Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Bertemu Seseorang


__ADS_3

"Kebetulan sekali, Tuan Benny. Aku ingin mengetuk pintunya, tapi sepertinya takdir mempertemukan kita di depan pintu," ucap Sonna dengan sesuka hatinya.


"Apa maksudmu?" tanya Benny dengan tatapannya yang datar.


"Eh tidak-tidak! Aku hanya bercanda, Tuan Benny," sahut Sonna sembari terkekeh kecil dengan mengayunkan tangan di hadapannya.


"Lalu katakan untuk apa kau datang ke rumahku? Ini bukan lagi jam kerja, Sonna," tanya Benny yang terlihat sedikit kesal. "Jangan sampai Sonna masuk ke dalam dan melihat keberadaan Brian," batinnya.


"Tentang pekerjaan, Tuan Ben. Maaf kalau aku membuat waktumu sedikit terganggu, Tuan Ben. Tapi ngomong-ngomong, apa kita harus terus berbincang di depan pintu masuk, Tuan?"


"Ya, seperti yang kau lihat. Jadi katakan, apa keinginanmu? Aku tidak punya banyak waktu meladeni mu sekarang," tanya Benny dengan ketusnya.


"Um ... Tuan, bisakah aku memiliki proyek sendiri seperti sekretaris Rere? Maaf, kalau terkesan sedikit lancang. Tapi, setelah aku melihat kembali semua proyek yang sedang berjalan, sepertinya aku bisa memberikan sedikit pendapat ataupun mengelolanya juga."


"Apa kau ini tidak waras? Tidak ada proyek apapun, apalagi dari seorang pekerja yang baru masuk. Sekarang pergilah dari rumahku, Sonna," usir Benny tanpa memikirkan rasa kasihan.


Sikap Benny yang sangat aneh, membuat Sonna semakin merasa jika pria itu menyembunyikan sesuatu. Padahal sebelumnya di perusahaan, Benny begitu cepat menerima saran dan juga pemberitahuan tentang Herlin darinya.


"Dia seperti sedang gelisah. Aku bahkan ingin sekali melihat rumahnya, siapa tahu bisa bermimpi menjadi istrinya," batin Sonna dengan sangat percaya diri.


"Um, baiklah, Tuan Ben. Kalau memang kau tidak mau, maka tidak apa. Hanya saja ... aku sedikit haus, bolehkah menumpang minum di rumahmu? Segelas air saja, tolonglah."


Belum sempat Benny menjadi tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki berlari ke arahnya sembari berteriak. "Papa, Bulan sedang menangis. Dia baru saja terjatuh."


Sontak membuat Benny terkejut sekaligus tidak ingin membuat Sonna tahu keberadaan Brian. Untungnya pintu masuk yang hanya terbuka sedikit, membuat Benny menutupnya dengan cepat.


"Pergilah, Sonna. Kau bisa membeli air di luar. Aku sedang sibuk, maaf." Dengan cepat Benny meninggalkan Sonna yang masih berdiri mematung di luar.


"Apa Tuan Benny memiliki dua anak? Tapi setahuku hanya anak perempuan, lalu itu suara anak laki-laki. Apa mungkin itu anak saudaranya, ya? Aneh sekali, dia bahkan terlihat sombong," ketus Sonna, lalu memilih pergi dengan penuh kekesalan.


Hati Benny merasa lega saat Sonna sudah pergi, tepat setelah mengintip dari balik jendela. Brian yang masih menunggu dirinya, membuat anak itu ikut terheran.


"Siapa yang Papa lihat?" tanya Brian yang ikut ingin melihatnya.

__ADS_1


Tetapi, penutup pintu berusaha Benny tarik dengan bergegas. "Um ... tidak ada, Nak. Tadi itu ada orang asing dan tiba-tiba meminta sumbangan. Tapi, kenapa Bulan sampai bisa menangis?"


"Tadi aku dan Bulan sedang bermain kejar-kejaran, tapi dia tersandung. Brian bingung melihatnya terus menangis, Papa."


"Ya sudah. Kalau begitu ayo kita lihat adikmu, Brian," ajak Benny.


"Ke mana lagi pengasuh Bulan ini? Bisa-bisanya dia meninggalkan putriku pergi ke dapur begitu lama," batin Benny yang merasa sedikit kesal.


Putri kecilnya masih terus menangis, tetapi Benny berusaha mengabari Brian untuk bisa mendiamkan wanita yang menangis dengan memberikan pelukan kecil sembari mengusap rambutnya.


Sikap yang manis berusaha Benny ajarkan agar bisa membuat rasa sayang di antara kedua anak itu semakin lengket. Hal itu membuat Benny tersenyum bahagia.


"Semoga saja kau bisa melihat kebahagiaan kecil ini dari atas sana, Arabella. Kedua putra-putri mu sudah berkumpul di sini, aku berjanji akan merawat mereka dengan sebaik mungkin. Tapi, sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk pergi meninggalkan Brian sebelum Halu memberi kabar tentang rumah baru. Jika tidak, aku takut Sonna bisa saja kembali ke sini," batin Benny saat menatap bingkai foto Arabella di depan, dan berusaha untuk tidak tergesa-gesa.


***


Aland dan Leony masuk ke dalam ruangan Herlin saat melihat wanita itu sudah tersadar. Ia senang karena Herlin sudah terlihat baik-baik saja.


"Apa kepalamu masih pusing, Herlin?" tanya Aland yang perlahan ikut menggenggam tangan Herlin dengan erat.


"Karena Kak Herlin baru saja kegu-aw ... sakit!" Tiba-tiba ucapan Leony terhenti saat Aland menginjak kakinya dengan sengaja.


"Ada apa, Leony? Kau terluka?"


"Tidak apa-apa, Kak Herlin. Tadi ada semut yang mengigit ku," sahut Leony dengan cepat.


"Ada semut merah di bawa sana, sudahlah jangan hiraukan itu, Herlin. Terlebih aku tahu kalau maksud Leony, kalau tadi itu kamu hanya pingsan karena terlalu kelelahan, Herlin. Sekarang tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," timpal Aland dengan cepat.


Seketika Leony paham, jika Aland tidak mau keguguran Herlin diketahui.


"Tapi, kenapa perutku terasa sakit?"


"Mungkin hanya efek obatnya saja, Herlin. Tidak apa-apa, dokter mengatakan kalau itu hal yang normal. Apa kamu ingin makan buah?"

__ADS_1


"Boleh."


Mengupas buah-buahan segar untuk Herlin, namun perlahan Leony memilih untuk pergi ke luar demi bisa membuat mereka berduaan.


"Rasanya jomblo sedikit tidak enak, apalagi saat melihat Kak Herlin di suapi. Sebenarnya aku juga ingin merasakan hal itu," gumam Leony dengan perlahan, lalu tiba-tiba seorang pria duduk begitu dekat dengannya.


"Hai, bolehkah aku duduk di sini?" tanya Erick dengan memperlihatkan senyuman hangat. Tapi, belum sempat menjawab, ia sudah duduk dengan sendirinya.


"Bukannya sudah duduk, ya? Pakai acara minta lagi," ketus Leony yang selalu saja tidak bisa merubah sikapnya yang judes saat bertemu orang baru. Meskipun ia begitu ramah ketika sudah mengenal lebih dekat.


"Oh ya, aku tahu. Baiklah, Nona. Aku minta maaf. Kenalkan namaku, Erick. Kebetulan tadi aku melihatmu di sini sendirian saja, apa pasien di dalam keluargamu?"


"Ya, kakakku sedang di rawat. Lalu kenapa kau tiba-tiba sok ramah dan sok dekat segala? Dan aku tidak menanyakan namamu," tolak Leony sampai melirik Erick dengan lirikan tajam.


Berusaha menahan dan meredakan rasa kesal saat Leony terlalu angkuh kepadanya, namun demi sebuah rencana Erick terus tersenyum ramah walaupun hatinya sudah begitu terbakar ingin membalas semua ucapan wanita itu.


"Meskipun begitu, aku hanya ingin menambah teman. Apa itu tidak boleh juga? Katakan saja siapa namamu, gadis manis?"


"Jika aku tidak mau, kau mau apa?" Leony berusaha menantang.


"Sama seperti kakaknya, tapi gadis ini sedikit lebih sulit untuk ditangani. Baiklah, Erick, bersabarlah," batinnya demi bisa mencapai tujuan.


"Hei, aku tidak mau apapun selain berteman denganmu. Namun jika tidak, tidak masalah juga. Aku bisa memakluminya kalau mungkin kekasihmu akan marah jika berteman denganku. Baiklah, aku akan pergi, Nona," sahut Erick yang hanya berusaha menjebak.


"Sebenarnya aku tidak memiliki kekasih." Terdengar suara Leony yang tiba-tiba berucap, tepat ketika Erick melangkah.


Membuat Erick tersenyum dengan penuh kemenangan, lalu berbalik menatap sembari bertanya. "Lalu katakan siapa namamu, Nona? Siapa tahu, kita bisa berteman baik."


"Leony Jacqueline, panggil saja aku Leony. Tapi, aku belum menyetujui tentang pertemanan kita, Erick."


"Tidak apa-apa, Leony. Ngomong-ngomong kakakmu sakit apa?"


"Dia baru saja keguguran, dan aku sangat mencemaskan nya. Lalu kau sendiri di sini sedang apa?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Erick terdiam saat mendengar hal buruk tentang Herlin, tetapi ini jauh lebih buruk dari apa yang belum pernah ia bayangkan.


"Keguguran? Tapi, dengan siapa Herlin berbuat? Kurang ajar! Aku padahal sudah menanti jauh-jauh hari untuk memiliki Herlin, lalu sekarang dia sudah ternodai lebih dulu," batin Erick hingga tidak tersadar saat ia mengepalkan tangan di depan Leony.


__ADS_2