Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 54


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke rumah hati Gustin bertanya tanya. Surat dari siapa yang kini ada di tangannya. Dan siapa kedua laki laki yang sering datang ke rumah lamanya hanya untuk menanyakan keberadaan nya. Gustin ingat betul kalau selama ini Gustin tak punya banyak teman dekat apalagi laki laki. Yang Gustin punya hanya Nino dan Sisi. Langkah Gustin terhenti saat Gustin menebak siapa yang mendatangi rumahnya.


"Ya Rabb apa mungkin orang itu adalah Kak Sandy dan Pak Rendi. Tidak mungkin kalau mereka. Untuk apa juga Kak Sandy mencariku. Mungkin saat ini dia sudah bahagia bersama anak dan juga istrinya. Jangan terlalu bodoh Gustin." Gumam Gustin dalam hati. Gustin segera mempercepat langkahnya agar segera sampai ke rumahnya. Setelah sampai rumah Gustin melihat Nino Papa dan Mama sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam.." Jawab ketiganya secara bersamaan.


"Tina sini kamu duduk dulu ada yang mau Papa sampaikan."


Gustin segera menurut dan duduk di samping Nino.


"Ada apa ya Pa."


"Hari pernikahan kamu akan di percepat. Bukan satu minggu lagi tapi dua hari setelah pernikahan Nino dan Sisi. Kamu tidak keberatan kan Tina."


"Tentu tidak Pa. Tapi Pa kalau boleh tahu kenapa pernikahan Tina di percepat Pa."


"Karena padatnya pekerjaan Papa dan juga calon suami mu. Papa tidak bisa meninggalkan pekerjaan Papa terlalu lama. Maaf ya."


"Sudah Pa. Tidak papa, Gustin nurut saja bagaimana baiknya."


"Terimakasih Ya sayang."

__ADS_1


"Ya Pa...Oh Ya Ma kenapa dengan wajah putra Mama yang paling tampan itu." Ucap Gustin pada sang Mama dan menatap wajah Nino yang gelap bak langit yang sedang mendung.


"Apa kamu tidak tahu Tina dia sedang merujuk karena tidak bisa bertemu pujaan hatinya sudah hampir satu minggu."


"Wah...kenapa putra Mama kekanak kanakan sekali. Bukankah lusa kau sudah bisa terus terusan menempel pada pujaan hati mu itu hah."


"Hey...apa kamu bilang tadi aku kekanak kanakan. Kau tidak tahu saja apa yang sedang aku rasakan Tin..."


"LEBAY..." Ketus Gustin sambil beranjak dari duduknya. Dan segara menuju kamar miliknya. Sedangkan Nino masih mengomel tanpa henti.


"Lihat Ma Pa...putri kesayangan Mama dan Papa itu. Sekalipun tak pernah berbaik hati pada ku. Kata katanya selalu saja pedas."


"Sudah No...Bukan kah apa yang di katakan Tina itu benar." Ucap Papa sambil tersenyum sinis. Sedangkan Mama Lily (Mama Nino) terkekeh mendengar ucapan suami dan Putra putrinya.


"PAPA...lihat Ma bahkan suami kesayangan Mama itupun membelanya. Apa tidak ada satu saja orang di rumah ini yang mau membela ku Ma."


"Ya Allah...berilah hamba kesabaran dalam menghadapi mereka." Ucap Nino sambil menadah kan kedua tangannya layaknya orang berdoa sungguhan. Mama dan Papa pun tertawa mendengar ucapan Nino.


Semenjak kedatangan Gustin dalam keluarga ini memang telah banyak memberi perubahan. Rumah selalu terasa berwarna setiap kali Nino dan Gustin saling melempar candaan dan ejekan. Dan semua itu membuat kedua orang tua Nino yang dulunya sedikit kaku menjadi lebih hangat dan penuh kasih sayang.


Gustin duduk di atas lantai dan bersandar pada Sisi ranjang nya. Gustin mengeluarkan amplop warna putih tadi dari sakunya. Dengan hati berdebar Gustin mengeluarkan sepucuk surat dari dalam amplop tersebut.


Dear cintaku

__ADS_1


Assalamualaikum sayang...


Apa kabar sayang. Aku tak tahu harus menanyakan apa pada mu. Aku hanya berharap surat ini bisa sampai ke tangan mu. Lima tahun aku selalu mencarimu dan selalu menantimu tapi Tuhan seolah tak mengizinkan ku untuk bisa bertemu dengan mu. Maafkan kesalahan ku dulu. Harusnya aku menceritakan masalah ku pada mu agar **kamu** tidak pergi dari sisi ku. Dulu kedua orang tuaku menjodohkan ku dengan anak sahabatnya. Dan aku tak dapat menolaknya. Karena ada sesuatu yang sepertinya di tutupi dari keluarga perempuan aku menyuruh Rendi untuk mencari tahu tentang perempuan yang akan aku nikahi. Dan benar saja saat hari ijab kabul akan segera di mulai sebuah kebenaran terungkap. Perempuan yang aku nikahi telah hamil dengan kekasihnya yang telah pergi meninggalkan nya. Mereka telah menjebak kelurga ku. Ingin rasanya saat itu aku berbagi padamu. Tapi aku sungguh tak tega melukai hati mu. Aku segara pergi mencari mu setelah masalah ku selesai tapi takdir berkata lain. Sekali lagi Allah menguji cinta kita. Saat aku datang kamu sudah pergi entah kemana. Hati ku hancur saat itu juga. Duniaku yang dulu berwarna seolah menjadi gelap tanpa cahaya. Bahkan saat itu aku mencari mu sampai di kediaman mu di Jogja tapi lagi lagi aku harus kecewa. Kamu pergi di saat aku sudah tahu di mana keberadaan mu saat itu. Bertahun tahun aku mencari mu. cinta dan rindu dalam hati ku selalu bertumbuh setiap waktu. Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga Allah masih memberi ku kesempatan untuk dapat bertemu dengan mu. Tapi lagi lagi aku kalah dengan suratan takdir. Cinta dan rinduku masih sama seperti yang dulu. Aku selalu tersiksa oleh rasaku. Sekarang aku harus belajar merelakanmu dan menerima semuanya dengan ikhlas. Bukan aku ingin melupakan mu bukan juga menyerah dengan penantian ku aku hanya belajar berserah dan menunggu jawaban dari setiap doaku. Maafkan aku yang telah menyakiti mu. Ini saatnya aku harus menjalani takdir ku. Karena mungkin kamu tercipta bukan untuk ku. Semoga kamu selalu bahagia di manapun kamu berada. Aku akan selalu mengenang mu sebagai satu satunya wanita yang sudah bertahta begitu lama di hatiku. Cinta dan rinduku padamu selalu tertuang dalam setiap doaku.


***Sandy***


Tangis Gustin pun pecah seketika. Tangan Gustin memukul mukul dadanya. Dada Gustin begitu sesak hatinya begitu sakit. Kenapa harus seperti ini. Takdir seperti apa yang akan dia jalani. Di saat Gustin sudah ikhlas dengan menerima semuanya yang terjadi dan mencoba membuka hati dengan menerima pernikahan yang tinggal tiga hari lagi. Kini Gustin di tampar kenyataan bahwa orang yang selama ini dia cintai dan sangat dia rindu kan juga sama mempunyai perasaan yang begitu besar untuknya. Orang yang dia cintai juga tersiksa sama sepertinya.


"Apa yang harus hamba lakukan ya Rabb...kenapa seperti ini. Aku telah melukainya selama ini. Dia juga masih sangat mencintai ku sama seperti ku. Maaf kan aku Kak. Aku harus belajar melupakan mu. Aku tak sanggup melukai hati keluarga ku. Maaf kan aku." Ucap Gustin dengan airmata yang mengalir deras di pipinya.


Sedangkan Sandy yang hendak turun dari mobilnya hampir saja jatuh jika Rendi tak berada di sampingnya.


"Anda tidak papa Pak."


"Tidak Ren...seperti biasa dadaku terasa sesak Ren...Aku tau dia sangat mencintaiku Ren...mungkin saat ini dia sedang rindu pada ku. Atau mungkin dia sedang menangis saat ini."


"Sudah Pak jangan terlalu di pikirkan tinggal beberapa hari lagi Pak Sandy akan segera menikah."


"Ya Ren...Aku harap akan ada kebahagiaan setelah apa yang kami alami Ren..."


"Ya Pak...percayakan saja semuanya pada sang Pencipta." jawab Rendi sambil memapah tubuh Sandy ke dalam rumah.


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya...


Terimakasih sudah mampir di karya ku...


__ADS_2