Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 49


__ADS_3

Sandy terlihat sibuk hari ini. Padahal hari sudah menjelang malam tapi pekerjaan Sandy masih saja banyak yang belum selesai. Sandy seolah tak peduli dengan waktu yang sudah semakin malam. Sedangkan Rendi masih setia menemani Sandy di ruang kerjanya. Seperti inilah Sandy, Tak pernah mengenal waktu dan lelah. Sandy seolah tak perduli dengan rasa lelahnya. Sandy hanya ingin bekerja dan bekerja. Terkadang Rendi merasa iba melihat Sandy yang sekarang ini. Tapi Rendi tak bisa banyak membantu Sandy. Rendi hanya selalu berusaha untuk selalu ada ketika Sandy membutuhkannya. Rendi sudah berusaha sebisa mungkin untuk mencari tahu keberadaan Gustin tapi hasilnya nihil. Gustin seolah hilang di telan bumi. Entah sampai kapan Rendi akan melihat Sandy yang seperti ini. Rendi hanya berharap kelak Sandy akan mendapatkan kebahagiaannya. Rendi segera bangkit dari duduknya. Rendi segera berjalan ke ruangan Sandy. Rendi ingin segera mengajak Sandy untuk pulang karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Setelah mengetuk pintu ruangan Sandy, Rendi segera masuk dan menghampiri Sandy yang sedang duduk di kursi kebesarannya dan masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Maaf Pak apa tidak sebaiknya kita pulang dulu dan melanjutkannya besok lagi Pak. Ini sudah malam Pak saya takut Pak Sandy kelelahan."


"O ya Ren, Ini sudah hampir selesai Ren."


Setelah beberapa saat akhirnya Sandy dan Rendi meninggalkan kantornya. Keduanya kini sedang berada di dalam mobil untuk menuju kediaman Sandy. Sandy terlihat bersandar dan memejamkan matanya. Rendi sesekali melirik ke arah Sandy.


"Maaf Pak, Pak Sandy baik baik saja kan. Saya harap Pak Sandy tidak terlalu memforsir tenaga dan pikiran. Saya hanya khawatir nantinya Pak Sandy akan jatuh sakit."


"Mau bagaimana lagi Ren. Hanya ini cara ku untuk bisa mengalihkan pikiran ku darinya Ren. Aku sendiri tidak tahu akan sampai kapan aku seperti ini Ren."


"Pak Sandy harus membuka hati untuk yang lain Pak. Tidak baik jika Pak Sandy seperti ini terus. Pak Sandy juga berhak bahagia, Sudah Lima tahun Pak Sandy menantinya tapi Bu Gustin tak pernah datang dan berhasil kita temukan."

__ADS_1


"Apa mungkin memang dia bukan jodoh ku Ren. Tapi apa yang harus aku lakukan jika hati dan pikiran ku hanya tertuju padanya. Aku masih sangat mencintainya Ren."


"Ya saya mengerti Pak. Tapi tidak ada salahnya kalau sekarang Pak Sandy sedikit saja membuka hati untuk sesorang. Saya yakin Pak Sandy akan mendapatkan kebahagiaan setelah ini."


"Entahlah Ren...aku sendiri tidak tahu. Aku hanya berharap dan berdoa semoga suatu saat nanti aku bisa bersamanya." Sandy menghela nafasnya mengingat semua kenangan dan wajah Gustin yang saat ini terlintas di benak nya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Allah. Haruskah aku belajar untuk melupakan nya. Apa aku sanggup. Berikanlah jalan terbaik untuk ku dan untuknya ya Allah." Gumam Sandy dalam hati. Entah rencana apa yang sedang Allah tuliskan untuk Sandy dan Gustin saat ini.


Hari hari telah berlalu. Hari ini Gustin sedang duduk bersantai di teras belakang rumah. Gustin terlihat sesekali tertawa dan sesekali terlihat sedang menyeka airmata nya. Ternyata saat ini Gustin sedang melihat Video Sandy saat bernyanyi di teras depan rumahnya dulu serta video Sandy yang sedang bernyanyi di Cafe. Rindu yang selama ini selalu Gustin simpan dalam hatinya selalu terasa menyesakkan dadanya andai Gustin mampu menghapus satu nama yang selama bertahun tahun tersimpan rapi dalam hatinya. Mungkin Gustin tak kan pernah merasa tersiksa dengan rasa rindu. Bukan luka karena tak bisa memiliki Sandy. Gustin selalu merasa terluka oleh rindu di dalam hatinya. Apa mau di kata, Bila Allah berkehendak lain untuk cintanya. Gustin memang sekarang menjadi wanita yang kuat dan pantang menyerah, Pekerja keras dan tak pernah takut dengan apapun. Tapi Gustin selalu rapuh dengan cinta yang ada di hatinya. Menjadi Gustin tidaklah mudah. Gustin harus melawan mimpi buruknya selama ini yang selalu datang di setiap tidurnya. Bayangan para berandal itu masih setia mengusik malam malam Gustin di setiap mimpinya. Dan setelah bangun Gustin tak akan pernah bisa tidur kembali. Gustin hanya menyimpannya sendiri selama ini. Gustin harus bekerja keras saat Gustin pulang kuliah. Semua Gustin lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya. Gustin tak pernah mau banyak membebani keluarga Nino. Gustin sudah cukup beruntung dengan kasih sayang yang kelurga Nino berikan. Tanpa kenal lelah di akhir pekan Gustin menghabiskan waktunya untuk berlatih beladiri dan menembak. Semua Gustin lakukan hanya untuk menjaga dirinya agar kejadian lima tahun lalu tak terulang lagi. Tapi Gustin selalu yakin bahwa akan selalu ada tawa setelah airmata.


Gustin tersadar dari lamunan nya setelah Mama Nino yang tiba tiba datang dan membelai kepala Gustin.


"Ini Ma Gustin cuma lagi lihat video laki laki yang lagi nyanyi di Cafe tempat Gustin bekerja dulu saat Gustin masih di Indonesia dulu."


"Tina boleh Mama minta sesuatu sama kamu."

__ADS_1


"Mama minta apa dari Gustin kalau Gustin bisa pasti akan Gustin lakukan."


"Mama hanya minta agar kamu mau menerima lamaran dari keluarga Wiratama nantinya. Percayalah bahwa Mama dan Papa melakukan ini semua demi kebahagiaan mu. Terlalu egois memang, Tapi percayalah dengan keputusan Papa untuk sekarang ini. Keluarga Wira adalah keluarga yang sangat baik, Penuh kehangatan dan kasih sayang. Papa sudah sangat mengenal keluarga Wira. Kamu mau kan Tina."


"Iya Ma Tina akan menerima lamaran itu. Dan Gustin percaya dengan keputusan Papa. Papa dan Mama bukan orang yang egois. Ini semua demi kebahagiaan Gustin kan Ma. Gustin sangat menyayangi Mama Papa dan juga Nino."


"Terimakasih Tina. Ini semua kami lakukan karena kami sangat menyayangi kamu. Kami mau kamu mendapat kan laki laki yang tepat buat kamu. Kami sangat ingin melihat kamu bahagia."


"Terimakasih Ma...terimakasih untuk cinta dan kasih sayang yang selama ini Mama Papa dan Nino berikan untuk Gustin. Padahal Gustin bukanlah siapa siapa tadinya. Tapi dengan tangan terbuka keluarga ini mau menerima Gustin dan menjaga Gustin dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri. Terimakasih ya Ma." Ucap Gustin dengan airmata yang sudah membanjiri pipinya. Sang Mama langsung mendekap Gustin dalam pelukan nya. Mamapun ikut menangis mendengar ucapan Gustin.


"Kamu adalah putri Mama dan Papa. Kamu adalah saudara perempuan Nino. Bukan orang lain lagi. Jangan pernah bilang kamu bukan siapa siapa. Karena kamu sama berharganya seperti Nino. Kami akan selalu menjaga kamu. Bahkan saat nanti kamu sudah menjadi seorang Istri jika kamu butuh tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah dengan tangan terbuka kami akan selalu menerima kamu. Kami akan selalu menjadi tempat mu untuk bersandar. Kami akan selalu ada buat kamu."


"Terimakasih Ma." Keduanya pun larut dalam tangis. Bukan tangis kesedihan tapi tangis sebuah ungkapan sayang.

__ADS_1


❤❤❤


Jangan lupa like komen dan vote ya. Terimakasih sudah mampir di karya ku.


__ADS_2