Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Teman Tapi Mesra


__ADS_3

Ikut menunduk sembari mengusap air mata Sonna dengan sapu tangannya. Ia merasa sedikit bersalah setelah berbicara kasar meskipun semuanya kebenaran.


"Udah jangan lagi nangis, kalau tadi gue salah ngomong, iya gue minta maaf. Tapi, udah deh daripada nanti sakit kepala," pinta Halu dengan rasa gengsinya, padahal di hati kecilnya, ia ingin sekali memeluk Sonna untuk meredakan tangisan.


Bukannya menjawab, justru Sonna sendiri yang berbalik untuk memeluk Halu sampai membuat pria itu terduduk sembari membalas rangkulan wanita itu yang terus-menerus menangis.


"Maafkan aku, Halu. Aku sudah terlalu banyak melakukan kesalahan sampai harus berpikir untuk menjadi satu-satunya bagi Benny, dan merendahkan dirimu. Seharusnya aku sadar kalau kau tidak seburuk itu, dan seharusnya juga kau bisa membalas semua perbuatanku ini. Tapi, justru kau bersikap baik padaku," ucap Sonna yang pelan-pelan berhenti menangis.


"Udah ah cengengnya, sekarang buatin gue sarapan dong. Laper nih," pinta Halu sembari memegangi perutnya.


"Ish aku masih mau nangis tahu! Tapi ya sudahlah, kita akan pulang, dan aku akan memaksanya untukmu," sahut Sonna sembari terkekeh kecil.


Melihat wanita itu sudah bisa tersenyum, membuat Halu merasa lebih senang, dan kembali melanjutkan perjalanan mereka. Namun ternyata terdapat kemacetan yang panjang.


"Apa di depan sana? Padahal biasanya di sini jarang sekali macet."


"Gue enggak tahu pasti, yang jelas ada mobil pengelolaan hewan buas di depan sana. Mungkin binatang buas turun ke jalan sampai akhirnya kita macet. Lebih baik kita cari jalan pintas saja. Apa lo tahu jalan yang lebih mudah untuk tiba di rumahmu?"


"Ada cuma jalannya sedikit ektrim apalagi kalau sedang hujan lebat. Tapi mungkin, kita bisa mencobanya dulu. Ayo kita lewati jalan pintas saja," ajak Sonna dengan tenang.


"Oke, apa sebaiknya lo yang nyetir? Gue enggak tahu medan perjalanan di jalan pintas itu."


"Tidak masalah, Halu."


Mereka segera bertukar tempat tanpa turun dari mobil, namun kedekatan itu membuat Sonna tidak sengaja menyentuh benda lucu dibalik celana Halu.


Seketika Halu terkejut, namun pria itu berusaha bersikap biasa saja daripada menimbulkan masalah jika seandainya bangkit dengan tiba-tiba.


Rasa canggung dari keduanya semakin terlihat, apalagi membuat Sonna tersipu malu saat ia mengingat dengan apa yang sudah ia sentuh. Tetapi kemudian, ia kembali melanjutkan perjalanan melalui jalan pintas.


Dugaan Sonna benar, jalanan cukup ekstrim sampai membuat mereka harus bermalam di dalam mobil.


"Sepertinya kita tidak bisa lanjut, dan jauh lebih parah daripada kemacetan sebelumnya. Tapi kalau kita berputar arah, maka yang ada bahan bakarnya akan habis," kata Sonna.

__ADS_1


"Benar juga, ya sudah kita akan bermalam di sini saja. Tapi, apa lo punya makanan untuk sementara? Maksud gue, entah itu cemilan biasa daripada kita bosan seperti ini."


"Sebentar ya, sepertinya di dalam koperku, ada beberapa cemilan yang semalam tidak habis aku makan."


Sonna bergerak melangkah ke belakang, namun pandangan mata Halu justru menatap ke arah pinggulnya yang terlihat sangat seksi.


Membuat Halu menelan ludahnya sembari menutup pahanya dengan kedua tangannya, namun ia memikirkan sesuatu dalam benaknya. "Please! Jangan sekarang, oke! Ayolah ... jangan bangun sekarang."


Namun tetap saja, tidak bisa terkendali saat Halu sudah mulai sangat menginginkannya. Halu berusaha memejamkan matanya tepat ketika Sonna ingin membagi cemilan. Tetapi justru, pandangan Sonna tertuju ke bawah sana.


"Apa ini? Halu pasti sedang menahan sesuatu, tapi apa mungkin dia menyukaiku?" tanya Sonna dengan penuh kebingungan.


"Hei, Halu! Apa kau tidak jadi makan?"


"Enggak deh, lo saja yang makan," sahut Halu tanpa menatap wajah Sonna.


Namun Sonna mulai berpikir licik, ia dengan sengaja menarik tangan Halu agar bisa menatapnya. Namun justru tindakannya itu membuat Sonna terduduk dengan tiba-tiba di atas pangkuan Halu.


"Ngapain masih lihat-lihat? Udah sana turun, pegel tahu!" ketus Halu saat ia merasa semakin tidak tahan.


Namun anehnya, Sonna seperti sengaja tidak ingin beranjak turun, dan justru mengangkat sebelah kakinya untuk bisa memeluk mesra.


"Katakan dengan sejujurnya padaku? Apa kau mulai tertarik padaku, Halu?" tanya Sonna setelah mengalungkan kedua tangan di leher Halu.


"Lo lagi demam ya? Udah ah, jangan nanya aneh-aneh." Halu berusaha menghindar sampai ia ingin mengangkat tubuh Sonna untuk lepas darinya.


"Ayo jawab! Kalau kau cuma diam saja, maka aku akan lebih menekan adik kecilmu. Biar dia berteriak di bawah sana, Halu. Katakan apa kau memang tertarik padaku? Jika ya, maka aku akan belanja untuk mencintaimu," tanya Sonna dengan kebenaran saat hatinya merasa jika lebih baik bersama dengan orang yang dicintai, daripada harus mencintai.


Masih tetap tidak Halu jawab, ia begitu kuat bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Padahal di bawah sana, adik kecilnya sudah bergerak dan meminta untuk terbebas.


"Sonna, aku mohon ... minggir lah," pinta Halu dengan perlahan.


"Enggak mau! Aku tetap seperti ini, terserah apa maumu!" ketusnya yang justru berbalik memeluk dan merebahkan kepalanya di atas dada bidang Halu.

__ADS_1


"Oh ya ampun ... cobaan ini terlalu berat."


"Jika memang begitu, maka ringankan saja bebanmu, Halu."


"Apa maksudmu sekarang?"


"Maksudku? Tentu saja aku mau agar kita menjadi satu ... kau dan aku, Halu. Aku juga menginginkanmu," sahut Sonna sembari menyentuh bibir bawah Halu dengan sengaja.


Tatapan mata Sonna terus mengarah ke bibir bawah Halu tanpa berkedip, hingga membuat Halu sendiri semakin kehilangan akal menghadiri wanita ini. Namun tidak mau tahu, ia pun akhirnya membalas pelukan dengan erat.


"Jika memang kau memaksa, maka jangan salahkan aku kalau kau akan menjerit, Sonna," bisiknya sebelum merampas ciuman yang semakin bertubi-tubi.


Melonggarkan sedikit pakaian bawahnya, dan Halu semakin melanjutkan kecupan mesra yang terus meningkat. Begitupun dengan Sonny yang perlahan-lahan mulai melepaskan kancing pakaian Halu dengan sengaja. Hingga membuatnya mengigit bibirnya sendiri dengan penuh semangat.


"Aku mau."


"Kau mau? Yeah ... tentu," bisiknya.


Mengangkat tubuh Sonna untuk bergerak ke kursi tengah, dan pertempuran mesra mulai terjadi dengan semakin menggoda.


Saat Halu berada di bawah, Sonna mulai mengambil peran hingga mata Halu terpenjam menikmati sensasi yang luar biasa.


Lalu dengan tiba-tiba, Halu mulai mengambil peran utama hingga membuat Sonna menjerit mobil bergoyang berirama. Dalam penuh sensasi yang luar biasa, Sonna baru tahu jika Halu bukan saja pintar dalam mengelak ucapan, namun juga pintar dalam memuaskan.


Langkah pertama telah usai, dan pergerakan kedua dimulai. Sonna semakin menginginkan lebih dan lebih, tetapi tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering yang membuat mereka berhenti sejenak.


Namun sayangnya, Halu tidak sadar saat jadi tangannya ingin mematikan bunyi dering, tetapi justru malah menghidupkan sambungan panggilan. Namun keduanya tidak sadar, jika seorang wanita sudah mendengar ******* mereka yang semakin memuaskan.


Hingga di titik terakhir tiba, dan sembari memeluk mesra Halu dan Sonna semakin tidak berdaya. "Ahh Sonna ... apa kau mau lagi?"


"Yeah ... apa kita harus membeli obat perkuat nanti?"


"A-a-aku ah ... setuju, oh ... kau senang?"

__ADS_1


__ADS_2