Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Cerdik


__ADS_3

Terlalu keras kepala sampai membuat Herlin dan Aland tidak bisa percaya dengan semua tindakan yang Brian inginkan, terlebih dia hanyalah anak kecil.


"Kau lihat bagaimana putramu, Pak Aland? Lalu sekarang tidak mungkin kita tidur sekamar, kan?“ tanya Herlin dalam kebingungan.


"Aku tahu jika sikap Brian sudah berlebihan, tapi tolong mengertilah sedikit, Herlin. Lagi pula tidak akan ada yang akan terjadi, dan aku sendiri akan tidur seranjang darimu. Kita bisa berbagi guling atau aku yang akan tidur di sofa," sahut Aland dari dalam hati kecilnya menginginkan hal itu.


"Ayolah, Pak. Jadi, kau pun setuju dengan permintaan Brian? Wah ... pantas saja sikapnya sangat tidak bisa ditolak, itu pasti karena dirimu yang sudah terlalu sering memanjakannya."


"Herlin, jika pun kau tidak mau, tidak apa. Lalu kenapa sampai harus menjelekkan putraku? Dia begitu karena memiliki alasan agar kau tidak sendirian. Salah dirimu sendiri siapa yang sudah berbohong padanya. Anak kecil jika dibohongi, pasti tidak akan tahu mana yang benar dan salah. Lagi pula, kita bahkan sudah bertukar air liur di dalam mobil saat malam itu. Jadi tolong, jangan berpura-pura seakan kita tidak pernah sedekat itu, karena ciuman itu menjadi sebuah bukti," bantah Aland dengan cepat.


"Kau memang benar sekali, Pak Aland. Hanya saja aku sama sekali tidak berpikir jika harus sekamar denganmu, Pak, dan jika aku menolak. Maka putramu akan melakukan ancamannya itu. Terlebih dia baru selesai keluar dari rumah sakit."


"Tentu saja, Herlin. Brian akan pasti berontak meskipun aku bisa memaksanya untuk sekolah, tapi pasti dia akan terganggu terlebih ketika mengingat tentang pembullyan terhadapnya oleh teman-temannya itu. Sekarang begini saja, jika memang kau tidak mau, tidak apa. Namun, bujuk Brian, karena aku sendiri sangat yakin. Dia tidak akan bisa dibujuk dengan mudah," jelas Aland.


Membuat Herlin sama sekali tidak ada pilihan yang lain selain dengan menurut dalam permainan bodoh yang dilakukan oleh anak kecil.


"Baiklah aku setuju, tapi aku minta supaya kita tidak melakukan kedekatan apapun, Pak," sahut Herlin dengan perlahan.


"Tentu saja, Herlin. Aku bisa menjaminnya. Ya sudah ayo aku antar barangmu ke kamarku dulu," ajak Aland sembari tersenyum manis.


Herlin menjawab dengan anggukan sekedarnya, ia mengikuti Aland pergi dari belakang. Berbeda dengan Aland yang diam-diam masih berusaha untuk menahan tawanya.


"Anakku cerdik sekali. Agar papanya tidak kesepian, ia memberikan saran yang bagus. Papa bangga denganmu, Brian. Ingin mendapatkan mama baru, tentu saja harus banyak berkorban terlebih dahulu, Nak," batin Aland yang ikut bahagia.

__ADS_1


Menaruh semua barang-barang Herlin bersamaan di dalam lemarinya, hal itu sontak membuat Herlin terheran.


"Loh, Pak? Aku di sini hanya beberapa hari saja, bukan selamanya. Lalu kenapa semua barang ku di masukkan ke sana? Biarkan di dalam koper saja."


"Tidak apa, Herlin. Akan lebih baik di dalam sini supaya tidak berdebu. Lagi pula jika nanti sudah selesai, kau bisa mengemas lagi, dan aku pasti akan membantumu."


"Ya baiklah." Herlin hanya bisa pasrah sembari melihat Aland melakukan tugasnya sendiri.


Terduduk dalam diam ketika Aland terus sibuk sendiri, tetapi pandangan Herlin selalu tertuju ke arah ponselnya.


"Sama sekali tidak ada notifikasi darimu, Ben. Ternyata kau masih salah paham denganku. Akan lebih baik setelah mengantarkan Brian ke sekolah barunya, aku langsung menemuimu saja," batin Herlin dengan penuh harap yang lebih besar.


Lamunannya tersadar saat tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat Herlin menjawab, berharap jika itu dari Benny. Namun ternyata perkiraannya salah besar.


"Ada apa, Tante?"


"Kau di mana, Herlin? Sekarang adikmu sudah bisa pulang. Dokter menghubungiku, dan bilang kalau dia bisa dirawat jalan. Aku tidak bisa membawanya pulang sendiri karena pekerjaanku masih banyak."


"Baiklah, Tan. Aku yang akan mengurusnya nanti."


"Ya sudah kalau begitu, Tante tutup teleponnya, ya."


"Apa yang Rere katakan?" tanya Aland dengan tiba-tiba duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Katakan kalau Leony sudah bisa di rawat di rumah, dan aku harus menjemputnya sekarang, Pak Aland. Namun masalahnya, tidak akan mungkin adikku yang kesakitan itu harus sendirian di rumah. Meskipun bisa menyewa suster, tetap saja perlu pengawasan. Apa sebaiknya aku pulang saja dari sini, Pak? Mungkin Brian bisa mengerti jika mengetahui hal ini."


“Eh tidak perlu, Herlin. Kita bisa menjemput Leony untuk tinggal di sini juga. Terlebih di sini ada Bibi Lena yang akan selalu stay by di rumah, dan nanti aku bisa menyewa perawat seperti yang kau inginkan. Akan lebih mudah bagimu untuk menjangkau antara adikmu dan Brian, bukan?" saran Aland yang masih berharap supaya niatnya tidak tertunda.


"Tapi, Pak. Nanti yang ada Bibi Lena ada semakin repot. Terlebih ia juga harus mengasuh Brian."


"Tenanglah, Herlin. Dengan uang kita bisa membayar jasanya lebih banyak, dan kamu tidak perlu mencemaskan hal itu. Ya sudah, sebaiknya sekarang kita segera ke rumah sakit. Jangan sampai Leony menunggumu terlalu lama."


"Tunggu dulu, Pak Aland. Lalu apa yang harus kita katakan kepada Leony nanti jika dia bertanya tentang kedekatan kita ini? Apalagi saat dia melihatku sekamar denganmu, Pak?" tanya Herlin sembari menahan tangan Aland tiba-tiba.


"Um ... mungkin kita bisa menjadi suami dan istri pura-pura. Aku rasa itu hal yang tidak terlalu rumit, bukan? Aku tahu jika kau tidak ingin adikmu tahu kebohongan ini, tapi tidak ada cara lain. Setelah semuanya aman, kau bisa menceritakan segalanya kepada Leony tentang kita. Bagaimana, Herlin?"


"Apa? Pak Aland, mana mungkin bisa? Berpura-pura seperti suami dan istri itu sangatlah tidak mungkin, apalagi kita tidak memiliki satu pun foto kenangan baju pengantin. Aku rasa itu hal yang sangat rumit."


"Herlin, percayalah padaku bahwa semua itu tidaklah rumit. Aku yakin dengan sangat, bahwa ini tidak akan berlanjut berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Karena kita hanya teman biasa. Ayolah, Herlin. Tidak ada cara lain, namun jika kamu mau langsung jujur silangkan saja. Aku pun tidak mengapa dengan semua itu."


Ide konyol yang sedang Aland perjuangan membuatnya sangat bersemangat, tetapi tidak dengan Herlin yang terdiam membisu.


Meskipun demikian, Aland berusaha untuk terus membujuk sampai ia menggenggam tangan Herlin dengan erat. "Percayalah, Herlin. Aku akan mendukung apapun itu keputusanmu. Namun, jika menurutku yang terbaik memang kita harus pura-pura untuk berbohong sekarang. Supaya adikmu tidak curiga dan membuat semuanya menjadi kacau. Apalagi dengan Brian, dia pasti akan sangat tidak terima jika kau pergi dari sini terlalu cepat."


"Pak, aku masih belum bisa yakin dengan keputusan semua ini."


"Yakinlah bahwa kau yakin dengan semua ini, Herlin. Aku sudah bilang akan bersama denganmu, kan? Lalu apalagi yang harus kau takutkan sekarang? Ayolah, Herlin. Kita bisa berbohong demi kebaikan kita berdua," paksa Aland dengan terus-menerus.

__ADS_1


__ADS_2