Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 68


__ADS_3

Saat ini Nino dan Sisy sedang berada dalam mobil menuju ke kediaman keluarga Sandy.


Ya...keduanya kini telah sampai di Indonesia pagi tadi pukul 07.00. Keduanya sepakat merahasiakan kedatangannya untuk memberi kejutan untuk Gustin. Sisy terlihat bahagia dan sangat antusias. Kedua pasangan suami istri itu sudah tidak sabar melihat reaksi Gustin nantinya. Nino tersenyum menatap wajah istri di sampingnya.


"Apa kamu bahagia sayang..." Tanya Nino


"Tentu saja aku bahagia huby...aku sungguh tidak sabar ingin bertemu sahabat mungilku itu. Apa kamu tidak merindukanya?"


"Aku sangat merindukan nya...baru kali ini aku berpisah dengan nya dalam waktu yang cukup lama. Aku pun sudah tidak sabar melihat wajah bahagia nya dan jangan lupakan senyum indahnya itu."


"Ya...tentu saja aku tidak lupa dengan itu huby..."


"Aku sungguh sangat merindukan nya sayang. Bagi ku dia lebih dari sekedar sahabat, dia adalah saudara perempuanku yang dulu selalu aku lindungi dan aku kasihi."


"Aku pun tahu akan hal itu huby...aku tahu kau begitu menyayangi nya. Jika aku saja sangat menyayangi nya mana mungkin kamu yang bersamanya dari kalian kecil tidak akan menyayangi."


"Terimakasih sayang...selama ini kamu mau mengerti dan tak pernah mempermasalahkan kedekatan kami."


"Untuk apa aku mempermasalahkannya huby...justru aku sangat bahagia saat melihat kalian berdua saling mengasihi." Ucap Sisy sambil membelai wajah tampan suaminya.


Nino sangat bersyukur dan bahagia karena sang istri sangat menyayangi Gustin dan tak pernah mempermasalahkan kedekatan keduanya selama ini. Nino tersenyum manis menatap wajah istrinya.


"Sayang apa kau tidak ingin makan dulu, sebelum kita sampai di rumah Sandy?"


"Tidak huby...aku sungguh ingin segera sampai dan memeluk si mungil itu."


"Tapi apa kamu tidak merasa lapar? Tadi pagi kamu hanya minum susu aja lho. Lihatlah wajah mu terlihat pucat dan kalau aku perhatikan tubuh mu menjadi sangat kurus sekarang ini."


"Aku sedang tidak ingin makan huby...dan sungguh aku belum lapar saat ini."


"Tapi wajah mu sangat pucat sayang...kenapa akhir akhir ini kamu jarang sekali makan? Kamu tidak sedang sakit kan?"


"Aku baik baik saja huby...akhir akhir ini memang aku sedang tidak nafsu makan. Aku hanya merasa cepat sekali lelah dan mengantuk. Dan aku hanya ingin selalu dekat kamu kayak gini." Ucap Sisy sambil memeluk Nino dan menghirup aroma tubuh suaminya dalam dalam. Yang entah mengapa akhir akhir ini menjadi candu baginya.

__ADS_1


Sedangkan Sandy, Gustin, Rendi Pak Wira beserta sang istri dan jangan lupakan Ratna dan keluarga kecilnya. Yang kini sedang berkumpul di ruang keluarga seperti hari hari sebelumya, yang selalu menyempatkan waktu akhir pekan mereka hanya untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarganya. Karena hanya di akhir pekanlah mereka bisa berkumpul bersama dengan anggota keluraga yang lengkap. Terdengar sendau gurau dari kesemuanya, keluaraga yang begitu namapak harmonis dan bahagia. Siapapun akan merasa adem melihat bagaimana keharmonisan keluarga Pak Wira saat ini. Rendi pun nampak bahagia berada di tengah keluarga Pak Wira, meskipun tidak memiliki hubungan darah tetapi keluarga Pak Wira memperlakukan Rendi layaknya anggota keluarga mereka sendiri. Hingga saat ini baik Sandy maupun Pak Wira sendiri belum mengizinkan Rendi untuk tinggal di Apartement nya. Rendi akan di izin kan kembali ke apartemen nya saat dirinya sudah menikah nanti. Sungguh syarat yang berat bagi Rendi, bagaimana tidak. Jangan kan untuk menikah, bahkan saat ini saja Rendi belum mempunyai wanita sepsial sama sekali. Hari harinya hanya ia habiskan untuk bekerja dan bekerja. Sungguh ngenes bukan jomblo yang satu ini...


Disaat semuanya sedang asik bersendau gurau terlihat Bik Inah berjalan ke arah ruang keluarga tersebut.


"Maaf Tuan saya menganggu." Ucap Bik Inah art keluarga Pak Wira.


"Kenapa Bik..." Jawab Pak Wira.


"Itu Tuan di depan ada tamu."


"Siapa Bik..."


"Saya kurang tahu Tuan tapi sepertinya dulu saya pernah melihatnya, tapi saya lupa Tuan."


"Ya sudah kalau begitu, biar saya lihat ke depan saja. Tolong bikin kan minum dan sekalian cemilan nya ya Bik..."


"Baik Tuan." Ucap Bik Inah dan segera berlalu.


Semua anggota keluarga pun nampak penasaran dengan tamu tersebut. Karena jarang sekali mereka mendapat tamu dadakan seperti ini di akhir pekan. Pak Wira pun segera berlalu dari ruang keluarga. Alangkah terkejutnya Pak Wira melihat tamu yang ada di depan nya saat ini.


"Kami memang sengaja tidak memberi kabar om, kami ingin memberi saudara perempuanku kejutan." Pak Wira pun tersenyum mendengar jawaban dari Nino.


"Gustin ada di rumah kan om?" Sela Sisy.


"Tentu saja ada nak. Saudara mu itu sedang bercanda bersama anggota keluarga dan kedua keponakan nya. Sebentar ya om panggilkan." Pak Wira pun segera berjalan ke arah ruang keluarga.


Saat Pak Wira telah sampai di ruang keluarga, ia pun tersenyum menatap sang menantu yang kini sedang sibuk bermain dengan kedua cucunya.


"Tina ayo ke ruang tamu sebentar, ada yang ingin bertemu dengan mu nak."


"Siapa pa? laki laki atau perempuan?" Sela Sandy.


"Tentu saja laki laki, kenapa?"

__ADS_1


"Masih muda pa? ganteng nggak pa?"


"Sangat muda dan sangat tampan tentu nya. Ayo nak jangan kamu hirau kan bayi besar mu itu."


"PAPAAA..."


Tanpa menghiraukan kekesalan Sandy Pak Wira dan Gustin pun segera berlalu. Dan seluruh anggota keluarga tersebut segera menyusul ke duanya karena di liputi rasa penasaran nya.


Dan seperti dugaan Nino dan Sisy Gustin pun sangat terkejut melihat kedua pasangan suami istri itu. Nino segera berdiri dari duduknya dan merentangkan kedua tangan nya. Tanpa aba aba Gustin segera berlari dan mendekap tubuh sahabat sekaligus saudara laki lakinya itu. Nino pun mendekap tubuh mungil Gustin dengan sangat erat.


"Apa kau tidak merindukan ku hah." Ucap Gustin dengan suara lirih nya dan air matanya pun tak dapat ia bendung lagi.


"Tentu saja aku merindukan mu..."


"Lalu kenapa baru mendatangi ku sekarang."


"Aku sangat sibuk Tin..."


"Aku sangat merindukan mu" Lirih Gustin yang masih setia dalam dekapan Nino.


"Akupun juga begitu."


"Apa kamu tidak merindukan ku lagi Tin...padahal aku sangat merindukan mu." Sela Sisy dengan wajah kesal yang di buat buat. Gustin dan Nino pun segera melepaskan pelukan nya. Gustin tersenyum menatap wajah cemberut Sisy dan segera menghambur dalam pelukan Sisy.


"Tentu saja aku juga sangat merindukan mu."


"Benarkah...kamu sedang tidak berbohong kan Tin..."


"Tentu saja tidak..."


"Aku sungguh sangat merindukan mu teman mungil ku..." Ucap Sisy sambil memeluk tubuh mungil Gustin dengan sangat eratnya.


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya...


Terimakasih sudah mampir di karya ku...


__ADS_2