
Semua orang terlihat sangat bahagia dengan kedatangan Nino dan Sisi di tengah tengah keluarga Wira. Gustin nampak yang paling bahagia di antara semua orang. Setelah acara melepas rindu dan sendau gurau di ruang keluarga. Nampak bu Wira menggiring semuanya untuk makan bersama. Diantara semua orang yang terlihat menikmati makanan hanya Sisi saja lah yang nampak enggan untuk menyentuh makanannya. Gustin pun sedari memperhatikan apa yang sedang sahabatnya itu lakukan.
"Si...apakah makanan nya tidak enak atau mau makan sesuatu selain ini? Aku bisa buat kan untuk mu. Lihat wajah mu sangat pucat sekali dan pipi mu nampak sangat tirus. Apa Nino tidak mengurus mu dengan baik? Apa setelah menikah dia tidak memperhatikan mu?"
Nino pun tersedak mendengar ucapan Gustin. Sedangkan yang lain hanya dapat tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Hey....kenapa kamu selalu kejam pada ku. Aku sangat amat mencintainya bagaimana mungkin aku tak mengurusnya dan mmperhatikan nya? Jangan asal bicara kamu."
Gustin yang mendengar ucapan Nino hanya tersenyum tanpa dosa.
"Tin...maukah kamu duduk di sebelah ku dan menyuapiku? Aku sungguh ingin kamu menyuapi ku." Ucap Sisi
"Sayang kalau hanya menyuapi mu aku pun bisa melakukan nya, tidak perlu meminta si mungil itu." Sela Nino
"Tapi aku sangat ingin makan di suapi si mungil itu bukan kamu."
Gustin pun langsung bangun dan pindah dari tempat duduknya.
"Sana kamu pindah tempat duduk. Aku yang akan menyuapi istri tercinta mu ini. Supaya dia banyak makan dan tidak sekurus ini." Nino pun dengan terpaksa pindah dari tempat duduknya. Kemudian Nino duduk tepat di samping Sandy.
"Lihat istri mungil mu itu. Di mana saja dia selalu saja kejam padaku. Dan entah kenapa aku selalu saja kalah darinya." Bisik Nino pada Sandy.
"Tapi dia sangat menyayangi mu bukan?begitu pun sebalik nya?"
"Ya...kamu sangat benar. Dia sangatlah istimewa, maka dari itu begitu banyak orang yang menyayanginya. Bahkan kedua orang tua ku saja menomor dua kan aku dan dia lah yang nomor satu di keluarga ku."
"Begitu pula di keluarga ini dia tetap menjadi nomor satu sedangkan aku selalu di anak tirikan oleh kedua orang tua ku, kakak ku dan semua penghuni rumah ini." Ucap Sandy sambil tersenyum menatap sang istri penuh cinta.
"Karena dia memang pantas mendapatkan semuanya ini sobat." Nino pun tersenyum menetap dua wanita yang sangat dia sayangi.
"Hey...apa sahabatku ini sangat merindukan ku hingga menjadi manja seperti ini?"
"Ya...aku memang sangat rindu padamu."
"Sudah sekarang makan yang banyak biar pipimu tidak tirus seperti ini. Ayo buka mulut mu aakkk..." Gustin pun dengan senang hati menyuapi Sisi semua orang nampak tersenyum melihat keduanya. Namun baru tiga suapan Sisi sudah tak mau lagi.
"Kenapa? kamu baru makan sedikit lho...kamu harus makan banyak biar tidak kurus dan pucat seperti ini."
"Aku tidak berselera lagi Tin...."
"Apa kamu tidak lapar?" Tanya Gustin dan Sisi memggelengkan kepalanya. Semua memperhatikan keduanya tak terkecuali Bu Wira dan Ratna. Keduanya tersenyum seolah mampu menebak apa yang sedang terjadi. Nino pun mencoba membujuk sang istri agar mau melanjutkan makan nya.
"Sayang...ayo lah makan lagi kenapa akhir akhir ini kamu jadi begini. Kamu mau si mungil itu menghajar ku?"
"Tapi sungguh aku sudah kenyang."
__ADS_1
Bu Wira pun berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Sisi dan Gustin.
"Apa akhir akhir ini kamu tidak berselera makan Si?" tanya Bu Wira
"Ya tante...semua makanan tampak menyeramkan tante." Bu wira pun tersenyum mendengar jawaban dari Sisi.
"Apa bulan ini tamu bulanan mu sudah datang Si..."
"Belum tante...apa ada hubungannya telat datang bulan dengan selera makan tante?"
Bu Wira tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Sisi.
"Tentu saja ada Si...sepertinya sebentar lagi akan ada kabar bahagia." Semua orang nampak bingung mendengar ucapan Bu Wira tapi tidak dengan Ratna dan suaminya. Keduanya nampak tersenyum karena sudah mampu menebak apa yang akan terjadi.
Bu Wira pun dengan segera memanggil sang Bibik.
"Bik....Bik...."
Sang art pun nampak segera berlari mendekat pada Bu Wira.
"Ya Bu...ada yang di butuhkan Bu?"
"Apa Bibik sedang sibuk?"
"Bik tolong belikan test pack di apotik ya."
"Ya Bu...mau beli berapa Bu."
"Beli 3 sekalian dengan merek yang berbeda. Bisa kan Bik?"
"Ya Bu..." Setelah Bu Wira memberikan uang, sang art pun segera pergi ke tempat tujuan.
Sedangkan yang lain nampak kebingungan dengan apa yang di lakukan oleh Bu wira barusan. Bu wira pun dapat mengerti wajah wajah kebingungan mereka.
"Sudah jangan pada bengong lanjutkan makan nya. Sebentar lagi kalian akan tau jawaban dari kebingungan kalian."
Acara makan pun telah selesai semua nya kini sedang berkumpul di ruang keluarga. Sedangkan Bu wira dan Ratna nampak tegang di depan pintu toilet. Sisi pun kini sedang di dalam toilet. Tak lama pintu toilet pun terbuka. Bu Wira dan Ratna pun segera mendekat pada Sisi dan melihat hasil ke tiga test pack tersebut. Wajah Bu wira dan Ratna pun berbinar dugaan kedua nya memang sangat tepat. Sisi pun masih nampak belum mengerti.
"Selamat ya Si...." Ucap Bu Wira dan juga Ratna.
"Selamat untuk apa tante?"
"Selamat untuk kehamilan kamu Si..." Ucap Ratna sambil memeluk Sisi. Sisi pun nampak terkejut, kemudian senyum terkembang di wajahnya.
"Saya hamil Kak Tante...?"
__ADS_1
"Iya....sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu."
"Alhamdulillah ya Allah..." Sisi pun sangat bahagia. Kemudian segara melepaskan pelukan Ratna dan Bu wira. Sisi segera berjalan keruang keluarga. Nino yang melihat sang istri mendekat ke arahnya segera saja ia bangkit dari duduknya. Sisi segera saja memeluk Nino dengan lelehan air mata yang kini menyapa di kedua pipinya.
"Hey...kenapa sayang? kenapa kamu nangis? apa yang terjadi?"
"Sayang sebentar lagi kita akan menjadi orang tua."
"Apaaaa...maksud kamu?" belum juga Nino melanjutkan ucapan nya Sisi sudah mengangguk kan kepala dalam dekapan suaminya.
"Alhamdulillah ya Allah...ini beneran kan sayang?"
"Iya No...istri kamu memang hamil." Jawab Bu Wira dari arah belakang. Keduanya pun melepaskan pelukan nya.
"Untuk memastikan ke adaan dan umur janin nya lebih baik segara bawa istri kamu ke Dokter kandungan."
"Iya tante pasti." Jawab Nino. Semua orang nampak bahagia mendengar kehamilan Sisi. Gustin pun segera memeluk sang sahabat. Kedua matanya pun sudah berkaca kaca sedari tadi. Gustin sangat bahagia mendengar kehamilan Sisi.
"Selamat ya Si...jaga baik baik ya..."
"Iya Tin...pasti...mudah mudahan tak lama lagi kamu juga nyusul ya."
"Aamiin...semoga saja ya Si..."
Setelah kepergian Sisi dan Nino semua anggota keluarga pun kini telah berada di kamar masing masing. Gustin nampak termenung menatap langit malam. Tak lama sebuah tangan melingkar di pinggangnya mendekap erat tubuhnya dari belakang. Gustin tahu pasti siapa pelaku nya. Sandy pun melepaskan pelukan nya. Dan memutar tubuh kecil sang istri kemudian memeluknya kembali dengan sangat erat. Sandy tahu apa yang kini ada dalam pikiran sang istri. Sejak kepulangan Sisi dan Nino, Gustin lebih banyak diam. Dan tanpa bicara pun Sandy tahu ada kesedihan di kedua mata sang istri. Mendapat peluk kan hangat dari sang suami air mata Gustin yang sedari ia tahan pun tumpah. Sandy semakin mengeratkan pelukannya, mendengar tangisan sang istri hatinya pun terasa tersayat.
"Jangan kamu bebani hati dan pikiran mu dengan sesuatu yang akan membuat mu lupa akan apa apa yang sudah Allah berikan pada kita. Allah akan memberikan nya di waktu yang tepat. Jangan risau sayang...ku mohon percaya lah Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kesanggupan dan kemampuan kita."
Gustin pun mengangguk dalam dekapan sang suami.
" Jangan terlalu di pikirkan, toh kita baru menikah dalam hitungan bulan. Dari pada memikirkan yang tidak tidak lebih baik kita fokus berusaha lebih keras lagi mulai malam ini, bagaimana?" Gustin yang mendengarkan ucapan Sandy langsung saja melepas pelukanya. Sehingga kini Sandy dapat melihat wajah sang istri. Wajah nampak sendu dengan kedua mata dan hidung yang sudah memerah.
" Kenapa kak Sandy malah bicara tentang usaha nya saja." Ucap sang istri dengan nada kesalnya. Sandy pun tersenyum sambil mengusap air mata Gustin.
"Lalu kita harus apa? Sayang dengarkan aku. Aku sangat mencintai mu apa pun keadaan nya nanti aku akan selalu mencintai mu. Aku sangat tidak suka melihat mu seperti ini. Tidak bisakah kita nikmati saja kebersamaan kita setelah perpisahan yang begitu menyiksa kita?" Gustin pun menatap wajah Sandy begitu dalamnya. Gustin juga mampu melihat kesedihan Sandy. Gustin pun kembali memeluk erat tubuh sang suami.
"Maafkan aku kak...aku juga sangat mencintaimu sangat. Maaf aku hampir saja lupa akan nikmat yang Allah berikan untuk kita. Tadi melihat Sisi begitu bahagia karena kehamilannya aku pun begitu ingin sepertinya."
"Aku tahu sayang...aku tahu..." Sandy pun mengeratkan pelukannya.
❤❤❤
Terimakasih sudah mampir di karya ku...
Jangan lupa like komen dan vote ya...
__ADS_1