
Setelah menginap satu malam di Jogja Sandy dan Rendi memutuskan untuk segera kembali ke Ibukota. Sandy dan Rendi telah sampai di kediaman Pak Ahmad. Sesampainya nya di dalam Rumah Sandy segera menuju kamarnya. Tubuh Sandy terasa lelah pikiran Sandy sudah melayang entah kemana. Tak lama Sandy terbaring pintu kamarnya kembali terbuka Sandy melihat sebentar siapa yang masuk ke kamarnya tanpa bangun dari tempat tidurnya. Ratna mendekat ikut berbaring di samping Sandy. Di peluknya tubuh Sandy dan Ratna mengusap tubuh Sandy pelan. Sandy membalas pelukan sang kakak dengan erat. Airmata Sandy pun menetes tanpa bisa di tahan lagi.
"Menangislah dek. Tidak ada salahnya laki laki menangis, Kamu tidak akan terlihat lemah saat kamu menangis. Airmata mu bukan tanda kelemahan mu. Air matamu adalah tanda betapa besarnya cinta mu untuknya. Jangan menyerah. Kuatkan hati kamu dek. Percayalah semua akan indah pada waktunya."
"Dia sudah pergi Kak. Pergi dengan sejuta kepedihan di hatinya. Dan aku tak bisa apa apa Kak. Kenapa dia harus mengalami hal yang sangat mengerikan Kak. Bagaimana dia bisa menghadapi semua kepindahan nya Kak. Kata kan apa yang harus aku lakukan."
"Kakak tahu dek. Rendi sudah menjelaskan semuanya tadi. Dan Kakak yakin dia bisa menghadapinya dengan hati yang lapang. Mungkin akan banyak air mata yang dia keluarkan saat ini. Tapi kamu harus yakin kalau Allah akan memberikan banyak kebahagiaan setelah ini. Akan selalu ada tawa setelah air mata. Yang harus kamu lakukan hanyalah berdoa dan berdoa. Jangan pernah lelah."
"Aku tak sanggup membayangkan keadaan nya saat ini Kak. Dia selalu menjaga dirinya dengan baik. Dengan ku saja dia sering marah dan berubah galak saat aku tak sengaja memeluknya. Sekalipun aku belum pernah mencium wajah nya. Kedua orang tuanya menjaganya dengan baik. Tapi apa yang para berandal itu laku kan padanya Kak. Mereka bahkan melakukan kekerasan pada tubuh kecilnya Kak. Aku tak sanggup membayangkan nya Kak."lirih Sandy. Ratna masih memeluk Sandy sambil mengusap punggung Sandy. Sungguh hati Ratna ikut sakit melihat betapa rapuhnya Adik kesayangannya saat ini. Seumur hidup Ratna ini kali pertamanya dia melihat Sandy begitu mencintai seseorang dan begitu rapuh saat orang yang di cintai pergi darinya. Ratna menghela nafasnya.
" Sekarang kamu mandi ya. Setelah itu baru kamu istirahat. Jangan berlarut larut dalam kesedihan. Tidak ada gunanya kamu menyalahkan keadaan dan terpuruk seperti ini. Hanya doa lah yang mampu mengubah segalanya. sekarang kamu mandi ya." Ucap Ratna yang di jawab anggukan kepala oleh Sandy. Setelah Ratna keluar dari kamar Sandy Ratna segera menemui Papa dan Mamanya di ruang kerja Sandy.
Di ruang kerja Sandy sudah ada Papa, Mama, Rendi dan juga Galih suami nya.Ratna duduk di samping Suami nya.
"Gimana keadaan adek kamu Na."Tanya sang
__ADS_1
Mama. Ratna menarik nafasnya dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Adek terlihat sangat terpuruk saat ini Ma. Ini kali pertamanya aku melihat nya menangis karena wanita. Aku tak tega melihatnya Ma." terang Ratna pada Mama dan semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Ini semua karena kesalahan Papa Na. Andai Papa tidak menjodohkannya dengan Mira pasti saat ini mereka sudah bahagia. Maafkan Papa." Ucap Pak Ahmad penuh penyesalan.
"Sudahlah Pa. Ini semua sudah jalannya. Jangan menyalahkan diri Papa sendiri. Ratna yakin Adek bisa melewati ini meski tidak mudah baginya." Setelah pembicaraan selesai semua orang yang berada di ruang kerja Sandy segera keluar dan masuk ke kamar masing masing.
Setelah Gustin Nino dan Sisi sampai di kediaman Nino. Semua berkumpul di ruang keluarga Papa dan Mama Nino menyambut hangat kedatangan Gustin dan Sisi. Setelah beberapa menit berbincang Nino mengantarkan Gustin ke kamar yang sudah di sediakan untuk Gustin sebelumnya. Nino kembali ke ruang kelurga dan menjelaskan kejadian yang Gustin alami pada kedua orangtuanya. Kedua orangtua Nino pun merasa iba atas kejadian yang menimpa Gustin. Setelah mendengar penjelasan dari Nino kedua orangtua Nino beranjak dari ruang tamu dan Sisi segara berpamitan untuk segera pulang. Nino mengantarkan Sisi sampai depan rumahnya. Sebelum pulang Nino menggenggam erat tangan Sisi. Sisi menatap ke arah Nino. Nino tahu sedari tadi Sisi berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh. Perubahan Gustin yang menjadi sosok yang pendiam dan tertutup membuat Sisi merasa sedih. Bahkan di sepanjang perjalanan tadi Gustin hanya diam dan hanya menjawab sepatah dua patah ucapan Sisi dan Nino.
"Aku tidak yakin No. Kejadian ini pasti membuatnya merasa terpukul No. Dia pasti selalu di bayangi kejadian mengerikan itu."
"Ya aku tahu itu. Bahakan setiap tengah malam dia selalu terbangun dari tidurnya. Dan selalu menangis dalam kesendiriannya. Dan kamu tahu, Setelah dia terbangun dia tidak akan bisa kembali tidur hingga pagi hari. Aku pernah melihatnya saat di Rumah sakit dan di rumah nya." tutur Nino pada Sisi. Tangan Nino terulur menyeka air mata Sisi yang sedari tadi menetes.
"Aku hanya bisa berdoa dan berharap kelak dia akan mendapatkan kebahagiaan setelah ini."
__ADS_1
"Ya itu pasti. Dia adalah wanita yang kuat sayang. Dia pasti bisa melalui ini. Sekarang kamu pulang dan istirahat ya. Kamu pasti capek kan." kata Nino
"Ya. Aku titip Gustin ya. Tolong jaga dia."
"Itu pasti sayang."
Sisi pun segera masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari kediaman Nino.
Gustin telah selesai membersihkan dirinya dan menyelesaikan sholat nya. Gustin masih duduk bersimpuh di atas sejadahnya. Gustin berdoa dan memohon pada Sang Penciptanya.
"Ya Allah Ampunilah dosa dosaku, dosa kedua orangtua ku dan dosa Orang orang yang hamba sayangi. Ampuni hamba ya Rabb. Mungkin ini semua teguran dari Mu agar hamba menutup aurat hamba sesuai dengan perintah Mu. Jadikan hijab hamba ini sebagai pelindung ku dari perbuatan keji itu ya Rabb. Hamba merasa jijik dengan tubuh hamba sendiri. Saat hamba tidur pun bayangan mengerikan itu masih terlihat jelas. Betapa hina nya hamba saat mereka menyentuh tubuh hamba ya Rabb. Hamba takut ya Rabb. Bahkan hanya dengan menatap diri hamba saja bayangan itu kembali datang. Hamba benar benar takut ya Rabb. Beri hamba kekuatan ya Rabb untuk mengahadapi ini semua. Hanya Engkau lah sebaik baiknya pelindung ya Rabb. Lindungi Hamba dan orang orang yang hamba sayangi dari segala keburukan. Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar." di saat tangis Gustin pecah dalam doanya Nino pun mendengar nya dari balik pintu kamar Gustin. Ya pasalnya setelah Nino mengantar Sisi, Nino berniat mengajak Gustin mengobrol. Dan tidak sengaja Nino mendengar doa pilu Gustin.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya. Terimakasih sudah mampir di karya ku.
__ADS_1