Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Rencana Baru Benny


__ADS_3

Mendengar nasihat dari Costa, rasanya membuat Herlin sungguh senang. Namun, ia belum bisa mempercayai akan semua kata baik yang mungkin saja hanya untuk mendamaikan pikiran.


"Kalau begitu baiklah, ayo kita tidur, Costa. Aku ingin terbangun cepat karena besok aku akan menemuinya lagi."


"Adudu ... yang lagi berbunga-bunga. Oke, tidurlah, Herlin. Good night."


"Good night."


Di sisi lain, Benny kembali masuk ke dalam rumahnya setelah memastikan Herlin kembali dengan aman.


"Ternyata dia tinggal tepat di sebelah, baguslah."


Tanpa terduga, Halu sudah berdiri dengan senyuman ledekan yang sebentar lagi akan ia tuju kepada Benny. Namun justru lebih dulu, Benny melemparkan sebelah sandalnya sebelum berlari masuk ke dalam rumah.


Terlihat seperti anak kecil yang sedang bermain lari-larian, namun sesaat kemudian Benny mulai merasa lelah. "Udah stop. Capek juga ternyata."


"Gue juga capek, Kak. Tapi ngomong-ngomong, kenapa enggak ajak Herlin untuk tinggal di sini dengan kita saja? Dengan begitu, lo bakal lebih mudah bertemu dengannya, bukan?"


"Aku tahu, tapi itu butuh waktu, Halu. Bagaimanapun Herlin perlu beradaptasi setelah kami berpisah karena kesalahpahaman, dan sekarang aku pun harus berusaha menyakinkan dirinya kalau aku benar-benar membutuhkannya di sini sebagai istriku. Rasanya ... tidak salah, dan aku akan rela menerima Herlin meskipun sudah tahu dengan masa lalunya yang buruk," sahut Benny akan kekuatan hati yang besar karena sebuah cinta.


"Lo keren sekali, Kak Ben. Gue sendiri pasti belum yakin bisa menerima seorang wanita yang jelas-jelas memiliki masa lalu yang buruk, meskipun bisa, tapi tetap saja gue belum ingin karena bagaimanapun juga gue belum merusak wanita manapun, jadinya enggak mau yang udah dirusak," lanjut Halu.


"Ya itu terserahmu saja. Ngomong-ngomong apa anak-anak sudah tiba di Kanada? Belum sehari anak-anak pergi dari sini, aku jadi kangen," tanya Benny yang merindukan Bulan dan Brian.


"Gue belum dapat kabar, Kak. Tapi, nanti kalau sudah dapat bakal gue kabari. Oh ya ngomong-ngomong, kasih uang dong, Kak."

__ADS_1


Mata Benny seketika menatap tajam, tetapi Halu justru tersenyum lebar. "Duit aja kerja lu, udah nih ambil!"


"Nah ... gitu dong." Halu tersenyum lebar saat ia menerima uang dalam jumlah besar. "Apa ada kerja lagi buat gue sekarang, Kak Ben?"


"Enggak ada."


"Ya sudah."


Tanpa mereka sadari, Sonna sudah mendengar semua pembicaraan dari Benny dan Halu. Membuatnya begitu tidak menduga, kalau Herlin tinggal di dekatnya.


"Herlin menjadi ancaman untuk aku bisa menjadi nyonya besar di rumah ini. Jika begitu, aku harus menghubungi Aland supaya bisa kembali membawa Herlin dari rumah ini," ucapnya sembari berjalan ke arah telepon rumah.


Awalnya Sonna melihat kalau telepon rumah berada di tempat biasa yaitu di dekat televisi, namun sekarang sudah tidak ada.


"Aneh, ke mana perginya telepon itu?"


"Siapa yang ingin buat rencana buruk? Tidak ada sama sekali," bantah Sonna dengan cepat.


"Kapan dia mendengar niatku? Padahal, aku sudah berbicara dengan sangat pelan," batin Sonna dalam sedikit ketakutannya.


"Udah deh, Sonna. Gw tahu saat lo mendengar pembicaraan gue dan Kak Ben. Apa lo pikir keberadaan lo di sini cuma buat tidur nyenyak goyang-goyang kaki, begitu? Enggak sama sekali. Sekarang lo harus jawab jujur sama gue, sebelum gue beritahukan semua niat buruk lo ini sama Kak Ben. Kalau dia sampai tahu, gue yakin lo cuma bakal tinggal nama doang, paham?!" ancam Halu yang memiliki alat pendengar suara sembari rekaman yang sudah terpasang di rambut Sonna.


Deg! Jantungnya merasa takut sampai tangannya bergetar. Terlebih dengan mengingat saat Benny mengancamnya dengan sebuah se kata api.


"Aku tidak mau, aku masih mau hidup," batin Sonna.

__ADS_1


"Y-ya aku jujur kalau udah mikir aneh-aneh, tapi tolong jangan kasih tahu sama Benny soal ini. Halu, please! Bantu aku." Sonna memohon untuk kali pertamanya kepada pria rese seperti Halu, namun justru pria itu tersenyum kecil.


"Enggak segampang itu dong. Bagi gue, lo itu cuma pelayan pribadi gue di sini, maka karena lo pelayan. Sekarang buat makanan enak buat gue, kalau misalnya kurang enak, buat sampai enak," perintah Halu dengan sengaja ingin mengerjai Sonna.


"Astaga ... aku harus masak, begitu? Halu, apa tidak ada yang lain? Aku tidak pintar memasak."


"Punya internet, kan? Ya udah tinggal lihat terus buat, itu aja sulit. Udah sana, Sonna. Buat makanan enak spaghetti Italia. Enggak tahu kenapa, gue jadi pengen makan itu."


"Itu sih cuma ide buruk kamu aja. Halu, tolong jangan suruh masak, aku takut nanti mukaku jadi hitam dan tanganku keriput."


"Banyak alasan lagi. Ya sudah lo setelah selesai masak, tolong beresin kamar gue juga. Kerjakan tanpa banyak asalan! Atau enggak, gue tambahin hukuman buat lo," paksa Halu dengan tegas.


"Ish! Rese!" kesal Sonna sembari menghentakkan kakinya sebelum melangkah pergi.


Membuat Halu sangat bersemangat ketika menyuruh Sonna dengan seenaknya jidatnya, namun tanpa ia duga bahwa dari dalam layar komputer, Benny sudah melihat sekaligus mendengar semua perbicangan yang sedang berlangsung.


"Jadi, diam-diam Sonna ingin merusak acara bagus untukku dan Herlin. Itu artinya wanita itu masih juga belum puas dengan semua ancaman yang sudah aku berikan padanya. Memang benar, jika bukan langsung menghabisi nyawanya saja maka tidak akan membuatnya jera. Tapi, aku tisak bisa melakukan hal itu karena sepertinya Halu sudah mulai menaruh rasa lebih dengan Sonna, pasti adikku akan sangat kecewa jika aku berniat untuk membunuh wanita itu. Sepertinya aku harus memisahkan mereka dari sini," gumam Benny dengan pemikiran yang tepat.


Niat Benny tidak tanggung-tanggung, ia segera menghubungi Halu yang masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Ada apa lagi, Kak Ben? Gue padahal lagi awasi itu cewek."


"Aku sudah tahu kalau Sonna berniat buruk padaku dan Herlin, sepertinya dia memang sangat setia dengan atasannya dulu—Aland. Karena itulah aku memanggilmu ke sini, Halu. Lebih baik kamu pindah ke rumah Sonna tempati, di sana akan jauh lebih mudah jika kita mengawasi wanita itu. Jangan khawatir akan aku tambahkan anggota penjaga yang lain supaya dia tidak bisa kabur. Kalau aku melakukan niat yang lain, aku tahu itu akan sangat menyakiti dirimu, benarkan?"


"Apa maksudmu dengan gue, Kak Ben? Kenapa malah gue yang harus lo takutkan?" Halu masih tidak sadari, terlebih ia memang pria yang kurang peka.

__ADS_1


"Karena aku tahu kalau kamu mulai menaruh perasaan lebih kepada Sonna, untuk itu aku berusaha menjaga perasaanmu juga, Halu, dan tidak akan berniat membunuhnya. Semua keputusan akan aku serahkan padamu sekarang. Ya atau tidak? Itu akan menjadi keputusanmu juga karena Sonna akan kau awasi, tapi sebaliknya lagi, dia itu sangat cerdik jika kita berusaha mengganggap nya main-main."


__ADS_2