
"Um yeah ... aku sangat bersemangat, tapi di mana kita akan membeli obat kuatnya?" tanya Sonna dengan mengalungkan kedua tangan di leher Halu secara mesra.
"Entahlah, tapi nanti akan aku pikirkan. Um kita sudahi saja, aku ingin tidur." Raut wajah Halu seketika berubah saat ia mulai menyadari ponselnya terus saja sudah merekam semua suara dari ******* yang baru saja berlangsung.
"Loh kenapa?" Sonna merasa hal aneh, terlebih ia masih menginginkan untuk terus berdekatan.
Melihat Halu yang dengan sendirinya berpindah duduk kembali ke depan, namun Sonna pun ikut meskipun tanpa menggenakan pakaiannya dengan benar.
"Kau kenapa? Kita baru saja melakukan hal manis, lalu kenapa tiba-tiba ingin berhenti? Ayolah ... aku masih ingin," pinta Sonna sembari memeluk tubuh Halu dengan mengedipkan kedua mata berniat untuk terus membujuknya.
"Tidak dulu, Sonna. Aku harus menjawab teleponku." Sikap Halu mulai terlihat dingin, namun ia tetap membiarkan saat Sonna menyentuh dirinya dengan sesuka hati.
"Aneh sekali. Padahal tadi dia sangat bersemangat dengan tubuhku, lalu sekarang dia terlihat tak acuh. Apa mungkin sifatnya akan selalu begini setelah melakukan hubungan indah itu? Atau mungkin karena ada hal? Terlebih sejak tadi ia merasa resah saat melihat ponselnya," batin Sonna tanpa melepaskan pelukannya.
Membuat Halu merasa sulit untuk memutuskan untuk menjawab ataupun tidak, namun ia sendiri merasa penasaran dengan panggilan tersebut. Terlebih ia tahu bahwa nomor telepon itu berasal dari Leony, saat ia dengan sengaja telah meretas nomor Leony sejak hari pertama bertemu.
"Bilang cepat, lo mau apa?" tanya Halu dari balik ponselnya dengan sedikit kesal.
"Oh wow sentuhan dan ******* yang menggoda, oh yeah aku suka itu. Tapi, kau tidak lebih seperti seekor ayam yang suka celap celup sana sini, Halu!" ledek Leony yang mulai di dewasa kan secara langsung dari orang yang membuatnya kesal.
"Gue enggak punya banyak waktu, jadi cepat bilang, lo mau apa? Kalau enggak, telepon ini bakalan gue matikan," ketus Halu.
__ADS_1
"Ya karena kau terlalu memilliki waktu untuk bersenang-senang dengan Sonna, kan? Aku kenal dia, karena dia teman dari kakakku. Tetapi, aku tidak mengerti kenapa kau sampai bisa menyukai yang lebih tua daripada yang sebaya denganmu. Tapi sudahlah, hentikan perdebatan itu karena aku hanya ingin tanya satu hal. Apa kau yang sudah menculik Brian—putra dari Kak Aland? Jawab aku sebelum Kak Aland sendiri yang memberikan pelajaran padamu!"
"Masalahnya apa kalau gue suka daun tua, hah? Bukan urusan lo, dan gue enggak punya waktu buat mikirin lo. Satu hal lagi, apa buktinya kalau gue yang udah menculik pria kecil itu?"
Sonna mulai menguping tanpa melepaskan pelukannya.
"Jelas karena aku punya bukti maka dari itu aku tahu kalau kau salah satu orang yang sudah menculik Brian. Jujur saja, Halu, dan berikan Brian pada ayahnya dengan selamat. Jika memang kau ingin aman, maka lakukan saja daripada banyak bermain apalagi bermain dengan daun tua. Kau bahkan lupa menutup wajahmu sepenuhnya saat berada di dalam mobil ketika kalian menculik Brian, kan?" Leony terus menuduh saat dirinya berusaha mengasingkan diri dari kediaman Aland, hanya demi agar pria itu tidak mendengarnya.
"Jangan coba-coba mengancam ku, Leony." Halu berusaha bersikap tenang meskipun hatinya tidak bisa berbohong bahwa ia juga merasa ketakutan, terlebih ia sadar kalau Aland memiliki banyak akses dan juga orang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.
"Ini bukan sekedar ancaman, Halu. Aku hanya ingin kau berkata dengan jujur dan temui aku di suatu tempat besok malam. Jika kau tidak datang, maka aku akan pasti memberikan rekaman tentang wajahmu kepada Kak Aland. Kau mungkin berpikir semua ini hanyalah lelucon biasa, tapi aku bisa pastikan dalam waktu dua hari jika sampai kau mengabaikan panggilanku ini. Maka kepalamu yang akan berakhir di bawah jembatan gantung, percayalah."
Belum sempat menjawab, namun panggilannya segera disudahi sebelah pihak. Membuat Halu merasa semakin tidak menentu.
"Ada apa, Halu? Kau baik-baik saja? Apa maksudmu Leony itu adiknya Herlin? Tapi, bagaimana mungkin dia bisa mengetahui dirimu yang sudah ikut dalam penculikan Brian?" Sonna mulai ikut merasa penasaran, terlebih ia mulai takut jika terjadi sesuatu dengan pria yang baru beberapa menit menarik perhatiannya.
"Entahlah, tapi aku yakin dia melihatku menggunakan kamera yang bisa mengambil gambar sangat dekat untuk melihat wajahku. Memang saat itu aku memakai penutup wajah, Tapi aku penasaran, kenapa dia bisa sampai mengenaliku dengan cepat? Apa mungkin dia tidak hanya memiliki kamera tersebut? Tapi juga, dia mengenaliku dengan cara mencari identitas setelah memasukkan gambarku ke dalam sana."
"Tunggu dulu? Apa itu bisa?"
"Tentu saja bisa, Sonna. Bahkan aku bisa mengetahui semua identitas juga pekerjaanmu, termasuk darimana asal keturunanmu. Hanya dengan cara satu klik saja, maka kau akan dengan mudah aku kenali. Saat di Kanada, aku pernah belajar ilmu hacker bahkan untuk meretas kode akses penyimpanan data di sebuah perusahaan besar. Namun sekarang, aku memilih berhenti karena pekerjaan itu cukup beresiko, tapi anehnya, Leony juga mulai mencari tahu hal ini. Mungkin ... dia mulai penasaran dengan duniaku," jelas Halu yang bisa mulai menebaknya.
__ADS_1
"Um, meskipun aku sendiri tidak bisa memastikan kalau Leony benar-benar bisa melakukan hal itu tanpa bantuan orang lain, tapi aku yakin dia mungkin mendapatkan bantuan terlebih Aland pasti tidak akan mungkin sekedar diam begitu saja. Tapi ngomong-ngomong, saat kau mulai panik, kewibawaan mu semakin terlihat jelas apalagi ketika kau berbicara denganku secara formal. Kau terlihat semakin seksi, Halu," bisik Sonna sembari mengigit bibir bawahnya dengan satu kedipan mata.
"Oh astaga ... gue lagi serius, Sonna? Apa lo pikir gue dari tadi enggak panik?"
"Ya, aku salah memikirkannya. Tapi jujur saja, adikmu terlalu besar untukku."
"Sampai mentok, kan? Ya-ya gue tahu kalau memang gue keren dalam hal ini, tapi stop untuk buat gue semakin lemah, oke?" pinta Halu saat hatinya masih sangat gelisah.
Namun sayangnya, Sonna tidak peduli selain dengan kenikmatan yang masih tetap ia inginkan. Kini ia tidak ingin menolak lagi, tetapi justru ingin semakin menarik simpati.
"Ayo ke belakang, aku masih ingin dirimu, Sayang."
"Tidak-tidak, gue udah cukup lelah."
"Ish ... kau ini! Tapi aku mau, Sayang?! Aku tidak peduli!" paksa Sonna yang langsung mengulum permen hambar kesukaannya.
Halu yang mulai panik, namun seketika hatinya mulai kembali bergejolak. Ia tidak bisa berbohong jika pesona daun tua seperti Sonna memang sangat menggoda.
"Curang sekali, gue juga mau!" Dengan cepat Halu mulai memutarkan posisi Sonna yang duduk di depannya sembari membuka lebar-lebar pintu masuk menurut surga dunia.
"Argh ah ... aku merasa gila, oh ...." desah Sonna sembari menarik rambut Halu dengan perlahan-lahan sampai membuat ia menjepit kepala pria itu di bawah sana.
__ADS_1
"Gue tahu ini salah, tapi hanya dengan ini gue bisa menghentikan ketakutan karena Leony sialan itu. Awas saja saat bertemu, aku akan buat dia perhitungan," batin Halu saat ia masih sedikit mengingat semua ancaman menakutkan dari Leony.