
“Baguslah jika kau sudah berhasil dengan tugas pertama, lalu apa yang menjadi penyebab masalah baru? Sonna, tolong jangan hancurkan kepercayaan ku," tanya Aland dengan penuh harap.
"Aku rasa Rere tidak akan membiarkan diriku aman berada di perusahaan milik Benny, Pak Aland. Mungkin dia akan mencari rencana supaya aku bisa ke luar dari sana. Meskipun memang aku bisa berpura-pura baik, tapi Rere pasti tidak akan tinggal diam. Bagaimana jika seandainya Tuan Benny mengetahui hal ini? Kau bisa memberi aku bayaran berlipat ganda, Pak? Ini sebuah pekerjaan yang cukup membahayakan. Terutama dengan jenjang karir ku agar tetap terjaga aman."
"Tentu saja, Sonna. Sesuai dengan janjiku, maka aku tidak akan mengingkarinya. Ngomong-ngomong aku tadi melihatmu mengambil gambar saat aku dan Yoona berpelukan. Tolong sekarang berikan gambar itu padaku, dan hapus dari ponselmu juga."
Seketika membuat Sonna terkejut karena ia berpikir jika Aland tidak melihat tindakan buruknya. Tanpa bisa menolak, Sonna segera mengirim salinannya.
"Maafkan aku, Pak Aland," ucap Sonna dengan merasa sedikit tidak nyaman.
"Tidak apa, dengan begini aku pun berterima kasih padamu. Hanya saja ... aku sangat tidak suka jika kau kembali melakukannya secara diam-diam. Pastikan agar aku mempercayai dirimu, Sonna. Jika tidak, maka bayaran yang aku janjikan tidak bisa jatuh ke tanganmu begitu saja," ancam Aland dengan sangat serius.
"Sekali lagi aku benar-benar ingin minta maaf padamu, Aland, dan aku berjanji tidak akan membuat kekacauan tentang dirimu, Pak. Jika begitu bisakah sekarang aku pergi?"
"Tentu saja, Herlin. Pergilah dan selesaikan tugasmu. Aku hanya akan mendengar semua kesuksesan yang telah kau buat, tidak dengan kegagalan. Kau mengerti akan hal itu?"
"Pasti, Pak Aland." Sonna bergegas bangkit sembari tidak lupa menundukkan kepala dengan rasa hormat sebelum ia pergi dari sana.
Baru selangkah ia berjalan, tiba-tiba niat Sonna terhenti ketika mengingat sesuatu.
"Apalagi?" tanya Aland yang sedikit terheran.
"Aku belum melihat keadaan padamu, Pak Aland. Akan lebih baik jika aku melihat Brian dulu baru setelah itu pergi."
"Baiklah. Aku akan pergi ke luar sebentar."
__ADS_1
"Tentu saja, Pak."
Sonna masuk saat Herlin masih berada di dalam ruangan tersebut. Ia tersenyum ramah sembari menyapa. "Hai, Herlin."
"Sonna? Kau?"
"Kenapa seperti terkejut, Herlin? Lama tidak bertemu, teman lamaku dulu," sahut Sonna dengan begitu santai sembari mengulurkan tangannya dengan tiba-tiba.
Uluran tangan tidak segera Herlin sambut, namun, Ia masih menatap ke arah teman lamanya itu. "Apa yang kau lakukan di sini, Sonna? Kau tidak mungkin ingin berbicara denganku, kan?"
"Tentu saja, Herlin. Aku datang untuk Pak Aland dan ingin menjenguk Brian. Hanya saja ... karena kita di sini sudah bertemu, maka aku pun ingin menyapa dirimu lagi. Memangnya salah jika aku ingin menyapa teman lamaku ini? Herlin, aku sudah memaafkan dan melupakan saat kita pernah bermusuhan. Lagi pula pria itu yang telah menjadikan kita lawan. Bukankah lebih baik sekarang kita kembali berbaikan daripada harus saling tidak kenal, meskipun dulunya kita sangat dekat," sahut Sonna sembari tersenyum manis ketika mengingat pernah memiliki perseteruan akibat cinta segitiga masa SMA.
"Ya, aku pun tidak lagi mengingatnya. Baiklah, salam bertemu kembali." Herlin akhirnya menyambut meskipun sedikit lama.
"Tidak masalah, Sonna. Ini nomor teleponku yang baru. Memang kebetulan aku bekerja di sini untuk mengasuh Brian. Lalu kau sendiri bagaimana?"
"Ha ... tidak, aku hanya bekerja sampingan dengan Aland, Herlin. Tidak sesering dirimu yang akan terus di sini. Baiklah kalau begitu, Herlin. Aku pergi dulu, ya. Sampai jumpa lain waktu ... jika kau memiliki kesempatan, kita bisa bermain bersama seperti dulu lagi. Aku masih ingin naik ke atas ayunan denganmu."
"Pasti, Sonna. Nanti akan aku kabari jika aku punya waktu. Sampai jumpa," sahut Herlin dengan sangat bersemangat sembari melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa lagi." Sonna ikut membalas lambaian.
Melangkah ke luar dari ruangan tersebut,namun perlahan Sonna menoleh ke belakang dengan tatapan yang tajam.
"Kita bertemu lagi untuk ketiga kalinya, Herlin. Semoga kau dapat berteman baik dengan seekor ular yang ramah," batin Sonna sembari menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Hari pertama Herlin bekerja di kediaman Aland, ia baru saja tiba di tempat itu dengan membawa kopernya juga termasuk Brian yang sudah bisa pulang ke rumah.
Tidak pernah Herlin duga bahwa rumah yang baru ia kunjungi dua kali kini menjadi tempatnya bekerja lebih sering. Brian segera menggandeng tangan Herlin dan menuju ke kamarnya.
"Ayo aku tunjukkan kamarku, Tan. Aku bahkan sudah berani tidur sendirian. Kalau dulu aku selalu tidur dengan Bibi Lena."
"Oh ya? Wah ... kau berani sekali, Sayang," puji Herlin dengan ceria. "Tante saja belum berani tidur sendirian."
“Benarkah? Itu artinya selama di sini Tante tidak boleh tidur sendirian. Brian tidak mau kalau sampai Tante takut. Soalnya dulu Brian sangat takut. Lebih baik Tante tidur saja dengan Papa karena tempat tidurku tidak muat untuk badan kita berdua, Tan," pinta pria kecil itu dengan sangat polos.
Seketika membuat Herlin melotot sempurna, terlebih ia hanya berkata asal-asalan tentang rasa takutnya itu. "Eh jangan! Tante bisa tidur sendirian kok. Enggak apa-apa, Brian. Itu bukanlah hal yang besar."
"Enggak boleh, Tan. Nanti Tante Herlin pasti takut seperti Brian dulu. Papa, lihat Tante Herlin ini. Dia katanya takut tidur sendirian, dan aku mau kalau dia menemanimu saja. Supaya ada yang temani," paksa Brian saat berpapasan dengan Aland yang sedang membawa kopernya.
"Hah? Apa? Tidur bersama Tante Herlin? Brian, kau ini ada-ada saja." Aland sedikit terkejut, namun hati kecilnya merasa ingin dan tidak menolak. "Jika memang diperbolehkan, tentu saja boleh. Tapi, mana mungkin Herlin mau bermalam denganku. Lagi pula kami tidak ada hubungan apapun."
"Brian, tadi itu Tante cuma bercanda. Sudah ya, kamu jangan terlalu pikirkan tentang Tante." Herlin berusaha menjelaskan, namun anak itu justru menolak dengan gelengan kepala yang kuat.
"Tidak bisa, Tan. Jika Tante tidak mau, maka Brian juga tidak mau tidur ataupun sekolah sama sekali," ancam Brian dengan serius. Lalu ia pergi berlari masuk ke kamarnya tanpa ingin mendengarkan siapapun lagi.
Keputusan yang sudah bulat membuat Brian terlalu keras kepala. Ia bahkan tidak suka jika keinginannya ditolak.
"Seperti yang sudah Brian baca di internet, kalau pria dan wanita yang tidur bersama artinya sudah bisa hidup bersama. Itu artinya ... aku bisa memiliki ibu, dan Tante Herlin yang aku mau," gumam Brian yang diam-diam telah memendam rasa yang besar.
Niatnya tetulis di atas buku diary kecil miliknya, sekaligus ia segera menggambarkan sosok Herlin dan Aland yang sedang berpegang tangan bersama dengannya juga.
__ADS_1