Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 53


__ADS_3

Saat melihat Video yang di perlihatkan Mamanya entah mengapa hatinya berdebar tanpa dia sendiri tahu apa sebabnya.


"Kamu kenapa nak, kok malah bengong gitu."


"Enggak Papa Ma. Jadi ini calon Istriku Ma. Dia wanita berhijab Ma."


"Ya Nak itu calon istri mu. Bagaimana bagus kan suaranya."


"Bisa saja kok Ma. Siapa namanya Ma."


"Tina namanya nak. Dia gadis yang sangat baik dan juga cantik. Papa dan Mama tidak sembarangan memilihkan dia untuk kamu. Jangan kamu sakit dia nantinya jika kamu belum bisa mencintainya. Sudah terlalu banyak yang dia alami dalam hidupnya. Sudah terlalu banyak air matanya. Limpahkan lah dia dengan kebahagiaan dan cinta nak. Dia bukan gadis seperti pada umumnya. Dia sangat istimewa."


"Kenapa Mama sepertinya lebih menyayanginya dari pada aku yang anak Mama sendiri."


"Hei...Dia sangatlah cantik dan baik tidak sepertimu yang sangat kaku dan dingin."


"Ma..."


"Sudah jangan marah marah. Sekarang kamu ke kamar dan segara mandi."


Setelah mendengar perintah sang Mama dia pun segera bangkit dari duduknya dan segera masuk ke dalam kamarnya.


Setelah sampai di kamarnya sang pemuda tampan itu langsung merebah badan di atas ranjang nya.


"Kenapa hati ku begitu pilu saat mendengar cerita Mama tadi. Dan suaranya kenapa bisa membuat hati ku berdebar begini. Apa ada yang salah dengan ku. Ya Allah semoga ini jalan yang terbaik." Gumam nya


Saat sore hari Gustin meminta izin kepada Mama dan Papa nya untuk pergi ke rumah yang dulu. Gustin merasa rindu dengan rumah nya yang dulu. Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan saat kedua orang tuanya masih ada.


"Pa..Ma..Gustin mau pergi ke rumah Gustin yang dulu ya. Gustin kangen sama suasana rumah Gustin."


"Ya Tina..Tapi cepatlah pulang jangan lama lama ya. Karena calon pengantin itu harus di pingit biar enggak hilang." Goda sang Papa.


"Papa ada ada aja. Memangnya Tina mau hilang ke mana. biarkan sekali kali dia menikmati waktu santainya. Hati ya Tina."

__ADS_1


"Ya Ma...Pa Tina berangkat dulu ya."


Gustin segera melangkah meninggalkan rumah Nino. Gustin berjalan kaki menuju rumahnya. Karena jarak rumah Gustin tidak terlalu jauh hanya membutuhkan lima belas menit agar sampai di sana. Gustin ingin menikmati suasana sore hari di negara yang begitu dia rindukan selama ini. Selama Lima tahun Gustin harus menahan rindu suasana Negara tercintanya. Gustin berjalan pelan menikmati suasana di sekitarnya. Tanpa Gustin sadari ada mobil yang berjalan dari arah yang berlawanan di depannya. Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang. Dan ternyata di dalam mobil itu tak lain tak bukan ialah Rendi dan Sandy. Rendi pun menatap tajam ke arah wanita berhijab di depan nya. Tapi Rendi tak melihat dengan jelas karena Gustin saat ini sedang berjalan dengan menundukkan wajahnya.


"Apa aku tidak salah lihat tadi. Itu seperti Bu.." Gumam Rendi dalam hati. Lamunan Rendi buyar ketika Sandy memanggilnya.


"Kenapa Ren apa yang sedang kamu pikirkan."


"Itu Pak tadi saya seperti melihat.." Ucapan Rendi terhenti. Rendi berpikir sejenak untuk melanjutkan ucapannya atau tidak.


"Lebih baik aku tidak mengatakannya. Aku takut kalau tadi bukanlah Bu Gustin aku tidak mau melihat Pak Sandy kecewa kalau ternyata aku hanya salah lihat." Ucap Rendi dalam hati. Sandy menatap tajam ke arah Rendi. Sandy tahu kalau saat ini Rendi sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ku Ren."


"Maaf Pak tadi saya kepikiran tetang rapat terakhir kita besok sebelum Pak Sandy cuti setelah menikah."


"Jangan terlalu di pikirkan Ren."


"Baik Pak."


Langkah Gustin terhenti saat Gustin menatap rumah berukuran sedang yang masih terlihat terawat dan nyaman untuk di pandang. Hati Gustin sudah merasa sedih ketika menatap rumah yang ada di depannya. Gustin kembali teringat kedua orang tuanya. Gustin meneruskan langkahnya. Dan mengetuk Pintu rumahnya. Pasalnya saat ini rumah itu telah di sewa oleh sahabat Ayahnya sejak kepindahan keluarga Gustin dulu ke Jogja. Dan setiap bulannya uang sewa itu Gustin tabung tanpa pernah menggunakan nya. Setelah beberapa kali mengetuk, pintu pun terbuka. Seorang pria paruh baya keluar dari balik pintunya.


"Assalamualaikum.."


"Walaikumsalam...cari siapa ya mbak."


"Saya Gustin Pak, Putri Pak yanto pemilik rumah ini."


"Ya Allah mbak Gustin toh...maaf bapak lupa mbak. Soalnya mbak Gustin tidak pernah lagi ke sini sejak pindah ke Jogja."


"Ya Pak tidak papa."


"Mbak Gustin silahkan masuk mbak."

__ADS_1


"Tidak Pak saya cuma sebentar saja kok. Saya duduk di teras saja."


"Ya sudah. Silahkan duduk mbak saya ambilkan minum dulu ya mbak."


"Terimakasih Ya Pak maaf sudah merepotkan."


Setelah pria paruh baya itu masuk ke dalam rumah Gustin segera duduk di kursi yang ada di teras depan rumahnya. Hati Gustin serasa di iris saat duduk di kursi yang dia duduki sekarang. Kenangan kedua orang tuanya di rumah ini membuatnya merasa merindukan sosok orangtuanya. Di sini juga Gustin sering berdua bersama Sandy saat itu. Gustin mendongak kan wajahnya agar air matanya tak jatuh di wajah cantiknya. Pria paruh baya tadi pun kembali dengan membawa minuman dan kue kering di dalam tools kecil.


"Ini mbak di minum dulu. Maaf mbak hanya ini saja yang ada. Soalnya istri saya sedang pergi menjenguk tetangga yang sedang sakit."


"Ya tidak papa. Bapak betah tinggal di sini."


"Sangat mbak. Karena rumah ini sangat nyaman."


"Terimakasih Ya Pak sudah merawat rumah ini dengan baik. Mulai bulan depan Bapak tidak usah lagi membayar uang sewa rumah ini lagi. Saya sudah cukup senang Bapak dan Istri mau merawat rumah ini dengan baik."


"Tapi apa tidak papa kalau saya menempati rumah ini tanpa membayar sewa mbak."


"Tidak papa Pak. Sekarang saya sudah mendapatkan pekerjaan yang layak jadi kebutuhan saya sudah tercukupi dengan hasil jerih payah saya Pak. Dan ini uang sewa Bapak selama satu tahun lalu saya kembalikan. Tolong di simpan ya Pak." Ucap Gustin sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat yang berisi uang.


"Ya Allah mbak...kenapa mbak Gustin harus repot repot seperti ini. Saya jadi tidak enak mbak."


"Tidak papa Pak. Saya hanya minta Bapak rawat baik baik rumah ini. Itu saja ya Pak. Karena sudah hampir petang saya pamit pulang dulu ya Pak." Ucap Gustin sambil beranjak dari duduknya.


"Tunggu mbak. Ini ada titipan dari seseorang buat mbak Gustin." Kata pria itu sambil menyerahkan amplop berwarna putih.


"Maaf dari siapa ya Pak."


"Saya tidak tahu mbak tapi dua pemuda itu sering kemari hanya untuk menanyakan mbak Gustin. Tadi baru saja dari sini sekitar dua puluh menit lalu dan menitipkan ini pada saya


untuk mbak Gustin."


"Terimakasih Ya Pak. Saya pamit dulu kalau begitu." Gustin segera melangkah kan kakinya dan berjalan dengan sejuta pertanyaan dalam hatinya.

__ADS_1


❤❤❤


Jangan lupa like komen dan vote ya...Terimakasih Sudah mau mampir di karya ku...


__ADS_2