
Wira hari ini mendatangi Riu di perusahaan miliknya. Sebelumnya Wira sudah membuat janji bahwa dia akan mendatangi Riu di kantornya. Kedatangan Wira di sambut hangat oleh Riu. Keduanya kini sedang berbincang di sofa yang berada di ruang kerja Riu. Keduanya tengah berbicara serius. Pembicaraan kali ini bukan lagi membahas tentang bisnis mereka. Mereka tengah membicarakan tentang rencana Wira untuk Putranya.
"Bagaimana Riu dengan tanggapan Gustin tetang ke inginkan saya dan Istri saya."
"Sepertinya dia setuju meski masih kelihatan ragu ragu."
"Wajar saja jika dia masih ragu ragu karena dia sama sekali belum bertemu dengan Putra ku. Apalagi ini terlalu cepat baginya."
"Ya sepertinya memang begitu. Selama Lima tahun aku mengangkatnya menjadi Putri ku sekali pun dia tak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki laki. Dia jarang sekali keluar rumah untuk bersenang senang layaknya remaja pada umumnya. Bahkan di hari libur pun hanya dia habiskan untuk latihan beladiri dan menembak. Terkadang dia hanya duduk di taman sekitar tempat tinggal kami. Mungkin karena itu dia masih ragu untuk menjalin hubungan dengan seorang laki laki."
"Apa dia sama sekali tak pernah pergi dengan teman nya walau hanya sekedar makan makan atau membeli sesuatu."
"Jarang sekali aku melihatnya keluar untuk bersenang senang bersama teman temannya. Karena yang aku tahu Tina hanya dekat dengan Sisi calon menantu ku dan juga Nino. Tina bukan orang yang suka punya banyak teman. Aku belum pernah melihatnya pergi berlibur. Dia selalu di rumah dan akan keluar rumah hanya karena ingin membeli kebutuhannya saja."
"Kamu beruntung Riu memilikinya."
"Ya aku sangat beruntung dan bangga memilikinya. Kami sangat menyayanginya. Jadi aku harap kelak kamu, keluargamu dan Putra mu bisa menyayanginya dan menjaganya dengan baik."
"Jangan khawatirkan itu Riu. Bukankah kamu sendiri tahu seperti apa aku dan keluargaku."
__ADS_1
"Ya aku percaya padamu."
"Baiklah kalau Putri mu sudah setuju tiga hari lagi aku dan juga Istri ku akan datang ke rumah mu untuk melamar Putri mu. Aku tidak akan menundanya lama lama. Setelah lamaran aku ingin segera melangsungkan pernikahan mereka."
"Apa itu tidak terlalu buru buru Wira."
"Niat baik itu harus di segerakan. Dan tidak baik untuk di tunda tunda."
"Baiklah aku percayakan padamu."
Setelah Wira meninggalkan perusahan Riu Wira segera pulang ke rumahnya. Karena Wira sudah tidak sabar lagi untuk memberi tahu Istrinya. Istrinya pasti akan merasa bahagia sekali setelah mendengar kabar ini. Keduanya memang tengah menanti saat saat seperti ini. Pernikahan Putranya sudah di nanti nanti selama ini. Kali ini mau tidak mau Putranya harus mau menerima perjodohan ini. Karena bagi Wira dan Istrinya Wanita baik itu hanya datang sekali saja dalam hidup ini. Di dalam perjalan pulang senyum Wira tak pernah pudar dari wajahnya.
Dan hari ini Sandy terlihat uring uringan di ruang kerjanya. Rendi segera masuk ke ruangan Sandy setelah mendapat laporan dari beberapa karyawan kalau semua pekerjaan yang mereka kerjakan tidak ada yang benar. Padahal kenyataannya semua laporan yang di kerjakan para karyawan tidak ada yang salah saat Rendi memeriksanya.
Saat Rendi masuk ke ruangan Sandy, Wajah Sandy terlihat memerah dan meja kerja Sandy terlihat beratakan. Rendi mendekat ke arah meja kerja Sandy dan segera membereskan kekacauan yang Sandy lakukan. Sandy duduk bersandar di sofa. Sesekali Sandy melirik Rendi yang tengah sibuk membereskan meja kerjanya.
"Ren..Papa telah memutus kan untuk segera menikahkan aku dengan Putri sahabatnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang Ren."
"Apa Pak Sandy sudah setuju dengan keputusan beliau."
__ADS_1
"Setuju tidak setuju tidak akan bisa merubah keputusan Papa."
"Saya pikir tidak ada salahnya dengan rencana beliau Pak."
"Tapi kamu sendiri tahukan Ren siapa wanita yang aku mau untuk aku jadikan pendamping hidupku."
"Lalu mau sampai kapan Pak Sandy menemukan Bu Gustin. Mungkin Pak Ahmad sudah lelah memberi waktu selama ini Pak."
"Apa aku bisa menjalaninya Ren. Sedangkan aku tidak mencintai wanita pilihan Papa."
"Kita harus berprasangka baik saja Pak atas ketentuan Allah. Saya yakin seiring berjalannya waktu dengan izin Allah pasti Pak Sandy bisa mencintai pasangan Pak Sandy nantinya." Ucap Rendi. Sedangkan Sandy hanya bisa menghela nafasnya mendengar ucapan Rendi.
Setelah Sandy tiba di rumahnya Sandy segera menuju kamarnya. Sandy segera mandi dan mengerjakan shalat nya. Setelah selesai Sandy segera merebah kan tubuhnya di ranjang berukuran besar miliknya. Sandy membuka kembali Hp miliknya dan terlihat wajah cantik Gustin di dalam galeri nya. Cinta dan rindu itu masih saja sama seperti lima tahun lalu. Rasa itu tak pernah berubah tapi semakin menggebu. Andai manusia bisa menuliskan takdir hidupnya sudah pasti Sandy tidak akan pernah mungkin kehilangan Gustin. Manusia hanya bisa berdoa dan berencana tapi Allah lah yang memutuskan nya. Airmata Sandy menetes dari kedua sudut matanya. Tidak akan ada Sandy yang terlihat dingin dan tegas saat seperti ini. Sang pengusaha muda nan tampan dengan segala kekuasaan yang dia miliki akan menjadi sangat rapuh hanya karena wanita yang bernama Gustin. Di usap dan di cium nya wajah Gustin dalam Hp nya. "Aku masih sama seperti dahulu. Hatiku masih saja memilih nama mu. Rinduku hanya padamu. Kebahagiaan ku ada bersama mu. Apa begitu sulit untuk mu agar tetap berdiri di sampingku. Apa kesalahan ku begitu besar padamu. Sampai tak ada kesempatan bagiku untuk menjelaskan padamu. Apa ini jawaban dari doa doa ku. Bahwa kau tercipta bukan untuk ku. Tapi sanggupkah aku menghapus nama mu dari hatiku. Jika setiap waktu rasa ini semakin tubuh besar dalam hatiku. Kembalilah pada ku. Dan terus tersenyum di sampingku. Aku sangat rapuh tanpa mu." Gumam Sandy.
Dan di saat yang sama Gustin tiba tiba terduduk lemah di kamarnya saat Gustin keluar dari kamar mandi. Dada Gustin terasa sesak dan hati Gustin terasa nyeri. Airmata Gustin menetes tanpa Gustin tahu apa penyebabnya. Gustin memukul pelan dadanya. "Ya Rabb rasa ini lagi yang harus hamba rasakan. Apa artinya ini ya Rabb. Sakit sekali ya Rabb. Aku merindukan nya ya Rabb. Tapi aku tak bisa menggapainya. Aku mencintainya ya Rabb tak aku tak bisa memilikinya. Ampuni hamba ampuni hamba ya Rabb." ucap Gustin disela isak tangisnya. Ya kekuatan cinta dan doa dari keduanya lah yang selalu menghubungkan ikatan batin dari keduanya. Tanpa pernah keduanya sadari. Jangan pernah lelah untuk berdoa. Karena kekuatan doa mampu merubah segalanya atas seizin Nya.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya. Terimakasih sudah mampir di karya ku.
__ADS_1