
Anna mencoba menghubungi Nayla, tidak seperti biasanya dia tak ada kabar
" hai..."
" Davinn, kamu di sini "
" kebetulan aku ada meeting sekitar sini, bagaimana kalau kita cari makan, sudah waktunya jam makan siang" melihat jam tangannya
" aku harap kamu tidak sering-sering datang ke kampus "
" tapi aku tidak bisa sehari saja tidak melihatmu, "
" udah stop jangan ngegombal , sorry aku harus pergi. aku ada janji sekarang " Anna melewati nya tapi tangan Davin mencegahnya
" kemana, aku bisa mengantar mu"
" tidak usah, aku ada janji dengan dokter kandungan hari ini "
" Apa!! dokter kandungan... kamu bercanda kan"
Anna menggeleng " mama mertuaku meminta aku untuk menemui dokter kandungan hari ini"
" apa kamu gila Ann, apa maksudnya coba"
" apa salahnya sih, aku hanya memeriksakan kesehatan diri ku saja "
" hah!, apa kamu tahu alasan sesungguhnya. mereka meminta lebih dari mu, apa Jefan memaksa tidur dengan mu. apa kamu membayar kebaikan jefan dengan itu, jawab aku Ann "
" tidak, sebaiknya kamu jangan menanyakan privacy terlalu jauh "
" kenapa!!, apa kamu sudah merasa nyaman bisa tidur seranjang dengan dia "
Plakkk...
" ku rasa Davin yang ku temui sekarang, bukanlah pria yang ku kenal dulu " Anna meninggalkan nya sendirian
ada buliran bening yang jatuh dari matanya, sakit. yang dirasakan Anna karena ucapan Davin tadi, kenapa dia bisa berfikir rendah seperti itu. Anna mulai merasakan ketidaknyamanan saat bertemu dengan Davin, hubungannya tidak sama lagi seperti dulu
" apa tuan muda tidak ikut pemeriksaan "tanya Anna pada sopir yang membuka kan pintu mobil
" Tuan muda sudah menuju Rumah sakit sekarang nona "
ada rasa hawatir di benak Anna, ini baru pertama dia memeriksakan kesehatan rahimnya, bukan karena dia sedang pemeriksaan kehamilan. toh, karena dia dan Jefan tak pernah melakukan hubungan suami istri seperti semestinya. tapi Anna tetaplah wanita normal, dia hawatir mengenai kesehatan dirinya yang nanti akan menjadi aset penting bagi seorang wanita, yaitu mempunyai anak
" silahkan nona " sopir membuka pintu mobil, terlihat Jefan dan Nino sudah menunggunya
" apa mama tidak ikut " bisik Anna pada Nino
" tidak "
" apa aku harus masuk berdua dengan nya "
" kenapa, aku sudah melihat perut buncit mu itu" sahut Jefan
" Apa!!, perut ku tidak buncit tahu" ucap Anna memanyunkan bibirnya
" mungkin anda sudah hamil kakak ipar " sahut Dokter Nicole yang menyambut kedatangan mereka
" ayo cepat kita periksa "Jefan menarik paksa tangan Anna masuk
" cih!! " Anna mendengus kesal
mereka memasuki ruangan dokter kandungan
" perkenalkan ini dokter Stevi, yang mulai sekarang akan menjadi dokter kandungan kalian " Nicole memperkenalkan teman sejawatnya
" Stevi "
" Anna " menjabat tangan dokter Stevi
" mari " membawa Anna menuju sebuah ruangan untuk pemeriksaan USG
Jefan mengikuti di belakangnya, sementara dokter Nicole dan Nino tetap menunggu di ruangan itu
" permisi Nona " ucap salah seorang perawat menyingkap pakaian Anna sampai perut atas
tak bisa terelakkan, suami gadis itu melirik perut seksi istrinya
perawat menaruh cairan bening di perut Anna, lalu dengan sebuah alat dokter Stevi mulai memeriksa nya. dengan sederhana dokter Stevi menjelaskan kondisi Anna, dia hanya mengangguk kan kepala, merespon penjelasan dokter sambil menatap layar di depannya
" jadi seberapa banyak istri ku bisa memberi anak dokter " goda Jefan, ingin melihat reaksi istrinya
dokter itu tersenyum " tenang saja tuan, nona Anna bisa memberikan anda anak sebanyak yang anda mau "
" cih!! geli sekali mendengarnya "
" sejauh ini kondisi rahim nona bagus, nanti saya akan berikan vitamin untuk meningkatkan kesuburan nona, semua baik-baik saja"
" ok "
Anna merapikan pakaiannya kembali, lalu keluar ruangan, sementara dokter Stevi menyusul selang beberapa lama dengan membawa laporan hasil USG
" bagaimana keadaan kakak ipar dokter Stevi "
" semua baik-baik saja dokter Nicole, tak ada yang harus di hawatirkan, kalau memang saat ini masih belum hamil itu mungkin karena nona Anna sering kecapekan dan satu lagi, jangan buat dia stres "
" sepertinya kalian memang perlu honeymoon" timpal Nino
__ADS_1
" terimakasih dokter " Jefan tak menghiraukan ucapan Nino
" sama-sama tuan, jangan sungkan nona bila ada yang mau di tanyakan, Anda bisa langsung menghubungi saya " menyodorkan kartu nama
" terimakasih dokter " sambil pamit
" biar aku antar ke depan "
sepanjang koridor rumah sakit, wajah Jefan tersenyum aneh. Nicole yang menyadari langsung menanyakan gelagat aneh sahabatnya itu
" kenapa, senyum mu aneh sekali "
" tak apa " mengangkat kedua bahunya, dengan senyuman anehnya
" dia sekarang memang mulai seperti orang aneh" sahut Nino
" Jef, aku ini sahabatmu jadi aku tahu kalau ada yang tak beres di otak mu " Nicole menghentikan langkah Jefan
" ada apa " tanya Anna, mendengar kegaduhan di belakangnya
" kamu duluan, tunggu di mobil " perintah Jefan
" baiklah "tanpa mengetahui jawaban nya , Anna meninggalkan ketiganya
" kenapa, ada apa " tanya Nicole setelah melihat Anna cukup jauh dari mereka
" tidak ada apa-apa, hanya terdengar lucu saja"
" lucu, apa pemeriksaan tadi ada yang lucu"
" heem "Jefan mengangguk
" kenapa"
" bagaimana dia bisa hamil, kita saja belom pernah melakukan sesuatu " Jefan tersenyum sinis
" sesuatu maksudnya " ulang Nicole
" kau ini dokter, tapi otak mu cetek sekali" timpal Nino
" maksudnya kalian belom pernah berhubungan badan " bisik Nicole
" begitu lah "
" gila tidak beres otak mu " Nicole menggeleng kan kepalanya berulang kali
" tiap hari tidur sekamar, seranjang apa bisa kamu menahan tidak melakukan apapun "
" dia hanya gengsi saja " Sahut Nino
Jefan mengangkat kedua bahunya " udah aku pulang " Jefan melewati Nicole
Jefan tak menggubris omongan dokter Nicole dan melewati nya
" Jefan ...Jefan.." menepuk keningnya
" Terima kasih dokter Nicole "
" sama-sama kakak ipar, jangan sungkan untuk menghubungi dokter Stevi
" baiklah, kita pergi dulu " pamit Anna
TUTUT...TUTUT...
Anna menerima pesan
" aku mohon maafkan aku, please angkat telfonnya
Anna..
Anna...
Anna masih tak merespon
TUTUT...TUTUT...
Jefan menoleh, sudah beberapa kali dering pesan masuk handphone Anna berbunyi
" kenapa tidak kamu telfon saja, suara handphone mu mengganggu sekali "
" maaf "
temui aku di rumah Nayla, aku akan ke sana. send
" sebaiknya aku turun di lampu merah depan, aku masih mau mampir ke rumah Nayla dulu"
" lampu merah? apa kamu mau mempermalukan ku "
" ah bukan begitu, kamu kan mau ke kantor jadi aku hanya takut merepotkan saja"
" aku harus tahu siapa saja orang yang dekat dengan mu, aku tidak mau ada yang menyalahgunakan kedekatan mu untuk mendekati perusahaan Jackson group "
" ish!! pikiran mu terlalu jauh tuan, teman ku ini hanya pelayan resto jadi untuk apa dia punya pikiran nyeleneh begitu "
" sudah beri tahu saja dimana rumahnya "
Nino hanya tersenyum dari kemudinya, keduanya sering bertengkar tapi terlihat dekat menurut Nino
__ADS_1
" jalan ke kontrakan nya masuk gang sempit, hanya bisa di lalui satu mobil saja "
" jadi kau meremehkan ku, kalau aku mau, pemukiman disini bisa aku beli "
" ck, yah memang kamulah yang selalu benar "
" apa kontraktor yang membuat jalan ini tidak memikirkan bagaimana kalau ada mobil yang berpapasan " gumam Jefan, melihat sempitnya jalan itu
" sudah ku bilang kan, ini pasti merepotkan "
Tin...tin..tin....
motor sudah berjejer, mengantri di belakang mobil Jefan. mulai tidak sabar
" memangnya tidak ada tempat lain apa, kenapa teman mu bisa tinggal di tempat seperti ini atau suruh saja dia pindah. merepotkan sekali" ucap Jefan pada Anna yang akan keluar mobil
" sopir akan menjemput mu setengah jam lagi" timpalnya lagi
" setengah jam, aku bisa telfon sopir sendiri nanti "
" kau lupa tadi dokter bilang apa, istirahat yang cukup dan jangan stres "
" memangnya aku mau apa, lagian kita tidak sedang usaha apa-apa "melanjutkan langkahnya ke arah halaman rumah nayla
" nay " Anna terus mengetok pintu rumah Nayla " apa kau di rumah "
" Anna " Nayla membuka pintu
" kamu ke sini sendiri "
" tadi Jefan yang mengantar " memasuki rumah Nayla
" hah, tuan Jefan ke sini "
" heem, kamu kok tidak bisa di hubungi dari kemarin, kenapa? apa ada masalah "
" tidak, aku hanya tidak enak badan saja " menyembunyikan wajah sedihnya
" apa sudah ke dokter " tanya Anna hawatir
" sudah, kamu dari mana. apa kamu hanya ke sini mencari ku "
" aku dari dokter kandungan, sekalian mampir"
" apa!! dokter kandungan. apa kamu hamil" Nayla ternganga
" ha-ha-ha aku kan tidak pernah melakukan nya, kenapa aku bisa hamil " Anna tidak bisa menghentikan tawanya
" kalau yang ku lakukan kemarin bisa hamil bagaimana ya " batin Nayla
" lantas " Nayla penasaran
" apa lagi kalau tidak menyenangkan hati mama mertuaku. tapi setidaknya aku juga tahu kesehatan rahim ku baik-baik saja"
" bagus berarti "
" lagian aku kan sudah pernah cerita, kalau kekasih tuan Jefan itu sangat cantik"
" iya, tapi kan yang bersamanya sekarang kan kamu, bisa saja dia tiba-tiba jatuh cinta padamu "
" aku masih penasaran sampai saat ini, kenapa tiba-tiba dia tidak datang "
" dari pada penasaran, kenapa tidak kamu tanyakan langsung pada yang orangnya langsung "
" sudah gila ya, dia selalu marah, bisa-bisa aku di cekiknya hidup-hidup "
" bukan cekik palingan juga di cium hahaha "
Anna menggeleng geli " no no no " menutup mulutnya
" aku tidak percaya kalau kamu belum di cium tuan muda, berapa kali "
" dua kali, Aagrhh " membenamkan wajahnya ke bantal
TOK...TOK,..
" apa Samuel yang datang "batin Nayla sedikit hawatir karena dia belum siap cerita semuanya pada Anna
" biar ku lihat, pasti Davin yang datang " Anna beranjak membuka pintu
" ma'af, maaf karena aku tidak percaya dengan mu tadi " Davin meraih tangan Anna
" apa kalian sedang bertengkar " sahut Nayla
Davin tersenyum " cuam masalah cemburu saja"
" aku rasa kepercayaan mu sekarang sudah mulai berkurang pada ku " melepas sentuhan Davin
" aku hanya cemburu, bukankah sangat wajar jika cemburu pada orang yang bisa selalu bersama mu "
" maaf juga, karena aku telah menampar mu tadi "
" apa mau makan bersama " ajak Davin
" tidak, sebentar lagi sopir ku datang menjemput "
" tidak apa, aku tidak akan memaksa mu "
__ADS_1
" kenapa tidak mengajak ku saja, aku tidak akan menolak " goda Nayla
" apa kau mencoba untuk menikung sahabatmu sendiri " sahut Anna dengan gelak tawa, seakan mereka sedang melakoni adegan film