
Dua bulan kemudian.
Seluruh anggota keluarga Riu kini telah tiba di Indonesia. Tiga hari lagi acara pernikahan Nino dan Sisi akan segera di laksanakan. Semua keluarga kini telah berkumpul di ruang tamu. Sedangkan Gustin saat ini sedang duduk di tepi kolam renang dengan memasukan kedua kakinya ke dalam kolam. Gustin merasa ikut bahagia kerena melihat kebahagiaan Nino dan Sisi. Gustin termenung beberapa saat. Nino tiba tiba mengejutkan Gustin dari arah belakang.
"Ayo lagi ngelamunin apa." Ucap Nino mengejutkan Gustin.
"Ninoooo...kamu iseng banget sih...Aku kaget tauk."
"Salah sendiri dari tadi melamun. Mikirin apa coba."
"Jangan suka ngagetin kayak tadi. Nanti kalau aku terkena serangan jantung gimana. Aku kan sebentar lagi juga mau nikah."
"Cie...yang bentar lagi mau nikah."
"Apa sih. Rese banget jadi orang." Ucap Gustin dengan wajah datar.
"Jadi dari tadi kamu lagi bayangin calon suami kamu toh."
"Ya Allah No...gimana mau bayangin coba, Kalau mukanya aja aku belum pernah lihat. Jangankan mukanya namanya saja aku enggak tahu."
"Beneran kamu enggak tahu nama calon suami kamu? Emang kamu enggak pernah tanya sama Papa atau Mama."
"Aku enggak pernah tanya sama Papa atau Mama No...Aku takut kalau orangnya jelek dan galak gimana No. Ngebayangin aja aku dah merinding gini lho No."
Nino tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Gustin.
"Sudah puas tertawanya. Kamu seneng kan sekarang."
"Maaf maaf...Kasihan banget sih...calon pengantin satu ini. Ya sudah, Karena aku saudara kamu yang baik hati dan tidak sombong maka aku akan kasih tahu ke kamu ya. Namanya Sandyaga Wiratama. Dia itu pengusaha sukses dan sangat tampan. Tidak seperti yang kamu bayangkan."
"Benarkah. Kalau hanya tampan saja dulu matan pacar aku juga tampan bahkan tidak ada yang bisa menandinginya."
"Wow...apa kah ketampanan ku masih ada yang menandingi."
"Hei kamu pikir kamu itu tampan. Kamu hanya terlihat tampan di mata Sisi Mama dan juga Papa tauk."
"Ya Allah Tin...kapan sih kamu mau puji aku. Pedes banget deh."
"Kamu tidak tahu saja seperti apa ketampanan mantan ku. Dia itu tampan, cerdas dan sangat perhatian. Walaupun dia selalu sibuk dengan pekerjaannya tapi dia selalu meluangkan waktu untuk ku." Ucap Gustin dengan wajah sendu. Nino yang tahu jika Gustin selalu bersedih jika mengingat mantan langsung mengelus kepala Gustin yang tertutup hijabnya.
"Sudah jangan di ingat lagi ya. Sudah waktunya kamu membuka hati untuk calon suami kamu nanti. Aku yakin nanti kamu pasti akan bahagia bersama nya. Karena dia adalah laki laki yang baik."
"Ya No...Aku akan berusaha."
Keduanya pun segera beranjak dari duduknya dan segera masuk dan bergabung bersama anggota keluarga yang lain.
Dan hari ini adalah untuk pertama kalinya Gustin datang ke rumah Wira. Tadi pagi Bu Wira. sengaja datang ke rumah Riu. Kedatangannya bertujuan untuk membawa Gustin ke rumahnya. Gustin yang Sudah tahu kedatangan Bu Wira segera menemui Bu Wira yang sedang menunggunya di ruang Tamu. Gustin nampak cantik dengan gamis warna coklat dengan hijab berwarna senada. Bu Wira tersenyum melihat calon menantunya. Gustin dan Bu Wira kini tengah berada di dalam mobil menuju kediaman Keluarga Wira.
Setelah sampai di kediamannya Bu Wira segera menuntun Gustin masuk kedalam rumah. Gustin nampak canggung saat masuk ke dalam rumah. Gustin duduk bersama Bu Wira di ruang tamu. Gustin tersenyum saat melihat Bu Wira yang nampak bahagia menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa Bu. Kok lihatin nya kaya gitu."
"Enggak apa apa nak. Ibu hanya merasa bahagia saja karena sebentar lagi kamu akan menjadi Putri kami. Mulai sekarang jangan panggil Ibu dan Pak lagi tapi panggil Mama dan Papa ya."
"Ya Ma."
"Ayo ikut Mama" Ucap Bu Wira sambil menarik tangan Gustin agar mengikutinya. Kini Gustin masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdapat banyak alat musik. Gustin merasa senang saat melihat alat musik di depannya hingga tak memperdulikan apa yang ada di ruangan itu selain alat musik di depannya. Gustin memegang gitar yang ada di dalam ruangan tersebut.Gustin kini duduk dengan memain kan gitar itu. Tanpa Gustin sadari kalau Bu Wira yang berada di belakangnya kini sedang memvideo Gustin dengan Hp nya. Setelah mencoba memainkan nya kini Gustin menyanyi dengan di iringi suara gitar yang dia mainkan.
🌸🌸🌸
Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu
Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku
'Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu
Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)
Ho-o-o-o-oh ...
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
Kamu dan segala kenangan (kenangan)
Menyatu dalam waktu yang berjalan (berjalan)
__ADS_1
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan hanya bayangan
O-o-oh ...
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
'Ku mencintamu (mencintamu)
Kamu (kamu) dan kenangan
Gustin terkejut ketika mendengar tepukan tangan dari Bu Wira. Gustin merasa malu karena tidak menyadari kalau sedari tadi Bu Wira memperhatikannya.
"Maaf ya Ma...Gustin lupa kalau ada Mama."
"Enggak apa apa nak. Suara kamu bagus banget kamu pintar main gitar ya ternyata. Dulu ruangan ini menjadi tempat favorit putra Mama.Tapi sekarang dia tak pernah lagi masuk ke ruangan ini karena kesibukannya." Ucap Bu Wira dengan wajah sendu.
"Kenapa Mama jadi sedih." Tanya Gustin sambil memeluk tubuh calon mertuanya. Bu Wira hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Gustin. Dan setelah hampir dua jam Gustin berada di rumah Pak Wira. Kini Gustin pun pulang di antar oleh sopir keluarga Pak Wira.
Setelah kepergian Gustin tak lama calon suami Gustin tiba di kediaman Pak Wira. Sang putra segera masuk dan saat melewati ruang keluarga dia melihat sang Mama yang terlihat sibuk dengan Hp nya.
"Assalamualaikum Ma..."
"Walaikumsalam kamu sudah pulang nak."
"Iya Ma...Tadi selesai acara aku langsung pulang dan tidak kembali ke kantor lagi. hari ini aku lelah banget Ma."
"Kamu sih baru pulang coba tadi kamu pulang nya lebih cepet, Kan kamu bisa ketemu calon istri kamu."
'Memangnya tadi dia ke sini Ma."
"Iya nak. Tadi Mama ajak dia masuk ke ruang musik kamu. Dan kamu tahu nak tadi dia main gitar dengan sangat indah sambil menyanyikan lagu. Sini Mama kasih lihat. Mama punya videonya tadi."
Sang putra pun langsung menurut dan saat mendengar suara Gustin hatinya berdebar dengan sendirinya. Dan dia pun tak mengerti karena apa.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya...Terimasih Sudah mau mampir.
__ADS_1