
Hari ini Sandy terlihat sangat tampan dan juga gagah. Sandy mengenakan pakaian adat jawa berwarna putih dengan bawahan kain batik yang menambah ketampanan Sandy . Sandy duduk di salah satu kamar hotel tempat di adakan akad nikah dan juga resepsi. Kini Sandy nampak gugup dan juga cemas. Berkali kali Sandy selalu bertanya dalam hati apakah keputusannya menerima pernikahan ini sudah tepat. Tapi Sandy juga tidak mau membatalkan pernikahannya untuk kali kedua. Rendi masuk ke dalam kamar yang saat ini di tempati oleh Sandy. Rendi menyerah kan secarik kertas pada Sandy di mana di dalam kertas tersebut tertulis nama calon istri Sandy.
"Ini Pak nama calon istri dan nama Ayah dari calon istri Pak Sandy. Silahkan Pak Sandy hafalkan agar tidak salah saat ijab kabul nanti." Ucap Rendi sambil tersenyum penuh arti pada Sandy. Sandy pun menerima kertas itu lalu membacanya.
"Ini nama calon Istriku ku Ren..."
"Ya Pak saya harap Pak Sandy bahagia setelah ini."
"Terimakasih Ren...Tapi aku takut akan menyakitinya nanti. Karena aku belum bisa mencintainya."
"Saya yakin itu tidak akan terjadi Pak."
"Ya Ren...semoga saja." Ucap Sandy. Sandy terlihat berkali kali mencoba mengucapkan lafal ijab kabul. Rendi hanya tersenyum melihat apa yang sedang Sandy lakukan. Tak lama Sesorang menghampiri Rendi. Dia mengatakan kalau acara ijab kabul akan segera di mulai dan meminta Sandy untuk segera datang ke tempat acara. Sandy pun keluar dari kamarnya dan berjalan beriringan dengan Rendi. Di tempat acara tersebut sudah nampak ramai dengan kehadiran semua anggota keluarga dan kerabat Sandy dan juga keluarga dari mempelai perempuan. Sandy kini duduk berhadapan dengan penghulu dan wali hakim dari mempelai wanita. Sandy bertambah gugup dan mencoba memantapkan hati untuk menjalani pernikahan ini. Pak penghulu berkali kali mencoba menanyakan tentang kesiapan Sandy untuk mengucapkan ijab kabul.
Sandy kini menjabat tangan wali hakim dari mempelai wanita. Setelah wali hakim mengucap kan ijabnya, Sandy dengan satu tarikan nafas mengucapkan kabulnya dengan sangat lantang. Setelah pengucapan ijab dan kabul terdengar jawaban SAH SAH dari para saksi dan juga semua orang yang ada di dalam acara tersebut. Sedangkan ini saatnya Sandy menunggu mempelai wanita keluar dari kamarnya. Sandy begitu tegang saat ini karena ini adalah untuk pertama kalinya Sandy akan bertatap muka dengan wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Sedangkan gustin nampak cantik dengan kebaya adat jawa berwarna putih dengan bawahan kain batik. Gustin duduk dengan gelisah di dalam kamarnya. Nino Sisi dan Mama Lily berkali kali memberitahu agar Gustin tenang dan tidak gugup tapi hasil nya nihil. Gustin berkali kali meremas jari jarinya yang sudah basah oleh keringat dingin. Mama Lily tersenyum melihat kegugupan Gustin. Mama Lily mendekat dan mugusap punggung Gustin dengan pelan.
"Kamu jangan gugup seperti ini Tina tenang lah. Lihat tangan mu sampai berkeringat dingin seperti ini."
"Ma Gustin takut dan malu. Apa yang harus Gustin lakukan nanti Ma. Ini adalah pertemuan pertama Gustin dengan laki laki yang sebentar lagi sudah sah menjadi suami Gustin."
"Hey kenapa harus takut dan malu. Kamu hanya tinggal mencium tangan suami kamu sambil tersenyum manis padanya mudah kan." Sela Nino. Gustin menatap sinis Nino.
__ADS_1
"Kamu tidak ingat seperti apa kegugupan mu kemarin hah. Bahkan kamu yang hampir setiap hari bertemu dengan pujaan hatimu saja masih gugup apa lagi aku yang sebelumnya tidak pernah bertemu dengannya."
"Sudah sayang diam lah lihat wajahnya sudah sangat tegang." Bela Sisi.
"Ma lihatlah putra Mama yang menyebalkan itu."
"No jangan menggodanya."
"Iya iya." jawab Nino.
Semua nampak terdiam ketika mendengar suara wali hakim dan mempelai laki laki mengucapkan ijab kabul. Sang mempelai laki laki terdengar lantang dalam mengucapkan kabulnya. Tak berapa lama terdengar ucapan SAH dari semua keluarga dan para saksi yang hadir.
Airmata Gustin menetes dengan sendirinya. Kini Gustin telah sah menjadi seorang istri. Gustin teringat kedua orang tuanya. Andai keduanya masih ada mungkin hari ini kedua orangtuanya akan tersenyum bahagia melihat putri semata wayangnya telah sah menjadi seorang istri. Mama Lily dan Sisi memeluk Gustin. Sedangkan Nino duduk bersimpuh di depan Gustin dan menggenggam tangan Gustin. Nino tahu Gustin saat ini teringat Ayah dan Ibunya.
"Tin... jangan ada lagi airmata kesedihan. Mulailah tertawa dan menangis hanya karena kebahagiaan. Ayah dan Ibu pasti ikut bahagia saat ini. Jangan ada keraguan lagi. Yakinlah kalau setelah ini kamu akan bahagia." Ucap Nino. Gustin tersedu mendengar ucapan Nino dan tak mampu lagi menjawab ucapan Nino.
Papa Riu masuk ke dalam kamar Gustin. Papa tersenyum melihat semua anggota keluarganya.
"Sudah siap semuanya. Ini sudah waktunya mempelai wanita bertamu dengan suaminya."
Sisi segera membersih kan airmata Gustin. Mama Lily dan Sisi mengapit lengan Gustin di samping kanan dan kiri Gustin. Sedangkan Papa Riu dan Nino berjalan di belakang ketiga wanita cantik tersebut. Jantung Gustin berdetak dengan sangat kencang saat Gustin melihat punggung laki laki yang kini sudah sah menjadi suaminya. Sang suami nampak duduk di depan para tamu yang hadir. Tak lama laki laki yang sedang duduk itupun berdiri dan membalikan badan ingin menyambut mempelai wanitanya. Dan betapa terkejutnya kedua mempelai tersebut saat menatap wajah satu sama lain. Gustin menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya seakan kaku dan tak bisa lagi meneruskan langkah kakinya.
Sedangkan mempelai laki laki itu masih menatap tak percaya wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Ma itu istri Sandy." Ucap Sandy.
"Ya nak itu istri mu."
Sandy kembali menatap ke arah Istrinya. Airmata Sandy menetes dari kedua sudut matanya. Sandy tersenyum dan segera berlari ke arah Istrinya. Semua yang hadir di acara tersebut nampak heran dengan apa yang terjadi dengan kedua mempelai tersebut. Kecuali Rendi yang hanya tersenyum bahagia menatap kedua mempelai.
Sandy kini berdiri tepat di depan wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Gustin masih terpaku menatap wajah laki laki di depannya.
"Agustina binti Sugiyanto." Kalimat yang terlontar dari mulut Sandy.
"Ya." Jawab Gustin.
"Sandyaga Wiratama."
"Ya sayang..." Ucap Sandy yang langsung memeluk erat wanita yang selama ini dia rindukan dan dinantikan. Tangis keduanya pun pecah. Bukan lagi tangis kesedihan tapi tangis kebahagiaan. Semua yang menyaksikan kedua mempelai itu masih di selimuti kebingungan. Nino Sisi dan Ratna mendekati kedua mempelai. Sandy dan Gustin mengurai pelukannya. Sandy menyaka air mata Gustin dan mengecup keningnya. Gustin segera mencium punggung tangan Sandy yang kini telah sah menjadi suaminya.Sandy menoleh menatap wajah Ratna sambil memeluk kakak perempuan.
"Dia adalah wanita yang selama ini aku cari Kak." Ucap Sandy. Ratna tak mampu menjawab ucapan Sandy. Ratna hanya memeluk erat tubuh adiknya dan menangis haru.
Gustin memeluk Sisi dan Nino yang sudah berdiri si sampingnya.
"Dia laki laki yang selama ini aku cintai." Terang Gustin dalam pelukan Sisi dan Nino. Sisi dan Nino tersenyum bahagia mendengar ucapan Gustin.
❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote ya...
Terimakasih sudah mampir di karya ku...