
Masih terus memejamkan mata, sebenarnya Sonna merasa takut apalagi setelah ia memberanikan diri untuk terlihat keren setelah menggunakan senjata api, ditambah para preman itu sudah kalah telak sampai tidak lagi bergerak.
Dengan tiba-tiba Halu bertepuk tangan dengan perlahan, ia tidak bisa terlalu keras karena pergelangan tangannya masih terluka. Namun, ia berusaha untuk mengapresiasi tekad Sonna yang terlihat cukup memuaskan.
"Lo sangat keren, belajar di mana? Gue jadi takut bermasalah denganmu, Nona Sonna," tanya Halu dengan sengaja meledek wanita itu.
"Hei! Apa katamu? Ayo kita sebaiknya kembali masuk ke dalam mobil," ajak Sonna yang tidak ingin diketahui oleh banyak orang tentang kejadian di sana.
"Tapi, bagaimana dengan mobil pencuri itu? Tidak jadi berbalik mencuri mobil mereka?"
"Ayolah ada-ada saja kau. Mana mungkin aku akan mencuri mobil mereka, tentu saja tidak. Aku hanya mengatakannya saja, tidak benar-benar ingin mencuri. Lebih baik kita cepat masuk ke mobil, dan pergi dari sini, Halu. Aku takut ada preman lain dari anggota mereka yang ikut datang ke sini, bisa saja, kan."
"Oke, aku setuju."
Keduanya berjalan masuk, dan Halu meminta agar Sonna yang mengendarai mobilnya. Tersadar saat melihat luka goresan Halu yang lumayan besar, mampu membuat wanita itu terlihat sangat cemas.
"Istirahatlah dulu, kau pasti lelah dan kesakitan. Kita akan mencari tempat yang lebih ramai, dan aku akan mengobati lukamu di sana. Jadi, bertahanlah sedikit."
"Tentu, gue masih bisa bertahan meskipun kita sampai rumah. Sudah jangan pikirkan ini, fokus saja dengan mengemudi."
Halu masih terus berusaha untuk terlihat kuat, namun ia tahu kalau luka goresan itu memang lumayan dalam. Ia berusaha menahan darah agar tidak keluar dengan tangannya, namun hal itu membuat Sonna segera merobek kain pakaiannya dengan asal-asalan, dan langsung mengikatnya ke arah luka tersebut.
"Kita harus ke luar dari jalan pintas ini sekitar lima meter, jadi pasti membutuhkan waktu. Pakailah ini dulu, dengan begitu darahnya tidak akan keluar lagi, bertahanlah, ya." Sonna begitu terlihat cemas sampai ia mengakhiri ucapannya dengan tidak lupa memberikan sebuah kecupan singkat di bibir pria itu.
Membuat Halu tersenyum sembari terus menatap wanita itu, ia mulai berpikir hal yang berbeda dalam benaknya. "Tidak aku bayangkan kalau ternyata Sonna juga bisa menjadi wanita penyayang. Aku pikir dia hanyalah gadis licik yang tidak ingin mengalah. Tapi saat ini, aku mulai menyadari ada sisi lain yang terlalu baik di dalam dirinya. Mungkin ... ada sebab lain yang membuatnya bersikap buruk terhadap orang lain saat itu."
__ADS_1
Rasa sakit yang lumayan kuat membuat Halu memilih untuk memejamkan matanya sampai akhirnya Sonna berhenti di tepian jalan raya yang sedang dilewati banyak kendaraan.
Ia segera mengeluarkan kotak obat, dan dengan perlahan mulai mengobati Halu dengan sangat lembut. Pria itu terbangun karena tersadar akan sentuhan Sonna.
"Sudah aku perban, dan untung saja macetnya sudah mulai jauh berkurang. Kita bisa kembali ke rumahku dengan lebih tenang," ucapnya dengan penuh bahagia.
"Santai lah, tapi apa kau tidak lapar? Sepertinya masih ada beberapa tempat makan yang bisa kita masuki sebentar, meskipun ini sudah larut malam," sahut Halu sembari melirik ke luar jendela.
"Aku tidak mau, Halu. Lebih baik kita makan di rumah saja daripada harus berhenti ataupun berteduh di tempat asing larut malam seperti ini. Meskipun di sini banyak orang, tapi kejadian tadi sudah membuatku sangat cemas apalagi kau sampai harus terluka seperti ini. Aku takut kalau sampai membuatmu jauh lebih telruka, entah seperti apa aku harus meminta maaf kepada Benny kalau itu sampai terjadi."
"Huus! Udah ... jangan ngomong begitu, tidak baik. Sekarang ini kita sudah aman, dan tidak akan lagi melewati jalan pintas itu. Tapi, aku tidak suka mendengar kau berbicara seperti itu lagi karena apapun yang terjadi bukanlah salahmu. Ya sudah sekarang kita pulang saja kalau memang tidak mau mampir," bantah Halu dengan ucapannya yang jauh lebih lembut.
Membuat Sonna tersadar jika ucapan Halu jauh lebih terasa enak di dengar, tidak seenaknya bahkan tidak kasar seperti biasanya. Hal itu membuat Sonna semakin yakin jika pria itu semakin memperlihatkan rasa tertariknya.
"Sonna, ayolah katamu kau ingin pulang, kan? Kalau tidak aku aka turun di sini," ancam Halu saat ia berusaha menghindar dengan rasa gugupnya. Terlebih ia terlalu cepat memalingkan wajahnya ketika rasa tidak percaya diri tiba-tiba menghampirinya.
Keduanya tersipu malu, namun Sonna kembali melanjutkan perjalanan setelah memberikan kecupan singkat dengan sengaja, tetapi untuk kali ini Halu jauh lebih membalasnya dengan ganas meskipun pergelangan tangan merasa kesakitan, namun ia tidak peduli.
"Sudah lebih baik, kan? Ayo cepat kita jalan."
"Ish kau ini. Apa lipstik ku sudah hilang?" tanya Sonna yang takut terlihat buruk.
"Kau sudah sangat cantik, jadi ayo kita pergi. Sudah ... jangan hiraukan bibir manismu itu, kalau tidak aku tidak akan membiarkan kita pergi dulu sebelum aku kembali merampas ciuman ku ini."
"Oke kita akan pulang sekarang, Tuan pemaksa," ketus Sonna dengan panggilan tersayangnya yang sudah terlihat cukup unik.
__ADS_1
"Tuan pemaksa? Ish buruk sekali. Tapi sudahlah, pulanglah sekarang, Nona genit."
"Panggilan itu jelek sekali," rengek Sonna wajahnya terlihat cemberut.
Halu semakin tidak sabar untuk mendengar omelan Sonna, namun meskipun begitu, ia lebih memilih untuk mengacak-ngacak rambut wanita itu sampai tidak lagi berbentuk indah.
"Sudah, ayo kita jalan."
"Iya, Tuan pemaksa."
"Nona genit."
Tawa lepas terdengar meskipun sudah melewati badai besar di dalam perjalanan mereka, namun hal itu semakin membuat keduanya terlihat dekat meskipun belum membuat kesepakatan atas hubungan resmi yang sudah mulai berlangsung.
"Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku akan memulainya terlebih dahulu sampai akhirnya nanti aku bisa putuskan apakah harus lanjut atau tidak," batin Sonna.
"Meskipun aku masih meragukan ketulusan yang mungkin tidak akan sama di hari-hari selanjutnya, tapi aku akan terus berusaha untukmu, Sonna. Sekarang aku sudah mengerti bahwa aku sudah semakin menyukaimu, meskipun perbedaan usaimu jauh lebih tua dariku," batin Halu saat ia terus menatap wanita itu yang sedang fokus dengan menyetir.
Berbeda dengan Leony yang saat itu sedang duduk termenung dengan terus membayangkan semua kenikmatan yang sudah ia dengar dari balik telepon. Ia cukup terkejut, namun ia sendiri merasa berbeda ketika terus mengingatnya.
"Ada apa denganku? Seharusnya wajah pria aneh itu tidak terus-menerus terbayang, tapi suara desahannya cukup membuat otakku semakin kacau. Apa mungkin dia sekuat itu? Apa mungkin semua itu terlalu nikmat seperti yang sudah-sudah aku saksikan di layar kaca? Aku jadi penasaran dengan rasanya, dan bentuk aslinya," gumam Leony sembari memikirkan tentang hubungan pria dan wanita yang hanya pernah ia saksikan dari balik layar ponselnya.
Sampai membuat Leony tidak menyadari ketika Aland berdiri di depan pintu, dengan terus menatapnya.
"Rasanya apa sampai bentuk aslinya bagaimana? Kau sedang memikirkan apa, Leony?" tanya Aland dengan tiba-tiba sembari menjentikkan jarinya di hadapan wajah Leony.
__ADS_1