Terjebak Cinta Sang Pengusaha

Terjebak Cinta Sang Pengusaha
Bab 45


__ADS_3

🌸Jika melupakan adalah hal yang mudah maka tidak akan ada air mata dalam perpisahan. Jika cinta harus memiliki maka


tidak akan pernah ada hati yang tersakiti.🌸


Gustin menjalani hari harinya dengan penuh keyakinan. Meski masih banyak diam dan masih sering menutup diri Gustin sudah memulai harinya dengan tekad yang kuat. Gustin sudah di terima di salah satu Universitas di Jepang. Setiap pagi hari sebelum berangkat ke kampus Gustin selalu membantu pekerjaan para pelayan di rumah Nino. Meski Nino dan kedua orangtuanya sudah melarang tapi Gustin masih saja melakukan nya. Gustin sudah di anggap seperti Anak sendiri oleh kedua orang tua Nino. Tapi Gustin tak pernah memanfaatkan kebaikan kedua orang tua Nino, untuk uang saku dan keperluan Gustin sehari hari Gustin bekerja paruh waktu di sebuah Restaurant. Nino dan kedua orangtuanya pun sudah sering melarang Gustin untuk bekerja dan berjanji akan menanggung semua keperluan Gustin. Tapi langsung di tolak mentah mentah oleh Gustin. Bagi Gustin Nino dan kedua orang tuanya mau menerima nya dan menjaga serta memberi kasih sayang saja sudah cukup dia syukuri. Gustin tidak mau membebani Nino dan kedua orangtuanya dengan menanggung semua keperluan nya.


Kini Gustin sudah tak merasa sendiri lagi. Selalu ada Nino beserta kedua orang tua Nino dan Sisi sahabat Gustin. Semua menyayanginya dan menjaga Gustin dengan baik. Dalam limpahan kasih sayang dari orang orang terdekatnya Gustin masih saja merindukan seseorang yang sampai saat ini masih dia cintai. Sisi dan Nino sering bertanya tanya kenapa sampai saat ini Gustin tak mau menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sifat Gustin menjadi sangat tertutup terhadap orang asing ataupun pada lawan jenis. Banyak sahabat Nino dan Anak teman Pak Riu (Papa Nino) yang tertarik pada Gustin tapi satu pun tak pernah ada yang Gustin terima atau bahkan hanya untuk sekedar berteman. Hati Gustin sudah terpatri hanya untuk satu nama. Hati dan cinta Gustin sudah terjebak pada sang Pengusaha muda dan tampan. Sulit bagi Gustin untuk membuka hatinya.


******


Lima tahun kemudian.


Gustin telah menyelesaikan pendidikannya dengan nilai yang cukup membanggakan. Hasil desain yang Gustin hasilkan patut di acungi jempol. Sehingga setelah menyelesaikan pendidikan nya Gustin langsung mendapat tawaran bekerja di salah satu perusahaan ternama yang bergerak di bidang fashion di Jepang. Hari ini Gustin sedang berada di sebuah taman yang berada di tengah kota. Gustin duduk memandang orang orang yang berada di taman bersama kelurga atau bersama pasangan nya. Tak lama setelah Gustin duduk, Gustin di kejutkan dengan suara seseorang yang kini duduk di samping Gustin.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


"Maaf Nak boleh Ibu ikut di sini."


"Oh ya Bu silahkan. maaf sebelumnya Ibu juga berasal dari Indonesia ya."


"Ya Nak...Siapa nama kamu Nak kalau Ibu boleh tahu."


"Panggil Tina saja Bu..." Ya pasalnya setelah di Jepang kedua orangtua Nino memanggil Gustin dengan nama belakangnya saja yaitu Tina. Kecuali Nino dan Sisi. Teman kerja Gustin di kantor pun memanggil Gustin dengan nama Tina.


"Kamu cantik sekali Nak. Kamu tinggal di sekitar sini ya."


"Ya Bu...Ibu namanya siapa."


"Panggil Ibu Wira saja Nak. Kamu sering ke sini ya Nak."

__ADS_1


"Hanya saat akhir pekan seperti ini saja Bu."


"Kamu sudah berkeluarga Nak."


"Belum Bu..."


"Benarkah...wah Ibu senang sekali mendengarnya."


"Memang nya kenapa Bu."


"Entahlah Nak. Hanya dengan melihat kamu Ibu merasa langsung menyayangi kamu." Ucap nya sambil mengusap kepala Gustin.


Hati Gustin lansung menghangat saat Ibu Wira mengusap kepala nya. Usapan Bu wira mengingatkan Gustin pada Ibu dan Ayahnya. Mata Gustin berkaca kaca menatap Bu Wira.


"Maaf Bu...bolehkah Tina memeluk Ibu sebentar."


"Kemarilah Nak..." Ucap Bu Wira sambil merentangkan kedua tangan nya. Gustin langsung menghambur ke dalam pelukan Bu Wira. Entah kenapa pelukan Bu Wira terasa sangat hangat dan penuh ketulusan sama seperti pelukan Ibunya dulu. Air Mata Gustin sudah menetes dengan sendirinya. Bu Wira mengusap punggung Gustin dan tangis Gustin semakin menjadi. Padahal ini adalah pertemuan pertama Gustin dengan Bu Wira tapi entah kenapa Gustin langsung merasa sayang kepadanya seperti Gustin menyayangi Ibu nya.


"Kamu sedang merindukan Ibu mu Nak..."


"Memangnya kamu tidak tinggal di sini bersama kedua orangtua mu Nak."


"Tidak Bu...saya tinggal di sini bersama orangtua angkat saya. Kedua Orangtua saya sudah lama meninggal Bu." Ucap Gustin lirih di sela tangisnya. Dan Bu Wira semakin mempererat pelukannya setelah mendengar penuturan Gustin.


" Ya sudah sekarang jangan sedih lagi ya. Anggap saja Ibu ini orangtua kamu sendiri ya."


"Ya Bu terimakasih ya Bu." Gustin mengurai pelukan nya. Setelah bercengkrama sebentar Gustin dan Bu Wira akhirnya berpisah dan pulang ke Rumah masing masing.


Di sebuah Restaurant ternama di Jepang Tuan Riu sedang mengadakan acara makan siang dengan sahabat lamanya dari Indonesia. Rahmad Wiratama adalah sahabat Tuan Riu sekaligus rekan bisnis nya. Keduanya mengadakan makan siang bersama untuk saling bercerita dan bertukar kabar setelah empat tahun tidak pernah bertemu.


"Bagaimana dengan perusahaan mu sekarang ini Wira."

__ADS_1


"Baik bahkan sangat baik. Semenjak di kelola oleh Anak laki laki ku perusahaan ku semakin berkembang sangat pesat Empat tahun terakhir ini."


"Hebat sekali dia. Masih muda tapi punya semangat dan kinerja yang sangat bagus."


"Memang hebat. Tapi aku khawatir Riu."


"Apa yang kamu khawatirkan. Bukankah seharusnya kamu bangga pada putra mu."


"Aku memang bangga tapi aku khawatir dengan masa depan nya. Di usia yang sudah menginjak 31 tahun dia tak juga mempunyai kekasih atau teman wanita. Bukankah seharusnya di usianya dia sudah harus berkeluarga."


"Benarkah...Anak laki laki ku satu satunya yang berusia 24 tahun saja sudah mau meminang kekasih nya. Kenapa di usia kepala tiga teman wanita saja anak mu tak punya."


"Entahlah aku sudah lelah menasehatinya. Yang ada di pikirannya hanya bekerja dan bekerja. Dia selalu menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja. Bahkan di saat dia di rumah pun lebih sering mengurung diri di ruang kerjanya."


"Kenapa tidak kamu carikan saja dia pendamping hidup."


"Sudah pernah tapi dia menolaknya. Aku sendiri bingung harus dengan cara apa lagi aku membujuknya. Dia terlalu sulit."


"Bagaimana kalau kita jodohkan saja dengan Anak perempuanku. Dia anak yang baik tapi juga sangat tertutup. Apalagi dengan lawan jenisnya. Setiap hari dia juga hanya menghabiskan waktu untuk bekerja dan setelah dia sampai rumah dia tidak akan pernah pergi ke manapun. Bahkan sudah berkali kali dia menolak teman dari anak laki laki ku dan Anak dari rekan bisnis ku walau hanya sekedar untuk berkenalan."


"Anak perempuan yang mana maksud mu Riu. Bukankah kamu hanya punya satu anak laki laki saja."


" Empat tahun lalu aku mengangkat nya. Dia adalah Sahabat anak ku sedari kecil. Kedua orangtuanya sudah meninggal dan dia tidak punya siapa siapa lagi kecuali Nino dan calon Istri Nino yang juga merupakan sahabatnya."


"Apakah dia Anak yang baik Riu."


"Ya..sangat baik bahkan. Dia wanita yang taat beribadah pandai membaca Alquran dan sangat cerdas. Dia Anak yang sangat kuat dan mandiri. Kami semua sangat menyayanginya. Dan saat ini dia sudah bekerja di sebuah perusahaan besar di bidang fashion. Dia seorang Desainer hebat."


"Benarkah. Wah kalau begitu kapan kapan aku dan Istriku akan berkunjung ke rumah mu. Aku ingin melihat seperti apa anak perempuan yang kamu banggakan itu."


"Baiklah. Aku akan sangat senang jika kamu dan Istrimu berkunjung ke rumah ku. Aku tunggu kedatangan mu. Dan jangan terkejut melihat kecantikan putri ku." Keduanya pun tertawa dan menceritakan banyak hal.

__ADS_1


❤❤❤


Jangan lupa like komen dan vote ya. Terimakasih sudah mampir di karya ku.


__ADS_2