
Tanpa Herlin duga bahwa saat ia keluar membeli makan sudah ada seorang pria yang terus mengintainya, begitupun saat ia kembali ke ruangan adiknya di rawat.
Terlihat seorang dokter bersama dengan Rere seperti sedang berbicara begitu serius. Dengan cepat Herlin berlari mendekat.
"Apa operasinya sudah selesai?" tanya Herlin dengan sangat terburu-buru.
Sang dokter tersenyum senang sembari melirik ke arah Herlin, namun segera dokter itu pergi.
"Katakan yang sebenarnya terjadi, Tante?"
"Tenanglah, Herlin. Adikmu sudah membaik, kaya dokter kalau operasinya sudah berjalan dengan lancar. Kita hanya menunggu sampai ia sadar, namun Leony masih perlu waktu untuk dirawat beberapa hari ini," jelas Rere seperti yang sudah ia ketahui.
Berterima kasih kepada Tuhan atas semua kesempatan untuk adiknya. Herlin segera berlari ke arah pintu ruangan, dan menatap wajah adiknya yang masih tertidur dengan pulas.
"Sebentar lagi kau akan kembali melihat matahari, Leony," gumam Herlin dengan penuh bahagia. Tapi, tiba-tiba saja bahunya dipegang oleh seseorang.
"Apa uang ini dari Benny atau Aland?" tanya Rere.
"Dari Aland, Tan. Mulai besok aku akan bekerja di sana sebagai pengasuh anaknya. Terlebih putra kecilnya itu terlihat sangat ceria bila di dekatku."
"Baguslah, Herlin. Jika putranya sudah begitu dekat denganmu, maka itu menjadi salah satu tanda bahwa dia inginkan dirimu menjadi ibu sambungnya. Tidakkah kau harus menikahi sekarang? Aku ingin melihatmu menikah, Herlin," tanya Rere dengan tiba-tiba.
Seketika membuat Herlin terheran. "Menikah? Tapi, kau tahu sendiri bahwa aku ingin memiliki banyak uang, Tan. Ini juga ide darimu, kan? Mungkin nanti aku akan memikirkannya."
"Aku tahu itu, Herlin. Hanya saja ... ini akan jauh lebih menguntungkan untukmu. Baik menikah dengan Aland ataupun Benny, itu sama saja karena uang akan datang seiring pernikahan kalian. Jadi, menikahlah dan hiduplah dengan layak," desak Rere.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan pikiranmu, Tan. Awalnya kau ingin agar aku mencari pekerjaan meskipun dengan cara yang salah, tapi sekarang kau justru ingin aku menikahi mereka? Hei, bagaimana mungkin wanita biasa sepertiku bisa menikahi dua bos besar? Sangat tidak masuk akal," bantah Rere dengan cepat.
Perlahan Rere memutarkan tubuh Herlin seperti memperlihatkan bahwa keponakannya itu memiliki sebuah keistimewaan. "Tidak terlalu berat, Herlin. Lihatlah kedua gunung kembarmu, bahkan aku tidak sebanding denganmu yang memiliki ukuran lumayan besar, dan juga bodi belakangmu. Sangat wow! Aku sendiri iri ketika melihatmu berdiri di sampingku sekarang. Jadi, mereka berdua tidak akan mungkin menolak ini, Herlin. Masih berpikir untuk merasa kekurangan? Lantas, terlalu banyak kelebihan di dalam tubuhmu ini."
"Oh, kau berpikir jika aku memiliki keistimewaan ini maka bisa menikah dengan pria manapun, begitu? Tentu tidak, Tan. Aku tidak akan menikah jika bukan dengan pria yang aku cintai. Lebih baik Tante Rere saja yang menikah. Apalagi usiamu sudah jauh lebih tua dariku," bantah Herlin dengan ketusnya. Lalu ia bergegas pergi.
Rere tahu bahwa Herlin bukanlah wanita yang akan dengan mudahnya mau mendengarkan semua ucapannya, jika bukan karena sebuah keadaan yang memaksa. Namun, ia pun sadar bahwa tidak akan bisa hidup dalam tekanan bersama kedua keponakannya setiap waktu. Terlebih ia juga menginginkan sebuah keuntungan atas pernikahan Herlin, jika saja terjadi.
"Gadis itu selalu saja keras kepala, apa sebaiknya aku harus menjebaknya saja?" tanya Rere dalam batinnya.
Saat sedang berpikir, tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari seseorang yang paling spesial untuknya.
"Halo, Sayang," sapa Rere kepada seorang pria yang belum lama ini ia kenal.
"Di rumah sakit, ada sedikit masalah dengan keponakanku. Kau sendiri ada di mana, Sayang?"
"Aku sedang ada di luar. Ngomong-ngomong aku sangat merindukanmu, tapi sepertinya kita tidak bisa bertemu dalam waktu dekat, ya. Kakiku sedang kesakitan, dan aku merasa tidak percaya diri harus bertemu denganmu sekarang."
"Loh, kenapa harus malu denganku, Jonathan? Bukankah dalam waktu dekat kita akan merayakan hari jadian kita yang sebulan? Kau tahu sendiri kalau aku sangat ingin ke Paris. Ayolah temani aku kali ini, aku lelah sendirian," sahut Rere dengan keluhannya. Terlebih ia tidak tahu bahwa nama lengkap kekasihnya.
"Sungguh, aku tidak sedang berbohong, Sayang. Jika nanti aku sembuh, maka aku akan segera menghubungimu lagi. Sudah dulu, Sayang. Nanti aku akan kembali menghubungimu."
"Baiklah jika begitu, Sayang. Aku akan menunggunya," sahut Rere dengan sedikit terpaksa sembari menutup ponselnya. "Padahal akhir-akhir ini terlalu banyak masalah, dan Jonathan seperti berusaha menghindari ku."
Erick Jonathan, itulah nama lengkapnya, namun tidak ia sebutkan kepada kekasihnya. Melainkan Rere hanya kenal dengan nama Jonathan. Mereka belum lama bertemu, terapi Erick sudah memperlihatkan sikap yang sangat bertanggung jawab tepat ketika pertama berkencan.
__ADS_1
Dari jauh Erick tersenyum kecil sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. "Permainan tidak akan lama lagi dimulai, Herlin. Ayo kita pergi dari sini. Sekarang sudah cukup untuk pengintai ini, besok kita akan lanjutkan."
Rere merasa frustasi dengan keadaan hidupnya sendiri, ia merasa tidak bertenaga dan kehilangan arah. Walaupun sudah ada kekasih, namun rasanya terlalu memberatkan untuk kembali ia jalani. Tepat ketika dirinya bergerak pergi, tiba-tiba saja langkahnya tidak seimbang dan hampir membuatnya terjatuh.
Untung saja Aland yang tiba-tiba datang, membuat Rere berhasil terjatuh ke dalam pangkuannya. Rasa yang sudah lama Rere hilangkan, kini tiba-tiba mulai terasa saat kedua mata mereka saling bertatapan.
Apalagi kenangan di masa lalu ketika Rere tidak bisa mendapatkan balasan cinta dari Aland, membuatnya menatap tanpa berkedip, hingga Aland memukul sebelah pipinya.
"Kau baik-baik saja? Kenapa malah melamun begitu?" tanya Aland tanpa memikirkan apapun.
"A-aku baik-baik saja," sahut Rere sembari mengalihkan pandangannya. "Lalu kenapa kau bisa ada di rumah sakit ini juga, Aland?"
“Aku sengaja datang karena sebelumnya aku meminta agar Herlin pergi ke rumah sakit lebih dulu, terlebih aku memiliki urusan penting dengannya. Tapi, sepertinya kau sedang tidak sehat? Sungguh tidak apa-apa? Jika tidak, aku bisa menemanimu untuk mengambil obat. Terlebih kita sudah ada di rumah sakit," ajak Aland dengan tulus.
"Aku benar-benar tidak apa-apa, Aland. Mungkin ... karena tubuhku sangat kelelahan bekerja setiap waktu, sepertinya aku hanya butuh istirahat."
"Hei, kau memang sudah seharusnya menikah dan menikmati waktu indah dengan suami dan anakmu. Apalagi yang kau tunggu? Menikah saja dan tidak perlu bekerja. Usia kita setara, Rere. Tidak enak hidup sendirian, dan untungnya aku memiliki Brian kecil," saran Aland sebagai seorang teman yang baik.
Membuat Rere tersenyum kecil, ia pun sebenarnya ingin seperti itu. Terlebih tidak akan ada yang sanggup hidup dalam kesepian. "Entahlah, Aland. Jika soal menikah, aku masih belum kepikiran atau mungkin karena belum ada yang cocok. Kau sendiri kenapa tidak segera menikah?"
"Aku? Tentu saja aku akan menikah setelah memastikan calonku ini benar-benar siap. Ya sudah jika kalau kau tidak apa-apa, maka aku harus pergi. Herlin pasti sedang menungguku."
"Ya, baiklah, Aland."
Melihat Aland berkata demikian, seketika membuat batin Rere dalam dilema yang besar. "Apa maksudnya? Apa mungkin calon istri yang ia katakan itu adalah Herlin?"
__ADS_1