
Hari Pernikahan Nino pun tiba Kini semua anggota keluarga Nino dan Sisi sudah berada di hotel tempat di adakan ijab kabul dan juga resepsi. Sisi saat ini sedang berada di salah satu kamar hotel tersebut. Sisi saat ini sedang di rias oleh MUA ternama di Ibu kota. Gustin masuk ke dalam kamar yang di tempati Sisi. Gustin tersenyum melihat Sisi yang nampak cantik hari ini.
"Masyaallah kamu cantik banget Si...Aku yakin Nino akan terpesona melihat mu seperti ini."
"Jangan memuji seperti itu Tin. Aku hampir terbang mendengarnya."
"Iya kamu memang sebentar lagi akan terbang."
"Terbang kemana coba."
"Tentu saja terbang ke hati suami kamu yang narsis itu."
"Hey...Kamu jangan mengolok ngoloknya seperti itu kasian tahu."
"Baik lah tuan putri maafkanlah aku."
Sisi tertawa mendengar ucapan dan gaya Gustin. Sedangkan Gustin hanya tersenyum. Sejak lima tahun lalu Gustin memang jarang sekali tertawa lepas seperti dulu.
Setelah selesai di rias dan selesai memakai kebayanya Sisi dan Gustin kini duduk di salah satu sofa di dalam kamar tersebut. Sisi terlihat gugup dan juga bahagia. Gustin menatap wajah cantik Sisi. Gustin merasa sangat bahagia melihat kedua sahabatnya bahagia. Gustin memeluk Sisi dengan erat. Sisi sedikit terkejut dengan apa yang yang di lakukan Gustin. Punggung Gustin bergetar menandakan kalau Gustin saat ini sedang menangis. Sisi mengusap punggung Gustin dengan pelan.
"Katakan kenapa kamu menangis seperti ini."
"Aku bahagia Si melihat mu dan Nino bahagia."
"Aku tahu kamu sedang berbohong pada ku."
"Tidak Si...Ini adalah tangis kebahagiaan."
"Sudah kamu tak perlu menceritakan nya jika kamu tak mau. Tapi aku selalu mendoakan mu semoga kamu mendapat kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan ku saat ini."
"Terimakasih Si...Semoga kamu dan Nino bahagia selalu. Aku sangat mencintai kalian semua."
"Sudah jangan banyak bicara lagi. Apa kamu mau riasan di wajah ku ini luntur gara gara mendengar ucapan mu." Ucap Sisi sambil melepas pelukannya dari Gustin. Sisi tahu saat ini Gustin sedang tidak baik baik saja. Tangisan Gustin tadi bukanlah tangisan kebahagiaan tapi tangis kesedihan. Sisi sangat mengenal Gustin sehingga tanpa Gustin mengatakannya Sisi tahu kalau saat ini Gustin sedang merasa sedih. Gustin memang pandai menutupi kesedihannya di depan orang lain tapi tidak dengan Sisi dan Nino. Sisi dan Nino tak pernah memaksa Gustin untuk bercerita jika Gustin tidak ingin menceritakan nya. Sisi dan Nino sudah cukup merasa bersyukur saat Gustin menangis dan mau bersandar pada keduanya saat sedang sedih.
"Si...Aku mau ke kamar Nino dulu ya. Aku mau lihat seperti apa kegugupannya saat ini."
"Ya sudah...Tapi ingat jangan kamu buat tambah gugup nantinya."
"Ya sayang ku."
Gustin masuk ke dalam kamar Nino. Gustin tersenyum melihat Nino yang terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam. Nino saat ini terlihat gelisah dan gugup. Di sebelah Nino sudah ada Mama yang menemaninya. Gustin segera mendekati keduanya Gustin dengan tidak berpersaannya duduk di tengah tengah Nino dan Mama saat ini. Dengan spontan Nino terpaksa sedikit memberi ruang untuk Gustin duduk di antara Mama dan dirinya. Mama tersenyum melihat kelakuan Gustin sedangkan Nino sudah menunjukan muka kesalnya.
"Hey...kenapa Kamu tidak duduk di sofa yang lain sih...kenapa harus berdesakan seperti ini." Ucap Nino dengan nada kesal. Dan bukanya menjawab Gustin malah melingkar kan tangannya pada lengan Mama dan Nino. Gustin menyandarkan kepalanya di bahu Nino. Hati Nino langsung merasa sedih melihat tingkah Gustin saat ini. Nino tahu Gustin sedang sedih saat ini.
"Anak Mama yang cantik kenapa kamu sedih sayang...Apa kamu tidak bahagia melihat saudara mu menikah."
"Justru Gustin saat ini sedang bahagia Ma...melihat saudaraku ini akhirnya laku juga."
Mama tersenyum mendengar ucapan Gustin.
"Tin...kenapa di hari bahagia ku kamu masih saja berkata kata pedas seperti itu."
"Baiklah aku ralat aku sangat bahagia melihat mu dan Sisi bahagia. Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan untuk kalian berdua. Dan asal kamu tahu aku sangat mencintai kalian semua." Ucap Gustin lirih. Nino yang mendengar ucapan Gustin bukannya merasa bahagia tapi malah merasa sedih karena Nino tahu saat ini Gustin sedang menutupi kesedihan nya.
__ADS_1
"Aku, Mama, Papa dan juga Sisi juga sangat mencintai kamu. Sudah jangan melow kayak gini. Kamu mau muka kamu cemong cemong karena banyak nangis. Tuh lihat muka kamu udah kayak ondel ondel gitu." Goda Nino.
Gustin langsung mengangkat kepalanya dari bahu Nino saat mendengar ucapan Nino.
"Ma...memang riasan Gustin cemong cemong Ma...padahal Gustin cuma pakek make up tipis lho Ma..." tanya Gustin pada Mama. Mama tersenyum menatap Gustin.
"Enggak kok sayang. Kamu cantik kok jangan dengerin ucapan Nino ya."
"Kamu dengar No...Aku cantik tauk."
"Ya kamu memang cantik. sangat cantik bahkan. Ya sudah ayo kita keluar ini sudah saatnya."
Dan Nino segera berdiri dengan di apit oleh Gustin di sebelah kanannya dan Mama si sebelah kirinya. ketiganya segera berjalan menuju tempat di adakannya ijab kabul.
Kini Nino dan Sisi sudah duduk berdampingan di depan penghulu. Setelah beberapa saat terdengar kalimat Sah dari semua orang yang menyaksi kan acara ijab kabul Nino dan Sisi. Acara ijab kabul pun berjalan dengan khidmat dan lancar. Semua orang nampak ikut bahagia melihat kedua mempelai bahagia.
Setelah acara ijab kabul selesai kini acara resepsi pun langsung di adakan di tempat yang sama. Nino dan Sisi terlihat bahagia duduk di kursi pelaminan. Satu persatu para tamu mengucapkan selamat pada kedua pengantin itu. Gustin nampak sangat bahagia melihat kedua sahabatnya bahagia. Setelah acara foto foto. Nino memberi isyarat pada Gustin untuk mendekat ke arahnya. Gustin pun mendekat ke arah Nino.
"Kamu harus menyanyi untuk kita berdua sesuai janji kamu dulu." Bisik Nino pada Gustin.
"Baiklah aku akan menepati janjiku. Apa kamu tidak lihat semua janjiku aku tepati. Bahkan pengantin wanita ini terlihat cantik karena gaun buatan desainer hebat ini." seloroh Gustin.
"Dasar sombong..." Balas Nino. Sisi hanya terkekeh mendengar ucapan suami dan sahabatnya itu.
Saat ini semua anggota keluarga Pak Wira sedang dalam perjalanan menuju acara resepsi pernikahan Nino dan Sisi. Setelah beberapa saat semua anggota keluarga Pak Wira tiba. Semua berjalan menuju tempat pelaminan kedua mempelai untuk mengucapkan selamat. Riu Istri dan kedua mempelai menyambut hangat kedatangan seluruh anggota kelurga Pak Wira. Dan Bu Wira menoleh ke sana kemari mencari keberadaan calon menantunya.
"Maaf Nak Nino Tina mana ya." Bisik Bu Wira pada Nino.
Gustin duduk di atas panggung dengan gitar yang ada di tangan nya. Gustin tersenyum menatap ke arah kedua mempelai. Gustin melihat Papa Mama dan Pak Wira beserta Istrinya tersenyum menatap ke arahnya Gustin melambaikan tangan pada semua yang masih berdiri di pelaminan.
"Selamat malam para tamu undangan dan para kerabat dan juga sahabat kedua mempelai. Maaf sebelumnya saya di sini ingin menyumbangkan sebuah lagu khusus untuk kedua mempelai dan lagu ini juga sangat spesial untuk orang yang sangat spesial di hati saya."
🌸🌸🌸
Terdalam yang pernah kurasa
Hasratku hanyalah untukmu
Terukir manis dalam relungku
Jiwamu jiwaku menyatu
Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih
Di hatiku
Kucurahkan isi jiwaku
__ADS_1
Hanyutkan daku dalam air hidup
Kau bawa selamanya diriku
Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih
Di hatiku (bawa daku kekasihku taburiku dengan cinta oh)
Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasihmu
Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih
Di hatiku (oh)
Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku penuhiku
Berilah diriku kasih putih
Di hatiku
Sedangkan Sandy yang saat ini memasuki gedung di mana acara resepsi pernikahan Nino dan Sisi di gelar terduduk lemah mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal. Dan lagu yang di bawakan sama persis dengan lagu yang Gustin nyanyikan untuknya dulu. Sandy mencoba berdiri tapi lagi lagi tubuhnya terasa lemah. Rendi segera mendekat.
"Anda baik baik saja Pak."
"Ren suara itu Ren...itu suara Gustin Ren ayo kita cari ke dalam Ren..." Ucap Sandy sambil berusaha berdiri Tapi tubuh Sandy benar benar lemah dan akhirnya Sandy jatuh tak sadarkan diri.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya...
Terimakasih sudah mampir di karya ku...
__ADS_1