Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Pengasuh Brian


__ADS_3

"Ayo, Tante. Kita lanjut bermain," ajak Brian sembari menggandeng tangan Herlin. Seketika membuat Herlin merasa menang sampai ia meledek Aland dengan lidahnya.


"Sial," lirih Aland dengan perlahan. Ia sadar terlalu sulit untuk menolak setiap kali putranya meminta sesuatu, bahkan demi sang anak, Aland rela untuk tidak menikah lagi.


Dari jauh Aland duduk sembari melihat kesenangan dari Herlin dan putranya. Secara tidak langsung ia tersenyum di saat keduanya ikut tertawa lepas.


"Aku tahu kau merindukan ibumu, Brian. Meskipun memang aku mengakui ada sedikit kemiripan yang Herlin punya dari Arabella. Meskipun begitu, ibumu tetaplah Arabella, bukan Herlin atau bisa digantikan oleh orang lain. Aku tidak boleh memberikan kenyamanan untuk Brian bersama dengan wanita itu," gumamnya.


Hampir lima belas menit bermain bola, keduanya mulai terasa melelahkan. Herlin segera mengajak Brian untuk beristirahat sejenak.


"Kalian sudah puas?" tanya Aland dengan sedikit nada kesal ketika mereka berjalan mendekat kearahnya.


"Tidak, Papa. Aku masih ingin bermain dengan Tante ini, meskipun aku tidak tahu siapa namanya," sahut Brian dengan sangat cepat. Anak seusia enam tahun itu sudah begitu cerdas menjawab.


"Oh ya ampun, anak manis. Kenapa tidak bertanya sejak tadi, Brian? Kamu bisa memanggilku dengan Tante Herlin, ya." Herlin menjawab dengan gemas ikut menarik ke dua pipi pria kecil.


"Baiklah, Tante Herlin."


"Ya sudah, sekarang kamu masuk ke dalam dan mandi. Baru setelah itu tidur, ya. Tante ingin bicara sebentar dengan papamu," sahut Herlin yang sudah mulai berhasil mengambil simpati dari Brian.


"Baik, Tante Herlin," sahut Brian tanpa membantah sedikitpun.


Semakin membuat Aland merasa heran dengan melihat kedekatan anaknya. "Apa yang sudah kau lakukan sampai Brian menurut sekali denganmu? Padahal kalian baru kali pertamanya bertemu. Aku jadi heran, apa mungkin kau menyihirnya?"


"Hei, kolot sekali pikiranmu, Aland. Siapa yang sedang menyihir putramu? Tentu saja tidak ada. Lagi pula anak sekecil itu masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu, bukan sekedar dari papanya saja. Apalagi papa yang egois seperti dirimu ini," ketus Herlin.

__ADS_1


"Egois katamu? Lalu kenapa kau datang ke rumah pria egois itu? Pasti kau merasa nyaman setelah ciuman malam itu, kan? Herlin, jangan membohongi diriku. Apalagi wanita sepertimu ini akan selalu siap membuka diri untuk setiap pria," hina Aland ketika ia menatap Herlin dengan sebelah mata.


Ejekan yang sama Herlin dengar dari kedua pria untuknya, ia pun sadar kalau dirinya memang pantas menerima hinaan itu. Tetapi, ia merasa sakit hati kepada dirinya sendiri. Meskipun begitu, tekadnya yang besar demi kesembuhan adiknya tidak akan berhenti.


"Ya, kau memang benar, Aland. Aku kembali datang ke rumah pria egois itu demi sebuah kepentingan. Tapi percayalah, jika kali ini kepentingan ku bukan untuk dirimu, meskipun awalnya aku berpikir memang untukmu," sahut Herlin.


"Apa maksudmu?" Aland terlihat kebingungan.


"Izinkan aku agar menjadi pengasuh untuk Brian, dia masih membutuhkan teman yang bisa dianggap seperti ibunya," pinta Herlin.


"Apa? Hei, aku masih bisa mengasuh putraku sendiri. Lagi pula kenapa aku harus mempercayai dirimu, Herlin? Terlebih kau setiap malam keluyuran ke dalam bar, apakah pantas putraku yang baik-baik diasuh oleh seorang wanita seperti dirimu ini? Cukup, Herlin. Kau sudah melewati batas karena aku tidak suka bermain-main jika itu menyangkut tentang putraku," bantah Aland.


"Hei, mengertilah sedikit, Aland. Tolong aku kali ini saja. Tante Rere berpesan agar aku mendatangimu karena aku butuh uang. Meskipun aku tahu kita tidak berteman, tapi sudah berciuman. Kau pasti mengira jika aku wanita yang tidak baik, itu terserah dirimu saja. Namun sekarang, aku butuh uang untuk operasi adikku. Dia harus operasi hari ini," sahut Herlin dengan berkata jujur.


Seketika membuat Aland terdiam di saat mendengar hal itu, keburukan yang ia lihat terhadap Herlin ternyata demi sebuah penyelamatan yang harus wanita itu lakukan. Membuat Aland mulai merasa kasihan, tetapi ia tidak ingin percaya begitu saja.


"Ya, tentu saja tidak, Aland. Kau bisa datang bersamaku jika memang kau ingin, dan kita lihat operasi adikku bersama." Helrin berusaha menyakinkan.


"Baiklah, aku setuju."


"Kau setuju? Benarkah, Aland?" tanya Herlin sembari tersenyum kecil. "Itu artinya kau sudah menerima diriku bekerja di sini, kan?"


"Tentu saja belum, tapi aku harus memastikan bahwa kau tidak sedang berbohong."


"Baiklah, Aland. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit karena aku juga harus membuat persetujuan untuk operasi adikku, tapi kau harus membayar biayanya, ya. Please ... bantu aku, Aland. Anggap saja itu sebagai bayaran muka untuk aku bekerja di sini."

__ADS_1


"Baiklah."


Dengan sangat senang Herlin sampai memeluk Aland dengan begitu erat, tanpa keduanya sadari bahwa Brian sedang melihat mereka berdua. Pria kecil itu segera memalingkan wajahnya dengan sedikit tersenyum.


"Apa maksudnya dengan pelukan itu? Apa Tante Herlin akan menjadi ibuku?" batin Brian dalam kebingungan.


Brian segera berlari ke arah dapur, ia melihat pelayan Lena sedang bekerja. Segera menarik tangan pelayan untuk ikut dengannya. Pelayan Lena sampai terkejut saat Brian menunjukkan Aland yang sedang berpelukan.


"Bibi, apa itu artinya Tante itu akan menggantikan ibuku nanti?" tanya Brian dengan sangat polos. "Mereka sampai sedekat itu, bukankah Bibi bilang kalau berdekatan seperti itu tandanya keluarga?"


"Um ... Brian, kau seharusnya masuk ke kamar dan beristirahat, Nak. Ayo Bibi antar." Membuat pelayan Lena sampai tidak tahu harus menjawab apa..


"Tidak mau! Sebelum Bibi jawab yang Brian katakan dulu." Pria kecil itu mulai merengek. Hingga Bibi Lena merasa kewalahan.


"Upss jangan nangis dong, Nak. Sebentar kita tidak boleh melihat Papa dan Tante itu seperti ini, Brian. Nanti pasti Papa Aland sendiri yang akan menjawab pertanyaan Brian ini. Sekarang tidurlah dulu, ya."


"Bibi tidak berbohong, kan?" tanya Brian yang kembali memastikan. Ia sampai menutup pintu dapur demi pelayan tidak kembali.


"Tentu saja, Nak. Ya sudah Bibi mau lanjut masak dulu. Kamu langsung ke kamar, ya."


"Oke, Bi." Brian berlari dengan raut wajah yang bahagia.


Pelayan tersebut masih menatap ke arah Aland dan Herlin, ia merasa sedikit heran. "Apakah mungkin setelah kepergian Arabella, Tuan Aland sudah menemukan kebahagiaannya kembali? Jika itu memang benar, aku setuju, dan tidak akan menggangu hidup mereka. Terlepas dari banyak kesalahan yang dulu pernah aku perbuat kepada Nyonya Arabella."


Teringat akan masa lalu yang buruk saat dirinya terus saja menjadi marabahaya untuk sebuah pernikahan Aland.

__ADS_1


Berbeda dengan Herlin dan Aland yang saat itu berjalan pergi, tetapi tiba-tiba saja keduanya berpapasan dengan seorang wanita saat ingin keluar rumah.


__ADS_2