Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 43


__ADS_3

Kini Gustin dan Nino sudah tiba di Bandar Udara Internasional Haneda. Gustin berjalan di belakang Nino. Nino tampak mencari cari seseorang dan terlihat dari kejahuan seorang gadis yang berdiri memunggungi nya. Dan Nino tahu itu adalah kekasihnya. Nino menoleh kebelakang menatap Gustin.


"Tin...lihatlah wanita yang berdiri memunggungi kita. Wanita berambut sebahu di depan sana. Itu adalah wanita yang selama ini aku ceritain sama kamu."


"Benarkah."


"Ya...mari kita lihat betapa cantik nya wanita ku Tin." ucap Nino sambil mempercepat langkah kakinya yang di ikuti Gustin. Setelah keduanya berjalan ke arah sosok yang memunggungi nya tiba tiba Gustin berhenti dan berjongkok membenarkan tali sepatunya yang terlepas. Nino yang fokus menatap ke depan tidak menyadari kalau Gustin saat ini tengah berhenti. Nino dengan tidak sabarnya segera menepuk pundak kekasih nya dari belakang. Sisi pun menoleh dan segera berhambur ke dalam pelukan Nino. Setelah beberapa saat keduanya mengurai pelukan nya. Sisi menengok ke belakang mencari cari seseorang.


"No mana sahabat kamu yang kamu bawa ke sini. kok aku tidak melihat nya bersama mu."


Nino langsung menoleh kebelakang mencari Gustin yang ternyata tertinggal lumayan jauh darinya. Terlihat Gustin masih berjongkok membenarkan tali sepatunya. Nino tersenyum menatap Gustin.


"Kamu lihat wanita berhijab yang sedang membenarkan tali sepatunya di sana."ucap Nino pada Sisi sambil menunjuk ke arah Gustin.


"Ya aku melihatnya No..."


"Sebentar ya..." Nino kembali berjalan ke arah Gustin dan menepuk pundak Gustin. Gustin segera mendongak dan berdiri di samping Noni.


"Tin itu wanita ku." ucap Nino sambil menunjuk orang yang di maksud. Gustin menatap ke arah yang di tunjuk Nino. Sisi terkejut tak percaya saat melihat sahabat yang Nino bawa dari Indonesia Gustin pun terkejut menatap Sisi dari kejahuan Air mata keduanya sudah menumpuk di kelopak mata. Sisi segera berlari ke arah Gustin. Sisi langsung memeluk erat sahabatnya tersebut tangis keduanya pecah seketika. Sisi merasa sedih dengan apa yang saat ini Gustin alami. Sisi masih tak percaya gadis yang sedang tertimpa kesusahan yang di ceritakan Nino adalah Gustin yang juga merupakan sahabat yang paling ia sayangi.


"Maaf kan aku Tin...aku terlalu sibuk. Sehingga aku tidak mengetahui keadaan mu. Maafkan aku yang tidak bisa ada di samping mu saat kamu sedang berduka. Maafkan aku Tin." ucap Sisi sambil sesegukan. Gustin tak bisa menjawab. Gustin hanya memeluk erat Sisi dengan menangis tersedu sedu seolah ingin mengeluarkan kesedihannya yang ia pendam. Keduanya masih saling memeluk dan menangis tanpa mempedulikan Nino dan orang orang yang menatap heran ke arah keduanya. Setelah keduanya tenang dan mengurai pelukannya Nino mendekat dan mengelus punggung Sisi dan Gustin dengan kedua tangan nya.


"Apa ada yang tidak aku ketahui dari hubungan kalian ini. Kenapa kalian terlihat sudah sangat dekat sekali."ucap Nino.

__ADS_1


"Dia adalah sahabat yang selama ini aku ceritakan pada mu." jawab Sisi.


"Benarkah...wah aku sungguh tak percaya ini. kenapa dunia sempit sekali sih."


"Sudah lah No...sekarang lebih baik kita pulang. Aku sudah lelah sekali." Ucap Gustin dengan datar. Nino tahu apa yang di ucapkan Gustin hanya alasan agar dia bisa segera menyendiri dan Nino hanya bisa mengiyakan nya. Sisi terlihat heran mendengar ucapan Gustin. Nino yang paham dengan tatapan Sisi hanya bisa memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Nino. Sisi yang paham dengan isyarat dari Nino hanya bisa diam dan tidak banyak bicara lagi. Nino menggenggam tangan Sisi sedangkan Gustin melingkar kan tangannya pada lengan Sisi dengan sangat erat tanpa berbicara apapun. Ketiganya segera berjalan bersama meninggalkan Bandar Udara Internasional Haneda.


Sedang Sandy dan Rendi saat ini sudah tiba di Jogja. Sandy dan Rendi saat ini sedang berada di dalam Taxi. Sandy terlihat sesekali menyentuh dadanya. Rendi yang duduk di samping Sandy pun menyadari apa yang Sandy lakukan.


"Pak Sandy baik baik saja kan."


"Ya Ren...aku Baik baik saja. Hanya sedikit sesak saja saat aku bernafas. Sekarang sudah tidak lagi. Sekarang tujuan kita kemana Ren..."


"Kita langsung menuju Kantor Polisi dekat kejadian tersebut Pak. Dari situ kita bisa mencari informasi tempat tinggal korban kecelakaan Pak."


"Ya Pak saya mengerti."


Setelah Empat puluh menit perjalanan Sandy dan Rendi kini telah sampai di Kantor Polisi yang di tuju. Keduanya segera masuk dan mencari informasi tentang kecelakaan yang terjadi tiga minggu yang lalu. Pihak Polisi memberi keterangan secara singkat dan jelas. Hati Sandy terasa nyeri saat mendengar keterangan dari Polisi tentang kejadian kecelakaan tersebut. Sandy dan Rendi segera beranjak dari Kantor Polisi setelah mendapat keterangan dan informasi tempat tinggal korban kecelakaan tersebut. Mobil yang Sandy dan Rendi tumpangi kini telah berhenti di depan rumah bercat putih, Rumah yang berukuran sedang yang terlihat sangat indah dan nyaman meski tidak terkesan mewah. Sandy dan Rendi berjalan ke arah pintu rumah Gustin. berkali kali Rendi mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Rendi berjalan meninggalkan Sandy yang masih berdiri di depan pintu rumah Gustin. Rendi mengetuk pintu rumah tetangga Gustin yang berada di samping rumah Gustin. Setelah beberapa kali mengetuk seorang Pria paruh baya keluar dari dalam rumah tersebut.


" Assalamualaikum Pak..."


"Walaikumsalam Mas. Sampean siapa ya Mas dan ada keperluan apa."


" Saya sahabat dari Ibu Gustin yang tinggal di samping rumah ini."

__ADS_1


"Oalah sampean temen nya Nak Gustin toh mari Mas silah duduk." ucap pria paruh baya itu sambil mengajak Rendi duduk di kursi yang berada diteras.


"Maaf Pak. Dari tadi saya sudah mengetuk pintu tapi sepertinya Ibu Gustin tidak ada di rumah nya. Kalau boleh tahu Ibu Gustin nya kemana ya Pak."


"Ya memang benar Nak Gustin tidak ada di rumah nya Mas. Kemarin salah satu sahabatnya datang dan membawa Nak Gustin pergi."


" Maaf Pak kalau boleh tahu Ibu Gustin di ajak pergi ke mana ya Pak."


"Saya sendiri kurang tahu Mas. Yang saya tahu hanya sahabatnya Nak Gustin membawa nya pergi. Karena tidak tega meninggalkan Nak Gustin sendirian di rumahnya. Apa lagi sekarang ini Nak Gustin dalam keadaan yang kurang baik."


"Apa itu karena Ibu Gustin masih syok dengan kepergian kedua orangtuanya Pak."


"Itu salah satunya Nak. Tapi yang lebih membuat keadaan Nak Gustin kurang baik adalah kejadian buruk yang menimpanya satu minggu yang lalu."


"Kejadian apa ya Pak."


" Satu minggu yang lalu ada dua orang preman yang hampir memperkosa Nak Gustin. Untung Sahabatnya itu datang tepat waktu kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada Nak Gustin Mas. Dan selama lima hari Nak Gustin di rawat di Rumah sakit karena terdapat luka dan lebab di wajah dan sebagian tubuhnya. Keadaanya sungguh memprihatinkan Mas." terang pria paruh baya tersebut. Rendi terlihat syok mendengar keterangan dari tetangga Gustin tersebut.


Setelah Rendi mengucapkan terimakasih atas informasi yang di berikan, Rendi segera kembali ke rumah Gustin.


"Ya Allah...bagaimana reaksi Pak Sandy nanti setelah mendengar kabar ini. Aku saja merasa miris mendengarnya apa lagi Pak Sandy."gumam Rendi dalam hati. Dan setelah sampai di depan rumah Gustin Rendi segera menceritakan kejadian yang menimpa Gustin. Tubuh Sandy langsung ambruk ke lantai saat itu juga. Sandy sangat syok mendengar penjelasan dari Rendi. Rendi membantu Sandy untuk berdiri dan mendudukan nya di kursi yang berada di teras. Sandy duduk bersandar di kursi tubuh nya terasa lemas hatinya terasa nyeri dan dadanya terasa sesak untuknya bernafas.


"Kenapa kesedihan seperti senang menghampirinya Ren...bagaimana keadaannya saat ini Ren...aku sungguh tidak sanggup membayangkan nya Ren. Kita harus mencarinya kemana lagi." ucap Sandy dengan airmata yang sudah menetes di sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2