Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 47


__ADS_3

🌸Sakit itu ketika melepaskan dan sesak itu saat harus mengikhlaskan.🌸


Di kediaman Wiratama saat ini ke dua pasangan paruh baya terlihat duduk di ruang keluarga. Keduanya terlihat berbincang dengan selingan canda tawa dari keduanya.


"Ma..besok kita datang ke kediaman Riu ya Ma.."


"Tumben Pa...ada acara apa ni."


"Cuma makan malam Ma...sambil kenalan sama Anak anaknya Riu Ma. Kata Riu dia punya anak perempuan yang cantik sekaligus cerdas. Dia anak baik Ma."


"Memang Riu punya anak perempuan Pa. Setahu Mama anak Riu kan satu Pa. Itupun laki laki."


"Dia anak angkat Riu Ma. Papa penasaran pengen lihat seperti apa anak perempuan yang di sanjung sanjung Riu."


"Papa kenapa penasaran. Jangan jangan Papa mau nikah lagi ya."


"Aduh Ma...kenapa Mama ngomong kayak gitu. Satu saja tidak habis habis buat apa cari lagi."


"Lalu kenapa Papa penasaran gitu."


"Tentu saja kalau Papa cocok mau Papa lamar buat bujang lapuk kita."


"Tapi Pa apa anak kita akan setuju. Papa tahu sendiri seperti apa anak kita. Dan ingat Pa anak ku bukan bujang lapuk jadi Papa jangan menjulukinya seperti itu."


"Kalau bukan bujang lapuk terus apa Ma. Setuju atau tidak itu masalah nanti Ma. Besok kita lihat dulu saja seperti apa anaknya. Papa juga tidak mau salah pilih Ma."


"Ya sudah terserah Papa saja."


"Tapi kalau anak kita tidak setuju buat Papa saja juga tidak masalah kan Ma."


"Oh...tentu saja tidak masalah Pa. Asal Papa rela saja burung Papa Mama potong bagaimana masih mau nikah lagi."


"Itu terlalu sadis Ma."

__ADS_1


"Makannya jangan banyak gaya Pa." ucap sang Istri. Wira pun segera mendekat ke arah Istrinya. Wira segera memeluk sang Istri dengan sayang. Meski mereka tak muda lagi tapi kemesraan dari keduanya tak pernah pudar.


Gustin saat ini sedang berbincang bersama Nino Sisi dan kedua orangtua Nino. Semua berkumpul di ruang keluarga untuk membahas rencana pernikahan Nino dan Sisi. Menurut rencana pernikahan Nino dan Sisi akan di selenggarakan di Indonesia dan akan segera berlangsung dua bulan lagi. Nino dan Sisi terlihat sangat bahagia karena sebentar lagi keduanya akan menjadi pasangan Suami Istri. Meski saat ini Nino masih berumur 24 tahun dan Sisi berumur 23 tahun keduanya sudah mantap untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Keduanya tidak ingin mengulur waktu lagi. Gustin terlihat menyimak dengan baik pembicaraan Nino dan Papanya.


"Tina bagaimana dengan janji mu yang akan membuatkan baju pengantin untuk calon Istriku. Kamu tidak lupa kan."


"Tentu saja aku tidak lupa No. Aku sudah merancangnya. Dan kamu tidak perlu khawatir. Karena gaun itu akan segera selesai tepat waktu. Dan hasilnya tidak akan mengecewakan mu dan Sisi."


"Aku percaya pada mu Tin...Dan jangan lupa juga kamu harus menyumbang lagu untuk pernikahan ku nanti."


"Tentu saja."


Sisi dan kedua orangtua Nino hanya tersenyum mendengar pembicaraan Nino dan Gustin. Papa Nino kemudian ikut menyela pembicaraan Nino dan Gustin.


"O ya Tina Papa lupa besok Papa mau kenalkan kamu sama temen Papa. Kamu tidak keberatan kan."


"Teman Papa yang mana Pa." Sela Nino


"Itu Pak Wiratama teman Papa saat masih kuliah dulu."


"Hey anak nakal, Kamu pikir Papa rela anak perempuan Papa punya Suami om om."


Hati Gustin terasa menghangat mendengar ucapan Papa Nino. Ada rasa haru dalam hatinya.


"Lalu untuk apa Papa mau kenalin Gustin ke teman Papa itu." Ucap Nino.


"Ya hanya untuk kenalan saja. Siapa tahu Gustin cocok jadi menantunya."


"Papa ada ada saja."


Gustin hanya tersenyum mendengar ucapan Nino dan Papanya. Bagi Gustin sudah hal yang biasa saat Papa Nino selalu berusaha menjodohkannya dengan Anak dari teman temannya.


"Ma besok kamu masak yang banyak ya. Karena aku mengundang Wira dan Istrinya untuk makan malam bersama." Ucap Riu pada sang Istri.

__ADS_1


"Memangnya kapan mereka ada di Jepang Pa."


"Sudah hampir satu bulan Ma. Sisi besok kamu juga datang ke sini ya ikut makan malam."


"Ya Pa." Jawab Sisi.


"Mama masak yang enak dan spesial oke."


"Ya Pa." Ucap sang Istri.


Jam empat sore Gustin keluar dari perusahaan tempat Gustin bekerja. Gustin segera masuk ke dalam mobilnya. Dalam perjalanan pulang Gustin melihat seorang wanita sedang di cekal dua pria. Gustin segera menepikan mobilnya dan berhenti. Gusti berlari mendekati wanita yang sedang di cekal tersebut. Kedua pria itu ternyata berniat merampas tas milik wanita tersebut. Dengan gerakan cepat Gustin menarik kedua pria tersebut dan dengan kemampuan beladiri yang Gustin miliki kedua pria tersebut di hajar oleh Gustin. Kedua pria tersebut tersungkur tak berdaya setelah Gustin menghajar keduanya. Polisi pun datang untuk menangkap kedua pria tersebut dan membawanya ke Kantor Polisi. Bahu Gustin di tepuk dari belakang dan dengan segera Gustin membalikkan badannya. Dengan nafas yang masih tersengal sengal Gustin terkejut dengan Wanita paruh baya yang baru saja Gustin tolong.


"Ibu."


"Ya Nak. Kita ketemu lagi."


Gustin segera memeluk Wanita tersebut. Ternyata wanita yang di tolong Gustin adalah Bu Wira. Wanita yang Gustin temui di taman beberapa waktu yang lalu.


"Terimakasih ya Nak...sudah menolong Ibu."


"Sama sama Bu. Ibu tidak apa apa kan."


"Ibu baik baik saja kok Nak. Kamu jago juga ya bisa mengalahkan kedua preman tadi. Kamu tidak kesusahan Nak dengan Pakaian seperti ini melawan kedua preman tadi."


"Tidak sama sekali Bu. Karena saya selalu memakai celana panjang di balik gamis yang saya pakai Bu. Saya selalu merasa aman dan nyaman dengan Pakaian ini Bu."


"Maaf ya Nak bukan maksud Ibu mencela pakaian kamu. Ibu cuma heran saja tadi bagaimana bisa kamu menghajar dua preman tadi dengan Pakaian yang kamu pakai sekarang tanpa merasa terganggu sama sekali."


"Tidak apa apa Bu. Gustin paham kok. Banyak orang mengira dengan Pakaian yang saya pakai ini saya hanya terlihat seperti wanita kalem dan anggun. Dan terlihat seperti wanita lemah. Anggapan mereka salah Bu. Pakaian yang saya pakai ini adalah wajib bagi perempuan Muslim dan dengan Pakaian seperti yang saya kenakan ini tidak membatasi aktifitas yang saya jalani selama ini. Pakain ini juga sebagai pelindung tubuh saya dari tatapan laki laki yang bukan mahram Saya Bu. Selama ini saya sudah belajar bela diri selama Tiga tahun untuk menjaga diri saya sendiri saat merasa terancam. Saya tidak mau di anggap lemah oleh laki laki seperti mereka tadi Bu." Ucap Gustin dengan suara serak karena ingatan kejadian masa lalunya tiba tiba terlintas kembali. Airmata Gustin pun mengalir dengan sendirinya di kedua pipi indahnya. Bu Wira segera memeluk Gustin dan Gustin pun menangis tersedu sedu dalam pelukan Bu Wira. Setelah Gustin merasa tenang Bu Wira menuntun Gustin untuk duduk di kursi yang berada di dekat mereka. Bu Wira menyeka airmata Gustin dengan kedua Ibu jarinya. Entah kenapa dia selalu merasa senang saat bertemu dengan Gustin ada kebahagiaan tersendiri saat Bu Wira dekat dengan Gustin seperti ini. Sedangkan Gustin selalu merasa pelukan Bu Wira sama seperti Ibunya. Gustin pun heran kenapa dia bisa langsung menyayangi wanita yang kini ada di depannya. Padahal Gustin baru mengenalnya dan baru dua kali bertemu dengan nya.


"Kenapa aku merasa sangat menyayanginya dan merasa begitu dekat dengannya perasaan apa ini." Gumam Gustin dalam hati.


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya. Terimakasih sudah mampir di karya ku.


__ADS_2