
Satu minggu telah berlalu kini Gustin sedang bersiap untuk berangkat ke Jepang bersama Nino. Saat ini Gustin sedang menatap dirinya di depan cermin pandangan Gustin menatap tajam pada kalung yang melingkar di leher nya. Di genggamnya liontin berbentuk huruf S tersebut. "Aku merindukan mu Kak." Gumam Gustin. Di sisir nya rambut panjang Gustin. Saat Gustin ingin mengikat rambutnya Gustin tiba tiba teringat sesuatu. Gustin berdiri dari duduknya. Dengan perlahan Gustin membuka kembali lemari pakaiannya. Gustin mengambil beberapa pakaian yang di beli oleh Ayah dan Ibunya sebelum keduanya meninggal. Gustin memeluk erat gamis yang ada di tangannya. Air matanya sudah bercucuran kembali Gustin kembali teringat kedua orangtuanya. Gustin melepas pakaian yang tadi sudah di kenakan nya. Dan segera memakai gamis berwarna mocca dengan hijab berwarna senada. Kini Gustin duduk di depan cermin sambil menggulung rambut panjangnya. Di raihnya hijab yang berada di meja riasnya "Bimilahhir Rahmaanir Rahiim...jadi kan ini langkah awal hamba agar menjadi hamba Mu yang lebih baik lagi ya Rabb." Gustin menatap dirinya dalam cermin. Airmata Gustin kembali meluruh melihat dirinya sendiri. Tak lama terdengar suara pintu si ketuk.
"Tin...sudah beres belum. Kita harus segera ke Bandar lho."
"Bentar No..." Jawab Gustin.Gustin menarik koper nya dan segera keluar dari kamarnya. Gustin berjalan menghampiri Nino yang duduk membelakangi nya di kursi tamu.
"Ayo No...aku sudah siap. Kita berangkat sekarang." Nino segera menoleh menatap Gustin dengan terkejut. Nino segera berdiri mendekat ke arah Gustin. "Masyaallah...cantik nya sahabat ku. Harusnya dari dulu kamu kayak gini. Kan kelihatan kayak bidadari surga jadinya."ucap Nino. Gustin tak menjawab ucapan Nino. Ya pasalnya setelah keluar dari Rumah sakit Gustin menjadi sosok yang pendiam dan terlihat murung. Saat tengah malam Gustin akan terbangun dari tidurnya karena kejadian mengerikan itu selalu datang dalam mimpinya. Dan setelah itu Gustin tidak akan bisa tidur hingga pagi tiba. Dan Nino tahu apa yang sedang Gustin alami saat ini. Nino sudah berusaha menghiburnya tapi Gustin masih saja tampak murung dan tak banyak bicara.
Keduanya kini sudah tiba di Bandara dan sedang menunggu di ruang tunggu keberangkatan. Nino sedang menelpon Sisi sedangkan Gustin sedang duduk dan memain kan Hp di tangannya. Saat Gustin membuka media sosialnya terlihat video yang sedang viral di sosial media. Di dalam video tersebut tampak seorang laki laki sedang bermain gitar dan menyanyi dengan suara yang sangat merdu di dalam sebuah Cafe. Mata Gustin sudah berkaca kaca. Ya laki laki di dalam video tersebut adalah Sandy. Laki laki yang Gustin cintai hingga saat ini dan sedang ia rindu kan. Gustin segera mendownload Video tersebut. Gustin mengusap wajah Sandy dalam video tersebut. Air matanya pun menetes seketika. Gustin mengambil head set dalam tas nya. Di putranya video tersebut Gustin mendengar suara indah Sandy, lagu yang Sandy nyanyikan membuat tangis Gustin pecah. Gustin menutup mulutnya dan segera berlari ke arah toilet. Di dalam toilet Gustin menangis tersedu sedu. hatinya terasa perih. rasa rindunya semakin membuatnya sulit untuk bernafas. "Maaf kan aku Kak...aku sudah tidak menepati janjiku untuk selalu ada di sisi mu. Aku juga sangat merindukan mu Kak. Tapi apa daya ku." Lirih Gustin di dalam toilet saat terdengar ketukan pintu dari luar Gustin segera membasuh wajahnya dan merapikan hijabnya. Setelah Gustin keluar Nino segera menghampiri Gustin. mata dan hidung Gustin terlihat memerah dan Nino tahu kalau sahabatnya itu habis menangis.
"Kamu enggak papa kan Tin..." tanya Nino yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Gustin. Nino menghela nafas karena tidak mendapat jawaban dari Gustin.
"Ya sudah kalau gitu. sekarang sudah saatnya kita masuk ke Pesawat. Kamu jangan nangis lagi ya." ucap Nino sambil mengelus kepala Gustin. Gustin hanya mengangguk.
__ADS_1
Gustin sudah berada di dalam pesawat. Gustin menatap keluar jendela pandangan nya kosong Gustin kembali mengingat kedua orangtua nya dan Sandy. "Aku pergi Kak...entah takdir apa yang akan terjadi untuk cinta kita. Ayah Ibu...Gustin akan memulai hidup Gustin yang baru." gumam Gustin dalam hati. Nino menatap Gustin yang kini duduk di sampingnya. Nino mengusap kepala Gustin dengan lembut seolah ingin menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya tersebut. Nino tahu kalau saat ini Gustin sedang memikirkan sesuatu. Gustin menoleh menatap Nino. "Makasih ya No...untuk semuanya." ucap Gustin dengan air mata yang sudah menumpuk di kelopak matanya.
"Jangan di pikir kan.yang penting sekarang kamu harus semangat untuk mengejar mimpi kamu. Kamu tidak sendirian jadi jangan sedih lagi ya." Gustin hanya mengangguk mendengar ucapan Nino.
"Oh ya Tin...nanti di Bandara kita di jemput sama pacar aku. Nanti aku kenalin ya. Pasti kamu seneng nanti, Soalnya dia itu baik banget orangnya meskipun agak berisik."ucap Nino sambil tersenyum dan lagi lagi hanya di jawab anggukan kepala dari Gustin.
Setelah beberapa jam Nino terlihat tertidur dalam pesawat sedang kan Gustin kembali menatap kosong ke arah luar jendela. Gustin kembali memasangkan head set ke telinganya video Sandy kembali di putar Gustin sangat menikmati lagu yang di nyanyikan oleh Sandy. Gustin pun tahu lagu yang di nyanyikan Sandy di
Rendi kini sedang berada di ruang kerjanya. Waktu istirahat masih tersisa tiga puluh menit lagi. Rendi memainkan Hp nya dan saat ini Rendi sedang membuka sosial medianya. Sebenarnya Rendi jarang sekali membuka sosial medianya karena kesibukan Rendi saat ini. Saat Rendi membuka video yang sedang viral Rendi menatap iba video tersebut. Rendi melihat video Sandy saat sedang menyanyi di Cafe beberapa waktu lalu. "Kenapa cinta serumit ini sih. Aku sangat prihatin melihat Pak Sandy saat ini." gumam Rendi. Kini kedua mata Rendi terperangah melihat video kecelakaan lalu lintas yang terjadi tiga minggu yang lalu. Dan betapa terkejutnya Rendi saat melihat wanita yang sedang menangis maraung raung menangisi kedua korban kecelakaan tersebut. Rendi segera beranjak dari duduknya dan segera berlari menuju ruang kerja Sandy. Tanpa mengetuk pintu Rendi langsung masuk ke ruang kerja Sandy. Terlihat saat ini Sandy sedang berdiri di dekat jendela dan menatap ke arah luar. Sandy menoleh melihat Rendi masuk dengan terburu buru.
"Kenapa Ren...tumben kamu masuk enggak ketuk pintu dulu. Ada masalah penting apa."
Rendi segera mendekat ke arah Sandy.
__ADS_1
"Maaf Pak...saya cuma mau menunjuk kan video ini pada Pak Sandy." ucap Rendi sambil menyerahkan Hp nya pada Sandy. Sandy langsung terperangah melihat video tersebut.
"Ren...aku tidak salah lihat kan Ren. Ini Gustin Ren...Ya Allah...kenapa ini harus menimpanya. Dia pasti sangat terpukul Ren...dia sudah tidak punya siapa siapa lagi saat ini. Kata kan di mana kejadian nya Ren. Kita harus segera mencarinya Ren."
"Kejadian nya tiga minggu yang lalu Pak. menurut berita tersebut kejadian itu terjadi di Jogja Pak."
"Segera cari penerbangan ke Jogja Ren. Kita berangkat hari ini juga."
"Baik Pak." ucap Rendi dan segera meninggalkan ruangan Sandy. Setelah Rendi pergi Sandy terduduk lemah di sofa. Airmata Sandy menetes dengan sendirinya. Hati Sandy terasa sakit saat Sandy melihat Gustin yang menangis meraung raung di dalam video tersebut." Kamu pasti sangat terpukul saat itu. Maaf kan aku yang tak berada di samping mu saat itu. Aku tak sanggup melihat mu seperti itu.Hati ku sakit melihat mu seperti itu. Saat kita bertemu nanti aku janji aku kan memberikan mu banyak kebahagiaan dan tidak akan membiarkan mu menangis dan terluka. Aku sangat mencintaimu sayang."Lirih Sandy.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya. Terimakasih sudah mampir di karya ku.
__ADS_1