Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 63


__ADS_3

***Tiga bulan kemudian***


Hari ini adalah jadwal Ratna dan Galih untuk menginap di kediaman Pak Wira bersama kedua anaknya. Kediaman pak Wira nampak ramai tidak seperti biasanya. Pak Wira, istri dan anak cucunya kini sedang bersendau gurau di ruang keluarga. Sedangkan Gustin dan Sandy masih di dalam kamar mereka dan belum ikut bergabung di ruang keluarga.


"Ma...di mana Sandy dan Gustin? kok dari tadi Ratna enggak lihat mereka."


"Mereka masih di kamar Na...mungkin sebentar lagi mereka akan keluar."


"Memangnya mereka tidak tahu kalau hari ini aku nginep sini Ma..."


"Mereka sudah tahu Na...Biarkan saja. Kamu kayak belum pernah ngalamin saja. Bahkan dulu kamu lebih parah dari mereka." Sambung pak Wira.


"Memang Ratna parah apanya Pa...dulu Ratna sama mas Galih biasa saja tu. Enggak lebay kayak Sandy."


"Wah...ternyata kamu lupa ya...bahkan sampai 3 hari 3 malam kamu sama Galih enggak keluar kamar. Makan saja di anter sama bibi ke kamar."


"Ih...Papa kenapa masih inget aja sih..." Jawab Ratna dengan muka yang memerah karena malu. Sedangkan Galih hanya bisa tersenyum kaku karena malu.


"Wah...Ternyata kakak perempuan ku ini garang juga ya. Sampai 3 hari 3 malam tidak keluar kamar. Kak Galih enggak capek ngadepin kak Ratna." ucap Sandy yang tiba tiba datang bersama Gustin, dan mendengar percakapan Ratna dengan sang Papa.


"Kamu jangan asal bicara ya dek...Kakak cuma mau jadi istri yang baik. Dengan menuruti keinginan suami tahu."


"Bilang saja kalau kakak juga menginginkan nya." Ledek Sandy.


"Wah...setelah menikah tingkat menyebalkan mu naik drastis ya dek..."


"Apanya yang menyebalkan coba? aku hanya bicara fakta kak. Ucapan ku tidak salah kan kak Galih." Tanya Sandy pada Galih.


"Ya...San kau memang benar. Kakak mu lah yang selalu saja betah di kamar." Jawab Galih sambil tersenyum menatap istrinya. Sedangkan Ratna menatap tajam ke arah suaminya.


"Aku benar kan Kak."


"Kamu memang sangat menyebalkan dek..." Ucap Ratna.


"Sudah sudah kalian itu kenapa selalu saja ribut kalau ketemu." Sela mama Desy. Sedangkan Gustin tak memperdulikan percakapan Sandy dan kakaknya. Karena Gustin lebih asik bercanda dengan kedua keponakannya yang lucu lucu.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Jawab semua orang yang ada di ruang keluarga tersebut.


"Kamu baru pulang Ren..." Tanya pak Wira.


"Iya pak..."

__ADS_1


"Ya sudah kamu ke kamar dulu sana bersih bersih terus nanti kita makan malam bersama."


"Ya Pak...saya permisi dulu kalau begitu." Ucap Rendi sambil berlalu.


"Dek kamu lihat tu si Rendi. Gara gara kamu kerjaan Rendi tambah banyak."


"Ya Allah kak...Aku cuti juga baru tiga bulan. Satu minggu lagi aku juga sudah mulai kerja kak."


"Jangan salah kan adek mu Na...memang mama yang meminta Sandy untuk mengambil cuti selama tiga bulan setelah menikah. Apa kamu lupa tiga bulan yang lalu adek kesayangan mu itu jatuh sakit karena kelelahan? Selama ini Sandy sudah bekerja keras. Biarkan dia beristirahat sejenak. Mama juga sangat ingin mendapat cucu dari anak laki laki mama yang tampan ini." Ucap Mama sambil merangkul bahu Sandy.


Gustin yang mendengar ucapan Mama Desy sedikit terkejut. Pasalnya Gustin tidak tahu kalau tiga bulan lalu Sandy jatuh sakit.


"Maaf Ma...memangnya kak Sandy sakit apa Ma...?"


"Kamu enggak tahu Nak...kalau selama kamu pergi dari sisi nya. Dia menyiksa dirinya sendiri. Suami mu selalu saja menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. Dia tak pernah peduli siang ataupun malam. Hingga dia akhirnya tumbang dan harus di rawat di Rumah sakit." Sambung Pak Wira.


Deg hati Gustin seperti di remas, saat mendengar penjelasan dari Pak Wira. Mata Gustin pun sudah memerah menahan air


matanya.


"Benarkah begitu Pa..."


"Ya Nak...saat dia kehilangan mu dia menjadi lali laki yang dingin dan tak perduli dengan orang di sekitarnya. Dia hanya bisa menyiksa dirinya dengan bekerja tanpa kenal waktu."


Gustin segera berdiri dan berjalan ke arah Sandy. Gustin segera memeluk tubuh Sandy dengan airmata yang sudah tak dapat di bendungnya. Sandy pun membalas pelukan Gustin.


"Aku tidak akan pernah pergi lagi dari sisih mu kak. Maafkan aku ya. Aku sangat mencintaimu."


"Tidak sayang...kamu tidak salah. Akulah yang salah. Tak perlu kita ingat kembali masa masa itu. Sekarang kamu sudah ada di sini dan aku tak akan pernah membiarkan mu pergi."


Semua orang yang ada di ruangan tersebut menatap haru pada Sandy dan Gustin. Kedua anak ratna mendekat ke arah Sandy dan Gustin.


"Kenapa tante Gustin nangis. Om Sandy nakal ya tan." Tanya Kevin dengan polosnya.


Bela anak perempuan Ratna langsung memukul paha Sandy.


"Auww...aduh Bela kenapa om di pukul." Ucap Sandy sambil melepaskan pelukannya pada Gustin.


"Itu karena om udah nakalin tante Gustin." Ucap Bela. Gustin pun tersenyum dan lansung memeluk Bela dan Kevin dengan gemas.


"Terimakasih sayang karena sudah belain tante ya. Om kalian memang nakal." Ucap Gustin pada kedua ponakan nya. Langsung saja Bela dan Kevin melepaskan pelukan gustin, dan menatap tajam ke arah Sandy. Sandy segera bersembunyi di belakang tubuh Ratna yang masih duduk di samping nya.


"Kak...tolong aku kak. Meraka pasti akan menghabisiku tanpa ampun."

__ADS_1


"Biarkan saja, itu hukuman buat kamu."


Bela dan Kevin sudah bersiap, dan keduanya segera menggelitik tubuh Sandy tanpa ampun.


"Kevin Bela tolong maafkan om ya...sudah sudah om sudah tak tahan lagi."


"Om harus janji enggak akan bikin tante Gustin nangis lagi." Ucap kevin.


"Iya Kevin, om janji enggak akan bikin tante nangis lagi." Ucap Sandy sambil menahan rasa geli di tubuhnya. Bukanya berhenti kedua anak kecil itu malah semakin menggelitik tubuh Sandy dengan kejamnya. Semua orang di ruangan tersebut tertawa melihatnya tak terkecuali Gustin. Yang terlihat begitu bahagia melihat Sandy di siksa oleh kedua keponakannya.


"Sayang kenapa kamu malah tertawa melihat suami mu di siksa." Ucap Sandy yang sudah terlepas dari hukuman Bela dan Kevin.


"Karena aku sangat senang melihat mu di hukum kak."


"Kamu kejam sekali sayang."


"Maaf kak tapi itu sangat menyenangkan bagi ku."


"Benarkah...kau merasa senang melihat suami mu di siksa."


"Ya Kak." Ucap Gustin sambil menahan tawanya. Sandy segera mengangkat tubuh Gustin dan mengendongnya seperti karung beras.


"Kamu mau apa kak tolong turunin aku. Ma...Pa...tolongin Gustin."


"Tidak ada yang bisa menolong mu sekarang sayang."


"Kak Ratna tolongin aku kak."


"Sandy cukup lepaskan Gustin." Ucap Ratna


"Tidak akan kak aku harus menghukumnya." Ucap Sandy dan segera membawa Gustin masuk kembali ke dalam kamarnya. Semua orang hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah keduanya.


"Terimakasih Ya Allah atas kebahagiaan yang telah Engkau berikan untuk keluarga hamba. Hamba sangat bersyukur bisa melihat tawa bahagia putra hamba yang dulu sempat hilang dari wajah tampan nya." Gumam mama Sandy dalam hatinya.


Sedangkan Gustin sudah harap harap cemas, ketika Sandy menurun kan tubuh nya di atas tempat tidurnya. Sandy tersenyum nakal menatap seluruh tubuh istrinya.


"Kak Sandy mau apa. Ayo kita keluar aku masih mau bermain bersama Kevin dan Bela kak."


"Kita akan bermain berdua di sini sayang." Ucap Sandy sambil membuka hijab Gustin dan melemparnya sembarangan. Gustin yang sudah tahu apa yang di inginkan Sandy hanya bisa pasrah.


❤❤❤


Jangan lupa like komen dan vote ya...

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir di karya ku...


__ADS_2