Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Saling Kebingungan


__ADS_3

Di lain tempat, Herlin merasa sangat cemas meskipun ia tidak tahu apa yang sedang ia cemaskan sekarang. Namun saat itu, ia tidak mungkin meninggalkan Rere yang sudah terbaring seorang diri.


Membuat Herlin memilih untuk meminum obat tidur agar bisa menghilangkan rasa cemas di pikirannya, akhirnya membuatnya tertidur begitu pulas.


Namun tidak Herlin sadari, bahwa dari luar rumah sudah ada Erick yang berdiri di depan jendela.


"Ternyata dia sudah pulang ke rumah Rere, tapi aku tidak bisa melakukan apapun saat Herlin di dalam. Terlebih ini sudah malam, tapi aku akan memikirkan cara lain agar bisa membuat Herlin tunduk di hadapanku dengan semua janjiku dulu," batin Erick yang diam-diam terus mengintai sembari ia mengingat saat di mana kakinya tertembak karena Herlin.


***


Larut malam Aland baru kembali ke rumahnya, namun ia sengaja mematikan telepon setelah berdebat banyak bersama Herlin saat di rumah sakit, dan memilih untuk menenangkan diri sejenak di luar rumah. Namun Aland tidak menyadari, bahwa semua orang rumahnya sudah begitu panik.


Melihat banyak orang berdiri di teras dalam keadaan cemas, Aland segera turun menghampiri Leony yang juga ikut berlari sembari menangis di depannya.


"Apa yang sudah terjadi, Leony? Kenapa malah menangis?" tanya Aland yang terlihat begitu kebingungan.


"Brian, Kak. Brian ...." Membuat Leony tidak memiliki kuasa untuk terus melanjutkan ucapannya. Terlebih ia juga merasa sangat cemas dan takut jika sampai Brian tidak kembali.


Aland semakin terlihat ketakutan, terlebih ia merasa bersalah karena sudah mematikan ponselnya. "Brian? Maksudnya apa? Katakan padaku dengan jelas, Leony! Apa yang sudah terjadi? Lalu di mana Brian sekarang?"


"Maafkan saya, Tuan Aland. Tapi, Brian menghilang, sepertinya dia diculik," timpal Bibi Lena yang saat itu berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"Putraku diculik? Bagaimana mungkin? Apa penjagaan di rumah ini tidak becus? Kalian semua kerja apa sampai Brian bisa menghilang seperti sekarang? Dan kapan kejadiannya itu?" tanya Aland dengan sangat khawatir.


"Kejadiannya siang hari, Tuan. Saya sendiri tidak tahu kenapa Brian bisa pergi ke luar sendirian, tapi dari pantauan kami di cctv kalau Brian keluar sendirian, dan ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah kita," jelas Bibi Lena sembari terus menunduk dengan rasa bersalah.


"Itu artinya ... saat aku masih di rumah sakit menemani Herlin. Sekarang aku harus melihat rekaman cctv," gumam Aland. Lalu ia berlari cepat ke ruangan keamanan.


Seperti ucapan Bibi Lena yang melihat mobil berhenti, namun Aland semakin yakin bahwa penculikan itu sudah direncanakan. Sebab di dalam rekaman cctv, terlihat dua pria yang sedang memakai penyamaran sekaligus menutup nomor plat mobil mereka.

__ADS_1


"Kurang ajar! Rupanya mereka berusaha membodohi putraku sampai mau ikut masuk ke dalam mobil mereka. Ya Tuhan ... ke mana aku harus mencari mu, Brian? Papa sangat cemas denganmu, Nak." Sebentar marah, namun sebentar lagi Aland mulai menangis dalam ketidakmampuannya.


"Kita harus melaporkan masalah ini ke polisi, Kak Aland. Jika memang Brian sedang diculik, itu artinya dia dalam bahaya," ucap Leony yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Tidak bisa, Leony. Mereka tidak akan memproses laporan kita jika belum lewat dari dua puluh empat jam, tapi aku tidak bisa berdiam diri di sini begitu saja. Aku mohon agar kau membantuku, Leony."


"Tentu saja, Kak Aland. Aku akan siap membantumu," jawab Leony dengan semangat.


"Baiklah, tapi tunggu dulu, Leony. Kau kenapa bisa ada di sini? Sejak kapan kamu pulang? Lalu sekarang Herlin sendirian di rumah sakit?"


"Y-ya, Kak Aland. Tadi setelah kalian berdua ribut, aku pun sempat bertengkar dengannya, jadi aku berpikir untuk meninggalkannya juga di rumah sakit," sahut Leony sampai membuat gelagapan karena takut di marahi.


"Astaga ... apa kau ini tidak waras? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan Herlin juga? Aku pergi dari sana karena aku berpikir kau akan menemuinya." Terlihat amarah besar sampai Aland mengusap wajahnya dengan cepat. "Ya sudah, sekarang kau harus membantuku untuk mencari Brian bersama dengan yang lain. Minta bantuan tetangga sekitar, dan ini uang untuk mereka, agar mereka mau membantu kita." jelas


"Lalu kamu sendiri ingin pergi ke mana, Kak Aland?"


"Aku akan kembali ke rumah sakit, dan membawa Herlin pulang. Sekarang tolong urus Brian seperti yang sudah aku jelaskan padamu, dan ini uangnya," perintah Aland sembari menaruh uang di meja dalam jumlah besar.


"Baiklah." Aland menjawab dengan anggukan, lalu ia kembali bergegas ke rumah sakit.


Berharap agar tidak terjadi sesuatu dengan Herlin, namun saat itu Aland justru melihat keberadaan Benny yang juga baru tiba di rumah sakit yang sama.


"Mau apa dia datang ke sini?" tanya Aland yang merasa penasaran. Lalu ia berusaha mengintainya diam-diam.


Tetapi ternyata, Benny melangkah ke arah ruangan Herlin yang sebelumnya di rawat. Semakin membuat Aland merasa begitu kesal.


"Kurang ajar! Ternyata dia juga sudah tahu kalau Herlin di rawat di rumah sakit ini," gerutu Aland dalam batinnya.


Bergegas lebih cepat, tetapi lebih dulu Benny membuka pintu ruangan. Namun anehnya, ia tidak melihat Herlin ada di sana, melainkan seorang suster yang sedang bertugas membereskan ruangan.

__ADS_1


"Sus, di mana pasien bernama Herlin? Dia sebelumnya di rawat di sini," tanya Benny.


"Dia sudah pulang sejak dari tadi, Pak. Bersama dengan seorang pria."


"Oh, jadi dia sudah pulang. Baik, Sus. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Benny masih berdiri dalam kebingungan, namun ia berpikir jika Herlin pulang dengan Aland.


"Pria? Jika pria itu bukan Benny, lalu siapa? Aku harus memastikannya," batin Aland sembari cepat untuk mendekat ke ruangan itu.


Tatapan tajam saling bertatapan saat Benny dan Aland berpapasan, namun tidak saling menyapa. Akan tetapi, membuat Benny ikut merasa heran, dan berbalik arah.


"Bagaimana ciri-cirinya, Sus?" timpal Aland yang sudah masuk ke dalam ruangan. "Karena sebelumnya tidak ada pria lain yang berjaga di sini selain saya? Apa ciri-ciri pria itu seperti orang itu?"


Membuat Aland menunjuk ke arah Benny yang berada di depan pintu, namun suster tersebut menjawab dengan gelengan kepala. "Bukan, Pak. Orangnya berbeda, tapi saya tidak tahu begitu jelas karena saya hanya melihat mereka di dalam sini berdua. Setelah itu saya tidak tahu, dan hanya tahu setelah ruangan ini kosong."


"Oh baik, Sus."


Dua duda itu merasa panik dalam kebingungan, meskipun mereka sama-sama tidak tahu kalau Herlin sedang tertidur lelap di rumah Rere.


Aland berjalan keluar sembari menatap tajam ke arah Benny, lalu ia menyapa. "Lama tidak bertemu, mantan anak tiri."


Seketika Benny tersenyum kecil saat mendengar kata 'mantan anak tiri' jelas-jelas membuatnya semakin teringat dengan kejadian buruk di masa lalu.


"Jangan banyak basa-basi. Katakan di mana Herlin kau sembunyikan?"


"Jika aku tahu, aku tidak akan ada di sini bersamamu," sahut Aland dengan santai.

__ADS_1


"Jangan mempermainkan diriku, Aland! Kau sudah terlalu banyak bermain denganku di masa lalu," geram Benny sembari dengan cepat menarik kerah baju Aland.


__ADS_2