
“Jangan berpura-pura lugu di depanku, Herlin. Aku sudah tahu saat Aland memintamu untuk datang larut malam, apalagi jika bukan untuk tidur dengannya," tegas Benny sembari memegang kedua bahu Herlin dengan keras.
"Ben, kau sudah salah paham denganku. Tolong dengarkan penjelasan diriku dulu," sahut Herlin yang berharap agar semuanya kembali membaik. Sampai membuatnya menyentuh kedua pipi Benny seraya mengusapnya.
"Ingin jelaskan apalagi, Herlin? Lagi pula pria dan wanita yang ingin bertemu larut malam sampai Aland berusaha menghubungimu seperti semalam, apalagi jika bukan karena ingin menerima sentuhanmu. Herlin, sepertinya aku sudah salah menaruh perasaan untukmu, maka kalung berlian sebagai hadiah terakhir dariku. Anggap saja itu sebagai bayaran dengan malam-malam yang sudah kita lewatkan karena jujur saja aku tidak ingin dendam di masa lalu kembali terjadi, meskipun rasanya tanganku sangat ingin untuk membunuhnya," jelas Benny hingga membuat Herlin sekarang mengerti.
Dengan cepat Herlin menggelengkan kepalanya, berharap agar semua masalah dengan Benny dapat terselesaikan. Ia sampai memilih untuk terus memeluk tubuh Benny dengan sangat erat, tetapi tetap saja pria itu menolak untuk mempercayai Herlin.
"Sudah hentikan, Herlin, dan pakai bajumu sekarang. Aku tidak ingin jika sampai putriku kembali melihatmu dalam keadaan seperti itu," tolak Benny secara langsung sampai tidak berniat untuk menatap ke arah Herlin untuk terakhir kalinya.
Berbeda dengan Herlin yang masih tetap kekeh, terlebih karena ia juga sudah menaruh perasaan yang lebih terhadap Benny. Tidak ingin semuanya berlarut begitu saja, membuat Herlin memikirkan sebuah rencana yang bodoh.
"Jika kau tidak ingin mendengarkan penjelasan diriku sekarang, maka aku datangi kantormu dan mengatakan kalau kita telah menikah, Benny. Aku bersungguh-sungguh sekarang," ancam Herlin dengan sengaja.
Membuat Benny terdiam, tetapi sedetik kemudian ia berusaha mengabaikannya. "Lakukan sesuka hatimu, Herlin. Aku harus pergi menjemput putriku dulu, dan ini ongkos pulangnya. Kau bisa pulang sendiri."
Tanpa membiarkan Herlin menolak untuk mengambil permintaannya, lalu Benny bergegas untuk segera pergi dan sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Semakin membuat Herlin tidak berdaya saat hatinya sudah memilih, namun sekarang keadaan yang mulai mengacaukan impiannya. Menangis dalam diam sembari memakai satu per satu pakaiannya, ia menatap dirinya di depan pantulan cermin.
"Aku merasa sangat hina, lalu sekarang Benny bahkan tidak ingin lagi melihatku," batinnya dalam keterpurukan.
Air mata Herlin terus menjatuh seiring satu kancing tersemat. Meskipun ia tahu bahwa kesuciannya telah direnggut oleh pria yang ia sayangi, namun tindakan Benny mampu membuat dirinya merasa jijik.
"Sekarang bagaimana? Apa aku harus menceritakan semuanya pada Tante Rere? Tapi tidak, akan lebih baik aku memperjuangkan kepercayaan Benny sampai dia benar-benar percaya denganku lagi," gumam Herlin dengan tekadnya yang kuat.
__ADS_1
Melangkah pergi dengan sangat pelan sembari menatap ke semua lukisan dan album milik Arabella yang terbiasa indah di atas dinding. Pelan-pelan Herlin menyentuh salah satu foto Arabella bersama Benny yang tersenyum bahagia.
"Kau sangat beruntung, Arabella. Kau wanita yang paling dicintai oleh Benny, dan aku pun merasa jika diriku tidak ada bandingnya dengannya. Bahkan aku seperti dijadikan pelampiasan olehnya karena wajah kita yang hampir mirip sempurna. Andaikan aku bisa berada di posisimu ini, Bella," batin Herlin dengan penuh harap.
Masih belum beranjak pergi sampai Benny kembali pulang bersama dengan putri kecilnya. Melihat putri kecil di dalam gendongan ayahnya, seketika Herlin ingin sekali menggendongnya.
Tanpa terduga, Benny langsung menepis tangan Herlin karena tidak suka putrinya diganggu oleh wanita lain.
"Tolong pergilah, Herlin. Jangan buat anakku menangis, jadi tolong jangan menyentuhnya juga," tolak Benny dengan cepat.
Hati Herlin kembali merasa sakit, namun ia mencoba untuk bisa tersenyum manis, meskipun tak kuasa menahan diri untuk kembali menangis. "Tentu. Aku akan pulang. Hai, Bulan Arabella, Tante Herlin pulang dulu, ya."
Melambaikan ke arah Bulan Arabella, tetapi putri kecil itu juga ikut membalas lambaian meskipun belum bisa berbicara.
Kehadiran Aland dengan tiba-tiba membuat Herlin sangat kesal dan merasa tidak berniat untuk harus bertemu dengannya sekarang. Ingin segera mengalihkan pandangannya, tetapi Aland tiba-tiba menarik tangannya.
Tanpa Herlin sadari, Benny kembali menatapnya dari jauh karena di dalam hati kecilnya. Ia masih ingin Herlin ada di sisinya, tetapi sayangnya penglihatannya itu semakin membuat Benny menaruh rasa kecewa yang begitu besar.
"Bahkan di depan rumahku, kau sampai meminta untuk dijemput oleh pria keduamu, Herlin. Sepertinya hubungan kalian sudah lebih jauh daripada kita berdua," batinnya. Lalu Benny masuk ke dalam tanpa ingin menatapnya lagi.
Berbeda dengan Herlin yang terus dipaksa untuk masuk ke dalam mobil Aland.
"Lepaskan aku, Pak Aland. Aku bukan boneka yang bisa kau tarik sesuka hatimu," kesal Herlin sembari menatap dengan tatapan tajam.
"Hei, apa masalahmu sekarang? Kau sudah puas bermalam sampai pagi di rumah itu? Jika sudah, kau harus ikut denganku sekarang karena ini sangat darurat. Biar urusan kita berdua akan bahas nanti, tapi pikirkan tentang keselamatan Brian yang sampai masuk ke rumah sakit karena dirimu," paksa Aland sampai membuatnya menahan rasa kesal.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Brian, Pak?" Herlin sangat terkejut, ia tidak berpikir jika Brian akan terluka oleh dirinya.
"Itu semua karena dirimu tidak datang semalam. Sekarang duduk diamlah karena kita akan ke rumah sakit."
Tidak ada bantahan dari Herlin, selain ia memilih menurut. Saat mobil bergegas pergi, matanya masih tertuju ke arah pintu depan kediaman Benny.
"Bahkan kau sama sekali tidak ingin melihatku pergi, Ben. Padahal aku ingin menyelesaikan semuanya. Sekarang entah bagaimana nasibku, apalagi aku sudah menaruh perasaan padamu," batin Herlin yang sudah begitu pasrah.
Tiba di rumah sakit, namun Brian masih belum kunjung tersadar meskipun sudah mendapatkan perawatan. Membuat Aland segera membawa Herlin mendekat.
"Apa Brian sama sekali belum mau membuka matanya, Bi Lena?" tanya Aland dalam keadaan yang panik.
"Tidak ada, Tuan Besar. Namun sepertinya matanya sudah bergerak, hanya saja dia merasa tidak ingin melihat kita berdua."
"Ya ampun. Dia sampai sebegitu nya merajuk padaku. Nak, bukalah matamu. Jangan buat Papa cemas melihatmu seperti ini, Brian. Sekarang Tante Herlin sudah ada di sini untukmu," bisik Aland.
Dengan tiba-tiba Brian mulai membuka matanya, Herlin ikut mendekat.
"Tante Herlin, aku tidak mau kau pergi ...," rengek Brian sembari memeluk Herlin dengan erat meskipun sebelah tangannya masih di infus.
"Ya, Sayang. Tante Herlin ada di sini untukmu, tenanglah," sahutnya sembari mengusap rambut Brian terus-menerus.
Semakin membuat Herlin tidak kuasa melihat Brian yang sampai harus masuk ke dalam rumah sakit karena merindukannya, namun hal itu membuat Herlin kebingungan.
"Kasihan sekali anak ini, dia pasti sangat merindukan pelukan ibunya, dan entah seperti apa sosok Arabella yang begitu membuat ketiga pria ini tidak dapat melupakannya. Lalu sekarang apakah aku harus menjaga mereka semua? Dalam ketidakmampuan diriku sendiri, tapi aku bukanlah Arabella," batinnya.
__ADS_1