
Bola mata bulat itu bergerak kesembarang arah menghindari tatapan yang begitu mengintimidasinya,degupan jantung terdengar di sunyinya malam.
Apa ada lagi yang ingin kau jelaskan?"suara berat itu mengalun setelah sekian lama keheningan menemani juga gadis kecil itu yang selalu beralasan dan mengelak kini tak bisa lagi saat tubuh kecilnya di himpit oleh tubuh kekar berotot di sebuah ruangan.
Ayu merasakan sesak saat udara begitu terasa sulit untuk masuk ke rongga dadanya ,kedua telapak tangannya berada di dada bidang mencoba menahan pergerakan yang kian mengikis jarak antara kedua tubuh berbeda ukuran itu.
"Tu-tuan bisa menjauh sedikit,disini terasa sesak."cicit gadis itu menatap takut-takut pria yang masih setia dengan wajah datarnya.
"Kenapa hmm? Apa tidak boleh memegangmu sedang dia begitu bebas menyentuhmu."rahangnya mengeras dengan gigi beradu nyaring.
Ayu bingung dengan ucapan pria itu,seingatnya ia tak pernah begitu dekat dengan seorang pria apalagi bersentuhan.Lalu apa maksud dari ucapannya.
"Wily, tapi apa mungkin dia tau."pikirnya, lagian Wilson hanya menyentuh tangannya tidak lebih dari itu,lalu apa ada yang ia lupakan.
"Sudah mengingat."Keen semakin mendekatkan jarak antara mereka hingga hilang sudah batas saat kedua tubuh itu menempel seperti perangko.
"Ee..mu-mungkin tuan salah melihat,saya tidak pernah merasa dekat dengan seorang pria."ucap Ayu dengan nafas naik turun.
"Benarkah?"Cengkraman erat begitu dirasakan hingga jemarinya rasanya mau patah oleh pria angkuh ini.
"Tuan sakit."ringis Ayu mencoba menarik tangannya namun kekuatan pria itu tak mampu di lawannya.
"Harusnya kau sadar akan posisumu,budak dan selamanya akan seperti itu."tekannya.
Ayu memejamkan matanya merasakan perih saat gelang di pergelangan tangannya di tekan,ia berfikir jika tangannya lecet akibat ulah pria kutub ini.
"Baiklah saya minta maaf karna pergi tanpa meminta izin tapi saya sudah bilangkan sebelumnya jika saya juga tak tau kenapa saya sudah berada di tempat yang jauh dari istana ini,saya juga tak akan berani menentang anda tuan.Tolonglah tuan tanganku terasa sangat perih."ucap Ayu panjang kali lebar menatap dengan wajah memohon berharap bisa terlepas dari tekanan batin yanh membelenggunya saat ini.
Keenan terdiam namun matanya sekilas melirik kearah leher putih mulus budak kecilnya,oh tidak lebih tepatnya pada kalung liontin biru itu.Pria itu juga sadar jika gadis itu tak tahu menahu soal kekuatan dalam kalung yang sangat di kenalinya namun bayangan budak kecilnya bersama dengan rivalnya membuatnya tak suka terlebih informasi yang diterimanya beberapa hari lalu semakin menyulut emosinya.
"Ada apa ini,bukankah bagus jika gadis ini membuatnya terperdaya tanpa disadarinya."
"Eh tuan mau apa."gadis itu terlihat semakin gugup saat wajah tegas dengan sorot mata memabukan itu mendekat membuatnya memejamkan matanya dengan perasaan ketar ketir.
__ADS_1
"Apa tuan akan menciumku?"
"Oh ya ampun,aku tidak pernah bermimpi berada di posisi seperti ini.Apa yang harus kulakukan?Aku merasa gugup."batin Ayu yang berkecamuk dengan isi otaknya.
Keenan terdiam menatap wajah memerah dengan mata terpejam,bulu mata lentik itu begitu mengusiknya .Keenan meniup pelan wajah manis itu membuat tubuh gadis itu meremang dengan bulu kuduk terasa merinding.
"Kok gak nempel-nempel."batin Ayu yang belum juga merasakan benda kenyal itu menyentuh kulit wajahnya.Memikirkan itu membuatnya malu sendiri.
Keenan tersenyum tipis denga isi otak gadis kecilnya yang ternyata tak sepolos wajahya.
"Lusa kau harus bersiap ikut denganku."bisik Keenan dan menarik kembali tubuhnya menjauh dari gadis yang terlihat membuka pelahan kelopak matanya.
"Hah."Ayu melongo,ia sudah membayangkan berbagai jenis hukuman yang akan diterimanya seperti saat-saat masa latihannya namun apa ini,apa ia tak salah dengar?bukankah tuannya ini memiliki wanita cantik di sampingnya yang bisa diajaknya pergi, ia sudah bisa menebak jika para pelayan setia wanita itu pasti akan berkoar-koar nantinya.
"Maaf tuan, tapi bukankah anda sudah memiliki wanita cantik di samping anda lalu kenapa..."
"Apa kau lupa akan hukuman yang pernah kau terima."Keenan menatap tajam pada gadis yang semakin hari semakin pandai menjawab.
"Bagus, pergi kekamarmu dan jangan pernah berfikir untuk kabur!"Keenan berucap dengan penuh penekanan.
"Tenanglah aku tak akan tertarik dengan tubuh kecil kurus seperti ini."Ayu melotot dan menatap tubuhnya sendiri ,ia kesal pada pria telah pergi entah kemana.
.....
"Ayah."suara teriakan melengking terdengar dan dengan kasar ia membuka pintu ruangan pria paruh baya yang di panggilnya ayah itu.
Pria yang tengah duduk dengan dua pelayan cantik disisinya menatap putrinya yang berwajah muram dan menyuruh keduanya untuk meninggalkan ruangannya setelah kedua tangan nakal itu meremas bokong sintal kedua pelayannya.
"Ada apa putriku?Kenapa dengan wajahmu ?Apa ada yang membuat putri ayah ini kesal hmm?"Tuan Berry menyambut putrinya yang berjalan mendekat kearahnya masih dengan kekesalan.
"Ayah sampai kapan aku akan seperti ini, Aku ingin segera memiliki Keenan dan menjadi ratu diistana itu ayah."ucap Anggela dengan tatapan marah dan kedua tangan dilipat di depan dada.
Tuan Berry menghela nafas melihat tingkah putrinya yang selalu tak sabaran dan yang di khawatirkan semua rencana yang sudah ia susun bisa hancur berantakan akibat ulah putrinya yang sudah tak bisa untuk menunggu lagi.
__ADS_1
"Sabarlah sebentar lagi,Kita masih belum menemukan titik kelemahan pria itu,kau tau kan dia sangat keras kepala dan tak ada yang bisa memerintahnya. Kita tak bisa gegabah putriku."ucap pria paruh baya itu mengelus rambut putrinya yang masih sama dengan raut wajah suramnya.
Anggela menatap ayahnya, "Sabar sabar ,aku sudah lelah menunghu ayah. Semakin hari Keenan semakin jarang menemuiku dan yang lebih membuat aku kesal Kenan lebih dekat dengan budak rendahan itu."ucap Anggela mengadu pada ayahnya.
Tuan Berry tersenyum sinis memdengar aduan putrinya yang baginya tak akan berarti apa-apa. "Sayang kenapa hanya karna budak kau seperti ini?bukankah dia memang memelihara banyak budak .Kau tau sendirikan begitupun ayahmu ini."
"Tapi ayah..."
"Syuttt...tenanglah seorang budak tidak akan mungkin mengalahkan pesona putri cantiku ini."ucapnya lagi mencoba menenangkan putrinya.
"Benarkah?"Anggela merasa sedikit lega setelah berbicara pada Ayahnya.
Tuan Berry menggangguk pasti.
"Ayah aku memdapatkan pesan jika ada yang meminta seorang budak yang masih murni dan mereka berani membayar mahal."jelas Anggla yang teringat tujuannya mendatangi ayahnya untuk melaporkan semua kegiatan penjual belian budak yang tengah di tanganinya.
"Bagus ,kita akan mencarikan apa yang mereka mau."
"Siapa yang meminta?"tanya Tuan Berry menatap putrinya.
"Emm aku juga tak tau ayah tapi orang ini orang yang sama yang tempo hari membeli puluhan budak dari kita."jelas Anggela,tuan Berry mengangguk dan berjalan mengambil gulungan kertas di atas meja kerjanya.
"Simpan ini rapat-rapat, ayah tak bisa memyimpannya lebih lama karna ayah merasa mereka mulai curiga pada Ayah."ucap tuan Berry pada putrinya.
"Baiklah aku pergi dulu ayah."
Tuan Berry menatap kepergian putrinya lalu tatapannya beralih pada tembok dengan lukisan abstrak,langkah kakinya mendekat dan ia menyentuk tombol yang tersembunyi hingga tembok itu bergeser seketika.
.........
Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!
Salam Lucky.
__ADS_1