Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 46


__ADS_3

Sandy kini menjadi pengusaha sukses. Hari hari Sandy hanya untuk bekerja dan bekerja. Perusahaan yang dia pimpin saat ini telah berkembang sangat pesat di dalam atau di luar Negri. Sandy seakan tak kenal lelah, Bahkan saat di Rumah pun Sandy masih sering kali mengerjakan pekerjaannya. Sandy masih sama seperti yang dulu masih setia dengan cinta yang dulu singgah di hatinya. Hingga saat ini Sandy masih menunggu cintanya. Doa selalu dia panjat kan untuk sang pujaan hatinya. Hatinya masih sama, Rindunya pun tak pernah berubah. Hanya sifatnya yang kini berubah. Sandy menjadi sosok yang dingin dan jarang berbicara. Entah sampai kapan sifat hangatnya akan kembali. Entah sampai kapan dia akan selalu menanti. Rendi adalah salah satu orang yang selalu menemani Sandy saat Sandy membutuhkan nya. Rendi selalu menjadi orang yang akan selalu siap dalam keadaan apapun untuk selalu berdiri di samping Sandy. Sejak kejadian Lima tahun lalu Rendi tak pernah lagi tinggal di Apartement miliknya. Pasalnya selama itu juga Rendi tinggal di kediaman Sandy. Sandy tak pernah lagi memperbolehkan Rendi tinggal di Apartement nya. Bagi Sandy Rendi lah satu satunya orang yang tahu betul dengan segala permasalahan dalam hidupnya. Sandy sangat bergantung pada Rendi. Dan Rendi pun tak pernah merasa keberatan untuk itu. Bagi Rendi Sandy tak sekedar atasan nya saja melainkan sebagai Sahabat sekaligus satu satunya keluarga baginya. Rendi selalu merasa iba saat melihat Sandy yang terkadang terlihat sangat rapuh. Kehilangan Gustin membuat perubahan besar pada diri Sandy. Kebahagian Sandy seolah ikut pergi bersama kepergian Gustin. Lima tahun berlalu tak merubah apa apa pada diri Sandy. Dan Rendi hanya bertanya dalam hati sampai kapan Sandy akan seperti ini. Saat ini Sandy dan Rendi sedang berada di sebuah Cafe di mana dulu Cafe tersebut merupakan tempat Gustin bekerja. Saat Sandy merindukan Gustin Cafe inilah yang akan Sandy datangi sebagai pengobat rindu untuknya.


"Ren...sedang apa ya dia sekarang. Apa dia sekarang sedang bahagia atau sedih. Kita harus mencarinya ke mana lagi Ren."


" Maaf Pak karena saya sendiri juga belum mendapat informasi dari orang suruhan kita Pak. Jadi saya sendiri juga tidak tahu Pak."


"Sampai kapan akan seperti ini Ren. Apakah Tuhan tak mengizinkan aku untuk kembali bertemu dengan nya. Aku sungguh merindukan nya Ren ini masih saja membuat dada terasa sesak saat rasa rindu itu datang Ren..."


"Maaf kan saya Pak karena kurang maksimal dalam mencarinya."


"Ini bukan salah kamu Ren. Akulah yang seharusnya meminta maaf pada mu karena sudah membuat mu bekerja keras selama ini. Maaf telah banyak menyita waktu mu Ren."


"Tidak apa apa Pak. Saya sungguh tidak keberatan sama sekali. Saya akan selalu siap kapan pun Pak Sandy membutuhkan saya."


"Apa kamu sampai sekarang masih belum punya seorang kekasih Ren."


"Saya belum memikirkannya Pak."


"Sekarang kamu harus berusaha untuk memikirkannya Ren."


"Anda tenang saja Pak nanti saat tiba saatnya pasti saya akan mulai memikirkannya."


"Saya menantikan nya Ren." Ucap Sandy dengan sangat tulus.


Saat ini Sisi sedang berkunjung ke rumah Nino untuk menemui Gustin. Setelah Sisi sampai di kediaman Nino Sisi langsung menemui Mama Nino terlebih dahulu.

__ADS_1


"Assalamualaikum Ma..."


"Walaikumsalam Si. Kamu mau ketemu siapa hari ini. Mau ketemu Mama Gustin atau Nino."


"Semuanya dong Ma. Gustin ada di rumah kan Ma."


"Tentu saja. Memang kapan dia pergi keluar rumah saat malam seperti ini."


"Iya Ma. Sisi sering lupa."


"Kamu sudah makan Si."


"Sudah Ma...maaf Ma apa Nino juga di rumah."


"Nino sedang keluar sebentar mengunjungi teman nya."


"Ya sudah sana. Sekalian saja kamu nginep di sini." Ucap Mama Nino pada calon menantunya. Sisi hanya mengangguk kan kepalanya dan segera berjalan ke arah kamar Gustin.


Ceklek. Sisi membuka pintu kamar Gustin pelan. Sisi melihat Gustin duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya pada ranjang tempat tidurnya. Gustin duduk meringkuk dengan tangan yang memegangi dadanya. Sisi dengan segera menghampiri Gustin. Sisi yang sudah tahu kebiasaan Gustin segera memeluk erat sahabatnya. Gustin terisak dalam pelukan Sisi.


"Dada ku terasa sakit Si...aku sangat merindukan nya Si."


"Ya aku mengerti Tin...aku sangat mengerti."


"Kenapa seperti ini Si. Rindu ini sungguh menyiksa ku Si. Aku masih sangat mencintainya Si. Sakit sekali Si."

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan seperti ini Tin...aku sangat ingin melihat mu bahagia Tin...tidak bisakah kamu melupakan nya saja dan membuka hati mu untuk laki laki lain."


"Andai aku mampu Si. Sudah sedari dulu aku melakukan nya. Aku sangat mencintainya. Aku sudah terjebak oleh cintanya Si sungguh aku tak mampu menghapus nama nya dari dalam hati ku." Ucap Gustin sambil mengurai pelukan. Sisi segera menyeka air mata Gustin.


"Aku tahu kamu sangat mencintainya tapi mau sampai kapan kamu seperti ini. Kamu bisa saja bahagia meski tak harus bersamanya. Mungkin kalian memang belum berjodoh."


"Si...melupakan Itu tidaklah mudah. Menghapus nama nya juga tidaklah mudah. Hati ku masih sangat yakin sampai saat ini dia juga masih sangat mencintai ku. Aku masih bisa merasakan nya Si."


"Tapi hati kamu juga terluka kan karenanya."


"Tidak Si...dada ku terasa sesak dan hati ku terasa nyeri bukan karena terluka olehnya. Tapi karena rasa rindu ku padanya Si. Aku yakin suatu saat nanti aku pasti bisa bertemu dengannya. Meski aku tahu aku tidak bisa memilikinya."


"Kenapa jika kamu tahu tak bisa memilikinya. Kamu masih saja menjaga cinta mu untuknya."


"Entahlah aku sendiri pun tak mengerti Si."


"Kamu memang terlalu bodoh Tin."


"Kamu benar Si. Dan karena kebodohan ku inilah yang membuatku tak bisa melupakannya." Gustin menghela nafasnya pelan. Sisi pun terdiam mendengar jawaban Gustin. Sisi merasa sedih melihat Gustin sering seperti ini dan sampai saat ini Sisi masih sangat penasaran seperti apa sosok laki laki yang di cintai oleh Gustin. Karena sampai saat ini Gustin belum pernah menunjukan foto Sandy bahkan nama Sandy pun Gustin tak pernah memberitahunya.


Sedangkan di luar kamar Gustin Nino sedari tadi mendengar tangisan Gustin dan semua ucapan Gustin dan Sisi. Hati Nino merasa sakit mendengarnya. Nino pun selalu berharap kelak Gustin akan mendapatkan kebahagiaan nya. Nino menyadarkan tubuhnya pada pintu kamar Gustin.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini Tin...sampai kapan airmata mu akan berganti tawa. Aku selalu ingin melihat mu bahagia dan ceria seperti dulu lagi Tin." Lirih Nino dalam hati.


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya. Terimakasih sudah mampir di karya ku.


__ADS_2