
"Bagaimana?"
"Tuan , pengiriman budak dari kerajaan Avalor sudah memasuki wilayah kita dan itu sangat membantu tenaga kerja kerajaan."jelas seorang pria dengan wajah tertutup kain hitam.
Senyum miring tercetak kala mendengar berita dari mata-matanya, ia cukup terkejut saat mendengarnya pasalnya ia tau betul bagaimana kepemimpinan rivalnya yang tak akan memberinya celah sedikitpun tapi kini semua seakan di permudah dengan adanya pria tamak yang akan selalu merasa haus kekuasaan.
"Ck si tua bangka itu sangat membantu rupanya."
"Lakukan tugasmu dan ya, aku menginginkan seorang budak yang masih murni!"
"Baik."
Wilson tersenyum dengan segala rencana yang sudah di susunnya untuk membalas dendam pada pria yang sudah membuat hidupnya menderita setelah peperangan ratusan tahun silam.
"Aku kehilangan kedua orang tuaku dan itu semua karenamu , maka aku akan membuatmu merasakan kehilangan seperti yang kurasakan."gumamnya dengan sorot kebencian yang semakin menumpuk setiap harinya.
Wilson pria dengan senyum ramah pada rakyatnya namun akan berbeda jika berhadapan dengan musuhnya berbeda dengan Keenan yang memang memiliki sifat keras juga senyumnya yang membekukan membuatnya terlihat begitu dingin dan kaku.
Wilson berkeliling melihat para budak yang tengah bekerja untuk membangun kembali bangunan yang sebelumnya hanya tersisa puing-puing reruntuhan.
"Perbanyak pembelian budak agar semuanya cepat selesai!"
"Akan kami usahakan yang mulia."
Di tempat lain , masih di wilayah yang sama seorang gadis terlihat duduk selonjoran seraya mengelus perut yang terlihat membuncit akibat makanan yang tadi menggunug di meja berpindah kedalam perutnya. Jangan salahkan dia jika disuguhi oleh makanan lezat yang begitu menggugah selera.
"Aku kenyang sekali."
"Hah setelah sekian lama akhirnya aku bisa menikmati makanan yang sesungguhnya."gumam Ayu.
"Mereka itu menganggapku seperti kambing kali ya suruh makan sayur mulu."gerutunya saat mengingat maknan yang di berikan padanya berupa sayur mayur, ingin ia protes tapi selalu saja ada jawaban membuatnya kesal.
"Nona jangan makan ini nona jangan makan itu."
"Ini tidak baik untuk kesehatan dan masih banyak lagi larangan yang membuatnya suntuk.
Saat ingatannya masih berputar pada kerajaan Avalor suara pedang baradu membuatnya tersadar.
Trang..
Trang..
Sring..
Suara benda beradu cukup nyaring membuat Ayu penasaran dan saat ia melihat kebawah ia melihat prajurit yang tengah berlatih pedang. Saat ini posisinya berada di balkon yang langsung memghadap pada lapangan tempat latihan.
Hap..
Semua mata tertuju pada gadis yang dengan santainya mendekat pada mereka , tanpa aba-aba Ayu mengambil pedang salah satu prajurit dan mengarahkannya pada prajurit lainnya hingga suara pedang kembali terdengar nyaring dan mereka begitu terpana akan gerakan lihai seorang gadis yang pandai menggunakan pedang dan meliukan tubuhnya dengan indah .
__ADS_1
Sreng...
Trangg..
Jleb..
Senyum penuh kepuasan terlihat di bibir gadis manis itu kala berhasil mengakahkan prajurit yang berjumlah kurang lebih sepuluh orang dengan telak dan terlihat pedang mereka yang terlempar mengenaskan di atas tanah.
"Wah nona anda sungguh hebat."puji salah satu prajurit yang di angguki oleh teman-temannya.
Ayu tersenyum kecil, "Tentu saja siapa dulu gurunya."batinnya menatap geli para prajurit yang masih terpesona akan kemampuannya bermain pedang.
"Kalian terlalu memuji, lanjutkan latihan kalian babay."Ayu melambaikan tangannya dengan mereka yang juga ikut melaimbaikan tangan juga raut wajah yang terlihat bodoh.
"Babay."balas mereka lirih.
"Siapa dia?"
"Aku juga tak tau, tapi sepertinya aku tak asing dengan wajahnya."
"Iya aku pernah melihatnya bersama baginda di taman bunga."
Begitulah bisik-bisik tetangga di antra mereka hingga berakhir saat bayangan gadis itu menghilang di balik tembok.
....
"Nona yang mulia meminta anda untuk menemuinya saat ini di tepi danau."ucap prlayan dengan ramah pada Ayu.
Ayu menatap pelayan itu dan ia pun menganggukinya.
"Baiklah , antarkan aku pada rajamu itu."
Sepanjang langkahnya ia disuguhi oleh pepohonan dan tumbuhan hijau yang begitu menyejukan mata, tak jauh dari sana ia melihat sebuah danau dan bebatuan cukup besar di sekitarnya.
"Mari nona."
"Ah iya ."Ayu tersdar kembali dan melanjutkan langkahnya dengan mata yang tak lepas dari pemandangan alam yang begitu tenang juga terasa sejuk hingga seorang pria yang tengah berdiri di tepi danau sana membalikan tubuhnya dan menatap lembut pada gadisnya.
Ayu mendekatinya dam kini hanya ada mereka berdua dengan keheningan karna belum ada yang mau memulai untuk membuka pembicaraan.
"Emm..ada apa yang mulia memanggilku?"tanya Ayu pada pria yang menolehkan kepalanya dengan mata memincing tak suka.
"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan yang mulia, pangil namaku saja seprti biasanya."ucap Wilson kembali menatap danau dengan air yang terlihat tenang.
"Maaf tapi tak sopan jika aku..."
"Ini perintah dan kau tak bisa membantahku!"
Menghela nafas lelah , "Ternyata dia tak ada bedanya dengan pria itu."bantinnya .
__ADS_1
"Baiklah Wil ada apa kau memanggilku kesini? Apa ada hal serius yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak aku hanya ingin kau menemaniku disini, kau tau tempat ini adalah tempat favoritku saat aku sedang suntuk."Wilson menatap gadis di sampingnya yang juga menatapnya.
"Bagaimana harimu? Apkah menyenangkan atau ada yang membuatmu kesal?"tanya Wilson beruntun.
"Hariku cukup menyenangkan dan mereka sangat baik padaku. Kau bilang kau selalu kesini jika kau sedang suntuk, Apa suasana hatimu sedang tidak baik saat ini?"
"He'em hanya sedikit masalah dan aku bisa mengatasinya."
"Yah aku yakin kau bisa ."ucap Ayu tersenym manis membuat pria yang baru di kenalnya itu menatapnya tak berkedip.
"Setiap orang pasti memiliki masalahnya masing-masing dan aku pun yakin kau mampu untuk menyelesaikan semua itu, jadi kau harus semangat ok."Ayu menepuk pelan pundak Wilson membuat senyum itu terbit saat mendengar nasihat yang mengingatkannya pada mendiang ibunya.
"Apa kau mau membantuku dalam menghadapi masalahku?"
Ayu terkekeh kecil saat melihat wajah itu menatapnya penuh harap seperti anak kecil yang ingin diberi permen.
"Kau ini ada-ada saja, kau kan seorang raja masa minta bantuanku."
"Sudahlah jangan bahas masalah karna hidupku juga penuh dengan masalah."ucapnya lagi.
Wilson tertawa kecil seraya mengacak-acak tatanan rambut gadis kecilnya hingga membuat Ayu mencebik kesal.
"Ish jangn di rusak!"
"Maaf tapi kau terlihat lucu dengan rambut yang acak-acakan sepeti itu."ucap Wilson , ia begitu gemas dengan semua sifat gadis manis ini.
"Oh ya aku dengar kau tadi bermain pedang."
"Hmm lumayan untuk melatih kemampuanku."jawab Ayu yang masih sibuk merapikan helaian rambutnya.
"Eh apa ini?"
Ayu terkejut saat pria tampan ini menyodorkan sebuah gelang dengan ukiran naga merah berwarna merah.
"Pakailah dan jangan pernah melepaskannya ."Wilson tanpa persetujuan memakaikan gelang itu pada pergelangan tangan kanan Ayu.
"Ini sangat pas ditanganmu, terlihat cantik."ucapnya.
"Tapi kenapa kau memberikannya padaku? ini pasti sangat berharga kan."Ayu menyentuh setiap ukiran pada gelang.
"Karna aku ingin kau memakainya, dan dengan ini aku harap dapat melindungimu."ucapnya lagi tersenyum menatap Ayu.
......
Typo berebaran harap bijak dalam membaca!
Salam Lucky.
__ADS_1