Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Panjat Pagar


__ADS_3

"Hei, Herlin! Jawab aku! Kenapa malah bengong? Lagi mikirin apa?" tanya Costa sembari berteriak tepat di telinga kiri Herlin.


Membuat Herlin sontak menutup kedua telinganya. "Ish kau ini. Aku sedang berpikir."


"Berpikir mu lama sekali, Herlin. Ayolah ... katakan padaku, kenapa tidak boleh? Padahal, jika memang Aland ingin mempermainkan diriku, ya sudah! Aku pun akan melakukan hal yang sama. Apa jangan-jangan kau pun menjadi bagian dari permainannya, benarkan?"


"Bisa dibilang begitu, ya sudah jangan lagi bertanya tentang dia. Kau bisa pergi ke alamat rumahnya langsung. Sini berikan ponselmu, biar aku tulisan alamatnya."


"Oke, ini." Costa pasrah tanpa memikirkan banyak hal saat Herlin mulai mengambil ponselnya.


"Kalau begitu ayo kita pulang. Aku ingin kembali ke apartemen yang Madam Choel janjikan. Cepatlah! Aku sudah lelah berjalan sejak tadi, dan besok aku harus kembali bekerja seperti biasanya," ajak Herlin dengan tiba-tiba.


"Baiklah, aku setuju. Kebetulan Madam Choel juga memberikan aku cuti setengah hari, jadi bisa tidur nyenyak."


Keduanya pergi ke tempat apartemen yang dituju, tetapi di perjalanan Herlin hanya melihat para berandalan yang sering nongkrong tidak jelas di dekat club malamnya. Untung saja Herlin pulang dengan mobil Costa, hingga ia tidak merasa takut saat kembali bertemu dengan mereka.


Pandangan Herlin yang menatap begitu tajam ke arah para berandalan itu, membuat Costa sedikit penasaran.


"Apa kau punya kenangan buruk bersama mereka di sana, Herlin?" tanya Costa sembari menunjuk saat memelankan mobilnya.


"Ya, tapi itu sudah lama. Erick dan teman-temannya berusaha mengejar ku. Tapi sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi."


"Anggap saja mereka sebagai salah satu bentuk keberanian yang harus kau hadapi, Herlin. Karena saat kau menerima job baru ini, maka itu artinya kau akan berhadapan langsung dengan para berandalan dengan sikap yang jauh lebih buruk. Percayalah padaku, tapi itu tidak selalu menyedihkan karena beberapa yang aku temui pria-pria di sana bahkan terlalu royal sampai ada yang memberikan hadiah mobil, tapi mobilnya sudah ku jual," jelas Costa dengan curhatannya.


"Itu artinya sudah berapa banyak pria yang kau tiduri, Costa?"


"Um ... 50 mungkin? Eh tidak-tidak, sepertinya ada 60 lebih. Begitulah, aku tidak terlalu menghitungnya, melainkan hitung duit ... hahaha. Tidak terlalu buruk untuk dipikirkan, Herlin, percayalah." Costa tertawa lepas seperti tidak ada beban dalam hidupnya.


Namun berbeda dengan Herlin yang tidak menanggapi tawa temannya itu, justru ia memikirkan sesuatu dalam batinnya. "Mungkin aku tidak akan bisa sekuat dirimu, Costa. Apalagi menjajani tubuhku kepada puluhan pria, tentu saja impianku masih sama untuk hidup bahagia dengan Benny. Tapi, sekarang aku sadari bahwa mungkin Benny tidak ingin lagi denganku, apalagi jika sampai dia tahu bahwa aku kembali terjun ke dalam dunia malam yang menyedihkan ini."

__ADS_1


Setiba di apartemen, Costa segera membantu Herlin setelah dengan membawa barang-barang belanjaan yang sebelumnya mereka belikan di tepian jalan. Namun tiba-tiba, pandangan Herlin tertuju kepada sebuah rumah mewah tepat di samping tempat tinggalnya.


"Ada tulisan Ton, apa mungkin hanya perkiraan diriku saja saat nama itu seperti tidak asing lagi bagiku?" batinnya yang terfokus kepada tulisan nama pemilik rumah di luar gerbang.


Lagi-lagi Herlin melamun, hingga membuat Costa melemparkan tas kecil miliknya ke arah Herlin.


"Aku heran, kenapa kau terlalu sering melamun? Ayolah ... jangan sampai diam-diam kau gangguan jiwa. Herlin, ayo masuk! Kita sudah sampai," ketus Costa yang sedikit kesal dengan orang yang suka terlambat.


"Oh ya! Baiklah."


Rasa penasaran Herlin masih begitu banyak, hingga pikirannya terus saja memikirkan tentang rumah mewah sebelumnya. Sampai lagi-lagi Costa yang sedang membawakan makanan malam mereka, tidak ia hiraukan.


"Oh astaga ... sepertinya kau memang butuh rumah sakit, Herlin. Bukan club malam apalagi pria jantan. Katakan padaku, apa kau ingin ke psikiater saja besok?"


"Apa maksudmu? Ayolah aku tidak sedang gangguan jiwa, Costa. Tapi ngomong-ngomong, apa kau tahu rumah mewah di sebelah itu milik siapa?"


"Ya, yang tepat di sebelah kiri apartemen ini."


"Entahlah, aku tidak tahu milik siapa. Tapi yang pasti, mereka sepertinya penghuni baru di sini. Kau tahu sendiri bagaimana pekerjaanku yang padat, jadi mana sempat memikirkan tentang siapa saja yang tinggal atau menjadi tetanggaku."


"Oh, baiklah. Mungkin sebentar lagi aku akan turun memeriksanya."


"Kau yakin? Herlin, jangan lakukan itu. Yang ada mereka mengira jika kalau kamu mau maling. Ayolah ... Herlin, kau temanku. Jangan buat aku malu, oke?"


"Tidak oke! Costa, aku hanya ingin memastikannya sebentar. Tunggu di sini, nanti aku akan kembali lagi," paksa Herlin dengan sangat keras kepala.


"Oh astaga ... wanita itu benar-benar," kesal Costa sampai membuatnya tidak habis pikir. Dengan cepat menghentikan makan malam lezatnya demi bisa menemani Herlin yang terlalu ingin tahu banyak hal.


Diam-diam seperti seorang pencuri yang sedang mengintai rumah mewah milik keluarga Ton. Herlin berharap agar bisa masuk ke dalam rumah itu, tetapi ia sadar jika tidak akan mungkin memanjat tanpa adanya tangga.

__ADS_1


"Kau punya tangga?"


"Tidak-tidak, Herlin. Jangan katakan mau manjat, oh ya ampun ...."


"Ayolah, Costa. Jangan banyak bicara, ada tidak?"


"Di tempatku tidak ada, tapi di tetangga rumah sana ada. Mereka sering menaruh tangga di luar rumah begitu saja. Ambilah jika kau mau," sahut Costa yang tidak memiliki pilihan.


"Oke. Tunggu di sini, aku akan mengambilnya dulu."


Melihat Herlin yang terlalu berniat, membuat hati Costa semakin tidak tenang. "Setelah ini entah apalagi yang akan si bodoh itu lakukan? Oh ya ampun, aku bisa stress lama-lama tinggal seatap dengan Herlin."


Tidak berapa lama, Herlin pun kembali setelah membawa tangga yang lumayan tinggi. "Pegang dari bawah, aku akan memanjat. Jika aku lama kembali, kau bisa masuk ke dalam sana. Takutnya rumah ini milik mafia, oke."


"Mafia nenekmu! Mana ada rumah mafia seindah ini, Herlin. Mereka kebanyakan tinggal di pegunungan bukan di kota besar."


"Halah sudahlah, mau tinggal di mana kek. Ingat ya, Costa. Aku masuk dulu."


Costa Hanay menjawab dengan anggukan kecil, tetapi ia bergumam karena kekesalannya. "Teman bodoh, tapi niatnya tidak bodoh. Lebih baik aku pindahkan tangga ini dulu sebelum ada yang melihatnya."


Dengan sangat hati-hati, Herlin sudah memasuki pekarangan rumah milik keluarga Ton. Ia berusaha berjalan tanpa alas kaki demi tidak membangunkan para penjaga yang sedang tidur lelap di pos mereka.


Melihat dari balik jendela, tetapi tidak terlihat siapapun. Namun sayangnya, tidak Herlin sadari bahwa sejak dari depan pagar sudah ada seorang pria yang mengintai mereka berdua dari balik layar cctv. Pris itu tersenyum manis saat mengetahui Herlin yang terlihat seperti pencuri yang manis.


"Dasar bodoh! Dia pikir dia siapa main masuk ke rumahku begitu saja," gumam pria tersebut saat ia sudah berniat untuk turun ke bawah.


Masih tidak Herlin sadari, namun ia terus berjalan ke belakang rumah demi bisa mencari celah untuk melihat ke dalam. Namun tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


"Costa, jangan ganggu aku. Ayolah bersabar sedikit lagi. Ish ... kau ini!" ketus herlin yang berpikir jika itu temannya tanpa menoleh ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2