
Happy Reading❤
Hari ini semua pelayan tampak sibuk mondar mandir ,bukan karena akan ada acara perayaan namun karena sang Ratu yang akan melahirkan membuat seisi istana di guncang oleh amukan dari Raja Keen yang terlihat begitu panik takut hal buruk terjadi pada anak dan istrinya.
Kalo ada yang bertanya soal kedua pelayan yang berniat buruk pada Ratu maka saat ini keduanya telah menyusul junjungannya,kepala mereka di penggal di tengah balai kota dan di arak untuk menjadi pelajaran agar berfikir seribu kali jika hendak berniat buruk pada anggota keluarga istana.
Angim kencang memporak-porandakan perkampungan bahkan bagian istana tak luput dari goncangannya. Kilatan petir menyambar berbunyi nyaring memekakan telinga.
Di dalam kamar seorang wanita tampak banjir dengan peluh hampir di sekujur tubuhnya,nafasnya naik turun menahan sakit di perutnya.
"Hah hah hah..
aku tidak kuat."lirih Ayu yang saat ini tengah berbaring dengan kedua kaki yang mengangkang.
Bayi dalam perutnya terus ingin mengajaknya keluar namun jalan lahir belum terbuka sempurna hingga rasa sakit sangat teramat di rasakan Ayu.
"Ratu bertahanlah, sebentar lagi pangeran akan keluar. Tarik nafas perlahan."Ayu mengikuti meski nafasnya terasa tersengal-sengal.
"Hembuskan secra perlahan dari mulut."Kembali Ayu mengikuti arahan itu.
"Akhhhhh... sakittt."Ayu menjerit melampiskan rasa sakitnya dengan meremas seprei di kedua sisinya.
Keen di luar ruangan semakin panik mendengar suara jeritan istrinya di dalam sana.
Semua yang melihat kegelisahan raja juga merasa takut karena mereka tau akan menjadi sasaran empuk bagi Raja.
"Kaliann!"Keen mentap para pelayan yang berjejer tak jauh darinya berdiri. "Cepat lakukan sesuatu! Istriku kesakitan di dalam sana, apapun itu agar istriku tak kesakitan."Keen memerintah para pelayan yang juga kebingungan akan melakukan apa sedang di dalam sudah ada banyak tabib yang menangani Ratu.
"Kenapa kalian hanya diam saja? Pergi dari sini!"Keen mengacak-acak rambutnya setiap jeritan yang di dengarnya dengan jelas sedang ia tak bisa melakukan apapun untuk membantu mengurangi rasa sakit itu .Ketakutan akan kehilangan begitu membuat seorang raja yang terkenal kejam kini tampak kacau.
"Ayo ratu ! Kepalanya sudah kelihatan."Tabib berseru dan selalu mengeluarkan kata-kata penyemangat saat melihat raut wajah ratunya yang tampak lelah dan pasrah.
"Hos hos hos..Engggg...."Ayu mengejen untuk yang kesekian kalinya.
Di tengah kegentingan itu sebagian para tabib memasang sikap siaga saat aura hitam tengah menyelimuti ruangan teempat bersalin.
"Kalian bersiap dan kau bantu aku !"
Melihat kabut hitam yang semakin pekat mereka harus berkonsentrasi agar akal mereka tetap berjalan dengan benar.
"Ratu fokuslah, fokus dengan anak anda ! sebentar lagi pangeran akan keluar."
__ADS_1
Ayu menarik nafas dalam-dalam dan kembali mulai mengejen sekuat tenaganya.
"Enggggg...."
Oekkk
Oekkk
Oekkk
Tangis kencang bayi berjenis kelamin laki-laki seketika aura negatif yang tadi mengelilingi menghilang juga langit yang mengirimkan peti keras mulai surut.
Keenan yang mendengar suara tangis bayinya menatap haru dengan senyum terkembang.
"Anak ku sudah lahir."Keen yang sudah tak sabaran segera menerobos masuk.
"Putraku."
Langkah kaki Keen berhenti di dekat ranjang saat kedua mata ratunya terpejam dengan wajah terlihat begitu pucat.
"Ratu."segera Keen menghampiri istrinya dan mengguncang pelan kedua bahu Ayu.
Ayu masih memejamkan matanya lalu tatapan Keen menajam menatap deretan para tabib yang memunduk ketakutan akan aura yang di keluarkan oleh Raja iblis itu.
"Kenapa kaliam diam saja! Cepat bantu istriku!"bentak Keen keras.
" Kami mohon yang mulia untuk tenang lebih dulu."ketua tabib berucap walau sungguh tubuhnya terlihat gemetaran saat ini.
Keen kembali sibuk dengan istrinya dan mulai menguarkan kekuatan dari dalam tubuhnya berharap istrinya dapat membuka kedua matanya kembali.
Berulang kali mencoba Keen masih tak berhasil hingga Kakek Bima masuk dan meminta para tabib untuk keluar.
"Mereka tak akan melepaskan ratu jika belum mendapatkan pengganti tumbal itu."Kakek Bima berjalan mendekat diikuti pasangan paruh baya yang melihat putri mereka tertidur dan yang membuat semakin sakit saat rona wajah itu seperti kehilangan rohnya.
Tatapan Keen tertuju pada pasangan paruh baya yang berdiri di samping ranjang. Keen jelas mengetahui maksud dari kakek Bima yang akan menjadikan kedua budak itu sebagai tumbal menggantikan Ratunya.
Kembali Keen mengingat betapa senangnya istrinya ini saat tau jika kedua budak yang mengabdi padanya adalah orang tuanya di dunia manusia, walau ingatan Ayu tak kembali namun melihat kebahagiaan Ratunya terbesit rasa ragu dalam dirinya.
"Raja, kita tak punya banyak waktu atau kita akan kehilangan untuk selamanya."Kakek Bima kembali memberi peringatan.
"Kami siap yang mulia."ucap pasangan paruh baya itu serempak.
__ADS_1
"Kami hanya meminya pada yang mulia agar menjaga dan melindungi putri dan cucu kami."ucap pria paruh baya dengn tetesan air mata yang mengalir begitu juga dengan istrinya yang meneteskan air matanya melihat keadaan putrinya.
Tak ada pilihan lain,Keen tak akan bisa jika harus kehilangan istrinya seperti yang dialami oleh pamannya dahulu.
"Lakukanlah!"ucap Keen namun tatapannya tertuju pada istrinya.
Perlengkapan yang memang sudah di persiapkan sebelumnya tertata rapi,dupa dan wewangian wingit mereka duduk melingkar di sebuah karpet ruangan itu.
Kakek Bima mulai merapalkan mantra dengan pasangan itu bersila dan kedua mata terpejam.
"Ku mohon bertahanlah."Keen berulang kali memberikan kecupan di kening Ratu dan tak melepaskan genggamannya pada jemari istrinya.
Teriakan dari kedua budak itu bersahut-sahutan bersamaan dengan kabut putih mengelilingi tubuh Ayu hingga pasangan itu menghilang menyisakan butiran debu di atas tempat mereka duduk tadi.
"Hah."Ayu membuka kedua kelopak matanya tiba-tiba.Setelahnya ia meringis saat menyadari bagian intinya terasa begitu perih saat ia akan menggerakan kakinya.
"Kau sadar sayang."Keen membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya mendekapnya erat.
"Memangnya aku kenapa?"tanya Ayu bingung.
Ayu menatap sekelilingnya lalu tatapannya jatuh pada perutnya yang sudah kembali mengempis.
"Anaku! Dimana anaku?"Ayu menatap suaminya.
"Anak kita sedang di bersihkan sayang,sekarang kau beristirahatlah."Keenan membetulkan selimut membiarkan istrinya beristirahat sementara dirinya keluar menemui kakek Bima yang tadi lebih dulu keluar dari ruangan.
"Simpanlah kedua abu ini dan taburkan di sungai Wingit!" Keen mengangguk menerima kedua guci berisi abu.
"Terima kasih kakek.Terima kasih atas semuanya."ucap Keen walau wajah itu masih terlihat datar.
Kakek Bim tersenyum mendengar kata yang tak pernah di ucapkan oleh pria dingin di depannya.
Kakek Bima menepuk pelan pundak Keen. "Berbahagialah kalian."
Tamat
....
Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!
Ceritanya di tamatin berhubung pemeran utamanya udah bahagia.Next lanjtinnya ea😄😄
__ADS_1