Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 65


__ADS_3

Selama beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang terus memperhatikan kebiasaan Gustin. Yang sering mengantar makana siang untuk Sandy. Sebelum Gustin tiba di kantor, seorang wanita cantik lebih dulu tiba di sana. Dengan percaya dirinya dia mengaku bahwa sudah membuat janji dengan Sandy sebelumnya. Bagian Resepsionis dan sekretaris Sandy pun percaya, dan mempersilahkannya untuk masuk ke ruangan Sandy. Di dalam ruangannya Sandy sedang membahas hasil rapat yang baru saja selesai dengan Rendi. Sandy dan Rendi pun terkejut melihat wanita cantik yang tak lain adalah Mira. Sandy langsung berdiri dengan menatap tajam pada Mira. Mira tersenyum manis menatap Sandy tanpa memperdulikan tatapan tajam Sandy.


Tak lama setelah Mira masuk ke dalam ruang kerja Sandy, Gustin kini tengah berjalan ke arah ruang kerja suaminya. Sekretaris Sandy pun tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya memberi penghormatan pada Gustin. Gustin pun tersenyum.


"Vera pak Sandy ada di dalam kan"


"Iya Bu beliau sedang ada di dalam bersama Pak Rendi dan seorang tamu."


"Apa Pak Sandy sedang sibuk?"


"Saya rasa tidak Bu."


"Baiklah kalau begitu saya masuk dulu ya."


"Ya Bu silahkan."


Sandy mendekat ke arah Mira dengan tatapan tajamnya.


"Untuk apa kamu datang ke sini."


"Saya ke sini hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kamu."


"Terimakasih, karena sudah selesai ucapan selamatnya. Lebih baik kamu segera pergi dari sini." Ucap Sandy dengan datar. Bukanya menjawab atau pergi Mira malah mendekat dan memeluk tubuh Sandy. Tepat saat Mira memeluk Sandy, di saat itu juga Gustin membuka pintu ruang kerja Sandy. Gustin terkejut melihat pemandangan di depannya. Tak lama Gustin menormalkan ekspresi wajahnya. Sandy dan Rendi pun terkejut melihat kedatangan Gustin. Sandy segera melepas pelukan Mira.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam..." Jawab ketiga orang tersebut secara bersamaan. Gustin mendekat ke arah Sandy dan meraih tangan Sandy serta mencium punggung tangannya.


"Sayang yang tadi itu..." Ucap Sandy dengan gugup.


"Kenapa Kak...yang tadi apa?"


"itu..."


"Tidak masalah Kak... Sekarang ayo kita makan siang dulu."


"Pak Rendi mau ikut makan siang bareng kami." Tanya Gustin pada Rendi tanpa menatap Mira yang sejak tadi memperhatikannya.


"Tidak usah Bu."


"Kak Sandy duduk dulu ya." Titah Gustin pada suaminya.


Sandy pun langsung berjalan dan duduk di sofa bersama Rendi. Kini Gustin menatap tajam pada wanita yang berdiri tepat di hadapan nya. Mira tersenyum merasa dirinya menang karena dengan begini, dia berpikir bisa memicu keributan antara Sandy dan Gustin. Gustin mendekat dan mengulurkan tangannya ke arah Mira dengan tatapan yang masih sama.


"Kenalkan saya Gustin istri Pak SANDYAGA WIRATAMA." Ucap Gustin penuh dengan penekanan. Mira sedikit terkejut mendengar ucapan Gustin yang penuh penekanan. Gustin sedikit menempelkan tubuhnya pada Mira dan itu membuat Mira sedikit memundurkan langkahnya ke belakang. Gustin yang melihat pergerakan Mira malah semakin mendekatkan tubuh nya pada Mira dengan tatapan yang dingin dan tajam. Mira pun semakin melangkah mundur sampai tubuh nya membentur dinding. Gustin segera menempelkan tubuh mungil nya pada Mira. Tinggi badan Gustin hanya sebahu Mira.

__ADS_1


Gustin mendongakkan wajahnya menatap lekat wajah Mira. Mira menelan ludah nya dengan susah payah melihat sorot mata Gustin.


"Apa yang anda lakukan barusan terhadap suami saya?" Bisik Gustin.


"Saya hanya melakukan apa yang saya ingin lakukan." Balas Mira


"Dari pada anda sibuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan suami saya. Akan lebih baik jika anda sibuk mengurus anak anda di rumah."


"Jangan pernah mengajari saya."


"Dan jangan pernah menganggu milik saya." Balas Gustin.


"Harusnya dulu dia menjadi milik saya."


"Dan harusnya dari dulu hingga sekarang dia sudah menjadi milik saya. Anda lebih baik mencari Ayah dari anak anda." Ucap Gustin. Mira yang tersulut emosinya mengangkat tangannya dan hendak menampar Gustin. Tapi dengan gerakan cepat Gustin menangkap pergelangan tangan Mira dan memutar nya ke belakang tubuh Mira. Gustin menekan tubuh Mira ke dinding dengan tangan yang di plintir kebelakang oleh Gustin. Tubuh Mira telah terkunci oleh Gustin.


"Jangan pernah mencoba bermain main main dengan saya dan milik saya."


"Ya...saya mengerti, sekarang tolong lepaskan saya."


Gustin masih mengunci tubuh Mira dan mengarahkannya keluar dari ruang kerja Sandy. Sekretaris Sandy terkejut melihat Gustin yang mengunci tubuh Mira dan mengarahkan nya ke arah lift. Setelah sampai di depan lift Gustin melepaskan Mira. Mira pun cepat masuk ke dalam lift.


Gustin berbalik dan melihat Sandy dan Rendi serta Vera sekretaris Sandy yang berdiri mematung menatapnya. Rendi mendekat dan berbisik pada Sandy.


"Anda harus berhati hati dengan Bu Gustin Pak. Sepertinya beliau tidak sesuai dengan penilaian kita selama ini."


Gustin segera melewati Vera Sandy dan Rendi yang masih berdiri mematung di depan ruang kerja Sandy. Sandy pun segera menyusulnya dengan mengajak Rendi. Gustin sudah duduk di sofa dengan kedua tangan yang di lipat di perutnya. Sandy segera mendekat dan duduk di samping Gustin.


"Sayang kita makan siang sekarang ya sayang?"


"Pak Rendi sebaiknya anda segera makan siang juga!" Ucap Gustin dengan datar tak seperi biasanya.


"Iya Bu, Saya pamit kalau begitu."


Rendi segera keluar dari ruang kerja Sandy. Gustin pun segera mengikuti Rendi hingga di depan meja kerja Vera.


"Maaf sebelumnya pak Rendi Vera, tolong dalam dua jam ke depan, jangan biarkan ada satu orangpun yang mengetuk pintu ruang kerja suami saya. Dua jam ke depan saya tidak mau ada yang mengganggu suami saya apapun alasannya. Bisa kan pak Rendi Vera?"


"Baik Bu." Jawab keduanya secara bersamaan.


Gustin pun segera masuk kembali ke ruangan suaminya. Rendi dan Vera bernafas lega setelah kepergian Gustin.


"Pak itu tadi beneran Bu Gustin?" Tanya Vera pada Rendi.


"Entahlah Ver." Ucap Rendi dan segera berlalu.

__ADS_1


Gustin segera mengunci pintu ruang kerja Sandy. Gustin segera melepas hijabnya dan ikatan rambutnya. Gustin juga melepas gamis dan celana panjang nya di depan Sandy. Sandy menatap tak percaya dengan apa yang di lakukan istrinya. Kini Gustin hanya mengenakan tank top warna hitam dan celana sot hitam pendek. Gustin nampak sangat seksi dan semakin cantik di mata Sandy. Sandy menelan ludah nya dengan susah payah melihat penampilan Gustin saat ini.


Gustin segera mendekat dan mencium bibir suaminya. Sandy menahan tengkuk Gustin dan membalas ciuman Gustin. Gustin memperdalam ciuman nya dan tangannya kini telah sibuk melepas pakaian yang di kenakan oleh Sandy. Gustin segera membaca doa terlebih dahulu dan Sandy pun segara ikut melafalkan doa tersebut.


Sandy yang mengerti maksud dari ulah istrinya pun ingin segera menerkam tubuh mungil istrinya. Tapi kali ini Gustin yang lebih menguasai permainannya saat ini.Hingga tubuh Sandy di buat lemas tak berdaya oleh Gustin.


Gustin dan Sandy kini sedang mandi besar bersama. Setelah keduanya selesai dan berganti pakaian. Sandy segera mengeringkan rambut panjang Gustin yang kini duduk di pangkuan nya.


"Wah istri mungil ku ini bisa main hot juga ya sekarang. Belajar dari mana coba."


Blusss...wajah Gustin merona menahan malu mendengar ucapan Sandy. Gustin malu jika teringat ulahnya tadi. Gustin


diam tanpa menjawab ucapan Sandy.


"Kenapa dari tadi kamu diam sayang. Untuk yang tadi aku minta maaf. Itu hanya..." Ucapan Sandy terpotong oleh Gustin.


"Cukup kak, jangan di teruskan aku bisa mengerti. Aku tahu apa yang Mira inginkan dari kejadian tadi. Aku tidak pernah meragukan mu."


"Tapi kenapa kamu terlihat marah tadi?"


"Kak...aku ini wanita normal. Di mana mana tidak akan ada yang suka jika ada wanita lain memeluk erat suaminya."


"Jadi kamu cemburu begitu."


"Tidak, aku hanya tidak suka saja milik ku di ganggu orang lain."


"Itu sama saja sayang."


"Tidak itu berbeda kak."


"Ya sudah aku mengalah. Lalu kenapa tadi kamu nakal sekali."


"Itu karena..ah sudahlah kak cepat makan siang saja nanti keburu dingin makanannya."


"Baiklah, tapi aku sangat suka permainannya tadi sayang."


"Ya, karena sukanya kak Sandy sampai menjadi lemas tak berdaya seperti tadi."


"Sudah jangan di teruskan ayo suapi aku." Ucap Sandy gugup karena menahan malu.


Gustin pun segera menyuapi suaminya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Ternyata ilmu dari Sisi dan kak Ratna ada manfaatnya juga." Gumam Gustin dalam hatinya.


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya...


Terimakasih sudah mampir di karya ku...


__ADS_2