
Rasa penasaran Rere hingga membuatnya berlari untuk bisa mengejar Aland, namun sayangnya pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan rawat.
"Yah ... sial, aku tidak tahu apapun tentang itu," gumamnya dengan rasa kesal. Namun Rere tetap berusaha mengintai dari arah luar.
Betapa Herlin tidak menyangka kalau ternyata Aland benar-benar datang, padahal semua pembayaran telah diselesaikan melalui online.
"Silahkan duduk dulu, Pak Aland."
"Tidak apa, kau saja yang duduk karena aku belum kelelahan. Aku datang ke sini hanya untuk memastikan bahwa kamu tidak berbohong. Apa benar dia adikmu yang baru selesai operasi itu?" tanya Aland sembari melirik ke arah gadis remaja yang masih belum sadarkan diri.
"Apa kau pikir dia bukan adikku, Pak? Percayalah padaku bahwa aku tidak berbohong denganmu, Pak Aland. Sesuai janjiku, maka aku akan melakukan tugasku selanjutnya nanti."
"Baguslah, dan aku harap kau bisa datang malam ini untuk bekerja. Jadwal kerjaku akan aku ganti, kau tidak keberatan, kan?"
“Tunggu sebentar, jika malam ini aku harus bekerja. Maka aku juga harus bekerja dengan Tuan Benny. Tidak-tidak, ini tidak boleh," batin Herlin.
Belum sempat ia menjawab, terlihat adiknya yang sudah mulai terbangun. Rasa senang membuatnya bahagia, begitupun dengan Rere yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Tan, Leony sudah sadar," ucap Herlin sembari tersenyum bahagia dan memeluk Tantenya.
"Baguslah, Sayang. Ya sudah biarkan Tante yang menjaganya dulu. Kau pasti memiliki urusan dengan Aland, bukan? Pergilah, dan bicara di luar," pinta Rere dengan bantuan kecilnya.
"Baiklah, Tan. Ayo kita ke luar dulu, Pak Aland."
“Tentu."
Kepergian mereka membuat Rere masih menetap sembari bergumam perlahan. "Aku tidak membiarkan Herlin bekerja dengan Aland di waktu malam, karena aku tidak mau hal buruk akan terjadi. Setidaknya aku ingin membuat Aland melihat diriku untuk sekali lagi."
"Ta—Tante, di mana ini?" Terdengar suara gadis remaja yang tidak lain adalah Leony—adik Herlin.
__ADS_1
“Kita di rumah sakit, Nak. Tidurlah, dan jangan paksa untuk bicara dulu. Kakakmu sedang ada di luar."
"Perutku terasa sakit, Tan."
"Aku mengerti, Leony. Maka dari itu tidurlah lagi, nanti aku akan memanggil dokter untukmu."
Di luar ruangan, Herlin ingin menolak semua permintaan Aland. Namun, ia merasa sulit untuk bisa membuat alasan. Herlin sampai terlihat kebingungan di saat mencoba memikirkan sebuah alasan yang pasti.
“Kenapa cuma diam, Herlin? Ayolah bicara, aku masih ada urusan yang lain. Jika tidak, tidak apa, tapi malam ini kau harus segera datang ke rumahku lagi."
"Tunggu dulu, Pak Aland. Kita sudah bicara kalau aku hanya akan bekerja di siang hari, kan? Ayolah aku tidak bisa jika malam hari," tolak Herlin dengan cepat.
"Memangnya kenapa? Apa kau ingin berkencan setiap malamnya, begitu?"
"Tidak begitu, Pak Aland. Aku ... memang tidak bisa, tolong mengertilah sedikit." Herlin sampai memohon dengan menyatukan kedua tangan di depan Aland.
"Kau ini, siapa yang bosnya? Aku atau kamu? Herlin, aku putuskan jika nanti malam kau harus datang ke rumahku untuk bekerja. Brian akan menunggumu."
"Hei, Herlin. Apa kau lupa kalau tugasmu sebagai pengasuh putraku? Brian harus tidur setelah mendengar dongeng, jadi biarkan dia tidurkan dia, baru setelah itu kau pulang. Sudahlah, aku tidak ingin banyak berdebat karena aku ini adalah atasanmu. Sekarang aku akan pergi," tegas Aland tanpa membiarkan Herlin berkata untuk menolak.
Membuat Herlin terduduk dalam kebingungannya sendiri, ia merasa sulit untuk harus membagi waktu di saat jam yang sama.
“Argh rasanya kepalaku ingin pecah! Andaikan aku memiliki uang banyak, pasti tidak akan perlu melakukan hal bodoh seperti ini," keluhnya sembari berteriak kecil sampai membuatnya terlihat bodoh di saat beberapa orang lewat di dekatnya.
Merasa frustasi, tetapi tiba-tiba Rere memberikan sebotol minuman untuknya. "Minum ini, dan tenangkan dirimu."
“Terima kasih banyak, Tan."
"Sama-sama, jadi Aland memintamu untuk bekerja di malam hari, ya? Aku tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian."
__ADS_1
"Kau tahu sendiri, Tante. Aku merasa sulit untuk harus membagi waktuku sekarang. Apalagi Tuan Benny pasti akan berpikir jika aku mengkhianati janjinya."
"Tenanglah, Herlin. Aku akan membantumu, jadi kau bisa datang ke tempat Benny dengan tenang. Tanpa memikirkan tentang tugasmu kepada Aland," ucap Rere sembari tersenyum manis.
"Benarkah?" Herlin merasa kebingungan. "Tapi, bagaimana caranya kau akan melakukannya, Tan?"
"Biarkan jadi urusanku, Herlin," sahut Rere dengan santainya. "Kalau begitu pulanglah dulu, biarkan Leony aku yang jaga sekarang. Aku juga sedang menunggu pengasuh untuknya selama keadaannya masih belum bisa sendiri."
Herlin tersenyum dengan bahagia ketika melihat sikap Rere yang rela membantunya begitu saja, meskipun ia belum tahu apapun. "Terima kasih banyak, Tan. Kalau begitu aku pergi dulu."
Melangkah pergi setelah memberikan kecupan kecil di pipi tantenya dengan rasa bahagia. Herlin ke luar dari rumah sakit tanpa memikirkan banyak hal. Ia berusaha menunggu taksi yang lewat, tetapi tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depannya.
"Tuan Benny?" Sontak membuat Herlin terkejut sekaligus merasa tidak percaya dengan kehadiran pria itu yang tiba-tiba. "Loh, kok bisa ada di sini, Tuan?"
"Kebetulan aku baru saja pulang kerja dan ada keperluan, jadinya lewat ke sini. Lalu kau sendiri ngapain ada di sini?" Benny bertanya tanpa turun dari mobilnya.
"Um, itu karena aku juga ada keperluan, Tuan," sahut Herlin dengan sekedarnya.
“Apa ada kesibukan yang lain lagi? Jika tidak, naiklah ke mobilku sekarang. Sebentar lagi hari akan gelap, dan jangan lupakan tugasmu."
"Tidak ada, tapi baiklah, Tuan." Herlin segera bergegas pergi menuju ke mobil Benny. “Terima kasih atas tumpangannya."
"Sama-sama, Herlin. Oh ya, di depan kita akan turun untuk berbelanja. Kau bisa membelikan beberapa barang untukku, kan? Kebetulan pelayan di rumahku sedang cuti, jadinya aku merasa sulit untuk membeli setiap bahan masakan," pinta Benny dengan tiba-tiba.
"Itu hal yang mudah untukku, Tuan."
"Baguslah, Herlin," sahut Benny sembari tersenyum hangat dan sesekali mencuri pandang.
Seketika membuat Benny semakin terlihat senang saat berada di dekat Herlin, meskipun ia tahu bahwa begitu banyak perbedaan dari wanita itu. Tetapi, ia masih merasa bahagia dan tidak terlalu memikirkan semua itu. Apalagi Benny dengan sengaja meminta pelayan rumahnya untuk cuti beberapa hari demi bisa berduaan dengan Herlin. Termasuk dengan bayi kecilnya yang ia titipkan di rumah sahabat baiknya.
__ADS_1
“Entah mengapa saat di dekatnya, hatiku bahagia meski awalnya aku kesal. Herlin, mungkinkah kau sudah mendapatkan hatiku ini? Cukup membuatku senang dengan kebersamaan kita," batinnya.
Tanpa ia sadari sebuah mobilnya Aland belum benar-benar pergi dari tempat parkiran rumah sakit. Ia melihat dengan penuh heran saat Herlin berusaha berbicara dengan musuh bebuyutannya.