Tan. Bersenang-senanglah." Herlin menjawab dengan cepat, meskipun timbul keraguan dalam hatinya.


"Ya sudah, kalau begitu berhati-hatilah untuk hari pertamamu, ya. Bawakan uang yang banyak," sahut Rere sembari melambaikan tangannya.


Herlin membalas lambaian dengan senyuman kecil. Ia segera bergegas untuk berdandan cantik.


Dengan sengaja Herlin memakai pakaian yang minim busana, namun ia menutupinya dengan jaket kulit di luar. Membuat penampilannya sangat memukau, ditambah dengan sepatu tingginya berwarna merah yang mampu menambah kecantikannya.


***


Sedang asyik mengkritik dirinya sendiri, namun Herlin tidak menduga sebuah mobil berhenti di sampingnya.


Seorang supir turun mendekat ke arah Herlin sesuai dengan perintah tuan rumah, lalu bertanya. "Ingin mencari siapa, Nona?"


"Um, apa kau supir pribadi milik tuan rumah ini?" tanya Herlin sembari menunjuk.


"Ya, benar sekali. Memangnya ada keperluan apa?"


"Sebenarnya ... aku ingin bertemu dengan majikanmu. Apa dia di dalam mobilnya sekarang?"

__ADS_1


"Tentu saja, Nona. Kau bisa masuk ke dalam jika mau. Mari, Nona," ajak supir tersebut sembari membuka pintu mobilnya.


Dari dalam mobil, Benny sudah melihat wanita yang semalam bertemu dan sekaligus bermalam dengannya. Namun, ia sungguh tidak menduga bahwa wanita itu akan datang lebih cepat dari apa yang tidak ia bayangkan.


Begitupun dengan Herlin yang sama sekali belum menyadari jika pria yang ia temui sekarang adalah pria yang sama dari satu malam dengannya. Pintu mobil tertutup, dan saat itupun Herlin terkejut melihatnya.


"Kau? Kenapa ada di dalam mobil ini?" tanya Herlin yang sungguh tidak percaya bahwa takdir terlalu cepat membawanya kembali mendekat.


"Tentu saja karena aku pemiliknya. Aku rasa kau merindukanku, ya?" Benny bertanya dengan sembari tersenyum manis. "Pak supir, tolong berikan kami waktu untuk berdua di dalam mobil sekarang."


"Baik, Tuan Benny."


Masih belum bisa Herlin terima atas pertemuan ini, namun sekali lagi ia harus berusaha untuk tetap melanjutkan rencananya. Meskipun sangat terkejut, tiba-tiba Herlin memasang wajah ceria dan bergerak lebih mendekat.


"Um, ya tentu saja aku sangat merindukan dirimu, Tuan. Sebenarnya siapa namamu?" tanya Herlin sembari mengerakkan satu jarinya di bahu Benny.


Melihat sikap Herlin yang sekarang, membuat Benny teringat jika semalam Herlin sangatlah tegas. Terlihat penolakan meskipun mereka telah melakukan semuanya.


Namun saat itu, menimbulkan pertanyaan besar dalam benaknya. "Apa tiba-tiba wanita memang sangat cepat berubah? Kali ini dia sangat manis dan sedikit ... menjijikan."


Jujur saja, Benny lebih menyukai seorang wanita yang sulit untuk ia kejar, namun tidak yang langsung menyerahkan diri seperti sekarang. Terlebih dengan terang-terangan menggoda dirinya.


"Jadi, kau ingin tahu namaku, Nona? Aku Benny Ton. Katakan apa tujuanmu untuk datang ke rumahku seperti ini? Apa kau ingin meminta bayaran setelah satu malam yang kita lewati, benarkah?"


"Ah tidak seperti itu, Tuan Benny. Sejujurnya ... aku hanya ingin terus berdekatan denganmu," sahut Herlin yang semakin berusaha untuk menggoda iman Benny. Ia bahkan membuka penutup jaket tubuhnya yang seksi.


"Oh ya? Hanya untuk berdekatan, sungguh? Atau karena kau tahu jika aku memiliki banyak uang. Katakan dengan sejujurnya! Karena aku paling tidak suka dengan wanita penggoda seperti dirimu." Benny menarik dagu Herlin dengan kasar. Ia menatap wanita itu dengan sebelah matanya.

__ADS_1


Rasanya seperti bukan dirinya sendiri, namun Herlin harus bisa membuat Benny terpukau dengannya. Berusaha tersenyum manis, meskipun perlakuan Benny mulai terlihat sangat kasar.


"Ayolah, Tuan Benny. Kenapa kau harus berpikir buruk tentangku, begitu? Bukankah semalam kau sangat menikmati kebersamaan kita? Apa kau mau jika malam ini kembali bersama denganku? Percayalah, aku akan berteriak manja di bawah tubuhmu yang kekar ini," bisik Herlin dengan sengaja.


__ADS_2