
Tidak mudah bagi Gustin dan Sandy untuk saling melupakan dan mengubur setiap kenangan. Menoleh ke belakang terlalu sakit tapi menatap ke depan keduanya seolah enggan. Kini mereka hanya bisa berserah pada Sang pemilik hati. Mereka mencoba menata hati. Tapi selalu ada doa dan harapan dari keduanya. Terkadang suratan takdir memang tak mudah. Tapi selalu berprasangka baik pada ketetapan Nya adalah hal yang harus di lakukan. Berserah tanpa harus menyerah. Tak akan ada yang sia sia dari sebuah doa. Seperti Gustin dan Sandy yang tak pernah lelah dalam doanya. Yang selalu mengharap kepada Nya. Keduanya saling terikat satu sama lain. Jika salah satu dari mereka menyatakan cinta dalam setiap doanya maka hati keduanya pun dapat merasakan nya. Jika rindu membuat salah satunya merasa sakit maka keduanya pun bisa merasakannya. Itulah ketetapan dari Sang pemilik hati. Doa dari keduanya tak pernah sia sia. Allah menjawab doa keduanya tanpa mereka sadari. Maka kuasa Allah yang mana yang membuat kita meragu. Di sepertiga malam Gustin dan Sandy selalu mengadukan segala kesedihan dan harapan pada yang Maha kuasa. Berharap cinta yang mereka miliki mendapat restu dari Sang Ilahi.
Hari yang di nanti nanti oleh Wira dan Istrinya pun tiba. Hari dimana Wira dan Istrinya melamar Gustin untuk putra tercintanya. Semua keluarga Wira dan keluarga Riu tengah sibuk di rumah masing masing. Kedua keluraga itu mempersiapkan acara lamaran Gustin dengan acara yang cukup sederhana tapi masih terlihat elegan. Riu dan semua anggota keluarganya terlihat sangat bahagia dan antusias untuk acara yang akan di adakan nanti malam. Berbeda dengan Gustin yang hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Gustin duduk di meja riasnya. Gustin menatap bayangan nya dalam cermin. Airmata nya sudah mengalir sedari tadi. Gustin menggenggam erat liontin kalung nya.
" Lihatlah Kak bahkan sampai saat ini kalung ini tak pernah sekalipun aku lepas. Rambut ku pun sudah sangat panjang sesuai keinginan mu. Ini semua karena aku masih sangat mencintaimu. Aku selalu mengingat semua kata kata mu. Aku selalu melakukan semua keinginan mu. Aku hanya tak dapat melakukan satu keinginan mu. Keinginan yang selalu kamu lontar kan setiap kali kita bertemu. Ya..Aku hanya tak bisa untuk tetap di samping mu.Tapi percayalah Kak aku sangat mencintai mu aku sangat merindukan mu. Tapi ini lah akhir cinta ku, Cinta ku terkalahkan oleh Sang penulis takdir kehidupan ku. Maaf kan aku Kak. Semoga kebahagiaan selalu mengiringi mu. Aku mohon maaf kan aku Kak." Gumam Gustin penuh dengan tangisan pilu. Hanya Gustin dan Allah yang tahu tangisan pilu nya. Andai ada orang yang mendengar nya pasti tak akan bisa menahan air matanya.
Sandy sedang selesai dari sholat nya. Dan seperti biasanya dengan kuasa Allah setiap keduanya menyebut nama keduanya hati mereka akan saling terhubung. Sandy yang akan beranjak dari atas sejadahnya kembali terduduk saat dadanya kembali terasa sesak dan hatinya terasa nyeri. Sandy terduduk dan menekan pelan dadanya. "Ya Allah...tolong jangan biarkan dia bersedih. Jaga dia ya Allah. Jangan biarkan air matanya jatuh, Biarkan senyum dan tawa bahagianya saja yang ada di wajah cantiknya. Hamba mohon biarkan dia bahagia ya Allah. Hamba menerima semua dengan ikhlas atas semua suratan takdir Mu. Tapi hamba mohon ya Allah izin kan dia bahagia. Jangan biarkan dia terluka." Lirih Sandy dalam doanya. Sandy segera beranjak dan duduk di tepi ranjang nya.
"Apa yang kamu lakukan di sana sayang. Apa saat ini kamu sedang tidak bahagia. Tahukah kamu saat ini aku sangat merindukan mu. Cinta ku kalah dengan Sang pemilik cinta. Maafkan aku sayang. Saat ini aku harus menyerah. Bukan karena lelah tapi ini semua karena aku berusaha untuk berpasrah. Selalu tersenyum dan bahagialah sayang." Gumam Sandy.
Dan malam pun kini telah tiba. Gustin terlihat cantik dengan gamis warna hitam berpadu warna coklat dengan hijab berwarna hitam. Semua sudah berkumpul di ruang keluarga. Wira datang bersama istri dan hanya membawa sedikit anggota keluarganya. Riu menyambut kedatangan Wira dengan tangan terbuka. Riu pun yang menjadi orang pertama membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya jika sambutan kelurga kami banyak kekurangan dan kurang memuaskan saya di sini sebagai kepala rumah tangga menyambut hangat dengan tangan terbuka kedatangan Pak Wiratama den keluarga."
"Saya ucapkan terimakasih untuk semua anggota kelurga Pak Riu atas sambutan yang sangat hangat ini. Tujuan saya kemari adalah untuk melamar Putri dari keluarga ini untuk saya jadikan anak perempuan saya yang akan saya jadikan Istri untuk putra tercinta kami. Untuk itu apakah Pak Riu bersedia menerima lamaran dari putra saya." Tanya Wira.
"Saya di sini tidak punya wewenang untuk menerima atau menolak lamaran dari Pak Wira. Semua saya serahkan pada putri saya." ucap Riu. Gustin yang tadi nya hanya menunduk kini mendongak kan wajahnya. Semua orang tersenyum menatap Gustin. Dan Wira pun kini menatap Gustin.
"Bagaimana Nak apa kamu bersedia untuk menerima lamaran dari putra kami."
"Terimakasih Ya Nak karena sudah menerima lamaran dari putra kami. Dan maaf jika di acara lamaran ini putra kami tidak bisa hadir. Saat ini putra kami sedang menyelesaikan pekerjaannya. Dan tidak dapat di tinggal kan."
"Ya Pak tidak apa apa saya mengerti."
__ADS_1
Semua keluarga terlihat bahagia setelah mendengar jawaban Gustin. Bu Wira kemudian mendekat ke arah Gustin dan memakai kan cincin berwarna silver dengan permata kecil di tengahnya. Cincin yang terlihat cantik melingkar di jari manis Gustin.
"Terimakasih Bu.." Ucap Gustin
"Ibu yang seharusnya berterimakasih sama kamu Nak. Karena kamu sudah mau menerima lamaran putra Ibu." balas Bu Wira. keduanya pun saling berpelukan. Airmata Gustin menetes di sudut matanya. Dada Gustin sudah sangat sesak karena manahan tangisnya sedari tadi. Gustin meminta izin pada semuanya untuk masuk ke kamar. Setelah mendapat izin dengan langkah tergesa gesa Gustin segera masuk ke dalam kamarnya. Gustin bersandar pada pintu kamarnya tubuh Gustin meluruh ke lantai. Tangisnya pun pecah seketika.
"Ayah Ibu kini putri mu telah di lamar. Andai kalian masih ada di sini pasti saat ini Ayah dan Ibu bahagia. Putri mu sebentar lagi akan segera menikah. Gustin tahu Ayah dan Ibu di sana pasti melihat ini semua. Apakah Putri mu ini akan bahagia. Kak Sandy aku telah di lamar seseorang tapi kenapa jauh di dalam lubuk hatiku masih saja ada nama mu. Maafkan aku Kak. Aku hanya ingin belajar berserah dan menerima takdir ini dengan ikhlas." Gumam Gustin.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya...Terimakasih Sudah mau mampir di karya ku...
__ADS_1