
Suasana masih terasa hening setelah pembicaraan antara mereka, masing-masing dari mereka hanyut dalam lamunan yang entah kemana arahnya.
"Suasana disini terasa hening, aku baru melihatnya selama beberapa hari disini."ucap Ayu.
Wilson tersenyum tipis , ia memang memyukai keheningan dan danau ini menjadi salah satu tempat favoritnya.
"Mendiang ibuku menyukai ketenangan jadi ayahku membuat danau ini untuk ibuku saat itu."bayangan masa kecilnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga yang dirasakannya tak bertahan lama saat peperangan besar yang membuat kerajaannya terpuruk bahkan hampir seluruh bangunan dan para rakyatnya menderita akibat insiden itu.
Ayu menoleh pada pria yang tengah tersenyum namun matanya memancarkan kesedihan yang begitu mendalam.
"Lalu dimana ayah dan ibumu,aku tak pernah melihat mereka?"
Wilson menoleh sekilas lalu memalingkan wajahnya. "Mereka sudah tiada."
"Maaf aku tidak bermaksud untuk ..."
"Tak apa, apa aku terlihat sangat menyedihkan?"
Tangan mungil itu terulur menepuk lengan kekar untuk memberikan ketenangan pada pria yang terlihat rapuh ini.
"Kau tak lemah, dan kau harus kuat untuk kerajaan dan seluruh rakyatmu. Apa kau sering menghabiskan waktumu hanya untuk merenung disini?"
"Maksudmu?"Wilson mengerutkan keningnya menatap gadis kecil di sampingnya.
"Maksudku apa kau tidak ada kegiatan lain, aku tak suka hal yang berbau kesedihan. Oh ayolah aku ingin bersenang-senang."ucapnya dengan mencebikkan bibirnya.
"Kau tau terlalu banyak bersedih itu sangat tak baik bagi kesehatan dan kau sebagai raja..."
"Eh kau mau kemana?"ucapan Ayu terpotong saat melihat pria itu beranjak dari duduknya.
"Ck katanya bosan, aku akan mengajakmu ketempat latihanku. Apa kau mau?"
"Yah sepertinya itu lebih baik."ucap Ayu besemangat, Wilson menyentil pelan kening gadis itu hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"Kau."geramnya dengan mata melotot galak namun tak dihiraukan oleh Wilson, pria itu menarik tangan Ayu dan membawanya ketempat biasanya ia latihan.
Canda tawa mengiringi setiap langkah keduanya dan itu membuat para pelayan di sana berhenti sejenak untuk melihat raja mereka yang sudah lama tak menunjukan aura bahagia namun kini dengan gadis kecil itu raja mereka begitu berbeda.
"Apa sebelum ini kau memiliki tuan?"tanya Wilson yang beberapa kali kerap mendengar jika gadis ini selalu meluapkan rasa kekeslannya pada seseorang yang tidak diketahuinya.
"Emm..hanya bongkahan batu es yang dingin, kau tak akan tau dan jangan sampai bertemu dengannya."jawab Ayu terkekeh kecil.
"Memangnya kenapa jika aku bertemu dengannya?"
"Yah nanti kau juga bisa ikutan beku, kau tau dia itu sangat menyebalkan dan juga suka memerintah ini dan itu."gerutunya.
"Aku jadi ingin bertemu dengannya,tenanglah aku akan melindungimu dari tuanmu itu."
"Terserah kau saja, eh apa ini tempat latihanmu?"Ayu berjalan mendekat dan melihat jejeran pedang tajam juga busur dan masih banyak lagi."
"Kau sering menggunakan mereka?"tanyanya dengan menunjuk senjata-senjata itu.
"Iya, jika kau tertarik kau boleh mencobanya."
__ADS_1
Gadis itu mengelilingi arena hingga tatapannya tertuju pada seoker hewan tak jauh dari sana.
"Kau ingin menaikinya?"Wilson yang menyadari tatapan gadis itu pada hewan tunggangannya pun mengerti jika gadis itu tertarik pada mereka.
"Apa boleh?"tanyanya penuh harap.
"Tentu."Pria itu berjalan mendekat pada kandang kuda dan mengelus kuda yang terlihat jinak pada tuannya.
Kuda hitam dengan tubuh besar dan bugar mendekat kearah Wilson dan menundukan kepalanya sedang kuda yang terlihat lebih kecil tampak mendekat kearah Ayu dan sepertinya ia tertarik padanya.
"Mereka berdua kudamu?"tanya Ayu mengelus kepala kuda putih yang terlihat jinak padanya.
"Ya, tapi aku menggunakan kuda hitam ini."ucapnya.
"Kau bisa menggunakannya,sepertinya dia tertarik padamu.Apa kau bisa menunggang kuda?"tanya Wilson yang di jawab anggukan oleh Ayu.
"Wah wah kau ini sungguh banyak kejutan rupanya, apa masih banyak rahasia yang aku tak tau tentang dirimu."Wilson terkekeh kecil menatap gadis manis yang hanya memiliki tinggi sebatas dadanya.
Ayu mengedihkan bahunya dan mulai menaiki kudanya , "Baginda ayo kejar aku."ucapnya dengan menarik tali kekang dan mengarahkannya ke hutan yang di penuhi pepohonan menjulang tiggi juga terdapat sungai dengan air jernih yang mengalir di sana.
"Ck gadis ini, aku akan menangkapmu."Wilson segera naik dan melajukan kudanya mengejar gadis kecilnya yang lebih dulu meninggalkannya.
....
"Menurutmu apa yang membuat yang mulia seperti ini?"
"Entahlah aku juga tak tahu, sudah diam saja dari pada nanti kita yang akan menjadi sasarannya."
Ctar...
Keenan di temani oleh panglima Yash dan kedua kesatrianya masih sibuk membabat habis tumbuhan-tumbuhan yang tak bersalah.Sorot mata yang menajam dengan kilatan amarah terlihat jelas.
"Mohon ampun panglima,apa tidak sebaiknya tuan menghentikan yang mulia mengingat ini tak jauh dari perbatasan wilayah."ucap salah satu kesatria memberanikan diri.
"Benar tuan."sahut kesatria satunya.
Panglima Yash melirik sekilas lalu kembali menatap apa yang di perbuat oleh junjungannya, ia paham akan kecemasan kedua kesatria itu.
"Tak ada yang bisa menghalangi yang mulia raja, jika kalian berani silahkan ."ucapnya pada kedua kesatria yang seketika menciut dan bungkam seketika.Mereka masih mau menikmati hidup dengan tenang.
"Ampun panglima kami tak berani."ucap mereka serempak.
"Informasi mengenai gadis itu sepertinya sangat mempengaruhi baginda akhir-akhi ini."batin panglima Yash yang merasakan aura mengerikan dari tuannya belakangan ini.
"Tapi tidak mungkin kan."
.....
Ditempat lain Ayu masih memacu kudanya dengan kecepatan tinggi dan saat menyadari pria yang tak lama ini menjadi temannya tak kunjung kelihatan membuatnya menghentikan laju kudanya dan menengok kebelakang.
"Ck ternyata dia lambat."gumamnya.
"Baiklah aku akan menunggumu Wil."
__ADS_1
Tak lama terdengar tapak kaki kuda namun anehnya kuda yang ia tunggangi berjalan dengan sendirinya seolah tertarik oleh sesuatu dan ia terkejut saat di depan sana melihat bayangan Zizi yang berjalan menjauh dan kuda itu terus berjalan mengikuti kemana arah Zizi melangkah hingga kilauan cahaya di depan sana menghisapnya masuk diiringi dengan suara seorang pria di belakangnya yang terus memanggil namanya.
....
Ngiikk...
Kedua kaki kuda itu terangkat membuat tubuh gadis itu oleng dan terjatuh karna tindakan spontan hewan yang berhenti mendadak.
Brghhh...
"Auu..."Ayu meringis seraya memegangi bokongnya yang terhempas di atas tanah.
"Hei ada apa denganmu? Kenapa kau menjatuhkanku?"
Dengan perlahan ia bangun dengan menepuk-nepuk pakaiannya yang terdapat debu seraya menggerutu.
"Eh dimana kudanya?"Ia terkejut pasalnya dalam beberapa detik hewan itu sudah tidak ada di hadapannya membuatnya bingung.
"Sudah puas jalan-jalannya hmm."
Suara yang begitu familiar di telinganya dan benar saja pria dengan wajah datar itu kini berada tepat di depan matanya tanpa melepaskan tatapan tajamnya.
"A-Aku tak mengerti maksud anda tuan."ucapnya takut-takut.
"Heh tak mengerti.Kau menghilang begitu saja,apa kau sudah bosan hidup!"
Denga spontan Ayu memegang tangan Keenan dan memohon maaf atas tindakannya yang pergi begitu saja tanpa izin. Tapi ia juga berfikir bukan sepenuhnya salahnya karna ia pun tak tau jika kalung yang di pakainya memiliki kuasa akan itu.
"Tuan kau sangat baik dan tampan,tolong maafkan aku.Janji tak akan mengulanginya lagi."mohonya dengan wajah memelas.
Keenan melirik sekilas namun tak memberikan respon,ia ingin lihat sampai mana gadis ini bertindak.
"Tuan ayolah,kau tau aku sangat merasa bosan .Tidak boleh ini tidak boleh itu,jadi aku meminta izin untuk keluar tapi tak diizinkan dan bla bla bla.
Ayu terus bercerita tanpa henti dan jangan lupakan tangannya yang sedari tadi terus menggenggam tangan pria itu tanpa di sadarinya.Sedang pria itu tak begitu mendengarkan ocehan budak kecilnya karna sepertinya ia lebih tertarik dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah saat menjelaskan semuanya.Pria itu juga merasakan genggaman yang semakin menguat.
"Sudah selesai."ucapnya datar memotong ucapan Ayu dan saat itu pula ia sadar dan segera melepaskan genggamannya.
"Belum..Eh maaf tuan."cengirnya mengangkat dua jari dengan wajah bodohnya.
"Ikut aku!"
"Tunggu,dimana kudanya?Apa tuan yang membawanya?"
Sringg..
"Baiklah ayo kita pulang."Ayu gelagapan saat mendapati tatapan tak mengenakan itu dan tanpa sadar ia kembali memegang bahkan menarik tangan tuannya dengan langkah tergesa-gesa.
"Gadis ini."gumamnya dengan senyum kecil di sudut bibirnya namun hanya sesaat.
.....
Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!
__ADS_1
Salam Lucky.