
Saat Halu dan Sonna kembali dilanda asmara cinta yang sedang bergelora dalam penuh kenikmatan, tetapi dengan tiba-tiba mereka menerima hentakan keras dari arah belakang.
Keduanya sangat terkejut sampai menghentikan sentuhan indah yang sedang berlangsung. Sonna memeluk tubuh Halu dengan begitu kuat sembari menoleh ke belakang.
"Siapa yang berani menabrak mobil yang sedang berdiri diam seperti ini? Padahal, jalan di samping kita masih sangat lebar untuk ia lewati."
"Sepertinya ini sengaja dilakukan, dan lihat mobil di belakang kita juga ingin kembali melaju. Sekarang pakai pakaianmu, Sonna. Kita harus turun dari mobil sebelum mobil itu membunuh kita," perintah Halu dengan sangat bergegas sampai membuatnya membantu Sonna berpakaian.
Halu hanya sempat memakai kembali celana panjangnya, namun tidak dengan atasannya. Berbeda dengan Sonna yang sudah berpakaian lengkap.
Keduanya bergegas turun tanpa memikirkan semua barang-barang bawaan mereka berada di dalam mobil. Keduanya berusaha berlari tanpa Halu lepaskan genggam tangannya pada Sonna.
Mobil tersebut berusaha mengejar meskipun tidak peduli dengan jurah hujan yang membuat jalan sulit untuk bergerak. Sampai mereka melihat empat pria berbadan kekar berlari turun dengan masing-masing membawa senjata api.
Satu tembakan terdengar melayang ke atas. "Berhenti kalian berdua! Atau aku akan benar-benar menghabisi kalian di sini."
Ancaman terdengar begitu dekat, dan membuat Halu tidak bisa mengambil kesempatan untuk kembali berlari. Terlebih ia juga meninggalkan senjata apinya di dalam mobil.
"Bagaimana ini, Halu? Sepertinya mereka ingin menghabisi kita," tanya Sonna dengan ketakutan tanpa melepaskan tangannya.
"Tenanglah, dan berlindung di belakangku. Kita pasti akan bisa ke luar dari pria-pria sialan itu," sahut Halu yang berusaha menenangkan saat ia mulai sadar tangan Sonna bergetar hebat.
"Ini gawat! Gue bahkan enggak tahu mereka muncul dari mana, tapi gue yakin pasti ada seseorang yang sudah melacak posisi dari ponsel gue berada," batin Halu saat ia teringat dengan panggilan sebelumnya.
Keempat pria besar itu mulai berjalan mendekat sembari tertawa lepas. "Lihat wanita cantik di belakangnya. Sepertinya mereka baru saja bersenang-senang. Hei, Nona! Apa kau tidak ingin membagi kesenanganmu tadi kepada kami berempat di sini? Ayolah ... kami bahkan jauh lebih besar daripada si kerempeng ini."
"Asal lo semua tahu! Kerempeng begini, tapi adik gue jauh lebih besar daripada badan lo semua yang gendut itu!" geram Halu saat ia tidak terima kejantanannya dihina.
"Banyak bacot lo!" Salah satu dari mereka segera memberikan tendangan keras kepada Halu, sampai pria malang itu terjatuh.
Ingin sekali Halu melawan, namun ia tidak mau mati konyol dari senjata api mereka.
"Kau pikir kami akan mempan dengan omong kosongmu itu? Tentu tidak! Nona, kau harus memilih ikut dengan kami atau pergi dalam keadaan mengenaskan bersama si kerempeng ini?"
__ADS_1
"Walaupun aku harus memilih mati di sini, maka itu jauh lebih baik daripada harus ikut dan jadi budak kalian!" bantah Sonna dengan teriakannya.
Perlawanan Sonna justru membuat dirinya mendapat siksaan saat seorang pria besar itu menjambak rambutnya. "Oh begitu? Apa kau sekarang masih berpikir untuk melawan padaku?"
"Aw ... lepaskan rambutku! Apa mau kalian, hah? Jika mau uang, maka ambil saja di mobilku!"
"Udah diam! Sekali lagi lo banyak bacot, bakalan gua akhiri sekarang juga. Kalian, bawa mereka berdua ke mobil," perintah salah satu yang terlihat seperti seorang ketua.
"Hei! Mau kalian apakan kami?!"
"Gue bilang diam, ya diam! Cepat jalan ke mobil!" perintahnya sembari melepaskan tangan Halu untuk bergerak sendiri.
"Kurang ajar! Kalau gue enggak nekat, maka mereka bisa melakukan hal yang lebih bodoh daripada ini, apalagi Sonna bisa berbahaya atau bahkan bisa dijual. Gue enggak bisa membawa Sonna ke dalam bahaya," batin Halu yang mulai memikirkan sebuah rencana baru.
Dengan perlahan-lahan Halu bergerak ke arah mobil para preman, dan Sonna mengikutinya dari belakang. Namun dengan cepat ia menggendong tubuh Sonna untuk bisa menendang pria besar tepat yang berada di belakang Sonna.
Satu senjata sudah berhasil Halu dapatkan, dan sang ketua dari para preman sudah berhasil di bawah ancamannya. "Kalau kita masih tetap nekat, pria ini yang akan jadi sasarannya."
Halu mengancam dengan mengarahkan senjata ke kepala pria besar itu. "Turunkan senjata kalian semua, cepat!"
"Oh, masih bisa membantah. Oke!" Dengan berusaha keras Halu segera menembak pergelangan kaki ketua mereka.
"Argh!" Sang ketua preman mulai berteriak keras saat darah segar mengalir dari kakinya. "Cepat turuti saja dia! Apa kalian tidak mau uang?"
"Dengan perlahan ketiga pria besar itu mulai menurut, namun tidak Halu sadari bahwa salah satu dari mereka mulai mengarahkan tangannya ke belakang untuk mengambil senjata tajam.
Halu masih berusaha untuk menarik ketua pria besar itu mendekat secara ancamannya, namun ia sudah memberikan Sonna arahan dengan bahasa isyarat untuk mengambil senjata api lain di dalam mobilnya.
Tepat ketika Halu tidak menyadari sebuah senjata tajam hampir menusuk tubuhnya, Sonna dengan cepat memberikan satu tembakan keras hingga membuat pria besar itu satu tewas di tempat. Namun tetap saja, Halu merasakan goresan kecil di tangannya.
"Kalau kalian masih memiliki nyali untuk melawan maka akan bernasib sama seperti kedua teman kalian ini. Sekarang kita adil, dua lawan dua, tapi kami memiliki senjata. Jadi kalian mau apa?" tanya Sonna dengan ancamannya. Ia terlihat sangat keren sampai membuat Halu tersenyum, dan mulai sedikit mengabaikan pertengkaran.
"Wanita unik. Terkadang dia marah sampai mengomel melulu, imut, dan penggoda handal, tapi sekarang dia terlihat berbeda. Bahkan bisa menguasai pistol lebih baik daripada yang gue duga," batin Halu yang semakin sadar rasa tertariknya semakin besar.
__ADS_1
"Hei kalian! Kenapa diam saja? Ayo cepat katakan, siapa yang sudah menyuruh kalian kemari?" tanya Sonna dengan sangat tegas.
"Ma-ma-maafkan kami, Nona. Tapi, kami tidak disuruh siapapun, hanya tidak sengaja melihat mobil kalian bergoyang di sini. Jadi tolong lepaskan kami karena sejujurnya kami hanya ingin mencuri barang-barang kalian. Percayalah, ini sebuah kenyataan," ucap salah seorang yang mulai berlutut.
"Oh begitu? Jadi kalian semua ini pencuri handal yang setiap waktu mengintai orang lain setiap melewati jalan pintas, begitu ya? Aku mengerti sekarang. Cepat berikan dompet, ponsel, dan semua yang kalian milikku termasuk mobil itu," paksa Sonna yang malah berbalik ingin mencuri.
Sontak membuat Halu menahan tawa, saat ia melihat Sonna yang semakin mencari kesempatan.
"Loh? Kenapa jadi kau yang ingin mencuri, Nona? Kami pencurinya," tanya pria berkulit hitam itu yang terlihat sangat bodoh.
"Sekarang dunia sudah terbalik, bahkan wanita bisa jadi pria kapanpun juga. Jadi cepat, berikan harta kalian atau senjata ini yang akan berbicara," paksa Sonna seraya mulai menarik pelatuk senjatanya dengan perlahan-lahan.
"Udah cepat kasih, bodoh. Lo enggak lihat itu cewek ganas." Dengan tubuh bergetar mereka mulai mengeluarkan satu per satu setiap harta yang mereka punya.
Sonna mulai tersenyum saat melihat semua barang berharga sudah berkumpul di dekat mereka. "Banyak sekali ponsel kalian, apa ini juga ponsel curian?"
"Ya, benar. Lalu sekarang apa kami bisa pergi, Nona?"
"Ets tunggu dulu. Sepertinya ada yang kurang?" tanya Sonna dengan menyipitkan mata sembari terus menatap mereka dari atas sampai bawah.
"Apalagi, Nona? Kami sudah kere."
"Jam tangan, ya itu cepat berikan."
"Oh astaga ... dia benar-benar keterlaluan. Sudah berikan saja lah. Sekarang apa kami sudah bisa pergi?"
"Tentu saja, pergilah dan bawa kedua teman payah kalian ini."
"Siap, Nona," sahut keduanya secara bersamaan sembari terburu-buru untuk membantu mereka pergi.
Namun sayangnya, Sonna masih belum merasa puas saat melihat para preman meresahkan itu pergi dengan hati bahagia.
"Tunggu di sana! Aku bilang berhenti!" Dan sebuah tembakan tiga kali terdengar dengan mata Sonna terpenjam. Ketika pria bertubuh besar itu berusaha mengabaikan.
__ADS_1
"Piuh ... kejar bagus, Sonna," pujinya pada diri sendiri sembari meniup ujung senjata api yang mengeluarkan sedikit asap putih.