
“Jika aku tidak mau melepaskannya, maka kau bisa apa, Herlin? Sekarang katakan jika kamu bersedia menjadi istriku," paksa Benny yang semakin memperlihatkan ketertarikannya yang begitu sungguh-sungguh.
"Jangan gegabah, Benny!" Herlin semakin tidak terima ketika ia berpikir bahwa pria itu sedang mengatakan sebuah lelucon yang indah. Dengan cepat mendorong tubuh Benny, hingga pelukan terlepas.
“Aku rasa otakmu perlu diperiksa, Ben. Kau sudah salah minum obat. Sebaiknya malam ini aku pulang saja, dan besok pagi aku akan datang sebagai ganti malam ini. Sekarang biarkan aku pergi," ucap Herlin dengan tiba-tiba mengambil tas ranselnya.
Bukan Benny namanya jika ia akan membiarkan Herlin lepas begitu saja. Meskipun ia tahu semua ini terlalu cepat, tetapi tentu saja tidak ada kata terlambat jika cinta sudah berbicara.
“Jika kau pergi selangkah dari sini, maka aku akan menculik mu selamanya, Herlin."
"Apa? Menculik? Kau serius dengan ini, Ben? Ayolah, kau seorang pengusaha besar dan kenapa kau harus memintaku untuk menikah? Ya, aku tahu jika sekarang aku telah menjadi teman ranjangmu, tapi tidak dengan teman menua mu, Benny. Jadi tolong, jangan buat aku menaruh sebuah harapan yang terlalu tinggi," bantah Herlin yang masih sangat keras kepala.
Meskipun demikian, diam-diam Herlin sangat mendambakan sebuah kencan pertama yang romantis sekaligus lamaran yang indah. Membuat batinnya berkata ketika Benny terus saja berdiam diri dengan menahan kepergiannya. “Aku rasa diriku yang hina ini sangat tidak pantas, meskipun aku sadar kaulah pria pertama yang telah mengambil mahkota suciku."
"Ben, jika tidak adalagi yang ingin kau katakan. Maka biarkan aku pergi dari sini, tolong!" Herlin mengambil tas ranselnya dan bergegas untuk pergi.
Belum setengah perjalanan tiba-tiba pintu ruangan tersebut tertutup secara otomatis. Membuat Herlin semakin kebingungan. Namun dengan tiba-tiba lampu padam total hingga membuat Herlin merasa takut dan cemas.
"Kenapa listriknya mati? Benny, jangan bercanda! Aku tidak suka kegelapan, tolong nyalakan lampunya sekarang," pinta Herlin dengan berteriak keras.
Namun tidak ada yang mendengarnya sampai membuat Herlin terduduk dengan memeluk kedua lututnya dalam ketakutan yang besar. Trauma yang berat saat ia mengalami beberapa kali gangguan dari pria hidung belang membuatnya tidak suka dengan kegelapan. Apalagi tanpa ada sedikitpun cahaya.
__ADS_1
"Jangan membuatku marah, Benny!" Herlin terus membentak dengan berteriak, apalagi ia bingung untuk harus ke luar dari arah mana. Tenaganya mulai melemah sampai suara isakkan tangis yang hanya terdengar.
Dengan perlahan Benny memeluk tubuhnya dari belakang, dan lampu tiba-tiba kembali menyala. Namun dengan sangat takjub suasana ruangan itu terlihat begitu indah dengan hiasan bunga dan lampu-lampu yang bernuansa romantis terlihat sangat menarik.
Tangisan Herlin perlahan berhenti dalam rasa heran, ia terus menatap ke arah sekelilingnya tanpa melepaskan sentuhan Benny yang tidak ingin lepas sejengkal darinya.
"Apa ini?" Terdengar pertanyaan yang sangat pelan. “Seperti ... sebuah acara lamaran yang Romeo lakukan untuk Juliet. Apakah aku bermimpi?"
"Herlin, kau tidak bermimpi. Aku sengaja memberikan kejutan untukmu, dan maafkan aku bila caraku salah karena sudah membuatmu menangis. Sekarang mari ikut denganku, masih ada satu kejutan untukmu," sahut Benny dengan penuh senyuman sembari berharap rangkulannya tidak terlepaskan.
Tanpa ada bantahan, Herlin berjalan mengikuti Benny sembari ia terus melihat ke semua dekorasi yang sepertinya sudah dipersiapkan dengan sangat baik.
"Sekali lagi tolong maafkan aku karena sudah membuatmu takut dan menangis. Sungguh! Aku tidak tahu jika kau sangat tidak suka kegelapan, tapi sebagai gantinya aku ingin kau menghukum diriku malam ini, Herlin."
"Menghukum mu? Maksudnya bagaimana?"
"Aku akan bersedia menjadi pelayan pribadimu, Nona Herlin. Namun, sebagai gantinya menikahlah denganku, Herlin."
Tiba-tiba Benny mulai berlutut dengan memperlihatkan sebuah kotak merah yang berisikan sebuah kalung berlian dengan harga yang sangat fantastis. Membuat Herlin tercengang, tetapi bukan soal kalung, melainkan cara Benny yang berusaha melamarnya dengan penuh semangat, dan tak pernah ia duga sebelumnya.
Tanpa bisa membuat Herlin berkata-kata, terlebih malam ini seperti sebuah mimpi untuknya. Apalagi ia belum pernah dipuja seperti seorang putri raja sedemikian rupa. Masih enggan untuk menerima pemberian Benny, tetapi pria itu belum juga menyerah.
__ADS_1
"Aku sadar kesan pertama kita tidaklah menyenangkan, tapi jujur dari dalam hatiku, Herlin. Malam itu telah membuatku memikirkan dirimu semalaman, bahkan setelah kematian mendiang istriku, aku sama sekali tidak pernah memikirkan untuk seperti ini. Jangankan tentang wanita lain, rasanya hidupku selalu tentang pekerjaan. Sungguh! Aku tidak sedang merayu mu."
"Apa buktinya jika kau tidak sedang merayuku sekarang, Benny? Aku tahu jika sekarang posisiku sangat rendah bagimu, meskipun menjadi sebagai pelayan ranjangmu saja, bagiku itu sudah jauh lebih baik daripada harus dikasihani seperti sekarang," tolak Herlin dengan terus terang.
Entah mengapa, Benny sendiri tidak habis pikir ketika Herlin berusaha melawan takdir. Bahkan ia tahu banyak wanita yang berusaha mencari kesempatan demi bisa memilikinya, namun hanya Herlin yang terus terang mengganggap sepele.
Perlahan Benny menutup kotak perhiasan sembari berjalan membelakangi Herlin. "Kau sungguh ingin bukti dariku, Herlin? Aku akan membawamu bertemu langsung dengan mendiang istriku. Mungkin setelah kau melihatnya, kau akan tersadar bahwa memang aku tidak harus memperlihatkan bukti itu padamu."
“Memangnya kenapa, Ben? Aku hanya meminta bukti karena bagaimanapun, aku akan lebih baik dibenci dengan terang-terangan daripada dicintai karena sesuatu. Lagi pula, hidupku terlalu rumit dan hina jika harus bersanding dengan pria sempurna dalam segala hal seperti dirimu," bantah Herlin dengan cepat.
“Baiklah, Herlin. Jika memang kau menginginkan bukti, maka ayo ikut denganku sekarang," ajaknya yang langsung menarik tangan Herlin tanpa memberikan waktu untuk menolak.
Keduanya pergi ke ruangan sebelumnya, namun ada sebuah ruangan kecil yang sudah Benny siapkan untuk menyimpan sebuah kenangan masa lalu miliknya seperti bingkai foto dan yang lain, terlebih ruangan tersebut telah diperbaharui saat Benny ingin mendekorasi hiasan lamaran.
Tiba-tiba Benny mengambil bingkai yang paling besar milik Arabella, dan memberikannya kepada Herlin.
“Lihat baik-baik wajahnya, Herlin. Mungkin kau masih heran kenapa aku bersikap seperti ini. Entah aku sendiri yang hanya merasa jika kau sangat mirip dengan Arabella, tapi itulah faktanya. Aku mencintaimu, Herlin, sama seperti aku mencintai istriku dulu. Meskipun aku tahu kau bukanlah dia, tapi entah mengapa aku merasa jika takdir telah mengabulkan doaku agar bisa bertemu kembali dengan istriku dulu," jelas Benny.
Masih membuat Herlin tidak percaya, memang benar wajahnya terlihat sangat mirip dengan Arabella. Namun, ia tahu jika dulu tidak pernah memiliki saudara, meskipun Arabella tidak memiliki tahi lalat di wajahnya, tetapi tetap saja kemiripan jelas sekali terlihat.
“Meskipun kau tahu jika aku dan dia berbeda, lalu kenapa kita harus menikah, Benny? Bukankah cintamu itu masih utuh untuknya dan tidak untukku?"
__ADS_1