Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Aku Bukan Arabella


__ADS_3

“Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya, Bi? Sedangkan sekarang Herlin sedang bersama pria lain, entah apa yang sedang mereka lakukan berdua. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan Brian terus terobsesi dengannya seperti ini," batin Aland yang tidak memiliki kuasa atas segalanya.


***


Dokter memberikan pemeriksaan kepada Brian bahwa ternyata putranya mengidap demam panas dan kecendrungan sifat putus asa yang terlalu cepat. Seperti ada sebuah trauma yang besar. Selama ini Aland tidak pernah tahu bahwa putra kecilnya sudah memikirkan pikiran yang berat. Terlebih ia sudah sibuk bekerja sepanjang waktu.


Bibi Lena berjalan mendekat kearah Aland yang sedang menatap Brian dengan selang infus.


"Apa Brian harus rawat inap, Tuan Besar?"


"Ya, Bi. Aku tidak akan mungkin membiarkan putraku pulang dalam keadaan yang lemah seperti ini. Tapi ngomong-ngomong, apa sebelumnya Brian pernah mengatakan sesuatu tentang kejadian buruk yang ia alami di sekolah? Mungkin Brian lebih terbuka padamu, Bi."


Perlahan Bibi Lena mengangguk kecil, ia berkata. "Sebetulnya ada, Tuan Aland. Namun, saya merasa jika anak-anak pasti hanya bercanda dengan semua lelucon mereka, terlebih Brian terlihat biasa-biasa saja, maka dari itu saya tidak pernah mengatakannya. Brian pernah cerita kalau di sekolahnya, ia sering dijauhi dari teman-teman karena beberapa hal saat sering sekali menolak ajakan bermain dan bercerita tentang kehebatan ibunya. Saya rasa dia memang sangat membutuhkan sosok seorang ibu sambung, Tuan."


"Itu sebabnya putraku selalu memilih bermain sendirian di rumah, daripada harus ke luar bersama dengan teman-temannya lain. Apakah masih ada hal buruk yang Brian sebetulnya tidak jujur denganku? Ya ampun, bagaimana ini? Aku tidak akan mungkin membiarkan putraku tumbuh dalam trauma seperti ini," batin Aland yang semakin tidak tega mendengarnya.


"Bi, sepertinya saran darimu memang benar. Hanya saja ... aku tidak akan mungkin menjadikan wanita aneh-aneh untuk menjadi ibu sambungnya, kan? Bahkan masalah ini membuatku jauh lebih pusing daripada pekerjaan di kantor," sahut Aland sembari memijit keningnya dengan perlahan.


"Bukankah sudah ada Herlin, Tuan? Lagi pula Brian juga sangat menyukai wanita itu. Itu artinya hanya dialah yang pantas untuk menjadi ibu sambungnya. Mengenai dengan cinta, saya yakin kalau seiring waktu Tuan akan merasakannya sendiri," timpal Bibi Lena dengan santainya.


"Herlin? Tidak, Bi. Itu sangat tidak mungkin."


"Kenapa tidak, Tuan Besar? Herlin itu cantik, dan wajahnya ada kemiripan dengan Nyonya Arabella dulu. Saya rasa ... dia sangat pantas. Tapi, semuanya kembali padamu, Tuan Aland. Kalau begitu saya akan mencari makanan untuk kita berjaga dulu, ya."

__ADS_1


"Ya sudah, pergi saja, Bi. Titip kopi luwak satu, ya."


"Tentu, Tuan Aland." Wanita paruh baya itu segera melangkah pergi, namun ia kembali menoleh sampai berpikir sesuatu dalam batinnya. "Kasihan sekali kamu, Nak. Harusnya dulu Arabella memilihmu saja, tidak dengan Benny. Namun, aku telah salah membantu Benny, dan pada akhirnya aku pun ditinggalkan olehnya."


***


Sejak mendapatkan telepon dari Aland, selepas itu pula Benny sama sekali tidak bisa kembali tertidur dengan tenang. Walaupun matanya sempat terpejam, tetapi berkali-kali ia terus bermimpi buruk.


Berbeda dengan Herlin yang baru saja terbangun dari tidurnya, meraba ke arah samping kiri, tetapi tidak ia temukan keberadaan Benny.


"Di mana dia?" tanya Herlin sembari merenggangkan tubuhnya. "Kenapa dia bangun tanpa membangunkan diriku?"


Herlin bergerak turun, berniat untuk ke kamar mandi. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat dirinya ke arah cermin. Sebuah kalung berlian yang sudah ia pakai membuat ingatannya kembali teringat.


Terdengar suara pintu terbuka, sontak membuat Herlin segera berjalan mendekat ke arah Benny. "Ben, darimana saja?"


Tidak ada jawaban, raut wajah Benny terlihat datar tanpa ingin membalas tatapan Herlin. Membuat Herlin merasa seperti ada yang aneh, tetapi wanita itu tidak ingin terlalu menghiraukan nya.


Berjalan mendekat sembari merebahkan kepala di atas bahu Benny sembari bertanya. "Kau sudah sarapan? Jika belum, aku akan membuatkan sarapan untukmu, Ben."


"Aku tidak lapar, kau saja," sahut Benny dengan ketusnya seraya berjalan menjauh.


Semakin membuat Herlin yakin bahwa pria itu tidak sedang baik-baik saja. Ia berusaha mendekat bahkan sampai membawa Benny masuk ke dalam selimut yang sama dengannya.

__ADS_1


"Ada apa denganmu, Ben? Kenapa wajahmu di tekuk begitu? Ayolah, apa mungkin adik kecilmu itu tidak menginginkan diriku lagi?" tanya Herlin sembari ingin menyentuh posisi bawah Benny.


Tetapi dengan cepat, pria itu menepis tangan Herlin seraya dengan menatap tajam kearahnya. "Jangan sentuh aku."


"Kenapa memangnya? Kita bahkan sudah tidur bersama, lalu kenapa aku tidak bisa menyentuh milikmu, Ben?"


"Aku bilang tidak, tentu saja tidak perlu, Herlin. Sekarang pulanglah. Aku ingin menjemput Putri kecilku, dan tidak ingin jika dia melihatmu ada di sini," usir Benny dengan sangat terpaksa.


"Sungguh? Kau sekarang sampai mengusirku, Ben? Wah ... hebat sekali dirimu, dan aku baru tahu jika seorang pria yang memiliki uang memang selalu bermain dengan sesuka hatinya. Padahal semalam kau berusaha untuk mengajakku menikah, lantas sekarang apa ini? Kenapa kau harus mempermainkan diriku seperti ini, Benny? Sampai kalung berlian ini, kau pikir itu lucu?"


"Bukan aku yang mempermainkan dirimu, tapi kau, Herlin!" bantah Benny dengan cepat sampai membuatnya melampiaskan amarah dengan menendang dan memukul meja rias miliknya.


Sontak membuat Herlin terkejut, namun ia semakin tidak mengerti dengan sikap pria itu sekarang.


"Kenapa kau sekarang diam, Herlin? Tidakkah kau berpikir untuk mencari keuntungan dariku? Hanya karena aku menyukaimu, dan kau tahu jika uangku bisa kau peras, lantas kau ingin mempermainkan diriku, begitu? Dengarkan aku satu hal, Herlin. Kau bukanlah Arabella yang dapat membuatku luluh setelah pengkhianatan," geram Benny dengan kasar.


"Arabella lagi? Kau selalu menyebut dan menyamakan tentang wanita itu denganku, padahal aku sudah bilang, jika aku bukanlah dia, Ben! Lagi pula kapan aku ingin merampas uangmu tanpa bekerja? Bahkan aku tidak meminta untuk dinikahi." Herlin membantah dengan keras, ketika ia merasa Benny sudah terlalu kelewat batas.


"Dengar, Herlin. Kau memang tidak merampas uangku, tapi aku tidak suka dengan wanita penghibur seperti dirimu. Tidak bisakah kau tinggalkan hal menjijikan itu demi diriku seorang? Bahkan aku sangat tidak mengerti kalau kau sampai rela memberikan tubuhmu juga kepada Aland. Kenapa harus Aland, Herlin? Mungkin jika orang lain, pelan-pelan aku bisa mengerti tentang dirimu."


Kecemburuan dan amarah dalam rasa dendam semakin terlihat jelas, mampu membuat Herlin yakin bahwa di masa lalu pria itu sudah memiliki hubungan buruk dengan Aland. Namun satu hal yang Herlin tidak mengerti.


"Aland? Tunggu dulu, Ben. Kapan aku memberikan tubuhku padanya? Bahkan kau orang pertama yang telah merebut keperawanan ku ini," tanya Herlin dalam ketidakpastian.

__ADS_1


__ADS_2