
Sudah empat bulan lamanya Sisi dan Nino menjalani kehidupan rumah tangganya. Semua berjalan dengan baik, terkadang ada sedikit masalah kecil dalam rumah tangga mereka. Tapi keduanya mampu menyelesaikan nya dengan baik. Akhir akhir ini Sisi terlihat begitu manja dan sedikit lebih sensitif dari biasanya. Nino terkadang di buat bingung dengan perubahan sikap Sisi akhir akhir ini. Seperti hal nya pagi ini saat Nino akan berangkat ke kantor, Sisi tidak memperbolehkan nya untuk bekerja hari ini, dan malah memeluk erat tubuh Nino di atas tempat tidurnya.
"Sayang...sudah cukup ya peluk peluk nya. Aku harus ke kantor."
"Tidak boleh, aku mau hari ini seharian peluk peluk kamu kayak gini."
"Tapi aku harus bekerja sayang."
"Bukankah itu perusahaan punya mu sendiri. Kamu bos nya, jadi tidak usah khawatir kalau kamu akan di pecat."
"Oke baiklah, tapi setidaknya ayo kita keluar kamar untuk sarapan."
"Tidak mau, aku tidak lapar aku mau seperti ini saja hari ini." Ucap Sisi sambil mempererat pelukannya.
"Tapi aku sangat lapar sayang."
"Ya sudah, cepat sarapan dan segera kemari untuk memeluk ku lagi."
"Kamu tidak ikut sarapan.?"
"Aku tidak lapar, aku hanya mau tiduran saja di sini sambil peluk kamu."
Nino akhirnya keluar kamar dan sarapan di meja makan tanpa Sisi. Di meja makan sudah ada mama dan papanya yang sudah hampir menyelesaikan makanan nya. Papa Riu dan mama Lily heran menatap wajah putra semata wayang nya.
"No...muka Kamu kenapa kok kusut gitu? kamu enggak ke kantor." Tanya sang papa.
"Nino enggak ke kantor pa..."
"Kamu sakit."
"Enggak pa."
"Terus kenapa enggak ke kantor? Terus ke mana Sisi kok enggak ikut sarapan."
__ADS_1
"Nino enggak boleh ke kantor sama Sisi pa, kalau Nino enggak turutin kemaunya yang ada dia bakalan nangis pa."
"Terus kenapa Sisi enggak keluar kamar dan enggak sarapan." Sela mama.
"Sisi tidur lagi ma. Nino pusing ma...Akhir akhir ini Sisi gampang banget marah dan manja banget."
"Mungkin istri kamu lagi pengen di perhatiin sama kamu No..." Ucap mama lagi.
"O ya No...bersiaplah mulai dari sekarang. Papa mau kamu kembali ke Indonesia dan memimpin perusahaan di sana."
"Benaran pa.?"
"Ya...sudah saatnya kamu yang mengambil alih perusahaan itu. Papa yakin kamu bisa di andalkan. Orang kepercayaan papa yang memimpin perusahaan kita sudah harus pensiun karena usianya tidak muda lagi."
"Nino tidak akan mengecewakan papa."
"Papa tahu No...jadi dari sekarang kamu dan Sisi bersiaplah lusa kalian harus segera berangkat."
"Baiklah." Jawab Papa dan Mama bersamaan.
Nino pun sangat bahagia karena sebentar lagi akan segera bertemu dengan saudara perempuan nya.
Sedangkan Gustin saat ini sedang bersiap, mengantar makan siang untuk Sandy ke kantornya. Semenjak tiga minggu yang lalu Sandy sudah mulai berangkat ke kantor. Selama itu juga Gustin selalu ke kantor Sandy untuk mengantar makan siangnya. Gustin menatap bayangan nya sendiri di depan cermin. Gustin nampak manis dan cantik dengan gamis berwarna navy dengan hijab berwarna senada. Gustin keluar dari kamarnya, saat berjalan melewati ruang keluarga Gustin melihat mama dan papa mertuanya sedang menonton televisi. Gustin duduk di samping mama Desy dan papa Wira.
"Wah...anak mama cantik sekali. Mau nganter makan siang buat Sandy sekarang.?"
"Iya ma...mama dan papa sudah makan siang .?"
"Sudah nak." Jawab papa Wira.
"Masakan kamu selalu saja istimewa nak, papa sangat senang dengan semua masakan kamu. Kamu sama seperti mama, cantik dan sangat pandai memasak. Selalu buatlah suami kamu jatuh cinta setiap harinya pada mu nak. Buatlah dia jatuh cinta dengan masakan kamu dan senyum bahagia mu yang akan menambah kadar kecantikan mu. Selalu percayalah dengan pasangan mu apapun yang terjadi nanti. Jangan pernah menyerah dengan para wanita di luar sana yang ingin merusak rumah tangga mu nantinya."
"Gustin akan selalu percaya dengan Kak Sandy pa. Gustin tahu persis sebesar apa cintanya untuk Gustin. Jika nantinya ada wanita yang menggodanya atau berusaha merusak rumah tangga kami, maka Gustin akan sekuat tenaga akan mempertahankan apa yang sudah menjadi milik Gustin pa."
__ADS_1
"Ya nak, kamu harus menjadi wanita yang kuat untuk berada di samping suami kamu. Karena tak dapat di pungkiri, bahwa menjadi seorang pengusaha muda seperti Sandy tidak lah luput dari para wanita yang ingin menggoda dan merebutnya dari mu nak."
"Gustin akan selalu menghadapi mereka nantinya. Gustin selalu punya Allah yang akan selalu mendengar doa hamba Nya. Gustin juga punya cara tersendiri untuk menjaga milik Gustin dan Gustin akan menyingkirkan para penggoda itu dari suami Gustin pa."
"Papa yakin kamu adalah wanita yang kuat dan tangguh nak." Ucap papa Wira.
Mama Desy tersenyum menatap wajah menantunya. Ada rasa bangga yang menyeruak dalam hatinya. Karena memiliki menantu seperti Gustin. Meski dari fisik dan penampilan Gustin tampak seperti wanita yang kalem dan ringkih karena postur tubuh mungil yang di miliknya. Tapi mama Desy tahu Gustin adalah wanita yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Gustin menatap heran mama Desy.
"Mama kenapa senyum senyum gitu."
"Enggak apa apa kok, sini mama kasih tahu gimana caranya agar suami kamu bertekuk lutut dan hanya tergila gila sama kamu saja." Ucap mama Desy. Gustin pun mendekatkan telinganya saat mama Desy membisikkan sesuatu.
"Kamu harus pintar pintar memuaskan suami kamu di ranjang. Para suami tidak akan pernah mencari kepuasan di luar sana kalau kamu pandai memuaskannya di ranjang." Bisik mama Desy. Mata Gustin membulat dan wajah Gustin memerah mendengar bisikan mama Desy. Gustin segera berdiri dari duduknya dan segera berpamitan untuk mengantar makan siang Sandy.
"Mama ngomong apa tadi sama Gustin. Kok muka Gustin kayak tomat gitu habis mama bisikin."
"Mama cuma bilang kalau Gustin harus pandai memuaskan suaminya di ranjang, supaya tidak berpaling nantinya."
"Ya Allah ma...kenapa mama harus bicara seperti itu. Kasihan kan menantu kita jadi malu gitu."
"Lah emang kenapa pa...bukanya apa yang mama bilang itu benar."
"Ya emang benar juga sih. Kalau gitu mama pratekin sekarang gimana." Ucap sang suami sambil tersenyum nakal pada istrinya.
"Papa enggak inget umur ih." Ucapnya sambil berlalu meninggalkan suaminya dan masuk ke dalam kamar.
"Wah...kode ni...udah main masuk kamar aja si mama." Kata pak Wira dan segera menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya...
Terimakasih sudah mampir di karya ku...
__ADS_1