
Gustin tetlihat melamun saat menatap wajah Bu Wira. Dan Bu Wira pun menyadarinya.
"Apa yang kamu pikir kan Nak."
ucap Bu Wira yang menyandarkan Gustin dari lamunan nya.
"Ah tidak apa apa Bu. Hanya saja saya merasa sangat menyayangi Ibu. Dan wajah Ibu mengingatkan saya pada seseorang."
"Siapa orang itu Nak. Apa Ibu mirip Ibu kamu."
"Bukan Bu. Ibu mengingatkan seseorang yang sangat saya cintai."
"Siapa Nak apa itu kekasih kamu."
"Saya tidak mempunyai kekasih Bu. Tapi dulu saya pernah mencintai seseorang Bu. Hingga saat ini saya masih mencintainya. Meski saya sadar saya tidak akan mungkin bisa bersamanya."
"Kenapa kalian tidak bisa bersama Nak."
"Dia telah menikah dengan wanita lain Bu. Tapi dengan bodohnya saya masih sangat mencintainya hingga saat ini."
Dan setelah cukup lama keduanya berbincang Gustin pamit pulang terlebih dahulu pada Bu Wira.
Setelah sampai rumah Gustin melihat Sisi dan Mama Nino sedang sibuk mempersiapkan makanan di meja makan untuk acara makan malam nanti. Gustin mendekat ke arah Sisi dan Mama Nino. Gustin segera meraih tangan Mama Nino dan mencium punggung tangannya. Setelah menyapa Sisi Gustin segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan segera sholat.
Bu Wira saat ini sudah sampai di kediamannya. Bu Wira segera menceritakan kejadian yang baru saja dia alami kepada Suaminya. Pak Wira terkejut saat mendengar cerita dari Istrinya. Pak Wira bersyukur karena Bu Wira selamat dari kejadian itu. Bu Wira pun menceritakan kalau gadis yang menolongnya adalah gadis yang pernah di temuinya di taman beberapa waktu yang lalu.
"Papa jadi penasaran Ma. Seperti apa gadis yang menolong Mama itu."
"Dia itu cantik Pa. Dia wanita yang menggunakan hijab dengan Pakaian gamis yang selalu dia pakai Pa. Pokoknya terasa adem Pa saat kita memandangnya. Mama pengen punya mantu kayak dia Pa."
Pak Wira hanya tersenyum mendengar ucapan Istrinya. Pak Wira tahu kalau bukan hanya dirinya saja yang mengkhawatirkan masa depan putranya. Istrinya pun terlihat sering menangis dalam setiap doanya. Ya kedua pasangan paruh baya ini memang sering di liputi perasaan bersalah dan khawatir pada putranya. Keduanya takut putra nya tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan seorang wanita lagi. Putranya begitu menutup diri dari perempuan. Putranya adalah seorang yang sangat tertutup terhadap wanita dan dia sangat gila kerja. Hari harinya hanya di isi dengan bekerja dan bekerja.
Kini kediaman Riu terlihat sedikit ramai dengan kedatangan tamu yang merupakan sahabat nya. Pak Wira dan Istrinya di sambut hangat oleh keluarga Riu. Kini semua sudah duduk di ruang tamu. Hanya Gustin saja yang belum nampak sedari tadi. Pak Wira menatap intens ke arah Sisi. Pak Wira mengira Sisi adalah anak angkat Riu.
"Wira kenapa sedari tadi kamu menatap calon menantu ku hah." Wira sedikit terkejut mendengar ucapan Riu.
__ADS_1
"Ini bukan Anak perempuan mu yang kemarin kamu ceritakan Riu."
"Bukan Sisi ini adalah calon menantu ku."
"Wah sepertinya Om sudah tidak sabar ya ingin melihat saudara perempuan ku." Ledek Nino. Dan semua yang berada di ruangan itupun terkekeh mendengar ucapan Nino.
Seorang gadis yang terlihat cantik dengan Pakaian muslimnya kini sedang berjalan mendekat ke ruang tamu. Di mana semua anggota keluarganya berkumpul di sana. Semua orang yang berada di sana menoleh saat mendengar langkah Gustin. Semua tersenyum menatap Gustin. Hanya Bu Wira saja yang terlihat sibuk mengotak atik Hp miliknya dan sedang duduk membelakangi Gustin.
"Wira kenalkan ini Putri ku yang aku ceritakan kemarin. Tina kenalkan ini Pak Wira teman Papa dan ini Bu Wira Istrinya." Ucap Riu pada Gustin. Bu Wira segera mendongak dan membalikkan badannya saat mendengar namanya di sebut. Gustin dan Bu Wira nampak terkejut setelah saling bertatap muka.
"Ya Allah Nak ternyata kamu orangnya." Semua orang yang berada di ruangan tersebut heran mendengar ucapan Bu Wira.
"Ternyata teman Papa itu Ibu." Ucap Gustin dengan binar bahagia. Bu Wira langsung memeluk tubuh Gustin karena terlalu bahagianya bertemu dengan Gustin lagi. Semua masih terlihat heran dengan sikap Bu Wira dan Gustin.
"Ma...Mama kenal sama Tina." Tanya Pak Wira.
"Ya Pa ini gadis yang Mama ceritain tadi itu lho Pa." Pak Wira langsung tersenyum mendengar ucapan Istrinya. Hati Pak Wira merasa bahagia karena gadis baik yang Istrinya ceritakan merupakan anak perempuan dari sahabatnya yang akan dia jodoh kan untuk putranya.
Bu Wira mengajak duduk Gustin di sampingnya. Senyum bahagia tak lepas dari Bu Wira dan Suaminya. Keduanya yakin kalau kali ini pilihannya adalah yang paling tepat. Gadis cantik dengan pakaian Muslimnya ini akan menjadi calon Istri yang tepat untuk putranya.
"Bagaimana Wira Putri ku sangat cantik bukan." ucap Riu
"Dia sangat cantik dan juga cerdas Om. Tapi jangan salah Om di balik kecantikan dan kesantunan nya itu dia punya keahlian beladiri dan menembak bukankah itu cukup mengerikan om." Sela Nino yang lansung mendapat tatapan tajam dari Gustin.
"Lihatlah Om di sedang melototi ku sekarang. Apa Om masih mau menjadikannya calon menantu." Ledek Nino dan semua orang tertawa mendengar ucapan Nino.
Setelah berbincang dan selesai makan malam Gustin dan Sisi kini masih di ruang makan membantu para pelayan membereskan meja makan. Sedangkan Nino beserta kedua orang tuanya dan Pak Wira bersama Istrinya sedang membicarakan hal yang cukup serius di ruang tamu. Tak lama setelah itu Pak Wira dan Istrinya pamit untuk segera pulang. Pak Wira dan Bu Wira pulang dengan perasaan bahagia.
Setelah menyelesaikan sesi beres beres Sisi dan Gustin kembali ke ruang tamu. Dan di sana hanya ada Nino dan kedua orangtuanya.
"Bu Wira sudah pulang Pa." Tanya Gustin
"Sudah Tina. Sekarang kamu duduk ya ada hal penting yang mau Papa sampaikan."
Gustin pun segera duduk bersama Sisi.
__ADS_1
"Ada apa Pa. Hal penting apa Pa."
"Begini Tina Pak Wira dan Istrinya ingin menjadikan kamu sebagai menantunya. Dan tidak lama lagi mereka ingin segera melamar kamu untuk Putranya. Kamu tidak keberatan kan." Ucap Riu pada Gustin. Sedangkan Mama, Nino dan juga Sisi hanya diam menyimak percakapan keduanya.
"Apa Papa dan Mama akan bahagia kalau Gustin menerima lamarannya."
"Tentu saja Papa akan merasa bahagia karena mereka adalah orang orang yang sangat baik. Papa sangat mengenalnya. Papa hanya ingin kamu hidup bersama orang yang tepat yang bisa membahagiakan kamu dan menyayangi mu seperti kami." kata Riu. sedangkan Mama Nino hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya menatap Gustin. Dan Gustin tahu apa artinya itu.
"Kalau begitu Papa atur saja bagaimana baiknya. Gustin ke kamar dulu ya Pa Ma."
"Ya Nak." Jawab Mama Nino. Dan Gustin segera beranjak dari duduknya. Sisi dan Nino yang tahu kalau saat ini Gustin sedang bimbang dengan segera kedua nya menyusul Gustin ke dalam kamarnya.
"No..kamu tunggu di luar saja ya. Biar aku yang masuk." Titah Sisi pada Nino.
"Baiklah aku tunggu di sini ya."
Sisi segera masuk ke dalam kamar Gustin. Gustin duduk di tepi ranjang nya. Sisi segera duduk di samping Gustin. Gustin menoleh menatap Sisi.
"Si...apa keputusan ku sudah benar."
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu tadi." tanya balik Sisi.
"Aku tidak tahu Si. Yang aku tahu aku sangat menyayangi Papa Mama dan juga Nino. Aku tidak mau mengecewakan mereka Si. Baru kali ini Papa serius dengan niatnya tidak seperti biasanya. Dan aku tidak ingin Papa kecewa Si."
"Kamu masih mencintainya."
"Sangat Si. Entah sampai kapan rasa ini akan hilang Si."
"Tin...kamu harus mencoba membuka hati kamu. Jangan seperti ini Tin...ini Sudah cukup lama buat kamu Tin. Kamu berhak untuk bahagia. Semua orang sangat menyayangi kamu dan kami hanya ingin melihat kamu bahagia. Ini sudah waktunya untuk kamu melepaskan nya Tin. Relakan Tin...aku yakin dengan kamu merelakan nya maka kamu akan mendapat kebahagiaan yang jauh lebih baik dari ini. Yakin lah bahwa Allah akan memberikan mu jodoh pada Orang yang tepat dan di waktu yang tepat."
"Apa aku sanggup melupakan nya Si."
"Tidak harus langsung melupakan nya Tin. Cukup jalani ini dengan yakin dan ihklas serta doa. Biarkan Allah yang menjawab dan bekerja."
"Mungkin ini lah akhir dari penantian ku Si mungkin memang dia tercipta bukan untuk Si." Ucap Gustin dengan menghambur dalam pelukan Sisi. Tangis Gustin langsung pecah saat itu juga. Dan di luar kamar Nino meneteskan airmata nya saat lagi lagi dia harus mendengar tangisan pilu dari sahabatnya. "Kelak limpahkan kebahagiaan yang melebihi luka dan airmata nya hari ini ya Rabb." doa Nino dalam hati.
__ADS_1
❤❤❤
Jangan lupa like komen dan vote ya. Terimakasih sudah mampir di karya ku.