
Sandy membawa Gustin untuk duduk di tempat acara ijab kabul tadi. Keduanya duduk dan segera menanda tangani berkas berkas pernikahan dan buku nikah. Setelah selesai dengan berkas pernikahan Sandy memakai kan cincin pernikahan di jari manis Gustin begitu juga sebaliknya. Sandy kembali mencium kening istrinya saat sang istri selesai memakai kan cincin padanya. Senyum bahagia terlihat jelas dari keduanya. Cinta dan rindu yang mereka pendam selama bertahun tahun kini telah terobati. Doa yang mereka panjat kan telah terjawab. Kini cinta mereka sudah ada di depan mata. Inilah akhir dari penantian panjang mereka. Inilah buah dari kesabaran dan ketulusan. Inilah jawaban setelah begitu banyak airmata. Keyakinan mereka tak sia sia, Keyakinan bahwa Allah selalu mendengar doa hambanya. Keyakinan bahwa akan datang tawa setelah airmata. Di saat keduanya berpasrah dan benar benar berserah pada Sang Pemilik kehidupan, kini kebahagiaan pun keduanya dapatkan.
Nino dan Sisi menatap haru kedua pasangan pengantin tersebut. Begitu juga dengan Ratna dan Mama Sandy. Ratna telah menjelaskan semuanya pada kedua orangtuanya. Mama Sandy pun sangat bahagia mendengarnya. Kedua mempelai segera mendekat ke arah kedua orangtuanya untuk meminta restu.
Sandy duduk bersimpuh dengan mencium tangan Mamanya. Airmata nya pun sudah manganak di kedua matanya.
"Ma...terimakasih Ya Ma atas kebahagiaan ini. Ini semua berkat Mama dan Papa juga. Maafkan Sandy jika selama ini Sandy sering membuat Mama sedih."
"Tidak papa nak. Mama selalu mendoakan kebahagiaan anak anak Mama. Jangan sakiti istri mu nak. Jaga dia dan limpahi dia dengan cinta dan kesetiaan."
"Iya Ma...Sandy akan selalu ingat pesan Mama." Sandy segera beranjak dan kini giliran Gustin yang bersimpuh pada mama mertuanya. Mama Sandy segera memeluk menantunya dan menciumi kedua pipinya.
"Semoga kalian selalu bahagia nak."
"Terimakasih Ma."
Sandy dan Gustin kini beralih meminta restu pada Papa Wira. Ya dia adalah Rahmat Wiratama. Yang dalam kalangan sahabat dekatnya hanya di panggil dengan nama tengahnya saja yaitu Wira. Sedangkan jika di likungan Kantor atau di kesehariannya banyak yang memanggilnya Pak Ahmad. Papa Wira segara memeluk putranya dan membisikkan nasehat untuk putra tercintanya.
"Berbahagialah nak. Papa sangat bahagia bila melihat mu bahagia."
"Terimakasih Pa..."
Gustin pun segera mencium punggung tangan Papa Wira. Papa Wira pun memeluk tubuh menantunya.
"Semoga kalian selalu bahagia nak."
"Terimakasih Pa..." Ucap Gustin dan segera beranjak.
Kini giliran Sandy dan Gustin meminta restu pada Mama Lily dan Papa Riu. Kedua Orangtua itu tersenyum menatap pasangan pengantin tersebut. Gustin segera meminta restu pada Mama Lily dan Mama Lily segera membawa Gustin dalam pelukannya.
"Mulai sekarang jangan sedih lagi ya sayang. Bahagialah bersama pasanganmu. Mama sangat bahagia melihat kalian sekarang."
"Terimakasih Ya Ma untuk semuanya."
"Sudah jangan menangis lagi."
Gustin bangkit dan beralih pada Papa Riu.
"Cintailah suamimu tina. Berbaktilah padanya, Selalu temani dia di saat suka maupun duka. semoga kalian selalu bahagia."
"Terimakasih Pa. Gustin selalu menyayangi Papa dan Mama." Ucap Gustin dan segera beranjak. Dan Sandy pun meminta restu dari Mama Lily. Setelah selesai kini Sandy beralih pada Papa Riu. Papa Riu menepuk bahu Sandy pelan.
"Jaga dia melebihi cara kami menjaganya. Bahagiakan dia melebihi kami membahagiakannya." Nasehat Riu pada Sandy.
__ADS_1
"Pasti Pa...terimakasih karena sudah menjaganya dengan sangat baik Pa."
Riu tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.
Setelah selesai meminta restu dan sesi foto bersama semua anggota keluarga. Kini semua keluarga dan kedua mempelai segera masuk ke kamar hotel masing masing untuk beristirahat sejenak karena resepsi akan di adakan tiga jam lagi.
Sandy menggenggam erat tangan Gustin dan menuntunnya menuju kamar mereka. Hati Sandy merasa sangat bahagia dan berkali kali Sandy mengucap syukur dalam hatinya. Atas kebahagiaan yang di dapatkan nya hari ini. Sandy masih merasa seperti mimpi.
Kedua pengantin itupun masuk ke dalam kamar. Sandy tersenyum menatap Gustin yang sedari tadi hanya menunduk dan diam tanpa bicara apapun. Sandy menuntun Gustin untuk duduk di sofa. Sandy mengangkat dagu Gustin agar mau menatapnya.
"Kenapa diam saja sayang. Apa kamu tidak bahagia."
"Aku malu kak. Tapi aku sangat bahagia hari ini."
"Malu..? Malu kenapa."
"Malu karena begitu dekat dengan mu kak. Bahkan tadi Kak Sandy menciumi keningku dua kali. Apa kakak pikir aku masih baik baik saja. Aku hampir saja pingsan tadi."
"Memangnya kenapa kamu hampir pingsan hah."
"Jantung ku berdebar sangat kencang tadi." Ucap Gustin dengan polosnya.
Inilah yang Sandy rindukan dari Gustin. Ucapan Gustin yang terlalu jujur dan polos.
"Aku sangat mencintaimu dan sangat merindukan mu sayang. Maafkan aku kalau aku telah melukai mu."
Gustin menggelengkan kepala nya.
"Tidak Kak. Aku juga bersalah pada mu. Karena aku pergi begitu saja dari sisi mu. Aku juga sangat mencintaimu Kak dulu dan sekarang aku sangat mencintai mu."
"Terimakasih sayang." Sandy segera menarik tubuh Gustin ke dalam pelukannya.
Sandy mengurai pelukannya dan menatap wajah Gustin di usapnya airmata Gustin. Sandy segera mencium kening pipi dan berakhir pada bibi ranum Gustin. Tubuh Gustin membantu saat Sandy mencium bibirnya. Sandy melepas ciumannya saat menyadari kalau sedari tadi Gustin menahan nafasnya. Gustin tertunduk tak berani menatap wajah Sandy karena malu. Sandy mengusap kepala Gustin.
"Sayang kenapa wajah mu jadi merah." Goda Sandy saat melihat wajah Gustin yang berubah menjadi merah. Gustin hanya diam tak menjawab pertanyaan Sandy.
"Sayang sejak kapan kamu memakai hijab."
"Sejak lima tahun lalu setelah aku di lecehkan para berandal itu." Ucap Gustin terbata karena dada Gustin terasa sesak jika mengingat kejadian itu. Sandy yang melihat kesedihan Gustin langsung diam dan tidak mau membahas kejadian lima tahun silam yang sudah di ketahui olehnya.
"Sayang boleh aku melepas hijab mu. Aku ingin melihat rambut indah mu yang dulu."
"Nanti saja kak. Aku mau langsung mandi dan mengganti baju ku. Aku sudah merasa risih dari tadi."
__ADS_1
"Baiklah segeralah mandi aku tunggu di sini ya." Ucap Sandy. Gustin segera beranjak dari duduknya dan mengambil baju ganti dan segera masuk kedalam kamar mandi. Setelah Gustin masuk ke dalam kamar mandi Sandy melepas pakaian yang melekat di tubuhnya. Sandy segera memakai celana panjang warna hitam dan kaos putih berlengan pendek. Sandy kembali mendudukan dirinya di sofa. Sambil menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
Cklekkk terdengar pintu kamar mandi terbuka. Sandy segera menoleh ke arah Gustin. Gustin keluar dengan piama berlengan panjang dan celana panjang di tambah hijab warna hitam di kepalanya. Gustin masih berdiri mematung menatap Sandy. Sandy terlihat sangat tampan saat ini. Gustin seolah terpesona melihat wajah tampan suaminya. Sandy mendekat ke arah Gustin. Dan membawanya untuk duduk di tepi ranjang. Sandy dan Gustin saling menatap. Sandy lagi lagi memeluk tubuh mungil Gustin. Gustin pun membalas pelukan Sandy dengan sangat erat seolah Gustin tak mau lagi berpisah dari sandy.
"Apa kamu merindukan ku sayang."
Gustin hanya mengangguk kan kepalanya.
Sandy tersenyum melihat anggukan kepala Gustin. Sandy mengurai pelukannya. Keduanya pun saling pandang.
"Apa aku boleh membuka hijab mu"
Gustin mengangguk dan tersenyum. Sandy segera membuka hijab yang menutupi kepala Gustin. Gustin menundukkan wajahnya. Sandy mengangkat dagu Gustin agar mau menatapnya. Sandy melepas ikatan rambut Gustin dan rambut panjang hitam legam itupun kini jatuh terurai. Sandy sangat terkejut melihat rambut Gustin yang kini sangat panjang. Sandy mengusap rambut Gustin.
"Kamu benar benar tidak pernah memotong rambut mu sayang."
"Ya sesuai keinginan mu Kak." Ucap Gustin sambil tersenyum. Kini pandangan Sandy jatuh pada leher putih nan mulus Gustin. Sandy melihat kalung yang dulu dia berikan masih melingkar di leher Gustin.
"Kamu juga tidak pernah melepas kalung nya"
"Ya Kak."
Sandy langsung menarik tubuh Gustin ke dalam pelukannya.
"Terimakasih sayang. Kamu telah memenuhi semua keinginan ku."
"Itu semua karena aku sangat mencintai mu kak."
"Setelah lima tahun berlalu kenapa kamu tambah cantik sayang."
"Apa kakak baru menyadarinya kalau istri mu ini cantik hah." Ucap Gustin sambil mengurai pelukannya.
"Tapi aneh nya kenapa tubuh mu masih segini gini saja."
"Jangan suka mencela ciptaan Allah kak."
Sandy langsung terkekeh mendengar ucapan Istrinya.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya...
Terimakasih sudah mampir di karya ku...
__ADS_1