Terlanjur Mencintai Tuan Muda

Terlanjur Mencintai Tuan Muda
Sakit 1


__ADS_3

" Jef kamu masih sibuk " Nino memasuki ruangan Jefan


" Hmm...kenapa "


" aku hanya mau mengajak mu makan siang di luar " Nino menghampiri Jefan yang masih fokus dengan laptopnya


" dari mana kau mendapatkan foto dia " Jefan menghadapkan laptopnya pada Nino



" APAAA... kau menyuruhku cepat mendapatkan informasi tentangnya dan baru kamu buka sekarang . dasar Bos yang tidak tahu menghargai pekerjaan karyawan nya "


" aku sibuk , baru sempat " jawab enteng Jefan


" kenapa , dia seksi kan " Nino menaikkan kedua alisnya , menggoda Jefan


" hilangkan sifat mesum mu itu " Jefan membalikkan laptopnya ke hadapannya kembali


" aku dapat foto itu dari media sosial nya "


" Anna Callista Zander , 10 Agustus 1991 . Perum Greenland ..." Jefan menghentikan kalimat nya . bukankah alamat itu Mansion yang ditinggalinya saat ini


" sebenarnya gadis yang kamu nikahi itu bukan orang sembarangan , dia putri tunggal Tuan Axel Zander "


" Tuan Axel Zander " Jefan mengulang kalimat Nino


" iya , konglomerat yang beberapa kali menjalin kerjasama bersama kita di luar kota "


Jefan mencoba mengingatnya


" lihatlah " Nino menunjukkan foto kebersamaan Anna dan Axel Zander


Jefan terbelalak kaget . Ternyata orang yang pernah beberapa kali menjalin hubungan kerjasama dengan baik itu adalah orang tua Anna


" Bukankah dia sudah lama meninggal "


" iya . sejak Ayah nya meninggal , hidup Anna berantakan . dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup "


" jadi ini kenapa dia sangat menyukai Rumah itu , karena itu Mansion yang di tinggali nya bersama sang Ayah " Jefan bergumam


" ku rasa mungkin sudah waktunya kamu membuka hati untuk dia , yang sudah terlanjur menjadi istri mu dan sudah menjadi menantu kesayangan mama kamu "


Jefan hanya terdiam


" kamu sudah menikah Jef . Anna pasti akan menjadikan mu prioritas utama nya sebagai suami . jangan terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak pasti dan tak bisa menjadikan mu seseorang yang terpenting dalam hidup nya"


" apa sudah selesai pidato nya " sahut Jefan


" kau ini memang benar-benar tidak pernah menerima argumen dari orang lain "


" sudahlah aku makan siang di rumah saja " Jefan melewati Nino dan langsung bergegas menuju Mansion


" Woii...kenapa tiba-tiba kau mau makan siang di rumah , tidak seperti biasanya " Nino meneriaki Jefan yang sudah tak terlihat di balik pintu


butuh waktu Dua puluh menit Jefan dari kantor menuju Mansion nya . entah kenapa Jefan sangat ingin pulang dan makan siang di rumah


" masak apa makan siang hari ini pak Jim" Jefan langsung mendudukkan dirinya di meja makan


" Oh , Tuan muda mau saya siapkan makan siang di sini " Pak Jim kaget , tidak biasanya Tuan muda nya makan siang di rumah


" Nona muda memasak menu spaghetti Tuan " tambah pak Jim


" Anna yang memasak sendiri "


" iya Tuan , Nona muda selama ini suka sekali memasak sendiri di dapur "


" kalau begitu , siapkan juga untuk ku "


" Baik Tuan " pak Jim menyiapkan makan siang untuk Tuan muda nya juga


" di mana Anna "


" Nona masih bersiap untuk berangkat ke kampus Tuan "


Tak lama Anna turun dengan memakai setelan celana jeans dengan rambut terkuncir


" Oh , Tuan sudah pulang " Anna kaget dengan keberadaan Jefan yang tak biasanya makan siang di rumah


" Aku lapar , ingin makan di rumah "


" tak biasanya " Gumam Anna sambil mendudukkan dirinya di meja makan


Anna dan Jefan tak saling bicara saat makan siang . Jefan sibuk dengan handphone nya sedangkan Anna sibuk dengan buku yang di pegang nya


Anna berdiri membereskan barang-barang yang mau di bawanya ke kampus


" Pak Jim sepertinya saya akan pulang terlambat , karena saya masih mau mengambil barang-barang yang tertinggal di kost an " Anna beranjak melangkahkan kakinya keluar


" Heii...suami mu itu aku atau pak Jim . kenapa kau hanya melewati ku saja " protes Jefan yang tak di pamiti Anna


Anna menoleh ke arah Jefan " Maaf Tuan . biasanya hanya pak Jim yang menunggu saya pulang jadi agar tak membuatnya khawatir saya berpamitan kalau saya pulang terlambat "


" apa kau tidak melupakan sesuatu "


" kenapa dengannya , biasanya juga masa bodoh " gumam Anna yang cukup di dengar Jefan


" kemarilah "


" ada apa lagi Tuan "


Jefan mengulurkan Tangannya ke hadapan Anna " kenapa " Anna tak mengerti


" kau lupa mencium Tangan suami mu sebelum pergi "

__ADS_1


" Astaga ! Anda baik-baik saja kan Tuan "


" Pak Jim bilang sama mama kalau menantu kesayangan nya ini tidak menuruti perintah suaminya " Teriak Jefan sambil tersenyum penuh kemenangan


Anna gelagapan . dan langsung menyambar tangan Jefan , mencium punggung tangan suaminya


" puas "


Jefan mencoba menahan gelak tawanya


" apa ada lagi , apa saya harus mencium anda juga " Jefan tak habis pikir dengan apa yang di dengarnya dari mulut Anna . gadis itu semakin berani saja terhadap jefan yang berbeda saat kali pertama mereka bertemu


" pak Jim tolong ambilkan kunci gudang belakang di kamar "


" baik Tuan " Pak Jim berjalan melaksanakan perintah Tuan nya


Jefan bergegas ke gudang belakang di temani pak Jim dan dua pelayan lainnya


" apa kalian sudah membereskan gudang ini " tanya Jefan yang sudah memasuki ruangan yang penuh debu itu


" Ma'af Tuan muda , kami belum sempat membereskan tempat ini "


" cari barang-barang yang bersangkutan dengan pemilik lama Mansion ini "


para pelayan itu mengerjakan apa yang di perintahkan Tuannya . Jefan menunggu di bangku Taman


" aku masih tidak percaya kalau Anna benar-benar anak dari Tuan Axel Zander , kenapa konglomerat seperti dia bisa mendadak bangkrut . dan kematian nya yang tiba-tiba..."


Jefan terus berfikir keras . masih tak bisa percaya pada kenyataan di depan matanya


Tak lama pak Jim dan kedua pelayan itu menghampiri Jefan dengan membawa bingkai besar dan tumpukan barang-barang


" Tuan ada yang mau saya tunjukkan " pak Jim menunjukkan bingkai besar sebuah foto keluarga . terpampang seorang lelaki yang sangat di kenal Jefan . yang tak lain adalah Axel Zander , yang bisa di tebak bersama sang istri dan remaja yang kira-kira berusia Tiga belas tahunan


" apakah dia benar-benar Anna " Jefan mengamati gambar itu


" Tuan ini " pak Jim meletakkan kardus besar dengan tumpukan bingkai-bingkai foto


Jefan terus menatap satu persatu bingkai foto di hadapannya . banyak kebersamaan Anna dengan sang Ayah di abadikan di bingkai itu


" jadi dia benar-benar putri Tuan Axel Zander "


" maaf Tuan , apa ini berarti sebelumnya Nona Anna pemilik Mansion ini " Tanya pak Jim yang masih tak menyangka


" seperti nya begitu "


" kalau begitu apa yang harus saya lakukan dengan semua ini Tuan "


" perbaiki dan ganti bingkai-bingkai itu dengan yang baru . jangan beritahu tahu Anna aku tahu perihal ini , apalagi Papa dan mama "


" baik Tuan "


Jefan kembali ke kamar dan memutuskan tidak kembali kantor . kesehatan nya tiba-tiba menurun , kepalanya pusing dan tubuhnya menggigil kedinginan padahal suhu tubuhnya tinggi


jam sudah menunjukkan pukul 20:00 . Anna sudah tiba di rumah dengan membawa barang-barang yang di ambilnya dari kost an


Anna memberikan barang nya ke pak Jim


" apakah tuan muda sudah pulang pak Jim "


" tuan muda tidak kembali ke kantor Nona , dia sedang sakit "


" sakit , benarkah " Anna melangkah menuju kamar


" iya Nona , tuan muda dari tadi tidak keluar kamar dan dia juga tidak mau di ganggu "


Ceklek ...


Anna membuka pintu kamar , mendapati Jefan sudah tertutup selimut


"benarkah dia sakit , ku rasa tadi baik-baik saja "


Anna menghampiri Jefan . terlihat lelaki itu menutup mata dan menggigil


" tuan apa anda baik-baik saja " Anna menyentuh kepala Jefan dengan punggung tangannya


" HAH....tinggi sekali , apa tuan muda tidak punya dokter pribadi " tanya Anna pada pak Jim yang dari tadi mengikuti nya


" ada Nona , dokter Nicole tapi tuan tidak mau saya memanggilnya "


" demam nya tinggi sekali tapi pak Jim diam saja "


" maaf Nona tapi saya tidak berani membantah Tuan muda "


" saya yang akan bertanggung jawab , biarlah dia marah pada ku saja tapi sekarang cepat panggil dokter Nicole "


" baik Nona " pak Jim pergi menghubungi dokter Nicole


Anna pergi ke dapur , memasak bubur untuk asupan Jefan sebelum minum obat nantinya . selang beberapa lama pak Jim datang dan memberi tahunya kalau dokter Nicole sudah memeriksa kondisi Jefan


Anna memasuki kamar dengan di ikuti pak Jim yang membawa semangkuk bubur


" Ayolah Jef aku harus memeriksa mu sebentar" dokter itu terlihat susah payah membujuk Jefan


" sudah ku bilang aku baik-baik saja " terdengar suara lemas Jefan


" tapi tuan muda demam anda tinggi sekali , biarkan dokter memeriksa anda sebentar saja" Sahut Anna


" lihatlah kawan ..istrimu sangat khawatir" Nicole mencoba membujuk Jefan


" aku tidak peduli " Jefan keukeuh


" silahkan dokter periksa saja , saya yang akan bertanggung jawab kalau tuan muda marah " Anna membuka selimut penutup tubuh Jefan

__ADS_1


" kau sudah berani membantah ku ya "


" sudah diamlah , merepotkan saja " Anna memegangi tangan Jefan " silahkan dokter"


Nicole memeriksa kondisi Jefan , demamnya memang tinggi dan dia harus istirahat


" jangan pergi ke kantor dulu , istirahatlah sampai benar-benar kondisi mu baik"


" terimakasih dokter " Anna membungkuk kan tubuhnya


" Ah..jangan perlakukan aku seperti itu , ku rasa si brengsek ini lupa memperkenalkan teman-temannya pada mu di hari pernikahan "


" sepertinya begitu dokter " Anna tersenyum


" dan jangan panggil aku dokter , panggil saja Nicole , biar terdengar lebih akrab . aku sahabatnya Jefan "


" sudah pergi sana , aku mulai muak melihat mu " Jefan mulai risih mendengar perbincangan mereka


" ini kan rumah mu sendiri , aku tidak perlu sungkan berlama-lama di sini " jawab sewot Nicole


" Jef kau tidak apa-apa " Nino tiba-tiba masuk menengahi mereka


" ini lagi datang , siapa yang memberi tahu mu "


" Nicole tadi yang menelfon , kenapa , biasanya aku juga yang harus di repotkan kalau terjadi sesuatu pada mu " protes Nino


" kenapa dia harus meminta sekertaris nya harus datang di saat kondisi begini . dia kan sudah punya istri , butuh sedikit perhatian nya saja sebentar lagi juga akan sembuh "


Hem..Anna hanya mendengarkan perdebatan di antara mereka


" maaf tuan- tuan sepertinya tuan Jefan butuh istirahat " Anna menengahi


" tuan makanlah bubur nya sebelum dingin" perintah Anna pada Jefan


" aku tidak lapar "


" sepertinya enak , kalau Jefan tidak mau . aku bisa memakannya " Nino mau mengambil alih bubur dari tangan Anna


" maaf tuan , biar tuan Jefan memakannya , saya bisa menyiapkan untuk kalian di bawah "


" boleh , aku juga lapar " Nicole


" Hei...aku ini sedang sakit , bagaimana bisa aku memakannya sendiri " protes Jefan saat ketiga orang itu mau melangkahkan pergi


" suruh pak Jim yang menyiapkan untuk mereka " tambah Jefan lagi


" apa , secara tidak langsung kau meminta di suapi kakak ipar " Nino tak habis pikir dengan ucapan Jefan yang begitu gengsi


" sudah ayo keluar " Nicole menyeret paksa lengan Nino yang terus-terusan menggoda Jefan


Anna menghampiri Jefan . membantu nya duduk dan menyandarkan punggungnya


" sebentar tuan , biar posisi anda lebih nyaman" Anna menambahkan bantal di sandaran Jefan .


Ah! ..posisi keduanya sangat berdekatan


" Aaa....." Anna menyodorkan sesendok bubur di depan bibir Jefan


Jefan menatap Anna tak bergeming dan belum membuka mulutnya


" tuan ...apa hanya dengan melihat ku anda sudah kenyang "


Jefan terperanjat kikuk . dan langsung membuka mulutnya


" habiskan makanannya tuan , dan langsung minum obatnya biar cepat membaik "


Jefan hanya diam . tak menjawab ucapan Anna


" turutilah saya hanya sekali ini saja , biarkan saya menjadi seperti istri sungguhan , merawat suami nya yang sedang sakit dan jangan banyak marah-marah dulu , bisa di pending nanti saja "


Jefan hanya mendengarkan ocehan Anna tak menjawab . seperti Ibu memarahi anaknya


" kalau butuh sesuatu biar saya saja yang melakukan , anda tidak usah beranjak dari tempat tidur "


Anna menidurkan Jefan dengan hati-hati setelah meminumkan nya obat . wajah mereka saling berdekatan dan Anna menyelimutinya


" istirahatlah tuan , saya akan turun mengambil handuk untuk mengompres agar demam anda cepat turun "


Jefan benar-benar seperti tersihir . dia sama sekali tak mengelak perintah Anna


Anna kembali dengan membawa wadah di tangannya . memeras handuk kecil itu dan menaruhnya di kening Jefan


" tidurlah tuan , saya akan membersihkan diri saya dulu " Anna memasuki kamar mandi


Jefan mengingat kalimat Nino " ku rasa mungkin sudah waktunya kamu membuka hati untuk dia , yang sudah terlanjur menjadi istri mu dan sudah menjadi menantu kesayangan mama kamu "


" kamu sudah menikah Jef . Anna pasti akan menjadikan mu prioritas utama nya sebagai suami . jangan terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak pasti dan tak bisa menjadikan mu seseorang yang terpenting dalam hidup nya


Jefan tak menyangka gadis menyebalkan itu terlihat sangat tulus merawat sakit nya dengan baik , melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri padahal selama ini Jefan selalu bersikap kasar pada Anna


Ceklek...


Jefan menutup matanya . berpura-pura sudah tertidur , tapi sesekali matanya mengintip keberadaan Anna


" ah , sudah tidur ya " Anna mengangkat handuk kompres dari kening Jefan . mengganti dengan yang baru


" sedikit membaik " Anna menyentuh kening Jefan sebelum meletakkan kembali handuk Kompres


tak tersadar hati Jefan berdebar sebagai lelaki yang di perlakukan istimewa oleh seorang wanita , yang tak lain adalah istrinya sendiri . aroma segar tubuh Anna sehabis mandi tadi terasa begitu tajam di penciuman Jefan , aroma yang begitu menenangkan


Anna menidurkan dirinya di sebelah Jefan . menghadapkan wajahnya ke arah Jefan , yang biasanya di punggungi Anna


" cepat sembuh ya tuan , aku lebih suka mendengar kau marah-marah dari pada hanya diam begini " ucap Anna sebelum menutup matanya dan tertidur

__ADS_1


" dasar gadis aneh , mana ada seorang istri yang lebih menyukai suaminya marah-marah" batin Jefan . setelah merasa Anna terlelap , Jefan membuka matanya menatap gadis yang merawat nya


" apakah kalau Adelle istriku , juga akan bisa merawat ku dengan baik seperti ini "


__ADS_2