
Pertanyaan tersebut seketika membuat Aland tersadar bahwa ia telah melakukan hal yang bodoh. Terlebih ia tidak tahu kenapa harus melakukannya.
"Rere benar sekali. Kenapa aku harus sampai segila ini untuk memanjat pagar? Bahkan sedikit lagi aku sudah sampai ke sebelah. Tapi, apakah mungkin rasa marah dan cemas ini karena aku mulai menyukai Herlin? Bahkan sekarang aku pun tidak tahu dengan diriku sendiri. Kepergian Arabella telah membuatku sulit untuk bisa merasakan cinta atau sekedar obsesi," batin Aland yang tiba-tiba terdiam di atas pagar.
Lamunannya tersadar saat Rere menepuk tangan. "Ayo cepat turun, Aland! Kau ini benar-benar memalukan."
Memilih untuk mengiyakan, dan Aland turun tanpa mengatakan apapun kepada Rere. Bahkan membiarkan wanita itu menatapnya dalam kebingungan. Tetapi Aland tidak peduli, ia sampai meninggalkan wanita itu yang masih berdiri.
"Ada apa denganku sekarang? Apakah aku marah terhadap Herlin karena bersama bedebah itu? Atau karena aku sedang cemburu?" gerutu Aland dalam batinnya.
Sulit untuk membuktikan dengan semua kebenaran, sampai membuat Aland mengusap wajahnya berkali-kali.
Tiba di kediamannya, Brian kecil telah menunggunya pulang dengan penuh harap akan kehadiran Herlin. Namun raut wajahnya tiba-tiba berubah cemberut saat hanya melihat ayahnya pulang sendirian.
"Di mana Tante Herlin, Pa? Katamu Tante Herlin akan datang malam ini. Tapi, mana buktinya?" tanya Brian dalam kekecewaannya.
"Dia tidak akan datang, dan mungkin tidak akan pernah lagi datang," sahut Aland dengan ketusnya sembari melangkah pergi begitu saja.
"Loh? Apa Papa sudah memarahi Tante Herlin? Padahal kemarin kami bermain sangat ceria. Brian pokoknya hanya mau Tante Herlin! Jika tidak Brian tidak ingin bicara lagi dengan Papa," geramnya dengan wajah ditekuk.
Langkah Aland seketika terhenti saat mendengar rengekan putranya, ia menoleh ke belakang, tetapi Brian sudah berlari pergi masuk ke kamarnya.
"Kenapa dia malah bergantung dengan wanita itu seperti ini? Ah sial! Sejak Herlin masuk ke dalam hidupku, mood baikku selalu kacau olehnya," ketus Aland dalam keheranan.
Sejak saat itu, Aland sama sekali tidak bisa tertidur. Ia masih memikirkan tentang Herlin yang berada di rumah Benny. Menatap ponselnya, berharap ada permintaan maaf dari Herlin karena sudah melanggar janji, namun nihil. Aland merasa semakin gundah.
"Argh! Apa ini? Kenapa dengan diriku sekarang? Wajah wanita bodoh itu terus saja menghantui ku. Ayolah ... jangan ganggu aku untuk istirahat malam ini, Herlin." Aland merasa resah sampai membuat bolak-balik dengan banyak guling kesayangannya.
__ADS_1
Namun sayangnya, ia semakin tidak bisa tertidur bahkan memejamkan mata sedikitpun.
"Apa sebaiknya aku harus bekerja saja?" tanya Aland dengan dirinya. "Tapi tidak, itu tidak akan berhasil. Lalu apa?!"
Tak kuasa menahan diri, hingga Aland memilih untuk segera menghubungi Herlin. Panggilan pertama tidak terjawab, namun panggilan kedua membuat Benny terbangun dari tidurnya saat mendengar dering ponsel terus mengganggu tidurnya.
"Siapa malam-malam begini? Ah seperti ponselnya Herlin. Tapi, dia sudah sangat terlelap," gumam Benny yang tidak tega untuk membangunkan wanita itu.
Melihat ke arah panggilan, mata Benny tiba-tiba melotot sempurna dalam keterkejutan. "Dari Pak Aland? Aa—Aland? Tunggu dulu. Aland ... ya, apa mungkin dia—Aland papa tiri ku?"
Rasa penasaran yang besar membuat Benny segera mengangkat panggilan, tetapi dengan sengaja tidak bersuara.
"Halo, Herlin! Kenapa malam ini tidak datang padaku? Halo ... hei, kau pura-pura tuli atau sengaja diam? Herlin, ayo jawab aku!" Terdengar suara yang sangat familiar bagi Benny.
Panggilan tersebut segera ia matikan setelah puas mendengarnya. Benny semakin merasa yakin. "Bahkan suaranya juga begitu mirip seperti mantan papa tiriku—Aland. Mungkinkah dia memang orang yang sama? Tapi, kenapa Herlin bisa berhubungan dengannya? Dan apa maksudnya dengan tidak datang malam ini? Apa mungkin kalau Herlin dan Aland juga sudah ... Ah, aku tidak kuasa menyebutnya."
Tidak ingin melampiaskan amarah kepada Herlin, Benny segera bangkit dari tidurnya, tetapi setelah menyelimuti tubuh Herlin. Memilih pergi dari sana, dan memasuki ruangan olahraga.
Masih larut malam, namun Benny berusaha memainkan beberapa alat tinju dan juga olahraga yang lainnya demi menghapus semua rasa kesal dalam pikirannya sekarang.
"Apakah kisah pengkhianat dari wanita yang aku cintai akan kembali terjadi? Lalu kenapa pria itu harus Aland? Tidak bisakah dia membiarkan hidupku tenang? Bahkan aku tidak lagi mengungkit saat ia membunuh Arabella," batinnya.
"Argh ... Aland! Kenapa kau harus datang dalam hidupku, pria sialan! Kematian ibu dan istriku yang paling aku sayangi oleh dirimu, lalu sekarang kau berusaha mengganggu wanita yang telah aku tandai. Tidak, Aland, tidak!" Benny tiba-tiba berteriak keras seperti sedang kesetanan.
Ia memakai alat olahraganya dengan begitu keras hingga gerakan yang salah membuat bahunya merasa sangat kesakitan.
Kelelahan membuatnya terbaring begitu saja di lantai, hingga tidak terduga kembali tertidur lelap dalam perasaan yang bercampur aduk.
__ADS_1
***
Berbeda dengan Aland yang saat itu merasa kebingungan saat panggilan terjawab, tetapi tidak ada suara yang terdengar.
"Apa ini? Gunanya ponsel untuk apa? Bahkan aku berteriak pun dia mengganggap nya seperti angin lewat," ketusnya.
Pemikiran terus berpikir jauh, sampai Aland merasa jika ada sesuatu yang aneh. "Atau mungkin jangan-jangan bukan Herlin yang menjawab ponselnya? Ah tidak-tidak! Aku tidak boleh terlalu banyak curiga dulu. Apalagi ini sudah terlalu larut, pasti dia kembali tertidur."
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba saja pintu kamar diketuk dengan begitu keras.
"Tuan, tolong buka pintunya! Ini darurat!"
"Apanya yang darurat? Tidak tahu kalau ini sudah waktunya untuk tidur?" Aland menatap dengan tajam ke arah pelayannya.
"Anu, Tuan Aland. Brian tubuhnya sangat panas, sejak tadi ia terus meminta agar Tante Herlin datang ke sini. Saya sudah mencoba mengompres tubuhnya, tapi sepertinya kita harus segera membawa Brian ke dokter."
"Apa? Ya sudah cepat siapkan mobilnya, Bi Lena," pinta Aland seraya bergegas turun dalam kekhawatiran.
Semua orang begitu panik, tak kuasa melihat Brian kesakitan. Pria kecil itu terus menangis sembari memanggil nama Herlin, hingga membuat Aland kewalahan.
"Nak, ini papa, Brian. Hei sadarlah," ucap Aland berusaha untuk segera mengusap telapak tangan Brian. “Ya ampun, Bi Lena. Tidak biasanya putraku demam panas separah ini."
"Saya pun sangat cemas, Tuah Besar. Tapi, mungkin Brian sudah sangat merindukan kasih sayang seorang ibu. Mungkin kehadiran Herlin di sini membuatmu bahagia. Tuan, sebaiknya sekarang jemput Herlin saja ke rumahnya," sahut Bibi Lena dengan sarannya.
"Aku tidak bisa menghubunginya, Bi Lena. Aku pun tidak menduga bahwa Brian akan sangat terobsesi dengan wanita itu."
"Apapun itu tolong bawa saja dia segera menjumpai Brian, Tuan. Mungkin karena wajah wanita itu yang mirip, jadinya Brian selalu ingin di dekatnya. Apalagi sejak Tuan memarahinya seperti tadi. Anak-anak pasti akan sangat terluka."
__ADS_1