Terjerat Raja Kegelapan

Terjerat Raja Kegelapan
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Happy Readingā¤


Istana barat yang menjadi tempat pembuangan bagi para penghianat tampak menyeramkan dengan kegelapan di sekelilingnya,Tak terkecuali pria sepuh yang tampak tak berdaya di sebuah ruangan pengap dengan kedua kaki di pasung dan kondisi yang sangat menyedihkan. Pria itu tampak terdiam dengan mata terpejam.


Suara langkah kaki semakin terdengar membuat pria sepuh itu terjaga dengan senyum remeh,ia tau pasti siapa yang berkunjung untuk menemuinya.Kepalanya mendongak menatap pria paruh baya yang berdiri dengan pandangan merendahkan namun ia tak pernah peduli padanya.


"Masih tak mau mengatakannya, Kau akan terus berada di sini sampai kau mati."Ucapnya dengan meludah tepat di samping pria malang itu. Berry pria itu begitu geram dengan kesetiaan dari pria yang sangat dekat dengan raja terdahulu, ingin ia melenyapkan namun ia juga sangat membutuhkan informasi mengenai letak benda pusaka yang telah di sembunyikan hingga ia tak dapat menemukannya.


Bima,pria dengan lekungan tulang yang menonjol di hampir semua tubuhnya tersenyum sinis pada pria yang selalu haus akan kekuasaan,sampai kapanpun ia tak akan memberitahukannya pada penghianat kerajaan dan membuatnya terpenjara di tempat ini. "Ck mimpi saja,kau tak akan pernah mengetahuinya."sarkasnya dengan suara yang tersengal-sengal.


Ucapan Bima semakin menyulut emosi Berry hingga pria paruh baya itu mengambil cambuk di balik jubahnya dan mulai melakukan seperti yang sering dilakukannya pada Bima sedang Bima seperti tak lagi mersakan sakit dengan cambuk api yang terus ia dapatkan baginya itu tak ada apa-apanya jika dibandingkn dengan kebaikn raja sebelumnya dan ia tak akan menghianati kepercayan junjungannya hanya karna keparat yang kini selalu menyiksa dirinya.


"Lakukan semaumu,kau tetap tak akan mendapatkannya."lirihnya lagi mentap goresan cambuk di sekujur tubuhnya.


"Bedebah sialan, akan kuhabisi kau.Hei aku bisa saja membebaskanmu jika kau mau bekerj sama denganku."Berry mentap lawannya yang terduduk lemah di hadapannya.


"Pergilah tak ada gunanya kau mendatangiku."Berry sudah begitu kesal dan entah dengan cara apa lagi ia bisa membuat Bima buka mulut sedang ia sudah membantai seluruh keluarganya namun pria itu tetap kekeh pada pendiriannya.Sungguh setia memang namun Berry sangat membencinya baginya tak ada yang lebih baik dari memiliki kekuasaan tertinggi dan membuat semua orang tunduk padanya.

__ADS_1


"Kenapa k-kau lakukan semua ini."Berry yang hendak melngkahkan kakinya urung dan kembali menatap sinis Bima atas pertanyaan yang baginya hanya lelucon semata. "Bima-Bima kau itu terlalu naif, apa kau pikir dengan kerja kerasku selama ini aku akan diam saja saat rajamu itu tak berbuat adil padaku hah!"Suara teriakan menggema di rungan temaram itu.


"Raja bodohmu itu membuatku melalukan ini,dengan kekuasaan yang aku miliki semuanya akan tunduk padaku dan tak akan ada yang memandang remah diriku."ucap Berry dengan kilatan kebencian mendarah daging.


Bima menggelengkan kepalamya menatap pria yang dulunya menjadi salah satu kaki tangan raja terdahulu,saat itu usia Berry masih sangat muda dengan kemampunnya yang sangat memuaskan membuatnya dipilih dan dipercaya sebagai komandan perang kerajaan, semakin bertambahnya tahun Berry mendapat kepercayaan dari raja dalam melakukan segala hal namun sifat Berry yang tak pernah puas dengan segala pencapainnya itu juga sudah terlihat namun raja tak memepermasalahkannya selagi ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik hinnga kejadian naas itu menimpa kerajaan yang berakibat fatal pada hubungan baik dua kerajaan besar pada masa itu.Pangeran Keenan yang saat itu masih di usia remaja harus menanggung semuanya juga beban sorang raja yang harus diembannya dengan bimbingan Bima sebagai penasihatnya.


"Apa salah baginda raja padamu,dia selalu baik dan menolongmu .Apa kau lupa dari mana kau berasal, kau..."


"Lancang sekali mulutmu pak tua."Berry tak membiarkan Bima melanjukan ucapannya ,kakinya dengan sigap menginjak wajah yang kini tengah menempel dengan lantai dingin tahanan.


"Aku hanya mengingatkanmu saja,kebaikan yang raja berikan padamu kau balas dengan keburukan, ingatlah jika takdir itu akan segera datang padamu uhuk..."Bima berusaha menggerakan kepalanya namun Berry sama sekali tak memindahkan pijakannya malah semakin menekannya dengan kuat.


......


"Tuan apa ada yang salah dengan penampilan saya?"Ayu bertanya setelah beberapa keduanya terdiam.


Keenan mengalihkan tatapannya tanpa menjawab gadis di depannya.

__ADS_1


"Siapa yang memberikan gelang itu padamu?"Keenan bertanya tanpa menatapnya ,Ayu menunduk dan melihat gelang yang melingkar di pergelangan tangannya dengan senyum kecil dibibirnya.


"Seorang teman memberikannya padaku."jawab Ayu.


Keenan melihat senyum manis itu berdecih. "Ck teman."desisnya tanpa sadar ia tak tak suka dengan itu.


"Tuan anda mengatakan sesuatu."Ayu menatap Keenan yang acuh tak acuh seperti biasanya.


"Emm tuan soal misi yang akan saya lakukan...apa harus malam ini?"tanya Ayu sedikit ragu.


"Hmm."Jawabnya singkat,Ayu menatap pria tampan dengan balutan es tebal di hadapannya,jika saja boleh ingin sekali rasanya ia memukul kepalanya agar berbicara sedikit lebih panjang. "Apa pita suaranya bermasalah."batinya kesal.


"Dasar budak kecil,kau mulai berani mengumpatku hmm."Keenan menatap tajam gadis itu yang langsung bungkam,ia berfikir dari mana tuannya ini tau isi pikirannya.


"Gawat."


....

__ADS_1


Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!


Salam Lucky.


__ADS_2