Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Jebakan


__ADS_3

Perintah dari Benny segera dilakukan oleh Sonna, ia berusaha lebih cepat agar bisa mengetahui segalanya, meskipun belum begitu pasti. Namun, mendapatkan informasi tentu begitu mudah untuk ia lakukan, terlebih setelah bertanya kepada pelayan Lena yang berada di kediaman Aland.


Baru tiga puluh menit lamanya, Sonna kembali ke ruangan Benny.


Melihat kehadiran Sonna, membuat Benny sedikit kebingungan. "Loh, aku pikir kau hari ini akan langsung pulang? Apa ingin langsung bekerja hari ini sekarang?"


"Tidak, Pak Ben. Namun, aku datang ke sini untuk memberitahukan kebenaran tentang apa yang sudah aku dengar dari salah satu pelayan di rumah Aland. Ternyata memang benar, Pak. Herlin dan Aland sedang bekerjasama untuk membuat pemberitahuan pernikahan palsu, bahkan Herlin baru saja pindah ke rumah itu," jelas Sonna.


Fakta yang menyakitkan, membuat Benny terdiam. Ia begitu tidak menyangka bahwa semua yang telah ia dengar dari Rere sebelumnya bukan sekedar kebohongan semata.


"Jadi, Pak Benny. Apa sekarang saya mendapat tugas yang lainnya?" tanya Sonna kembali, namun pertanyaannya membuat Benny tersadar.


"Ah ya, tidak ada lagi tugas apapun. Terima kasih karena kamu sudah mau memberikan informasi ini untukku, dan sebagai janjinya uang ini untukmu."


"Untuk hari ini tidak perlu membayar ku, Pak Benny. Aku diterima bekerja di sini saja sudah membuatku sangat bersemangat, jadi mungkin di hari yang lain baru aku akan menerimanya, Pak," tolak Sonna dengan perlahan demi bisa mengambil kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan penuh.


"Baiklah, kalau mau tidak mau. Ya sudah senang untuk hari ini, Sonna."


"Tentu, Pak Benny. Kalau begitu saya permisi pulang dulu."


"Ya silahkan."


Sonna keluar dari ruangan tersebut dengan penuh keceriaan, ia sampai tersenyum dengan bangga sepanjang berjalan ke arah parkiran. Tiga di dalam mobil, ia bersorak gembira.


"Hore! Kesempatan dan hari pertama yang bagus! Jika begini, aku sudah bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari Benny, maka selanjutnya tugasku untuk Aland. Kalau begini terus, lama-lama aku bisa cepat kaya raya," gumam Sonna seraya menghidupi musik dengan keras dari mobilnya.


Berbeda dengan Benny yang saat itu mulai merasa cemas dengan semua hal tentang Herlin. Meskipun Benny sadar, telah mengusir Herlin dari hidupnya, tetapi di hati kecilnya yang paling dalam. Ia sama sekali tidak terima dengan semua fakta buruk yang baru terdengar.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ah sial! Hatiku sangat bimbang." Bertekuk lutut dengan wajah menutupi tangannya. Namun tiba-tiba, ia teringat dengan seseorang.


"Mungkin aku bisa membuat rencana untuk Herlin," gumamnya lalu mengambil ponselnya untuk meminta seseorang datang.

__ADS_1


Orang tersebut datang dengan cepat, namun memasang tampang kesal ke arah Benny.


"Ada apa, Kak? Gue lagi santai. Cepat bilang mau suruh apa atau cuma mau basa-basi?" tanya Halu Clayton dengan raut wajah yang malas saat rebahan yang begitu menyenangkan terganggu. Ia seorang adik kandung dari Benny.


"Daripada asyik tiduran enggak jelas mendingan sekarang kamu mulai lagi bekerja denganku. Tolong, jangan menolak daripada aku tidak mau lagi membiayai hidupmu. Apalagi kau sudah membuat satu cabang perusahaanku bangkrut karena kemalasan mu itu," pinta Benny dengan sedikit tegas saat sejak dulu ia selalu memanjakan adik kandungnya itu.


"Astaga ... dapet kerjaan membosankan lagi. Ya udah cepetan bilang mau gue bikin apa?"


"Tugasmu yang pertama cepat hubungi seseorang dengan ponselmu sekarang. Ini nomornya, dan katakan kalau aku sedang diculik, dan kau bisa kirimkan alamatnya juga. Tapi nanti, segera jemput wanita itu untukku," perintah Benny.


"Serius? Wow! Jadi, Lo udah buka hati buat enggak lagi fokus sama Kak Arabella doang? Bagus-bagus, dengan begitu urusan hati Lo berjalan lancar, tapi pekerjaan gue yang berantakan. Baiklah, Kak. Mana nomornya? Sini berikan," sahut Halu yang memang terlalu sering berbicara ceplas-ceplos.


"Ini orangnya, dan lakukan dengan benar. Tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk dengan Aland."


"Aland? Maksudnya ayah tiri lo dulu, kan? Tapi, bagaimana mungkin bisa lo wanita itu dan Aland bisa saling mengenal?"


"Udah deh, Halu. Cepatan kerjakan yang aku minta."


Merasa sedikit kesal, namun Halu berusaha melakukan seperti yang diperintahkan.


Di sisi lain, Herlin yang sedang bermain dengan Brian tiba-tiba terkejut saat mendengar sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenali


"Siapa ini?" Pertanyaannya itu seketika membuat Brian ikut terdiam menatap ke arah Herlin.


"Memangnya siapa yang menelepon, Tan?" tanya Brian yang merasa penasaran.


"Entahlah, Tante juga tidak tahu, Brian. Ya sudah kamu lanjut bermain terus, ya. Tante mau ke dalam dulu, mau angkat telepon."


"Baik, Tante Herlin."


Tidak benar-benar menurut, tetapi justru Brian diam-diam mengikuti Herlin.

__ADS_1


"Halo, dengan siapa di sana?"


"Halo, ini dengan saya Halu Clayton. Apakah benar kalau saya sedang berbicara dengan Nona Herlin?" tanyanya dengan bahasa yang sangat formal, meskipun membuatnya sedikit tidak suka.


"Ya benar, dengan saya sendiri. Memangnya ada keperluan apa, ya?"


"Begini, Nona Herlin. Saya baru saja mendapatkan kabar kalau Tuan Benny sedang tidak berada di tempat. Awalnya saya mendapat info jika beberapa orang diam-diam datang lalu menculiknya. Namun, yang saya dengar kalau ternyata penculikan itu terjadi karena mereka ingin mencari dirimu. Jadi, bisakah sekarang Nona datang dan ikut dengan saya pergi demi bisa menyelematkan Tuan Benny?"


"Apa? Benny diculik? Tentu saja, aku akan ikut denganmu. Katakan di mana keberadaanmu sekarang?" Herlin bertanya dalam keadaan yang begitu panik sampai Brian yang berdiri di depan pintu ikut terkejut.


"Saya akan menjemputmu langsung, Nona Herlin. Lima belas menit dari sekarang, saya akan tiba di kediamanmu."


"Baik, aku akan menunggumu di sini."


Panggilan terhenti, Herlin segera bergegas untuk mengambil tas ranselnya tanpa memikirkan akan penampilannya sendiri. Berbeda dengan Brian yang cepat berlari untuk bisa menemui papanya.


"Pa, ayo bangun! Aku mau sesuatu, Papa!" paksa Brian yang terus menggerakkan bahu Aland yang sedang beristirahat sejenak.


"Aku masih mengantuk sekali, Brian. Cepat pergilah dari sini," sahut Aland tanpa membuka matanya seraya membalikkan tubuh ke arah lain.


"Ayolah, Pa, bangun ... Tante Herlin mau pergi, aku mendengar sendiri kalau Tante Herlin ingin menyelamatkan orang yang diculik. Katanya nama orang itu Benny, aku tidak tahu siapa yang tanteku maksud." Brian terus berusaha sampai tiba-tiba Aland terkejut mendengarnya.


"Apa? Tante Herlin mau pergi? Brian, kau tetap di sini. Papa akan ikut dengan tantemu." Aland bergegas cepat seraya mengambil jaket kulitnya.


"Tapi, Brian juga mau ikut, Pa." Anak itu masih terus merengek dan mengekor setiap langkah Aland bergerak.


"Hei, tunggu di sini bersama Bibi Lena. Jika kamu menginginkan seorang ibu baru, maka tolong dengarkan papa sekarang, Nak. Pria bernama Benny yang sudah kau dengar itu tidaklah bisa bermain untuk kau ikuti. Ini urusan orang dewasa, jadi tetaplah menurut padaku, kau mengerti?"


"Sekarang lepaskan tanganmu dari baju Papa, Brian."


"Tapi, Papa janjikan bawa Tante Herlin pulang lagi ke sini untuk Brian? Aku enggak mau kalau bukan sama Tante Herlin. Maunya ibu baru itu cuma Tante Herlin!"

__ADS_1


"Papa akan berjanji, Nak," sahut Aland sembari tersenyum manis, dan melangkah pergi setelah mengacak-acak rambut putranya.


__ADS_2