Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 56


__ADS_3

Setelah selesai bernyanyi Gustin beranjak dari duduknya. Saat hendak berjalan tiba tiba tubuh Gustin terhuyung dan jatuh ke lantai. Nino yang melihat Gustin terjatuh segera lari ke arah Gustin. Nino segera meraih tubuh Gustin. Gustin terlihat sangat lemah kedua matanya masih terbuka dan bibirnya berucap lirih.


"Nino dadaku terasa sesak, sakit No..." Ucap Gustin dengan airmata yang keluar dari kedua sudut matanya. Tak lama Gustin pun tak sadarkan diri. Nino dan Papanya segera membawa tubuh Gustin ke dalam mobil untuk segera di bawa ke rumah sakit. Kecemasan terlihat jelas di wajah Nino dan Papanya. Tubuh Gustin terbaring bangku mobil belakang sedang kepalanya berada di pangkuan Nino. Papa Nino duduk di depan bersama sopir. Wajah cantik Gustin nampak sangat pucat. Nino merasa sedih melihat keadaan Gustin. Ini untuk kedua kalinya bagi Nino melihat tubuh kecil Gustin yang nampak lemah tak berdaya. Selama ini Gustin selalu terlihat tegar dan kuat. Nino merasa iba menatapnya.


"Tin...bangun Tin...jangan seperti ini Tin...Kamu membuat kami takut. Ku mohon bangunlah Tin."


"No kamu jangan panik seperti itu. Kamu harus tenang No."


"Tapi Pa...Nino takut. Lihat Pa wajah Gustin pucat banget."


Papa Nino hanya diam tak menjawab ucapan putranya. Dalam hati Papanya juga merasa cemas melihat keadaan Gustin. Bagaimana pun Riu juga sangat menyayangi Gustin seperti putrinya sendiri.


Setelah sampai di rumah sakit Gustin langsung di bawa ke IGD. Riu dan Nino menunggu Gustin di depan ruangan IGD dengan cemas. Setelah beberapa saat dokter pun keluar dari ruangan IGD. Nino dan Riu segera menghampiri sang Dokter.


"Bagaimana keadaan putri saya Dok."


"Putri Bapak hanya kelelahan dan terlalu stres. Tolong lebih diperhatikan ya Pak. Karena jika di biarkan terlalu stres akan berdampak kurang baik untuk kesehatannya."


"Ya Dok terimakasih."


Tak lama setelah kepergian sang Dokter Gustin di pindahkan ke ruang rawat inap. Riu dan Nino segera ikut masuk ke ruang rawat Gustin.


"No...sebaiknya Kamu pulang biar Papa yang tunggu Gustin di sini. Ini kan hari pernikahan kamu."


"Enggak Pa...Nino mau di sini Pa. Papa saja yang pulang. Tamu Papa kan masih banyak Pa. Sebaiknya Papa saja yang pulang. Nino yakin Sisi dan kedua orangtuanya pasti bisa mengerti Pa."

__ADS_1


"Ya sudah Papa pulang dulu ya. Kalau ada perkembangan jangan lupa hubungi Papa."


"Ya Pa...hati hati ya Pa." Ucap Nino. Setelah kepergian Riu. Nino duduk di samping bankar Gustin.


"Aku tahu mungkin ini semua berat buat kamu Tin...Tapi kamu harus tetap kuat. Aku tahu kamu wanita yang sangat kuat. Cepatlah bangun Tin..." ujar Nino lirih. Tak lama setelah itu Gustin pun tersadar dan membuka kedua matanya. Gustin berusaha untuk bangun dengan hati hati di bantu oleh Nino.


"No aku mau pulang aku enggak mau di sini No."


"Tapi kamu masih lemah Tin..."


"Enggak No. Aku udah enggak papa. Tadi aku hanya merasa lelah dan dadaku sedikit sesak. Sekarang aku sudah tidak apa apa. Ayo No pulang. Aku mohon No." Rengek Gustin. Nino tahu kalau Gustin keras kepala jadi mau tidak mau Nino berusaha menuruti kemauan Gustin.


"Ya sudah aku panggil Dokter dulu ya." Jawab Nino. Dan seketika itu juga wajah Gustin terlihat cerah. Nino tersenyum sambil mengusap kepala Gustin dan segera keluar dari ruangan Gustin untuk menemui Dokter.


Setelah beberapa saat Nino kembali dengan Dokter dan satu orang perawat. Setelah Dokter memeriksa Gustin dan memastikan kondisi Gustin akhirnya Dokter mengizinkan Gustin untuk rawat jalan. Kini Nino dan Gustin pulang menggunakan mobil online yang sudah di pesan oleh Nino. Saat didalam mobil keduanya terdiam. Gustin menoleh ke arah Nino. Gustin menyandarkan kepalanya di bahu Nino.


"Sudah jangan di pikirkan. Kamu harus sehat dulu itu yang paling penting." Ucap Nino sambil mengusap kepala Gustin.


Kini sandy terbaring lemah di salah satu ruangan rumah sakit. Wajah tampan nya terlihat pucat. Kedua matanya masih terpejam. Rendi segera mengabari keluarga Sandy. Kemudian Rendi duduk di sofa yang berada tak jauh dari bankar tempat Sandy berbaring. Rendi menatap iba Sandy. Rendi tahu setelah kepergian Gustin Sandy selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja tanpa memperhatikan kesehatannya. Rendi selalu mengingatkan tapi Sandy selalu menjawab "Inilah yang aku bisa lakukan Ren...Saat Aku mengingatnya dan merindukannya." Selalu saja jawaban itu yang Rendi dengar.


Tak lama semua anggota keluarga Sandy datang. Papa Mama dan Kakak Sandy merasa sedih melihat keadaan Sandy saat ini. Setelah beberapa saat akhirnya Sandy sadar. Mama Sandy langsung menghambur memeluk tubuh lemah putranya.


"Maafkan Papa dan Mama ya nak. Kamu jadi seperti ini karena kesalahan kami dulu nak. Maafkan kami."


"Ma...Ini bukan salah Mama atau Papa. Sandy hanya kelelahan saja. Jangan seperti ini Ma... Sandy tidak suka melihat Mama menangis. Sandy sudah enggak papa kok Ma."

__ADS_1


"Nanti setelah menikah Mama mau kamu cuti selama Tiga bulan. Masalah pekerjaan kamu serahkan saja pada Rendi dan Papa. Mama enggak mau kamu sakit lagi. Sudah saatnya kamu beristirahat dan membahagiakan diri kamu nak."


"Ya Ma...Mama dan Papa jangan kawatir ya."


Mama mengangguk kan kepalanya mendengar ucapan Sandy. Setelah itu sang Papa bergantian mendekat pada putranya.


"Kamu harus cepat sembuh nak. Lusa adalah hari pernikahan kamu. Papa tidak mau melihat putra kesayangan Papa terlihat tidak gagah di hari pernikahan nya."


"Ya Pa...Terimakasih Ya Pa..."


"Kak...kenapa diam saja di situ kakak tidak ingin memeluk ku." Ucap Sandy sambil merentangkan kedua tangannya.


Ratna terdiam dengan mata yang sudah berkaca kaca. Ratna tahu selama ini adik kesayangannya itu menanggung beban perasaan yang sangat berat. Ratna segera menghambur dalam pelukan Sandy. Tangis Ratna pun pecah. Sandy hanya diam sambil mengusap punggung Ratna dengan sayang. Tanpa terasa airmata Sandy menetes dari kedua sudut matanya. Tak lama Ratna segera mengurai pelukannya. Ratna menatap Sandy sambil mengusap airmata Sandy.


"Kakak mohon jangan seperti ini lagi dek. Jangan menyiksa diri kamu sendiri. Kamu harus bisa meraih kebahagiaan mu dek. Kakak yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini kamu inginkan dek."


"Terimakasih kak. Aku tahu tidak selamanya akan ada airmata karena bila saatnya nanti tawa itu akan datang pada waktunya setelah airmata."


"Kakak selalu mendoakan mu agar kamu selalu bahagia dan bisa hidup bersama dengan orang yang selalu kamu sebut namanya dalam doa mu kami semua sangat menyayangi mu."


Sandy tak menjawab ucapan Ratna. Sandy hanya tersenyum sambil mengaminkan ucapan Ratna dalam hati.


❤❤❤


Jangan lupa like komen dan vote ya...

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir di karya ku...


__ADS_2