
Hari ini seluruh anggota keluarga Riu sedang bersiap untuk kembali ke Jepang. Gustin dan Sandy pun ikut mengantar kepergian Riu dan seluruh anggota keluarga ke Bandara. Gustin merasa sedih karena harus berpisah dengan keluarganya. Nino dan Sisi menyadari gurat kesedihan di wajah Gustin. Nino pun duduk di sebelah gustin dan mengelus kepala Gustin. Gustin menatap lekat wajah sahabat sekaligus saudara laki lakinya yang selama ini selalu ada untuknya dan menjaganya dengan penuh kasih. Mata Gustin pun sudah berembun.
"Jangan bersedih kami semua selalu menyayangi mu. Lagian sekarang kamu juga sudah tak sendiri lagi. Aku yakin suami mu sangat mencintaimu dan bisa menjaga mu dengan baik."
"Kamu masih menganggapku sebagai saudara perempuan mu kan No...kamu tak akan melupakan aku."
"Tidak akan, kami akan selalu menyayangi mu dan kamu akan tetap menjadi saudara perempuan ku."
"Terimakasih No untuk semuanya...Aku pasti akan selalu merindukan kalian." ucap Gustin sambil menyadarkan kepalanya pada bahu Nino. Airmata Gustin pun sudah tak dapat di bendung lagi.
Riu, Mama Lily dan Sisi pun bergantian memeluk Gustin dengan sayang. Sebenarnya jauh di lubuk hati Riu dan istrinya sangat berat meninggalkan Gustin. Tapi keduanya sadar jika kini Gustin sudah menjadi seorang istri yang harus mengabdikan dirinya untuk suaminya.
"Jangan menangis lagi Tina...Papa, Mama, Nino dan juga Sisi akan selalu menyayangi kamu. Kamu adalah anak perempuan di keluarga kami. Jika kamu merindukan kami datanglah berkunjung. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk mu. Hormati dan sayangilah suami mu. Papa dan Mama akan menjenguk mu jika ada waktu. Kami berangkat dulu ya."
"Terimakasih Pa...Gustin juga sangat menyayangi kalian semua. Gustin pasti akan sering sering berkunjung nanti."
"Baiklah. Kamu baik baik ya di sini. Jaga dirimu dan suami mu."
"Ya Pa..."
Sandy yang berdiri di samping kedua orang tua Nino pun hanya bisa diam menatap sang istri. Sandy sengaja memberi ruang untuk Gustin. Kini giliran Sandy mengucapkan salam perpisahan pada kedua orangtua Nino dan Sisi. Terakhir Sandy mendekat dan memeluk Nino.
"Terimakasih untuk semuanya No...mungkin terimakasih saja tak cukup. Jika di bandingkan dengan apa yang sudah kamu dan keluargamu lakukan selama ini untuk orang yang aku cintai."
"Kalau begitu jaga baik baik saudara perempuanku dia adalah permata bagi keluargaku. Berhati hatilah dengan nya, meski dia wanita yang mudah menangis tapi dia wanita yang sangat tangguh. Jangan membuatnya marah atau cemburu. Jika kamu tidak ingin patah tulang dan peluru melesat tepat di kepala mu." Ucap Nino sambil terkekeh melihat mimik wajah Sandy.
"Apa maksudmu No...Aku tidak mengerti."
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri. Aku berangkat dulu. Ingat pesan ku tadi oke." Ucap Nino sambil menepuk bahu Sandy. Sandy hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban nya.
Setelah semua mengucapkan salam perpisahan, Sandy merangkul bahu Gustin mengajaknya kembali ke rumah. Gustin menengok ke belakang dan melambaikan tangannya pada Nino dan Sisi yang berjalan di belakang Riu dan istrinya.
"Sudah jangan sedih lagi ya...nanti kalau kamu rindu sama mereka kita bisa datang ke sana mengunjungi mereka." Ucap Sandy sambil menyeka airmata Gustin.
__ADS_1
"Kakak janji ya kita akan berkunjung ke sana nanti."
"Iya sayang...apapun untuk mu"
Blusss ....wajah Gustin langsung merona mendengar ucapan Sandy. Sandy pun tersenyum melihat wajah Gustin yang merona.
"Ayo sayang kita pulang aku sungguh tidak tahan melihat wajahmu yang sangat menggemaskan ini."
"Kenapa terburu buru kak, Kita jalan jalan dulu saja ya."
"Ayo lah sayang...kita pulang saja jalan jalannya besok saja ya. Kan lebih enak kalau kita menghabiskan waktu di dalam kamar."
"Memangnya kita mau apa Kak. Kenapa kita hanya menghabiskan waktu di kamar."
"Kita akan mencetak Sandy junior dan Gustin junior, Bukankah itu lebih enak di bandingkan kita jalan jalan." Bisik Sandy.
Kedua mata Gustin membulat dengan sempurna mendengar ucapan absurd Sandy.
"Kak kenapa kamu jadi mesum banget sih..."
"Memang tidak salah, tapi aku sangat geli mendengarnya kak."
"Kenapa harus geli sayang..."
"Pokoknya aku mau jalan jalan hari ini. Aku tidak mau hanya menghabiskan waktu di kamar."
"Baiklah tuan putri kita jalan jalan kalau begitu." Ucap Sandy sambil menggenggam erat tangan Gustin.
Keduanya pun kini telah sampai di Cafe tempat kerja Gustin dulu. Sandy dan Gustin kini duduk sambil menunggu pesanan mereka datang. Gustin menoleh ke sana kemari seolah sedang mencari seseorang.
"Kenapa sayang, kamu mau cari siapa."
"Aku mencari teman kerjaku dulu kak. Kakak masih ingatkan sama putri temen aku."
__ADS_1
"Ya, dia sudah lama sekali tidak bekerja di sini lagi."
"Kakak tahu dari mana kalau Putri sudah lama tidak bekerja di sini lagi."
"Tentu saja aku tahu, setiap akhir pekan aku selalu datang kemari bersama Rendi."
"Benarkah kak, kenapa kak Sandy sering kemari."
"Karena aku selalu merindukan mu. Dan tempat ini selalu mengingatkan ku pada mu."
"Maaf kan aku kak, dulu saat Ayah mengajak aku dan Ibu untuk pindah ke Jogja sebenarnya aku ingin memberitahu mu. Tapi saat aku menelpon mu malah aku di kejutan dengan pernikahanmu."
"Dan kamu langsung pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan dulu. Kamu tahu aku langsung datang ke rumah mu saat aku membatalkan pernikahan ku. Dunia ku hancur saat itu ketika aku tahu kamu pergi dari ku. Aku sudah berusaha mencari mu ke mana mana saat itu."
"Maafkan aku Kak. Aku kira setelah kepergianku kamu akan bahagia bersama Istrimu Kak. Aku selalu berdoa agar kamu selalu bahagia bersamanya."
"Padahal kebahagiaan ku itu kamu sayang. Tidak dengan yang lain. Aku tidak pernah menyalahkan kepergian mu, karena semua nya memang kesalahan ku."
"Sudahlah Kak. Jangan di bahas lagi aku tidak mau kembali mengulang kesedihan dan luka karena cinta dan kerinduan ku pada mu selama ini."
"Jangan pernah lagi pergi dariku. Hanya tetaplah percaya dengan ku dan tetaplah berdiri di sampingku. Aku tidak akan sanggup kalau kamu pergi lagi dari ku."
"Terimakasih kak karena telah mencintaiku. Aku akan selalu percaya pada mu dan akan selalu berdiri tegap di samping mu."
Sandy tersenyum menatap Gustin, tangan Sandy terulur mengelus wajah Gustin dengan penuh cinta.
Tanpa keduanya sadari ada sepasang mata yang menatap keduanya penuh dengan kebencian.
"Sekarang kalian bisa bahagia, nikmatilah kebahagiaan kalian saat ini tapi tidak untuk selamanya. Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia." Ucapannya sambil beranjak pergi.
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya...
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir di karya ku...