
Sandy masih saja tak mengalihkan pandangannya dari wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Gustin merona karena sedari tadi Sandy tak juga mengalihkan pandangannya.
"Kak...Apa Aku boleh istirahat sebentar aku sedikit lelah."
"Ya istirahatlah agar saat resepsi nanti kamu tidak kelelahan."
Gustin segera merebahkan badannya di tempat tidur. Sandy yang masih setia duduk di tepi ranjang mengusap kepala Gustin penuh sayang. Tak butuh waktu lama kini Gustin sudah terlelap. Sandy tersenyum menatap wajah istrinya. Hari ini adalah hari yang tidak akan pernah Sandy lupakan dalam hidupnya. Sandy sangat bersyukur karena wanita yang sangat dia cintai dan selalu dia rindukan kini ada di depan matanya. Berkali kali Sandy mengucap syukur atas apa yang telah Allah berikan untuknya hari ini. Sandy mencium kening Gustin. Sandy kini ikut berbaring di samping Gustin. Sandy memeluk erat tubuh Gustin sambil terus menatap wanita yang kini terlelap dalam dekapan nya.
"Aku tak akan membiarkan mu pergi lagi dari sisi ku sayang. Kamu begitu cantik bahkan di saat kamu sedang tidur pun kamu masih saja cantik. Bagaimana aku enggak cinta coba." gumam Sandy. Dan akhir nya kedua pasangan pengantin itupun terlelap.
Sedangkan Mama Lily dan Mama Desi nampak mondar mandir tak tenang di luar kamar Gustin dan Sandy. Pasalnya sudah sekian kali kedua wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamar pasangan pengantin baru yang saat ini terlelap. Sudah dua jam mereka terlelap, padahal acara akan di adakan satu jam lagi.
"Gimana ini Bu Lily. Kenapa keduanya tak mau membuka pintu. Sebenarnya apa yang mereka lakukan. Padahal sebentar lagi acara akan di mulai."
"Sudah tenang saja Bu Lily. Sebentar lagi Nino dan Sisi akan segera kemari."
Tak lama Nino dan Sisi datang bersama petugas hotel untuk membuka pintu dengan cardlock cadangan.
Clikkk...pintu kamar pun terbuka. Sisi Mama Lily dan Mama Desi yang akhirnya masuk. Sedangkan Nino menunggu di luar kamar. Ketiga wanita itupun mendekat ke arah ranjang yang dimana kedua pengantin baru itu tidur dengan saling berpelukan. Ketiga wanita itupun menatap haru melihat Gustin dan Sandy yang sedang terlelap. Mama Desi pun mndekat ke arah Sandy.
"Nak...bangun...ini acaranya sebentar lagi mau di mulai. Ayo bangun nak." Ucap Mama sambil mengguncang bahu Sandy. Tak lama keduanya pun membuka mata. Dan alangkah terkejutnya Gustin dan Sandy saat melihat ketiga wanita di dalam kamar mereka.
"Mama...ada apa kok rame rame gini." Tanya Sandy.
"Apa kalian lupa kalau sebentar lagi acara resepsi mau di mulai. Tapi lihat kalian malah keenakan tidur."
Gustin hanya diam dan menunduk karena malu. Mama Lily mendekat pada Gustin.
"Tina kamu cuci muka dulu ya biar seger. Karena kamu harus segera di rias. MUA nya sudah nunggu dari tadi."
"Ya Ma...maaf Ya Ma...Gustin malah ketiduran tadi."
"Iya...tidak apa apa Mama tahu kamu pasti lelah. Ya sudah Mama tunggu ya."
Gustin segera turun dari ranjang nya dan saat Gustin melewati Sisi. Gustin mendengar bisikan Sisi yang mendekat padanya.
"Nyenyakan tidur ada yang ngelonin."
Mata Gustin melotot mendengar bisikan Sisi. Gustin memukul lengan Sisi dan segera berlalu ke kamar mandi dengan muka yang memerah karen malu dengan ucapan Sisi. Sedangkan Sisi tertawa melihat tingkah sahabatnya.
"Nak...Kamu juga buruan siap siap acaranya tinggal satu jam lagi tu."
"Ya Ma...Sandy siap siap dulu." Ucap Sandy sambil turun dari ranjang nya. Kemudian ketiga wanita itupun keluar dari kamar.
Gustin sudah keluar dari kamar mandi dan segera merapikan rambutnya. Sandy mendekat ke arah Gustin dan mendudukan Gustin di kursi meja rias.
__ADS_1
"Biar aku saja sayang yang mengikat rambut mu. Aku sangat merindukan saat saat seperti ini." Ucap Sandy sambil menyisir dan mengikat rambut panjang Gustin. Gustin tersenyum menatap sang suami dari cermin di depannya. Sungguh Gustin pun sangat merindukan saat seperti ini. Dengan telaten Sandy menggulung rambut panjang istrinya dan mengikatnya dengan sangat rapi. Setelah selesai Sandy memakai kan hijab Gustin. Sandy membalikan tubuh Gustin agar menghadapnya. Sandy menetap lekat wajah Gustin.
"I love you Agustina..."
"I love you more Sandyaga Wiratama."
Gustin langsung mendapat kecupan bertubi tubi di seluruh wajahnya dari Sang suami. Muka Gustin memerah karena malu.
"Kak...jangan seperti itu lagi."
"Kenapa sayang sekarang kamu kan sudah jadi istri ku masa cium cium enggak boleh."
"Aku malu tahu. Jantung ku jadi tidak sehat kalau kak Sandy seperti itu."
"Lha emang kenapa dengan jantung mu."
"Jantung ku rasa nya mau meledak tahu." Ucap Gustin sambil berlalu dan segera keluar dari kamar untuk segera di rias. Sedangkan Sandy tertawa terbahak bahak dengan sikap Gustin.
"Kau begitu menggemaskan sayang." Gumam Sandy.
Resepsi pernikahan pun berlangsung sangat meriah.Dan kedua mempelai pun tampak sangat bahagia dan serasi berdiri di pelaminan. Gustin tampak sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih dengan hijab senada dan terdapat mahkota yang sangat indah di atas kepalanya. Sedangkan Sandy nampak sangat tampan dan gagah dengan stelan jas warna hitam yang melekat pada tubuhnya.
Senyum bahagia dari kedua mempelai tak pudar dari wajah keduanya. Gustin megenggam erat lengan suaminya. Sandy berbisik pada Gustin.
"Apa kamu lelah sayang..."
"Sedikit Kak..."
"Kalau lelah beristirahatlah di kamar lebih dulu."
"Apa tidak apa apa Kak kalau aku ke kamar lebih dulu."
"Tidak apa apa sayang...acaranya Sudah hampir selesai nanti tinggal aku dan Papa menyapa para rekan bisnis dan juga sahabat sahabat ku." Ucap Sandy.
Gustin yang sudah merasa kelelahan. Karena sudah berdiri selama hampir tiga jam akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke dalam kamar. Gustin meninggal kan acara pesta dan berjalan ke arah kamarnya di bantu oleh Sisi dan juga Nino. Setelah sampai di dalam kamar Gustin segara duduk di sofa dan bernafas lega. Sisi dan Nino pun ikut duduk di samping Gustin.
"Hah...akhirnya bisa duduk juga. Aku capek banget Si..."
"Kamu enggak boleh loyo kayak gini Tin...Kamu harus vit untuk acara malam pertama kamu."
"Hah...memangnya apa yang aku lakukan untuk malam pertama nanti Si..."
"Hei...Kenapa Kamu bodoh banget sih Tin...masa malam pertama saja kamu enggak tahu harus ngapain." Seru Nino.
__ADS_1
"Lah...bukanya aku bodoh No...tapi aku beneran enggak tahu."
"Tin...nanti kamu hanya harus melayani keinginan suami kamu dan kamu tidak boleh menolak dengan apa yang dia lakukan nanti sama kamu." Ucap Sisi dengan senyum menggoda. Gustin pun akhir nya tahu apa maksud Sisi.
"Memangnya itu harus di lakukan malam ini juga ya Si..."
"Tentu saja Tin...memang harus kapan lagi." jawab Nino.
"Kenapa kamu yang nyelot sih No..."
"Habis kamu itu terlalu enggak peka banget jadi cewek."
"Sudah sudah. Sekarang kamu keluar dulu ya sayang ...Aku mau bicara berdua dulu sama Gustin." Ucap Sisi.
"Ya sudah aku tunggu di kamar ya...ingat jangan lama lama." Ucap Nino sambil mengerlingkan matanya pada Sisi. Sisi pun tersenyum dan mengangguk. Setelah kepergian Nino, Sisi segera meraih tangan Gustin dan menggenggam nya.
"Tin...Kamu harus menuruti keinginan suami kamu kapan pun dia mau. Jangan pernah menolaknya. Karena sesorang laki laki pasti akan sangat kecewa jika mendapat penolakan dari istrinya. Inilah saatnya kalian bahagia setelah apa yang selama ini kalian alami."
"Tapi Si...Aku sungguh takut kalau kak Sandy akan merasa jijik dengan ku. Karena dulu aku pernah di leceh kan oleh para berandal itu."
"Tin...tubuh Kamu masih sangat suci. Toh mereka hanya meraba saat kamu masih mengenakan pakaian lengkap. Mereka tak menyentuh mu secara langsung. Percayalah Tin...tubuh mu masih sangat suci dan belum pernah terjamah oleh siapa pun. Buang jauh jauh pikiran jelek tentang dirimu sendiri."
"Apa tidak apa apa Si...Aku sungguh tidak percaya diri Si..."
"Tin...Kamu percaya kan sama aku. Tubuh mu ini masih sangat suci dan baik baik saja. Suami mu juga tidak akan jijik pada tubuh mu. Sudah jangan ingat ingat lagi hal yang membuat mu tidak nyaman."
"Terimakasih Si...selama ini kalian selalu ada buat ku."
"Ya sudah. Sekarang kamu bersih bersih dan pakai baju yang sudah aku siapkan di atas ranjang mu itu. Kamu harus memakainya. Kalau kamu tidak memakainya aku akan sangat kecewa sama kamu."
"Memang baju apa Si..."
"Hanya baju tidur. Tapi aku yakin suami kamu akan sangat senang jika kamu memakainya."
"Baiklah nanti aku akan memakainya."
Sisi tersenyum penuh arti mendengar jawaban Gustin.
Dan setelah Sisi membantu melepaskan gaun pengantin Gustin Sisi pun segera keluar dari kamar Gustin. Sisi segera mempercepat langkahnya karena Sisi yakin kini suaminya sudah sangat gelisah menunggu nya di kamar.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya...
Terimakasih sudah mampir di karya ku...
__ADS_1